INICIAR SESIÓNPerkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu, bukan sebaliknya.
"Mata kuliah pilihan biasanya diisi sama dosen tamu kan? Gue harap bukan Pak Jamal," gumam Dena. "Pak Jamal udah ngampu hukum adat, nggak mungkin kan seminggu ngampu dua mata kuliah di kelas yang sama?" balas Freya menebak. "Lemahnya mata kuliah pilihan itu ya gini. Kita nggak tau siapa dosen pengampunya pas KRS-an," Dena mendengus, "inget nggak mata kuliah pilihan hukum dan sistem pemerintahan di semester 2? Kita dapet dosen tamu dari FISIPOL dan killer maksimal?" "Yang UTS kita suruh ngerjain tulis tangan 14 halaman itu kan?" sahut Freya mengenang. "Nggak mungkin Bu Tiwi lagi kan ya pengampu Contract Drafting?" harap Dena was-was. "Beliau orang FISIPOL Den, nggak mungkin ah ngampu CD," ujar Freya menenangkan. Dena mengangguk-angguk menenangkan diri. Ketika keduanya sampai di dalam kelas, suasana sudah cukup ramai. Cukup banyak mahasiswa yang mengambil mata kuliah untuk rumpun perdata itu. "Si uler!" Dena menyenggol siku Freya saat melihat Keisya masuk ke dalam kelas. Reaksi Freya sudah sangat biasa, ia tidak peduli sama sekali sekarang. Apalagi sudah tidak tersisa sedikitpun perasaan untuk Rega. Ia hanya masih merasa sakit hati karena Rega ternyata selama ini hanya menumpang hidup padanya dan berselingkuh dengan Keisya. "Emang lagi musim pelakor sih sekarang," ujar Dena sengaja mengeraskan suaranya agar didengar Keisya. Freya tertawa. Beberapa mahasiswi yang tahu masalah sebenarnya ikut menoleh Keisya. Sementara Keisya nampak berpura-pura tak mendengar. Ia memilih duduk sedikit di pojok, menghindari tatapan laser superman dari Dena dan Freya. "Dia tau diri," desis Freya merasa sangat puas. "Kalo nggak gitu mau apa dia dicibir satu kelas?" ujar Dena ikut tersenyum penuh kemenangan. "Sanksi sosial adalah hukuman paling efektif buat manusia nggak punya perasaan kayak dia," sahut Freya. Tak ingin memedulikan Keisya lagi, Freya memilih fokus pada buku modul yang sebelum berangkat sempat dipinjamnya dari perpustakaan. Kuliah di jurusan hukum dan menjadi praktisi hukum yang mumpuni di masa depan adalah impian Freya sejak kecil. Ia berusaha sangat keras untuk bisa mendapat beasiswa masuk kuliah dan bekerja tanpa henti selama setahun lebih untuk mempersiapkan biaya hidupnya di Jakarta selama kuliah. Tak mengenal orang tua kandung sejak lahir dan hidup karena belas kasih orang tua angkat menempa Freya menjadi setangguh karang. Setidaknya ia harus berhasil demi orang tua yang sudah kesusahan membesarkannya. Konsentrasi Freya sedikit terganggu saat gumaman-gumaman manja para mahasiswi di dalam jelas semakin keras. Bahkan Dena ikut menggosip bersama Arina yang duduk di deretan mereka. "Kenapa ribut banget sih?" Freya mendongak. "Dia kayaknya mahasiswa transfer deh, Frey," jawab Dena dengan mata berbinar. Freya mengikuti arah pandang Dena di deretan kursi depan dan jantungnya bagai berhenti berdetak. Beberapa kali ia coba mengusap matanya, berharap jika itu hanyalah mimpi. Atau mungkin saja sisa-sisa kenangan yang terus membayanginya. Namun bayangan itu nyata, tidak hilang sekejap mata. Apalagi saat sosok yang dikatakan sebagai mahasiswa transfer itu menoleh ke samping dan Freya masih mematri wajah setampan dewa itu begitu kuat dalam otaknya. "Mati gue!" gumam Freya tertegun. ###"Freya!!" Nino datang mengetuk kaca jendela mobil Lucas hingga mengagetkan Freya. Sesuai pesan Lucas, Freya baru berani membuka pintunya. "Mas," sambut Freya menangis. Nino tertegun sejenak melihat penampilan Freya yang berantakan. Apalagi bajunya yang robek di bagian pundak itu, sungguh pasti menjadi malam yang sangat berat bagi Freya untuk dilaluinya. "Lucas?" tanya Nino tersadar. "Di dalem rumah yang paling pojok Mas, dia gantiin saya," ujar Freya masih dengan suara bergetar. Bimo yang ikut mendengar penuturan Freya langsung berlari ke arah tunjukan gadis Lucas itu. Nino siap bergerak menyusul tapi kemudian teringat pada Freya dan memilih tinggal untuk menemaninya. "Saya pengin ikut ke sana Mas, pengin liat Mas Lucas," kata Freya menguatkan diri. "Jangan maksain diri Frey. Kita tunggu aja di sini, nanti mereka juga bakalan dateng. Toh uang sama minibus yang diminta ada di sini," ucap Nino menunjuk pesanan para preman yang tadi dikendarainya. "Aku ngrepotin kalian," lirih Fr
"Pacar lo konglomerat rupanya," bisik Yuda ke telinga Freya. "Dasar licik!" gumam Freya marah. Lehernya yang terluka tak lagi dirasanya. "Punya pacar kaya begini kenapa lo tinggal jual diri?" tanya Yuda kurang ajar. "Gue nggak jual diri!" pekik Freya mengagetkan semua orang. Lucas yang baru selesai menelepon ikut menoleh. Raut wajahnya berubah marah saat melihat darah di leher Freya makin banyak menetes. "Hey!" Catur menahan langkah Lucas agar tak mendekat, "uang belom dateng Bos! Jangan macem-macem!" larangnya. "Pake gue sebagai sandera!" ucap Lucas mantap, "Gue CEO Bhaskara Group, kalian bisa minta apa pun buat jadi tebusan, tapi biarin cewek gue pergi," ujarnya membuat syarat sekaligus mengakui identitas aslinya di depan Freya. "Bhaskara Group? Lo bercanda Bangsat?" Catur tertawa tak percaya. "Lo punya hape kan? Lo cari di portal bisnis nama Lucas Alexander Bhaskara, Man of The Match dan bandingin mukanya sama gue! Nggak banyak emang, tapi ada!" kata Lucas sembari melirik F
"Mas," isak Freya terbata, serasa ingin ditubruknya Lucas yang ada di depan sana tapi Yuda menahan lengannya kuat-kuat. "Lepasin dia," kata Lucas berusaha tenang, tak ingin terprovokasi dengan ancaman Catur yang mungkin saja akan membahayakan Freya. "Emang lo mau apa?" tantang Yuda semakin mendekap Freya, mengancam Lucas. Lucas tak ingin gegabah. Sehelai saja rambut Freya patah, ia berjanji tidak akan membiarkan tiga preman rendahan itu hidup dengan nyaman. "Jadi kalian minjem nama Petrus Done buat nakut-nakutin orang?" ucap Lucas berkacak pinggang, setenang mungkin. "Kami bagian dari Bang Petrus!" sentak Catur mulai terdengar kesal. "Apa bener gitu? Kalo Petrus tau kalian make namanya buat neror pacar gue, gimana ya tanggapannya? Boleh gue hubungi dia dan tanya langsung?" Lucas balik mengancam. "Siapa lo? Apa mau lo?" sentak Catur sedikit panik. "Seharusnya gue yang tanya ke lo bertiga, mau lo apa?" tantang Lucas mulai mendekat. "Satu langkah lagi lo maju, j
"Kangen banget kayaknya dia sama gue," gumam Lucas kembali pada moodnya. Ia sudah bisa tertawa. "Siapa? Freya?" tanya Nino dengan pandangan tetap fokus pada jalanan. "Ih, kepo!!" cerca Lucas tapi dengan tawa menghiasi wajahnya. Senang karena Freya menulis ingin bicara tentang perasaan, Lucas mencoba untuk balas menghubunginya. Tersambung, tapi tak segera diangkat. Sekali lagi Lucas mencoba dan terdengar lirih suara Freya di seberang. "M-Mas ..." sapa Freya terbata. "Mau ngomong apa Frey? Aku jemput ke rumah besok ya? Sorry aku baru pu─""Tolongin aku Mas," Freya memotong kalimat Lucas dengan suara tangis ketakutannya. Lucas tercekat. Bukan hanya suara Freya yang didengarnya, tapi juga tawa beberapa lelaki yang sangat dekat di telinga. Siapa mereka? Freya ada di mana?"Mereka bawa aku Mas, tolongin aku," isak Freya makin lirih. "Kamu di mana? Siapa yang ribut di belakang kamu? Apa yang terjadi Frey?" tanya Lucas mulai panik. "Petrus Done," suara Freya makin terbata, "aku ada sa
Bukan karena radar Lucas sedang tidak aktif dan tak menyadari bahaya yang dihadapi gadisnya, tapi ia tengah terjebak dalam situasi yang sangat tidak enak. Wajah Lucas terlihat sangat tidak senang, dengan tuxedo hitam menawannya, ia duduk diam tanpa suara di kursinya. Di seberangnya ada Tuan Burhan Bhaskara dan Nyonya Sarah Bhaskara, kakek dan neneknya. Di sebelah kirinya, pasangan Tuan dan Nyonya pemilik Wijaya Group Ardian Wijaya dan Ranti Wijaya. Sementara di sebelah kanan Lucas, duduk dengan sangat anggun dan cantik, Nathalie Wijaya, putri tunggal dan pewaris satu-satunya Wijaya Group. Bisa terbayang situasi klise macam apa yang tengah dihadapi Lucas saat ini. Karena para konglomerat ini sibuk bekerja di siang hari, mereka sengaja menyewa sebuah privat klub hanya untuk bisa makan bersama di waktu yang sangat larut. Lucas tak pernah bisa menolak kemauan kakeknya, apalagi jika sudah menyangkut tentang perusahaan. Ia berhutang hidup pada kakek-neneknya itu karena telah membesarkannya
Freya masih mendekap erat lututnya di sudut kamar, air matanya terus mengalir, tak bisa ditahan. Ia ketakutan, terpinggirkan, merasa tak memilki siapa pun dan itu terasa menyiksa batin dan jiwanya. Ia membutuhkan Lucas ada di sisinya, memeluknya, menenangkannya. Namun semua itu seperti hanya mimpi semata karena sampai polisi datang, Lucas masih belum membaca pesan dari Freya. Setelah memastikan bahwa yang datang dan mengetuk pintu rumahnya dengan lembut adalah rombongan polisi, Freya baru berani beranjak. Berjalannya tertatih, gontai. Kedua kakinya lunglai, seperti tak bertulang. Beruntung, dalam tim tanggap cepat yang dikirim, seorang polwan ikut serta. Freya langsung berlari menubruknya, menangis sesenggukan sambil memeluk. "Ada bekas jejak sepatu!" tunjuk Briptu Reza menunjuk lantai teras.Semua orang mengikuti arah tunjukan Briptu Reza dan mengangguk membenarkan. "Di pintu juga ada bekas dibuka paksa. Semacam dicongkel Ndan!" lapor Bripda Eka pada seniornya, Iptu Karin yang ten







