Share

Bab 5. A Little Thing

Penulis: Sayap Ikarus
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 18:21:17

Tidak ada yang berkutik mendengar nyanyian Freya. Bahkan Rega memilih untuk diam, tapi tangannya aktif membantu Keisya memberesi barang-barangnya. Pun karena pintu kamar terbuka, beberapa mahasiswi yang lewat menjadi tertarik dengan suara adu mulut antara Freya dan Rega tadi.

"Seharusnya lo malu kalo masih berani muncul di depan Freya," desis Dena ikut berkomentar dengan pandangan marah ke arah Keisya. "Sikap lemah dan manis yang lo tunjukin selama ini ternyata cuma kedok!"

"Nggak usah ikut campur Den!" cegah Rega dingin.

"Lo masih punya muka buat ngomong gitu ke gue? Gue juga penghuni kamar ini ya, Ga! Mikir nggak lo?!" seru Dena terpancing.

"Hewan yang nggak punya tulang belakang aja punya otak, mungkin uler juga nggak rela ngakuin mereka sebagai kaumnya!" sahut Freya ikut mencerca.

"Cukup kalian semua!" Keisya berteriak, "Gue udah memilih pergi, nggak usah diperpanjang lagi," katanya.

"Itu karena lo emang berusaha mencegah gue usir lebih dulu, makanya lo inisiatif buat ngambil langkah sebelum gue sempet nglakuin itu," ucap Freya tenang.

Keisya dan Rega bungkam. Mereka sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mendebat Freya hanya akan semakin memperburuk citra mereka di depan orang-orang yang mulai tertarik melihat serunya perdebatan.

"Ada masalah?" Seseorang muncul di pintu kamar dan dialah pembina asrama yang terkenal cukup angker. Mahasiswi di asrama putri memanggilnya Bu Sukma. Ada yang melaporkan keributan barusan padanya hingga ia terpaksa datang untuk melihat keadaan, "Kudengar ada yang diusir dari kamar ini? Freya, kamu yang melakukan pengusiran?" tanyanya datar.

"Punya pacar brengsek dan temen sekamar yang suka ngambil punya orang itu nggak enak kan Bu?" jawab Freya tenang sekali.

"Maksudmu?" Bu Sukma menunjuk Rega dan Keisya bergantian.

"Saya nggak mau satu kamar sama pencuri, Bu. Kita nggak akan tau kan nanti dia bakalan nyuri apa lagi di sini?"

"Kamu keterlaluan ya Frey!" sergah Rega geregetan. 

"Benar Keisya yang Freya bilang?" tanya Bu Sukma tak memedulikan ucapan Rega.

Keisya tak buru-buru menjawab. Ditatapnya satu per satu orang-orang di dalam ruangan, juga beberapa di pintu yang ikut menonton pertunjukan debat.

"Saya minta izin untuk pindah kamar saja, Bu," ujar Keisya pada akhirnya. Ia memilih mengalah karena tidak ingin ditatap penuh curiga oleh semua orang.

Bu Sukma menghela napas sebentar, lantas mengangguk, "Ikut saya ke kantor dulu. Yang lainnya silakan bereskan kamar kalian sebelum perkuliahan dimulai lusa!" putusnya melegakan Freya.

Keisya berjalan melewati Dena dan mengikuti Bu Sukma keluar kamar. Sedangkan Rega memberesi barang-barang Keisya untuk dibawa keluar.

"Gue salah menilai lo selama ini!" gerutu Rega seraya keluar.

"Gitu juga gue! Kalo ular ganti kulit jadi lebih bagus, lo ganti kulit jadi makin brengsek!" cerca Freya menutup pintu kamarnya kasar.

Baru setelah tinggal berdua dengan Dena saja, air mata Freya menetes. Ia tidak pernah merasa begitu diinjak-injak harga dirinya seperti ini. Tinggal bersama orang tua angkat, dengan kehidupan yang serba terbatas, membuat Freya tak pernah benar-benar menikmati hidupnya. Ia harus sekuat tenaga bekerja paruh waktu demi bertahan hidup di ibukota. Belum lagi ia baru saja terjebak kondisi membingungkan dengan lelaki tak dikenal dan terpaksa merelakan uang sakunya untuk membayar.

"Penjepit dasi siapa ini, Frey?" tanya Dena seusai tangis Freya reda.

Freya tersentak, ia meraba rambutnya dan benar, ada penjepit dasi di kepalanya. Pasti milik lelaki yang ia bayar seharga 200 ribu itu.

"Gue nemu di motel Mbak Rani," balas Freya asal, menghilangkan kecurigaan.

Lagipula Freya tidak ingin mengingat-ingat, apalagi menyimpan kenangan tentang lelaki asing yang mungkin saja sudah menyentuhnya. Siapa pun dia, si tampan bak malaikat yang sempat bersamanya itu, Freya benar-benar ingin membuang ingatan tentangnya.

###

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 262. Ask Me

    Freya mengangguk paham. Ditatapnya Lucas lekat. Hatinya yang semalam terasa sakit kini berangsur membaik. Lucas sudah meminta maaf dan ia wajib memberinya ampunan. Bagaimana pun Freya tidak bisa hidup tanpa Lucas lagi. Sekuat apa pun keinginannya untuk hidup mandiri, kini tanpa Lucas ia pasti kehilangan arah. Secara tanpa Freya sadari, Lucas sudah membuatnya bergantung sepenuhnya. "Kenapa? Aku nggak mungkin ninggalin kamu, Sugar. Aku tumbalin hidupku buat jaga kamu seumur hidup sebagai penebus kesalahanku kemaren," ujar Lucas serius. "Tumbalin? Emang aku pesugihan?" protes Freya tapi sudah dengan senyum menghiasi wajahnya yang pucat. "Semacam itu," kekeh Lucas, "kira-kira pesugihannya apa ya Frey?" tanyanya iseng. "Serem ah Mas!" gerutu Freya seraya mencubit pinggang Lucas yang masih asik memangku tubuhnya. Lucas tertawa lagi. Didekapnya pinggang Freya erat hingga gadisnya itu bersandar di pundaknya. Ia merasa begitu bersyukur memilki Freya di sisinya. Gadis malaika

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 261. Don't Ever Leave Me

    "Justru yang nggak marah ini yang bahaya," kata Bimo sok ahli soal perempuan. "Heleh, kayak pernah ngadepin yang begini aja lo Bang!" "Pernah! Lo pikir gue sama sekali belom pernah pacaran? Gue ini playboy pada jamannya," sahut Bimo sombong. "Ah, jaman lo bukannya jamannya gue juga? Kita cuma selisih satu setengah taun betewe," cibir Lucas kesal. "Tapi tetep gue lahir duluan dan gue udah pernah pacaran. Beda sama lo," sangkal Bimo dengan senyum penuh kemenangan. "Oke, kalo itu gue kalah," "Makanya. Pengalaman gue ada satu level di atas lo." "Terus gimana gue harusnya?" tembak Lucas kembali serius. "Minta maaf, tampar diri sendiri kalo perlu," "Kok lo jadi nyaranin gue nyiksa diri sendiri sih Bang?" protes Lucas. "Lo nyesel nggak udah nyakitin Freya?" "Nyesel banget." "Ya makanya, minta maafnya harus serius dong biar kayak kalimat yang pernah viral itu, aamiin paling serius," ujar Bimo berlagak layaknya pakar cinta. "Bisa serius nggak lo?" Lucas meny

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 260. I Never Wanna See You Sad

    "Saya harap Ibu bisa memahami kalimat saya dan nggak ngrecokin kehidupan Freya lagi!" sengal Lucas sambil berdiri menjauh keluar kamar. 'Kamu orang baru dalam hidup Freya, nggak seharusnya berani begitu, kamu pikir kamu siapa?' tantang Bu Iin balik setelah tercengang cukup lama mengetahui yang mengangkat telepon Freya adalah Lucas. 'Kamu hanya orang asing sedangkan kami, kami yang merawatnya sejak kecil!' tandasnya lagi. "Merawat? Apa bukan lebih tepatnya memperbudak dan menindasnya? Bu, saya tau sekali bagaimana perlakuan keluarga Ibu terhadap calon istri saya. Sekarang setelah Freya dewasa dan ingin mewujudkan cita-citanya Ibu nggak akan saya biarkan untuk menahan langkahnya. Nasib pendidikan Tamara ada dalam genggaman saya. Satu kesalahan saja Ibu buat atas Freya, saya nggak peduli Tamara mau jadi gembel di Jakarta juga!" ancam Lucas sangat elegan tapi mematikan. 'Kamu berani ngancam aku, hah?' pekik Bu Iin kesal. 'Asal kamu tau ya, aku menghubungi Freya karena ini masuk ke d

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 259. I'll Blame My Self, I'll Throw Away My Dumb Words

    "Aku yang ngebuat kamu nggak berharga, aku juga yang tega ngatain kamu make lidah bangsatku. Aku minta maaf Sugar, maafin aku," sesal Lucas timbul tenggelam, saking bingungnya menghadapi Freya. "Kamu tau itu, tapi kamu ngulang-ngulang kata terkutukmu sampe tiga kali. Aku nggak ngerti musti gimana lagi nyembunyiin rasa sakitku Mas. Sekali, aku pikir kamu keceplosan, kedua menurutku kamu masih belom sadar. Tapi ketiga, akhirnya aku yang tau diri," isak Freya. "Sayang," Lucas mendekat dan ikut berjongkok. Diusapnya bahu Freya lembut. "Aku pasti udah gila kalo sampe punya niat buat nyakitin kamu pake kata-kataku itu. Aku minta maaf," ujarnya. Freya mendongak, matanya sembab, wajahnya berantakan ditutupi oleh semrawut rambut panjangnya yang dikuncir sembarangan. "Maaf kalo aku begini Mas. Sekuat apa pun aku nyoba buat nggak ngerasa sakit, kata-kata itu justru makin nusuk-nusuk hatiku," bisik Freya gamang dan tak paham dengan yang sekarang dirasakannya. Ia tidak bisa marah, tak kuasa

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 258. You Tearing Me Apart

    Pada akhirnya, Lucas dan Freya hanya membungkus sate untuk dibawa pulang ke penginapan. Freya bilang merasa pusing dan Lucas takut jika demam Freya bertambah tinggi. "Kamu ganti baju dulu Frey," perintah Lucas sembari menyiapkan piyama milik Freya dari dalam koper gadisnya. "Aku mau mandi Mas," pinta Freya lirih, matanya sudah terpejam di pembaringan. "Pake air panasnya kalo mandi. Berendem dulu kalo perlu biar tubuh kamu bisa nerima sinyal," kata Lucas. "Sembari aku mandi, kamu makan ya," ucap Freya lalu membuka matanya, menatap lembut pada lelakinya. "Iya. Kamu kalo ada perlu apa gitu bilang ya," ucap Lucas seakan tak rela mengalihkan pandangannya dari Freya sedetik pun. "Abis mandi minum obat yang antibiotik," lanjutnya. Freya mengiringi langkah Lucas yang keluar dari dalam kamar. Apa ia bisa tetap bersikap layaknya baik-baik saja setiap saat? Apa yang harus dilakukannya agar tidak merasa sakit sendiri dengan ucapan Lucas yang tanpa sengaja itu? "Terus mereka bilang ap

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 257. Perfect Angel With The Sword

    "Nggak dingin Frey?" tanya Lucas perhatian. Freya tersenyum simpul, "Aku suka aroma air laut Mas. Sejuk, menenangkan," ucapnya. "Aromaku suka nggak?" gumam Lucas menggoda. "Aroma hormon?" balas Freya memicingkan matanya. "Haha, dasar!" kekeh Lucas gemas. Freya ikut tertawa, menolong hatinya. Bagaimana pun ia tidak bisa membenci Lucas, setajam apa pun kalimat lelakinya itu. Semua yang menimpa dirinya Freya anggap sebagai satu takdir yang memang harus dilaluinya. "Semua hal yang kamu lakuin ke aku, semua serba pertama," ucap Freya setelah kediaman panjang yang kusyu. Ia dan Lucas sama-sama larut dalam simfoni alam raya ditemani suara debur ombak yang menyamankan jiwa. "Maksudnya?" tanya Lucas tak paham. "Aku lupa entah pernah atau enggak Ayah ngegendong aku di punggungnya," ucap Freya mengenang masa lalu pahit yang ia ingat, "aku masih sangat kecil waktu Tamara lahir. Mereka mungkin menganggapku sekadar pancingan, setelah datang Tamara, aku tersisihkan. Meski sebenernya

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 76. Semanis Senyummu

    Lucas menatap kepergian Freya dengan senyum di wajahnya. Tatapannya yang penuh cinta terpergok Bimo di pintu. "Mandangin gue segitunya amat Bos," ledek Bimo sangat puas. "Bukan ke lo!" balas Lucas sekenanya lantas mengubah ekspresi menjadi dingin lagi seperti biasa. "Gue nggak nyangka satu perem

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 74. Boy From Wonderland

    Freya yang semula menatap langit-langit menoleh Lucas. Ada nyeri di hatinya saat mulut Lucas menyebut kata seseorang. Adakah Lucas memiliki orang spesial di hatinya? Kenapa Freya merasa tak rela saat mendengar Lucas membicarakan orang lain?"Makanya, mau ya diobatin," bujuk Freya berusaha menyembun

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara   Bab 40. Masih Bertubi

    Tiba di asrama, sambutan lain sudah menunggu Freya. Bu Sukma sudah berdiri di depan kamar Freya, berkacak pinggang. "Freya, kamu bisa kemasi barang-barang kamu dan keluar dari asrama sebelum jam malam diberlakukan," ucap Bu Sukma bengis. Freya melongo, kaget bercampur bingung. Bukankah nama bai

  • Cinta Mati Tuan Muda Bhaskara    Bab 37. Berani?

    "Saya pasti membayarnya," ulang Freya setelah Lucas duduk kembali. "Kenapa kamu jadi bertekad banget gitu?" tanya Lucas bereaksi. "Karena Bapak udah baik sama saya. Saya bukan orang yang nggak tau balas budi," ucap Freya berusaha menjunjung harga dirinya. "Saya juga bukan orang yang kurang duit,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status