LOGIN"Iyaaa!" jerit Dena gemas, "Gantengnya bikin jantung gue terjun bebas ke perut!" katanya tak berhenti tertawa.
Di lain sisi, Lucas yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian nampak lebih sibuk memainkan ponselnya dengan tenang. Ia mengabaikan beberapa gadis di sampingnya yang sengaja mengajak bicara. Sebaliknya, beberapa kali ia terlihat menatap jam di pergelangan tangannya. Sejak pertama masuk ke dalam kelas, radar di mata tajam Lucas sudah langsung mengidentifikasi keberadaan gadis lucu yang sempat menyusahkannya kemarin malam itu. Begitu membekasnya perlakuan tak biasa Freya padanya hingga ia rela mengikuti gadis konyol itu hingga ke dalam kelasnya. "Gue berharap dosen pengampu mata kuliah ini nggak masuk," doa Dena yang diamini Arina dan dua mahasiswa lain di sampingnya. "Biar apa?" tanya Freya. "Biar kita puas mandangin si dewa cinta itu sampe waktu kuliah selesai," Arina yang menyahut. "Dewa cinta? Si dia?" tunjuk Freya pada Lucas. "Iya," jawab Dena mengangguk-angguk, "kayaknya di kehidupan gue yang sebelumnya, gue ikut menyelamatkan dunia deh. Makanya dikasih anugrah buat ngeliat manusia berwujud dewa kayak dia sebelum gue mati," ucapnya lebai. Freya menjulurkan lidahnya seolah ingin muntah, "Dan kayaknya di kehidupan gue yang sebelumnya, gue turut serta merusak dunia, makanya gue dipertemukan lagi sama tuh cowok penghibur," gumamnya sangat lirih. Seperti tak memedulikan keributan yang sudah ditimbulkan oleh efek ketampanannya, Lucas justru berdiri dari kursinya setelah menatap jam tangannya terakhir kali. Diambilnya jas berwarna hitam yang tadi ia gantungkan di tali tas ransel miliknya. Perhatian semua orang menjadi tertuju padanya, apalagi saat Lucas dengan santai dan begitu percaya diri mendatangi meja dosen dan duduk di kursinya. Suasana menjadi makin riuh dan penuh gumamam, tak paham. "Selamat siang semua! Saya rasa kita bisa mulai kuliah pertama kita," ucap Lucas tanpa senyum, begitu datar. Ruangan kelas berubah hening setelah Lucas berbicara. Wajah-wajah tak mengerti menatap lurus ke arah si tampan, menuntut penjelasan. Sadar bahwa ia bak orang asing yang tak tahu diri, Lucas berdiri menghadapi sekitar 4 lusin mahasiswa dan mahasiswi itu. "Saya Lucas Alexander, dosen tamu untuk mata kuliah Contract Drafting yang sudah kalian pilih di sistem akademi!" ujar Lucas memperkenalkan diri secara resmi. "DOSEN?!!" Serempak, kalimat itu menggema di seisi ruangan. Terutama suara perempuan yang lebih dominan. Freya tersedak, napasnya tersengal. Inilah akhir hidupnya. Sosok lelaki yang benar-benar tak ingin dia temui justru menjadi dosennya untuk satu semester ke depan. Cobaan apa lagi ini? Serasa ia ingin menghilang saja dan berubah menjadi debu dalam sekejap, asal tidak perlu bertemu dengan sang dosen tampan itu. "Kita bahas kontrak kuliah dan RPS di pertemuan pertama ini. Bagi yang ada pertanyaan, silakan!" ujar Lucas menebar pesonanya di depan kelas. "Bapak masih single?" tanya Zia nyengir yang kemudian disambut seruan mengejek dari mahasiswa lain. "Apa perlu dijawab?" balas Lucas datar. "PERLUUU!!" jawab sebagian suara di ruangan. "Terus Bapak kan masih muda banget," Dena mengangkat tangannya tak sabar bertanya, membuat mata Lucas mengarah pada deretan Freya dan kenangan mereka bertemu. "Gelarnya apa Pak? Boleh nggak kalo kita manggil Kakak atau Mas aja di luar perkuliahan?" lanjut Dena genit. Lucas tersenyum sangat irit, matanya fokus pada Freya, "Saya rasa status saya adalah persoalan pribadi. Tapi kalo itu penting, saya akan bilang, saja lajang!" ucapnya semakin mencipta jeritan histeris, "Gelar kalian bisa cek di informasi akademi online, lengkap ada data saya di sana. Kita mulai bahas kontrak kuliah satu semester ya!" "Boleh kan Pak manggil Kakak atau Mas di luar perkuliahan?" Kali ini Keisya yang angkat bicara, ia menggeliat sok seksi mirip ulat bulu kepanasan. "Do whatever you want, tapi tidak di kelas saya!" tegas Lucas benar-benar berhasil menghipnotis seluruh mahasiswi kecuali Freya. Benar, gadis ini memang duduk di kursinya, tapi pikirannya berlari kabur entah ke mana. Sepanjang penjelasan yang diberikan oleh Lucas di depan kelas tak lagi Freya dengarkan. Ia hanya berharap kelas itu cepat selesai dan ia bisa menghilang secepat kilat. "Freya Nawilla Gayatri!" "Hadir!" jawab Freya spontan, ia gugup sampai lupa bahwa seharusnya ia sembunyi saja. "Saya dengar nama ini adalah salah satu mahasiswi berprestasi di jurusan hukum," kata Lucas angkuh, "setelah kuliah temui saya di gedung MKDU, saya tunjuk kamu sebagai asisten dosen untuk saya!" perintahnya tak terbantahkan. Freya bungkam. Wajahnya masih pucat pasi kebingungan, sedangkan seluruh perhatian mahasiswi di dalam kelas tertuju padanya. Pandangan iri yang benar-benar mengintimidasi. Parahnya lagi, Freya tak bisa menolak sabda sang dewa cinta untuk ditemui. ###"Takut?" gumam Lucas perhatian, "Kenapa minta nonton beginian kalo takut Neng?"Freya menyusup di lengan Lucas, menutupi wajahnya, "Biar pas sama suasananya. Hehe, biar bisa begini juga ke Mas Sayang," goda Freya genit."Jangan mancing predator ya Frey, aku nggak akan ngasih ampun meskipun ini di bioskop lho," ancam Lucas."Nggak boleh mesum di tempat umum, nanti digrebek kayak Tamara," cengir Freya.Lucas mengulum senyum, "Emang cerdas ya kamu, ngegoda aku di tempat begini yang nggak memungkinkan buat aku bisa ngasih hukuman!"Freya nyengir lagi. Sesekali ia masih curi-curi pandang ke kursi Dena. Penasaran sekali ia mengenai yang tengah terjadi di sana."Bang Bimo baik nggak sih Mas?" tanya Freya merasa perlu untuk memilihkan jodoh terbaik untuk sahabatnya."Baik," jawab Lucas singkat."Baiknya yang gimana? Dia nggak suka main perempuan kan? Dengan posisinya di Ganesha yang sekar
"Kenapa senyam-senyum gitu? Kesemsem sama Bimo?" tegur Lucas bernada cemburu."Ih! Dasar orang nggak peka! Liat dong mereka, serasi kan?" tunjuk Freya ke arah punggung Bimo dan Dena."Serasi gimana? Biasa aja," balas Lucas datar."Mereka tuh kayak kita di awal-awal pacaran tau nggak. Aku yakin mereka pasti udah cukup deket. Keliatan berusaha jaga jarak di depan kita padahal hatinya deg-degan," gumam Freya."Sempet-sempetnya merhatiin orang lain," kritik Lucas tak terima."Aku emang gitu kali, tapi cuma kamu yang bisa menyita seluruh perhatianku," rayu Freya sambil mengusap dagu Lucas mesra.Akhirnya Lucas tertawa juga. Ia mengikuti tunjukan Freya untuk membeli popcorn dan pepsi sebanyak 4 porsi."Duitnya Babang," kata Freya menyodorkan telapak tangannya pada Lucas.Tanpa pikir panjang, Lucas menyodorkan dompetnya. Kini, ia memang sengaja menyiapkan beberapa lembar uang cash untuk
"Tuh, laki lo!" tunjuk Dena saat melihat Lucas datang didampingi Bimo.Menyadari atmosfer canggung yang merebakkan kehangatan cinta di antara Dena dan Bimo, Freya lagi-lagi mengulum senyum sambil menoleh sahabatnya dan anak buah lelakinya secara bergantian. Ia berdiri menyambut Lucas yang sudah berganti dengan t-shirt warna hitamnya yang menawan."Aku malah belom sempet ganti," sungut Freya pada Lucas yang datang-datang langsung mengacak rambutnya."Tetep cantik," balas Lucas.Sementara Dena dan Bimo berdiri kaku di sisi sahabat mereka masing-masing. Freya justru semakin curiga dan penasaran, mereka mirip pasangan kencan yang tidak ingin hubungan istimewa mereka ketahuan. Saking penasarannya, Freya menyenggol siku Lucas sambil mengedipkan sebelah mata, memberi kode."Baru jam sembilan, masih ada pemutaran film kan? Nonton yuk Mas," ajak Freya manja."Emang kamu nggak capek, nggak jetlag?" tanya Lucas perha
"Mbak," Malik menyela pembicaraan Freya, "itu bukan rumah makannya?" tunjuknya ke arah satu rumah makan Padang besar di seberang jalan, lurus dengan posisi di mana ia menghentikan mobil. "Iya Mas," jawab Dena, "puter balik ke sana ya Mas,” pinta Dena. "Iya Mbak," balas Malik seraya melajukan kembali mobil ke arah rumah makan. Meski sudah dipaksa oleh Freya, Malik tetap tidak mau diajak untuk bergabung makan di dalam rumah makan. Akhirnya Freya menawarkan agar Malik membungkus saja dan Malik langsung setuju. "Jadi sebenernya lo balik besok dan dimajuin hari ini kan?" tebak Dena setelah keduanya duduk di satu meja sebelah kolam pojok ruangan. "Ya begitulah. Kata Mas Lucas perusahaan lagi genting. Menurut gue ini masalah serius soalnya dia buru-buru ke kantor gitu tanpa transit ke rumah dulu," jelas Freya sambil menyeruput es jeruknya. "Emang lagi genting deh kayaknya Ganesha." "
"Kamu pulang dianter Malik ya Sugar, aku langsung ke kantor sama Bang Bimo," pamit Lucas di depan parkir bandara. "Kamu belom sempet makan dari tadi pagi Mas," tahan Freya khawatir. "Nanti aku suruh dia pesen," tunjuk Lucas ke arah Bimo. "Enggak. Biar aku yang pesenin pake Gofood apa Grabfood ya?" tawar Freya tak yakin dengan ucapan Lucas. Ia tahu jika sudah gila kerja, Lucas pasti akan lebih lupa untuk makan. "Ya oke," balas Lucas menenangkan gadisnya, "kamu juga makan ya?" pintanya. "Iya, nanti sekalian aku mesenin kamu," kata Freya. "Jaga kesehatan, kalo ada waktu rada longgar pake buat istirahat. Di kantor sekali pun," pesannya. "Siap Bu Bos," kata Lucas sigap sambil memberi hormat. "Bang Bimo, tolong ya?" ucap Freya beralih pada Bimo yang baru kembali dari mengambil mobil. "Siap Nyonya Ganesha!" balas Bim
"Mas, liurnya, ih, berasa liat Zeta pas mandangin kamu tuh," ujar Freya menunjuk seekor komodo yang tengah termenung menunggu mangsa, meneteskan liur dari mulutnya. "Temen ghibah kamu dong?" ledek Lucas. "Bukann! Temen ghibahku yang utama tuh orang utan, kita suka ngobrolin orang-orang jahat yang hobi ngebakarin hutan Indonesia. Kalo sama komodo aku rada beda frekuensi Mas, ya meski kita masih nyambung dikit-dikit. Komodo ngobrolinnya dunia internasional sih, aku kan nggak terlalu paham," cerocos Freya dengan mode lirih karena Beni memperingatkannya untuk tidak membuat banyak gerakan dan suara. "Mentang-mentang Komodo masuk dalam new seven wonder gitu?" "Tepat sekali!!" balas Freya nyengir. Lucas menutup mulutnya agar tawanya tak terdengar. Mereka tengah dibalut cinta, pun masih dengan candaan konyol dan lucu khas Freya yang ceria. Maka dari itu, jika Freya s
"WHAT TH—" Nino, asisten Lucas, langsung beranjak dari kursinya saat melihat Lucas masuk ke dalam ruangan VVIP dengan Freya ada di gendongannya. Ia tidak sempat menuntaskan kalimatnya karena kode mata dari sang bos yang begitu dingin terlanjur membungkamnya. "Gue tau ada banyak pertanyaan di kepa
"Cowok emang nggak ada otaknya!" kutuk Freya sambil menggebrak meja hingga menyita perhatian beberapa pengunjung klub di sekitarnya. Sadar tengah diperhatikan, Freya justru menyeringai. Ia berdiri dari kursinya dan berkacak pinggang. Sepertinya gadis ini mulai kehilangan akal sehatnya. Matanya beb
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,
Tidak ada yang berkutik mendengar nyanyian Freya. Bahkan Rega memilih untuk diam, tapi tangannya aktif membantu Keisya memberesi barang-barangnya. Pun karena pintu kamar terbuka, beberapa mahasiswi yang lewat menjadi tertarik dengan suara adu mulut antara Freya dan Rega tadi. "Seharusnya lo malu k







