LOGIN"Aku nggak ngerti harus gimana," bisik Freya tak kalah terluka. Seakan kepercayaannya pada Lucas lenyap begitu saja. Lelaki yang selama ini diyakininya sebagai satu-satunya sosok yang berhak menyentuhnya, ternyata hanyalah orang asing. Lucas seakan sengaja membiarkan Freya larut dalam salah paham yang sangat lama. "Aku nggak akan nahan kamu kalo kamu emang nggak mau bertahan di sisiku. Satu-satunya kejadian yang mengikat kita ternyata hanya salah paham yang menurut penilaianmu sangat dangkal artinya. Atau aku yang mengartikannya terlalu dangkal?" gumam Lucas beranjak dari ranjang dan memunggungi Freya. "Kalo aja kamu jelasin sama aku dari awal, Mas.""Aku udah coba, tapi kamu selalu bilang buat jangan mengungkitnya. Iya, semua salahku. Seandainya malam itu aku cukup brengsek buat nidurin kamu, pasti kita bakalan baik-baik aja sekarang. Kamu tau Frey, aku jadi nyesel udah bersikap layaknya cowok malaikat malam itu cuma buat nolongin kamu. Seandainya aku tau logika kamu terbalik kayak
"Jawab aku Mas!" desak Freya tak sabar. "Apa?" balas Lucas pura-pura bingung. "Malam di club itu, apa yang sebenernya terjadi dan sejauh apa interaksi kita di sana! Jelasin ke aku sejelas-jelasnya!" Pertanyaan Freya mengenai masa lalu pertemuan mereka membuat atmosfer seketika berubah dingin. Lucas harus menegaskan dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Menyembunyikan semua kenyataan yang ada tidak akan berarti apa-apa sekarang, toh Freya sudah menjadi pacarnya. Diusapnya punggung Freya lembut. Ia bangun dari posisi tidurnya dengan Freya yang masih duduk di atasnya. Jemarinya menyusup ke balik punggung Freya, membantu gadisnya memasang lagi kait bra yang tadi sempat dilepasnya. "Apa nggak ada yang terjadi? Apa kamu nggak nyentuh aku sama sekali?" gumam Freya panik. Memori Freya bagai ditarik ke belakang, jauh. Ia yang semula mengira Lucas adalah lelaki penghibur eksklusif ternyata adalah seorang CEO perusahaan besar. Mana mungkin seorang penghibur. Ia tahu bahwa Lucas ada di cl
"Mas," erang Freya saat jemari Lucas mulai melepas kaitan bra-nya. "Hem," jawab Lucas menggeram, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Freya dan menumpahkan segenap hasratnya di sana, membuat satu tanda kepemilikan. "Apa bakalan sakit, Mas?" tanya Freya tiba-tiba, membuat Lucas seketika berhenti menciumi lehernya. "Waktu di club itu, pikiranku kacau dan aku setengah sadar, jadi aku nggak bisa menikmatinya. Apa bakalan sakit?" jelasnya lagi. Lucas akhirnya benar-benar berhenti. Ditatapnya wajah Freya dalam, lalu ia tertawa cekikikan. Suasana panas dan intim yang semula begitu pekat mengisi atmosfer berubah hangat. "Kenapa kamu tanya ke aku? Mana aku tau rasanya," kekeh Lucas tak henti tertawa. "Dulu gimana pas sama Rega?" tanyanya serius. Freya menggeleng cepat, "Kayaknya itu salah satu alasan terbesar kenapa dia selingkuh sama Keisya," lirihnya. "Kenapa? Kamu nggak bisa muasin dia? Gaya bercinta kamu monoton? Atau emang dia nggak pernah puas?" tebak Lucas vulgar. Reflek Freya
Seperti harapan Freya, Lucas justru berbaring di ranjang lagi sambil bertelanjang dada. Ia biarkan tubuh seksinya itu dinikmati sang pacar secara cuma-cuma. "Tubuh itu! Tadi udah diraba-raba!" geram Freya tak terima. Lucas tertawa. Dibawanya jemari Freya agar menyentuh dada bidang berhias 'abs' samar di perutnya yang menggoda. Lantas ditariknya pergelangan tangan Freya agar gadisnya itu berbaring memeluknya. "Kalo khawatir aku diapa-apain, khawatir aku selingkuh, kamu harusnya stay 24 jam di sisiku terus," bisik Lucas mengecup kening Freya penuh cinta. Freya menggeliat risih, apalagi saat kedua telapak tangannya bertengger di dada Lucas yang bermuatan zat adiktif itu. Ia tak berani menatap Lucas, takut khilaf dan menerjangnya lebih dulu. "Kalo perlu, kita nikah besok," lanjut Lucas. "Kamu gila ya Mas?" sentak Freya panik. Wajahnya memerah. "Gila karena kamu nggak pa-pa kan?""Kamu serius bucin ya sama aku?""Besok ke Pangandaran, minta restu buat nikah!" putus Lucas serius. "J
Lucas tak angkat bicara untuk beberapa saat. Dibiarkannya Freya larut dalam pikirannya sendiri, merenungi semua yang terjadi di antara mereka. Freya masih cukup muda. Ia cantik, ceria, dan tinggi harga dirinya. Lucas paham bahwa ia tidak bisa memaksakan maunya pada perempuan yang notabene masih ingin mencari bahagia dengan kehidupan pribadinya, tidak direpotkan dengan permasalahan pasangan seperti saat ini. "Tadinya kupikir, kita masih punya banyak waktu buat sama-sama. Toh kita serumah, sekantor, makanya aku nggak pikir panjang dan langsung pergi begitu dapet telepon," ucap Freya lagi. Lucas tetap diam. Mereka sampai di halaman rumah besar Lucas saat matahari sudah cukup tinggi. Tanpa berkata apa pun, Lucas melepas seatbelt-nya dan turun dari mobil. Meski begitu, Lucas masih menunjukkan manners-nya. Dibukakannya pintu mobil untuk Freya lantas ia melengos begitu saja setelah melakukannya. Freya menguntit tergesa di belakangnya. Ia merasa kacau saat Lucas justru mendiamkannya. Akan l
"Enggak! Aku punya kamu, aku cinta sama kamu. Aku udah melangkah sejauh ini, menepis soal Zeta dan juga si cewek silikon tadi, mana mungkin aku goyah cuma karena cinta monyet," sangkal Freya mantap. "Coba kutanya satu hal ke kamu Frey," kali ini Lucas menoleh dengan sorot penuh harap di matanya pada Freya, "sepenting apa posisiku di hidup kamu?" ujarnya. "Penting banget," jawab Freya cepat. "Bullshit, Freya! Jangan mengada-ada!""Maksud kamu?"Lucas mengembus nafas kasar, "Kapan kamu menganggapku penting? Pas ibunya Dena masuk rumah sakit? Atau pas Arya mabuk? Kapan seorang Lucas Alexander Bhaskara menjadi penting di hidup Freya Nawilla Gayatri?""Mas, aku ... ""Belom pernah Frey. Kadar artiku buat kamu cuma sebatas ngebuatin kopi pake susu sama ditambah banyak gula, that's it!" Freya terdiam. Dibasahinya bibirnya untuk menghilangkan kegundahan. Di hati kecilnya, Freya tahu, Lucas selalu menomorsatukannya. Lucas bahkan rela kehilangan waktu istirahatnya demi memiliki waktu bersam







