Home / Rumah Tangga / Cinta Memabukkan MR. CEO / 66. Hubungan Abu-Abu yang Bersinar

Share

66. Hubungan Abu-Abu yang Bersinar

Author: Keluh
last update Last Updated: 2026-02-18 23:23:31

Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman.

“Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap.

“Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya.

“Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.

“Aku melamarnya.”

Seketika kaki berhenti bergerak, ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   66. Hubungan Abu-Abu yang Bersinar

    Karena tidak jauh dari kantor, aku memilih jalan kaki. Meski Willie tetap memaksa ikut. Kami berakhir melangkah ringan di jalan setapak, diam dalam kecanggungan. Entahlah, mungkin hanya aku yang merasa tidak nyaman. “Eum …,” aku mulai bersuara. Melirik beberapa kali sebelum siap. “Ada apa?” Dia melihatku. “Kamu ingin tau apa yang terjadi antara aku dan Eva?” Tebaknya. “Mungkin …?” Ragu-ragu aku menjawab, padahal sangat yakin dalam hati.“Aku melamarnya.” Seketika kaki berhenti bergerak, terpaku dengan apa yang baru saja lelaki itu ucap “Apa?”Ia berbalik melihatku yang tertinggal di belakang. “Apa timingnya kurang tepat?”“Hah?” Maksudnya?“Gimana menurutmu?” Kami saling berhadapan. Ia menunggu jawaban dariku. Tapi, Aku tidak tahu harus mengatakan apa.“Lalu apa jawaban Eva?” Kenapa lamaran itu membuat mereka seperti ini?“Dia menolak.”“Apa?” Aku menghampirinya. “Kok bisa?”“Sepertinya dia tidak berniat serius denganku.” Willie menunduk, menendang kerikil yang menghalangi jalan

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   65. Mulai Mengusik Banyak Orang

    Hidupku mulai tenang. Farhan tak lagi datang, begitupun Risa. Entah apa yang terjadi pada mereka berdua, aku juga tidak penasaran. Sekarang, waktu kuhabiskan lebih banyak dengan ibuk dan Eva, ditambah Willie–juga Alex, tentu saja.Hampir dua bulan berlalu semenjak aku mengutarakan apa yang ku rasa pada Farhan pagi itu. Kekesalanku sudah lepas, hatiku juga sudah cukup lega. Ku pikir, hidupku akan baik-baik saja setelah ini. Seperti biasa, membiarkan waktu berlalu, dan menjalani hari tanpa ekspektasi. Namun, aku tidak bisa melupakan satu hal.“Apa kamu tumbuh dengan baik?” Pada kaca, kutatap diri sendiri. Kemeja yang kupakai sedikit kekecilan. Bukan karena ukurannya yang salah, tapi badanku yang jadi lebih berisi. Aku menunduk, menggerakkan tangan mengelus perutku yang mulai terlihat membesar. Aku mengelusnya beraturan, menghela nafas pelan. Kekhawatiranku tidak tumbuh begitu saja, aku sudah menerima takdirku dengan baik. Hanya saja, bagaimana caranya aku menjelaskan ke orang-orang s

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   64. Kesempatan yang Tidak Pantas

    “Aku bisa menjadi ayah pengganti untuk anakmu.” Ada kesungguhan di mata lelaki itu. Ia seolah memintaku untuk kesempatan.Tidak, semua ucapan itu tidak menggerakkan hatiku. “Kamu gila.” Desisku tidak suka. “Hanna,” Farhan kembali mendekat. Ia meraih jemariku lembut, lalu mengusap perlahan beraturan. “Asalkan bersamamu, bair-pun harus menjadi ayah sambung, aku bersedia.” Bahunya turun, ia mulai mencoba merayuku melayangkan tatapan penuh harap. Ku tepis tangannya kasar. Mulai memindai wajah itu lekat. Aku hanya tidak bisa percaya dengan apa yang ku dengar. “Kamu bercanda kan?”“Aku serius.” Aku malah semakin benci mendengarnya. “Tidak, aku tidak butuh.” Aku menggeleng beberapa Kali, “akan ku anggap ini sebagai candaan.” Tidak mau lagi berbedabat, kuputuskan beranjak dari hadapannya.Aku sudah cukup sabar dengan semua kegilaan yang datang silih berganti. Tidak mau emosi menguasai, menjauh darinya adalah pilihan terbaik sekarang. Namun, Ia segera berbalik. Mencekal tanganku cepat. “H

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   63. Datang dan Pergi Semaunya

    Bubur sudah dimasak dan sudah tersaji di atas meja. Yang harus dilakukan sekarang adalah membangunkan Alex, menyuruhnya makan dan minum obat. Semalam, setelah jatuh tertidur begitu saja, aku melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya. Aku juga sudah mengganti baju. Hanya baju, tentu saja dan menyelimuti tubuhnya dengan berlapis selimut.Setelah itu, aku membersihkan diri dan memakai piyama dengan pakaian yang entah sejak kapan mulai mengisi lemari Alex. Lelaki itu, mengoleksi baju perempuan dan sebagian besar pas pada tubuhku. Hingga akhirnya berakhir terlelap di atas sofa. Dan pagi ini bangun lebih awal untuk menyiapkan lelaki itu bubur. Tadi sebelum memasak, aku sudah memeriksanya, ia lebih baik sekarang, suhu tubuhnya sudah turun. “Hanna?” Alex bangun, pelan kakinya melangkah mendekatiku. “Sudah bangun?” Tanyaku datang padanya. Aku memegang pergelangan lelaki itu, mencoba membantu. Bukannya menerima, Alex malah memasang wajah heran dan diam ditempat, membuatku ikut berhenti. “Apa y

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   62. Satu Kesalahan Lain Akan Tercipta

    Bak Gia akan menunggu sampai aku siap. Ya, dia memberiku waktu untuk memikirkan harus cerita atau tidak. Akhirnya dia mengerti, kalau ini bukan hanya hubungan romansa yang menggemaskan. Segalanya lebih rumit dari itu.Mengingat hari itu Risa pernah datang ke kantor dan mengamuk padaku.Ah, untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dikhawatirkan. Lebih baik fokus bekerja dan mulai lebih peduli pada diri sendiri. Aku tidak lagi sendiri, bayi ini harus tumbuh dengan sehat.Sekitar jam 7 malam, aku menyelesaikan proposal untuk besok. Setelah membereskan barang-barang, aku berjalan dengan langkah ringan keluar kantor, menuju kos menyusuri jalan setapak yang sepi.Malam hari memberiku kenyamanan. Suara bising motor dan mobil memang tidak sepenuhnya hilang, begitu pula dengan polusi. Ini Jakarta, tidak ada yang bisa diharapkan. Tapi setidaknya, mataku tidak silau oleh sinar yang membakar atau oleh tatapan yang menilai.Malam hari, membuat orang lebih fokus pada t

  • Cinta Memabukkan MR. CEO   61. Raksasa yang Manja

    Kami tidak kembali ke kantor, aku memutuskan membawa Alex pulang. Meski tangannya sudah sembuh, gips juga terlepas, pria itu sepenuhnya terbebas dari rasa sesak yang mengganggunya beberapa hari ini. Masalahnya adalah, Alex masih mengeluhkan rasa mual yang menyerangnya. Sampai saat ini, dia belum mau memasukkan apapun kedalam mulut.Bahkan obat yang sudah diresepkan dokter. “Jangan bertingkah, makan buburmu!” Bukan sekali dua kali. Berkali-kali aku memaksa, sekarang suaraku mulai meninggi karena kesal.“Gak mau, nanti aku muntah lagi.” Lihat saja tatapannya, ia jijik pada mangkuk yang ku letakkan di atas nakas samping tempat tidur. Alex hanya sibuk menarik selimut, bersembunyi di balik sana.“Alex, ingat umurmu.” Kelakuannya seperti anak kecil, merengek saat sedang sakit minta dimanja.Sedari tadi, aku mengambil tempat di pinggir ranjang, siap dengan pil yang ingin kumasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya. Tapi lelaki ini malah merengek, menyebut bubur itu terlihat seperti muntahan, a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status