MasukSisi menunduk, dia sendiri bingung dengan pilihan nya. Namun, dia merasa belum bisa mencintai Dafi layaknya suami sendiri. Dia hanya melihat Dafi sebagai Dokter yang selama ini mengobati Andini, sekaligus orang yang paling dekat dengan Andini,
“Ya sudah, kalau kalian masih ragu. Namun, ada satu pilihan yang bisa kalian ambil jika tidak pula memiliki titik penyelesaikan ini.”Semua memandang ke arah Aris yang terlihat bijak. Sisi pun yakin, apa yang diucapkan Aris sGlen mengamati apa yang Sisi lakukan di kediamannya. Dia yang tentunya mendapatkan perintah agar menahan Sisi tetap di sana pun merasa tidak bisa menahan diri lama lama. Sudah dia coba pancing agar Sisi melupakan keinginan pulang, tapi ternyata Sisi masih ingin menjadi orang yang dulu. “Sedang apa?” Sisi mendekat padanya, memberikan secangkir kopi.“Thanks,” jawabnya.“Kamu ini kerjanya apa sih? Serius banget.”“Pengangguran.”Sisi mendorong Glen, bahkan Glen hanya tersenyum dengan kelakuan Sisi. Berdua bersama di tempat yang tenang kadang membuat Glen harus sekuat tenaga tidak jatuh cinta. Sisi sangat lucu, bahkan selalu santai dalam segala hal. Namun, kenapa harus ada seseorang yang ingin membuatnya pulang.“Itu …. DDoS?” Sisi mulai menyadari apa yang sedang Glen lakukan. “Kamu menjalankan bisnis saham pasar gelap?”“Apa saja, asal bisa punya uang.”“Kamu masih bekerja
**Hari berlalu begitu cepat. Bahkan Sisi merasa kehidupan Glen sangat menantang. Beberapa bulan berselang, semuanya berjalan dengan sangat menantang. Hebatnya, lelaki itu benar benar tak pernah melibatkannya ketika sedang beraksi.Malam itu, Glen pulang dalam keadaan mabuk. Lelaki itu terlihat sangat rapuh, sampai Sisi pun tak tega melihatnya. “Kenapa kamu mabuk? Tumben sekali?” Glen menatap Sisi dengan senyum penuh arti, lalu dia mengusap pipi Sisi namun Sisi menangkisnya.“Sadarlah, aku akan bawa kamu ke kamar!” seru Sisi.“Ara … kapan kamu kembali? Aku merindukanmu.”“Ara?”Nama yang menurut Sisi tak asing, tapi dia pun penasaran. Dia membantu Glen masuk kamar, membaringkan dia di atas ranjang.“Aku tahu kamu belum mati, Ara.”Sisi menunggu sampai Glen tertidur, saat ini dia pun bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga pada akhirnya, d
Mobil Glen tampak kembali. Lelaki itu terlihat masih memakai baju kedokterannya. Dia masuk dengan terburu buru, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sisi pun turun dan melihat apa yang dilakukan Glen, tapi lelaki itu tak meninggalkan jejak apapun selain sikapnya yang dingin dan aneh.Sisi menuju ke dapur. Dia membuka kulkas dan melihat banyak makanan cepat saja di sana. Dia pun berinisiatif memanaskannya dan membuat nasi goreng dengan bahan yang ada. Baginya, roti tak akan mengenyangkan jika belum makan nasi.Aroma makanan menyeruak. Glen yang baru saja mandi pun penasaran dan langsung keluar kamar. Padahal, tadi niatnya dia ingin tidur karena nanti malam, dia akan menjalankan sebuah pekerjaan penting. Dia sudah menjadi orang baru dan pekerjaanya ini tentu tidak ada yang tahu.“Masak?” tanya Glen.“Tentu saja, aku lapar. Perutku ini made in Indonesia dan nasi adalah makanan pokok yang wajib ada. Maaf kalau aku mengotori dapurmu, aku t
“Ada di ruang jenazah dan sudah kami periksa, hampir 70 persen tidak bisa dikenali.”Mr Giant yakin, ada hal yang bisa dia lihat di jenazah Sisi. Dia pun berjalan menuju ke ruang jenazah dan di sana dia melihat jenazah yang sudah gosong dan siap untuk dikremasi.“Tunggu!”Mr Giant pun mencegah petugas kremasi melanjutkan membawa Sisi. Dia mendekat dan melihat dengan teliti, apakah di Sisi yang asli atau bukan. Mr Giant mengawasi, melihat dengan detail bentuk tubuh dan juga jari jari. Jika ada logam emas yang tersisa di kalung Sisi, artinya dia memang Sisi dan saat dia memeriksanya sendiri, ternyata ada kalung itu.Petugas di sana tidak merasa takut sama sekali karena memang mereka hanya tahunya akan mengkremasi jenazah. Mereka tidak tahu siapa Giant dan siapa mayat itu sebenarnya.“Kalian yakin ini Aisy. wanitaku?” tanya Mr Giant.“Saya yakin dia adalah korban yang sama dengan korban di kamar Melbou
Sisi menatap pria bersenjata itu dengan napas memburu. Dalam sepersekian detik, otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar. Jika dia mencoba menyerang, kemungkinan besar dia akan tertembak sebelum bisa mendekat. Jika dia tetap diam, dia akan ditangkap dan itu lebih buruk daripada kematian.Lalu, tiba-tiba suara ledakan terdengar dari arah kanan.BOOM!Asap tebal membumbung di udara, diikuti suara alarm berbunyi di seluruh kompleks. Suara itu cukup untuk membuat perhatian pria bersenjata itu teralihkan sejenak—dan itu adalah celah yang Sisi butuhkan.Dalam satu gerakan cepat, dia menunduk dan melemparkan segenggam pasir ke wajah pria itu. Pria itu tersentak, mengangkat tangan untuk melindungi matanya. Kesempatan emas!“Shit!” Sisi langsung bergerak, menghantam ulu hati pria itu dengan siku, membuatnya terhuyung. Senapan laras panjang di tangannya nyaris jatuh, tetapi pria itu masih cukup sadar untuk
Sisi mengernyit. "Dia tampak seperti tahanan, bukan istri.""Tidak masalah bagiku selama target tetap target," ujar Glen.Sisi menatap rumah mewah di depannya dengan sorot mata tajam. Ini bukan pertama kalinya dia harus menyelesaikan target dalam kondisi penuh resiko, tapi kali ini berbeda. Istri Hideku bukan sekadar seorang wanita biasa. Dia curiga wanita itu kunci dari banyak rahasia yang bisa menghancurkan organisasi Mr. Giant jika dibiarkan hidup terlalu lama.Sisi memeriksa perlengkapannya sekali lagi—senjata peredam, pisau kecil, dan racun yang sudah dicampur dalam kapsul transparan. Semua sudah siap. Dia sengaja meracik obat itu sendiri dan ilmu obat khusus itu dia pelajari dari Hazel. Dia menekan tombol kecil di pergelangan tangannya."Glen, aku masuk sekarang."Dari alat komunikasi kecil di telinganya, suara Glen terdengar. "Hati-hati. Keamanan di sana lebih ketat dari yang kita duga.
“Ya, bahkan meminta kami untuk menjauhkanmu. Entah luka apa yang kamu berikan kepadanya sampai jam pun enggan untuk berjumpa. Jadi, untuk sementara ini introspeksi diri dulu dan jika kamu memang sudah siap untuk menemui dia sebagai seorang laki-laki sejati, katakan Saja. Kami tak akan membantumu un
“Kok kapten malah kasih tahu dia buat ke sini?” tanya Ash pada Hazel yang malah menghubungi Daffi.“Kita lihat, seberapa panik dia melihat istrinya seperti ini. Takutnya, Sisi udah menaruh harapan dengan pernikahan dadakan itu, tapi Daffi hanya mempermainkannya. Kita lihat, apa dia akan cemas ata
“Gimana keadaannya?” tanya Hazel.“Lukanya cukup serius, 50% wajahnya tak bisa dikembalikan seperti semula. Harus ada jahitan yang akan bikin wajah dia cacat. Cara satu satunya, operasi plastik. Itupun tunggu dia pulih, tangan dan kakinya cedera.”Sisi sendiri dit
Kali ini Sisi harus hati hati bersikap dengan Digo. Sungguh dia tak menyangka di detik detik misi yang terakhir, dia akan dibuat deg degan dengan rencana Hazel. Dia mendekat pada Digo yang masih menunggunya, lalu tersenyum dan bersikap seolah semua tak ada apa apa.“Sudah?”







