MasukGlen mengamati apa yang Sisi lakukan di kediamannya. Dia yang tentunya mendapatkan perintah agar menahan Sisi tetap di sana pun merasa tidak bisa menahan diri lama lama. Sudah dia coba pancing agar Sisi melupakan keinginan pulang, tapi ternyata Sisi masih ingin menjadi orang yang dulu.
“Sedang apa?” Sisi mendekat padanya, memberikan secangkir kopi.“Thanks,” jawabnya.“Kamu ini kerjanya apa sih? Serius banget.”“Pengangguran.”Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
Berita tentang Edi dan kejadiaan naasnya masih menjadi senter di media sosial. Bahkan, Aisy pun melihat perkembangan itu dari jauh. Sebelum berita itu hilang dari peredaran, jelas dia sama sekali tak berkeinginan pulang atau kembali.Tery dengan sigap menemani. Apapun yang dia butuhkan, Tery selalu ada buatnya. Bahkan, saat sedang mandi dengan telaten Tery menemaninya. Takut luka di tubuhnya kembali koyak dan basah oleh air jika tidak hati hati.“Te, apa lo balik aja? Gue udah mendingan kok,” ucap Aisy tak enak.“Buat apa? Balik juga gak akan bikin gue dikasih tugas kayak dulu.”“Dipecat?”Tery menoyor kepala Aisy, “lupa gue di sini buat siapa? Dah ah, bosen denger lo usir gue terus. Lo pikir gue sedih ngurus lo?”Terdengar ketus dan menyebalkan, tapi Aisy suka kebaikan teman dekatnya itu.“Gak enak gue liat lo LDR’an sama ayang bebep. Emang lo gak kangen pengen ketemuan?”“Gak enak ya tinggal dilepehin, Sy. Gitu aja kok repot! Lagian, Dean udah tahu dan udah biasa juga LDR an sama gu
Berita kematian Aisy sampai di telinga Daffi. Dia datang di hari kedua, saat tamu sudah hanya beberapa yang ditemui. Daffi sangat terpukul, ini kedua kalinya berita kematian Aisy terdengar dan dia pun hampir menangis saat Edi mau menemuinya.“Ini yang saya takutkan jika kamu tetap jadi suaminya. Kematian dia, ada di depan mata setiap hari.”“Apa pembunuhnya tidak bisa diurus? Ditemukan atau diadili?”Edi tersenyum samar, “andai bisa semudah itu, kematian kedua orang tua kandungnya akan mudah ditemukan.”“Maksud Anda?”“Kamu hanyalah orang biasa yang tak akan paham dunia politik dan kejamnya kursi parlemen. Tak apa, doakan saja dia tenang dan damai. Saya yakin, kamu masih peduli dengan dia tapi berhenti untuk memikirkan anak saya itu adalah jaana agar dia tenang dan bisa selalu tersenyum.”Daffi mengangguk, dia mungkin terluka dengan kematian Aisy tapi Edi lebih sangat terluka kelihatannya. TErbukti Edi hanya menemuinya beberapa menit saja, lalu pamit ke kamar karena tidak enak badan.
Edi sendiri sudah tahu ini akan terjadi. Kesedihan mendalam itu membuat dia benar benar murka pada pelaku yang merencanakan kejahatan sekejam itu. Menjadikan jalan raya yang sepi sebagai akses membuatnya terluka, bahkan meyasar dua anaknya sekaligus tanpa ampun.Laporan Tery dan Dean membuat Edi shock. Namun, dia yang sudah sampai di Bogor tak bisa ke Jakarta dalam waktu yang sama. INi adalah jebakan sehingga dia memastikan LIlo aman dan tidak seperti Aisy nasibnya, lalu akan ke Jakarta besok. Malam ini, dia akan membuat laporan jika Edi berduka dan keluarganya tewas diban tai di tol 87 malam itu.Berat. Untuk kedua kalinya, Aisy menggunakan nyawa sebagai taruhannya. Dia tahu, ini tak mungkin bisa dia maafkan. Namun, balas dendam dengan cara yang sama akan membuat pelakunya semakin menjadi. Biarlah mereka senang dan pada akhirnya, dia yang akan membalasnya dengan cara dia sendiri.Pagi hari, insiden tentang masalah keluarga Edi mencuat. Tentu kabar ini tersiar dan mengegetkan semua pi
Mobil Glen tampak kembali. Lelaki itu terlihat masih memakai baju kedokterannya. Dia masuk dengan terburu buru, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sisi pun turun dan melihat apa yang dilakukan Glen, tapi lelaki itu tak meninggalkan jejak apapun selain sikapnya yang dingin dan aneh.Sisi
“Ada di ruang jenazah dan sudah kami periksa, hampir 70 persen tidak bisa dikenali.”Mr Giant yakin, ada hal yang bisa dia lihat di jenazah Sisi. Dia pun berjalan menuju ke ruang jenazah dan di sana dia melihat jenazah yang sudah gosong dan siap untuk dikremasi.“Tungg
Sisi menatap pria bersenjata itu dengan napas memburu. Dalam sepersekian detik, otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar. Jika dia mencoba menyerang, kemungkinan besar dia akan tertembak sebelum bisa mendekat. Jika dia tetap diam, dia akan ditangkap dan itu lebih buruk daripada kematian.
“Dengan atau tidaknya keridhoan itu, aku tetaplah aku yang tidak akan bisa diam kala melihat hal ahat ada di depan mata. Tak peduli dulunya pernah dekat atau menjalin hubungan, jadi jangan sampai berkeinginan lebih padaku.”“Sisi, jangan salah paham. Aku bukan melarangmu, tapi aku h







