INICIAR SESIÓNDaniel menatap Bellia tanpa berkedip. Rasanya seperti mimpi wanita yang dia rindukan selama ini, kini ada di hadapannya. Senyum tipis yang tadi muncul di wajahnya belum juga hilang. Bukan senyum mengejek, bukan pula senyum meremehkan, seperti orang yang baru saja menemukan suatu hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya.Akan tetapi bagi Bellia senyum Daniel seperti pisau kecil yang menggores harga dirinya. Lelaki itu seolah-olah menganggap remeh ucapannya, padahal dia sudah membuang jauh-jauh harga dirinya demi mengatakan kalimat itu untuk Daniel."Kenapa Mas Daniel tertawa? Apa Mas pikir aku sedang melucu? Suara Bellia bergetar, napasnya masih tersengal setelah tangis yang belum benar-benar reda.Daniel berkedip pelan, seolah-olah baru tersadar dari lamunan. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Bie ...."Panggilan kesayangan itu membuat dada Bellia terasa sedikit menghangat."Aku masih tidak menyangka kamu akhirnya datang menemuiku," ucap Daniel jujur."Tidak menyangka?" Suara Bellia s
Siang ini cuaca begitu terik, panasnya terasa menyengat tanpa ampun. Aspal jalanan memantulkan hawa seperti bara, membuat udara terasa berat setiap kali dihirup.Namun, Bellia tidak peduli. Dia terus melajukan motor maticnya menembus kemacetan. Rambutnya yang tergerai bebas tertiup angin panas, wajahnya terlihat memerah karena terik matahari.Bellia mencengkeram setang motornya kuat-kuat, seolah-olah hal itu satu-satunya cara yang bisa membuatnya bertahan. Di sepanjang jalan ada satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.Daniel akan segera menikah dengan wanita lain.Jantung Bellia berdetak tidak karuan. Napasnya terdengar berat dan sedikit sesak. Dia bahkan tidak benar-benar ingat bagaimana dirinya bisa tiba di depan kantor Daniel.Bellia menghentikan motornya di pelataran parkir. Mesin motor sudah dimatikan, tapi dia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam setang dengan erat, tubuhnya terasa kaku, dan napasnya terdengar memburu.Bellia tidak pernah menyangka ji
Bellia mengerjapkan kedua matanya perlahan ketika cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela jatuh mengenai wajah cantiknya. Hawa dingin yang berembus dari ventilasi udara begitu menusuk kulitnya.Lehernya pegal, kepalanya terasa berat, dan matanya perih seperti terbakar. Bellia pun mencoba untuk membuka kedua matanya perlahan dan mendapati dirinya terbaring di sofa ruang tamu dengan posisi setengah meringkuk. Selimut tipis yang dia pakai semalam jatuh ke lantai tanpa dia sadari.Butuh waktu beberapa detik bagi Bellia untuk mengingat apa yang menyebabkan dirinya kacau seperti sekarang. Berita tentang pernikahan Daniel membuatnya menangis semalaman hingga lelah dan tanpa sadar ketiduran di sofa.Bellia memejamkan kedua matanya perlahan, berusaha menghalau sesak yang tiba-tiba menyelip di dalam dadanya. Bellia harap apa yang dia lihat dan dengar kemarin hanya mimpi buruk yang akan menghilang ketika dia bangun. Akan tetapi sesak di dadanya ternyata masih ada. Rasanya be
Bellia memutuskan untuk menutup toko sedikit lebih telat hari ini. Langit sudah berubah jingga ketika dia selesai merapikan rangkaian bunga terakhir.Beberapa tangkai baby’s breath yang tersisa dia masukkan ke dalam ember kecil berisi air, kemudian dia menepuk-nepuk tangannya dengan pelan, seolah-olah ingin mengakhiri hari yang panjang dan melelahkan.Hari ini toko cukup ramai. Pesanan datang silih berganti, pelanggan keluar masuk tanpa jeda, bahkan ada dua pesanan mendadak yang membuatnya nyaris tidak sempat untuk beristirahat.Akan tetapi anehnya Bellia merasa sangat bersyukur karena kesibukan itu membuatnya tidak sempat memiliki waktu untuk memikirkan Daniel.Bellia mematikan lampu satu per satu, setelah itu menutup laci kasir kemudian menurunkan rolling door. Bunyi logam yang berderit menggema pelan di jalan yang mulai dipenuhi oleh lampu kendaraan.Dia berdiri sejenak di depan toko yang sudah tertutup. Biasanya dia selalu merasa lega setelah selesai bekerja. Akan tetapi entah ken
Hari ini Bellia membuka toko bunganya lebih cepat dari biasanya karena ada pesanan mendadak.Di luar langit masih terlihat pucat, jalanan pun belum benar-benar ramai, hawa dingin terasa begitu menusuk di kulit.Bellia mengangkat rolling door perlahan, bunyinya berderit seperti kebiasaan yang tidak pernah berubah meskipun isi hatinya sedang berantakan. Aroma bunga langsung menyambutnya begitu pintu terbuka. Mawar, lily, baby's breath, dan tulip impor yang baru datang semalam dulu selalu berhasil membuat perasaannya tenang. Seharusnya hari ini pun sama. Akan tetapi kali ini rasanya ada yang berbeda dan Bellia sulit untuk menjelaskannya.Bellia menarik napas panjang lalu menyalakan lampu satu per satu, setelah itu dia menaruh tas di atas meja kasir. Tangannya otomatis bergerak, mengambil gunting untuk memotong batang mawar yang sudah sedikit mengering di bagian ujungnya. Gerakannya terlihat begitu terlatih, cepat, dan rapi.Akan tetapi anehnya dia tidak bisa berhenti memikirkan Daniel.
Biasanya Bellia membuka rolling door setengah agar udara segar masuk bersama cahaya matahari pagi begitu tiba di toko. Aroma yang berasal dari daun basah, tanah, dan kelopak bunga yang baru datang biasanya cukup membuat perasaannya menjadi lebih ringan.Akan tetapi yang dia lakukan sejak tadi hanya diam, berdiri cukup lama di ambang pintu toko bunga miliknya. Helaan napas panjang lolos dari bibir mungil Bellia. Sepasang iris hezel miliknya menatap rak bunga yang tertata rapi, vas kaca yang berkilau bersih, dan papan menu kecil yang ditulis ulang setiap pagi.Semuanya terlihat sama dan tidak ada yang berubah. Begitu tenang seolah-olah tidak ada gangguan.Dia pernah mendapat teror lagi dari Vania. Tidak ada telepon aneh yang mengganggu ketenangannya, dan tidak ada lagi kejadian mencurigakan yang terjadi di sekitar toko atau pun rumahnya.Hidupnya akhirnya aman, seperti yang dia inginkan. Akan tetapi anehnya, dia justru merasa kesepian.Bellia kembali menghela napas panjang, lalu mulai
Malam ini udara terasa lebih dingin dari pada biasanya. Beberapa orang pun memilih berdiam diri di dalam rumah sambil menikmati secangkir teh panas. Akan tetapi tidak dengan Daniel. Dinginnya malam tidak menghalangi niatnya menuju rumah sakit setelah memberi pelajaran pada Vania.Kedua mata Daniel
"Dasar bodoh!" Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vania setelah Daniel memberi tahu sang ayah tentang perbuatannya.Rasa panas sontak mejalari pipinya yang terlihat memerah. Sudut bibirnya bahkan robek dan mengeluarkan sedikit darah.Vania meringis pelan, meratapi karma yang begitu cepat dia da
Pintu kamar Marvell terbuka lebar dengan bunyi dentuman yang terdengar cukup keras, disusul langkah cepat Daniel yang langsung membeku di ambang pintu setelah melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika.Bellia terduduk di lantai dengan rambut berantakan, pipinya merah karena tampar
"Kamu masih tanya kenapa?" Vania tertawa jahat, seperti seorang psikopat yang menemukan kenikmatan di balik penderitaan orang lain.Tawanya nyaring, getir, dan penuh kebencian, menggema di antara dinding-dinding rumah sakit yang seketika berubah sempit dan dingin."Aku melakukan semua ini karena ka







