Share

Bab 4

Author: Cathy
POV Carissa

Aku terbangun sekitar jam enam sore. Aku langsung bangun dan ke kamar mandi untuk mandi. Aku pun melakukan rutinitas dan berpakaian. Baru selesai berpakaian, kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku cepat-cepat membukanya dan melihat seorang pelayan berseragam. Dia terlihat berusia akhir dua puluhan.

"Nona Carissa, makan malam sudah siap. Tuan Gabriel dan Nyonya Moira sudah di ruang makan. Mereka menunggumu," katanya.

"Oke. Aku turun sekarang. Dan tolong jangan panggil aku Nona. Aku malu, dan kurasa usia kita nggak jauh beda," kataku padanya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanyaku.

"Aduh jangan, Nyonya Moira dan Tuan Gabriel bisa marah kalau saya tidak memanggilmu Nona. Anda istri Tuan Gabriel, jadi kami harus memanggilmu Nona," jelasnya. "Ngomong-ngomong, saya Lisa Walker. Saya salah satu pelayan di sini. Kalau Anda butuh apa-apa, bisa minta bantuan saya," jawabnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum padanya dan nggak berkata apa-apa lagi. Kami mulai berjalan menuju ruang makan. Aku melihat sekeliling sambil berjalan, mencoba menghafal bagian-bagian rumah yang kami lewati. Aku merasa bisa dengan mudah tersesat di rumah ini. Luas banget, dan tangga spiralnya punya desain yang elegan.

Saat kami sampai di ruang makan, sudah ada Mama Moira, Papa Ralph, dan Gabriel, suamiku. Aku merasa malu karena sepertinya aku satu-satunya yang mereka tunggu.

"Selamat malam," sapaku. "Maaf kalau aku membuat kalian semua menunggu," kataku malu-malu sambil menghindari tatapan ke arah Gabriel.

"Oh, yang penting kamu datang, Sayang. Mama memang belum kasih tahu kamu jam berapa kita makan malam di rumah ini. Lagipula, Mama bilang bakal suruh pelayan memanggilmu saat waktunya makan. Duduk sekarang, kita mulai makannya," kata Mama Moira padaku sambil tersenyum.

"Duduk di sebelah suamimu, Carissa. Gabriel, tarik kursi untuk istrimu," perintah Papa Ralph pada Gabriel.

"Cih .... Dia bisa lakukan sendiri, Pa," jawab Gabriel kesal.

"Nggak, nggak apa-apa. Aku bisa sendiri," kataku malu-malu pada mereka dan cepat-cepat menarik kursi lalu duduk. Papa Ralph hanya menggelengkan kepala, jelas nggak senang dengan sikap putranya.

"Sayang, kamu masih kuliah, kan?" tanya Mama Moira.

"Ya, Ma. Hari Senin aku ada kelas," jawabku.

"Semester berapa dan jurusan apa?" tanya Mama Moira.

"Aku mahasiswa tingkat dua, jurusan Ilmu Akuntansi di Universitas Eden," jawabku.

"Kamu nggak usah kuliah lagi. Nggak perlu, aku bisa menafkahimu." Gabriel tiba-tiba menyela.

"Apa maksudmu dia nggak perlu kuliah? Gabriel, kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan? Kenapa kamu melarang istrimu kuliah? Hanya karena dia istrimu sekarang, bukan berarti kamu bisa melarang dia melakukan apa yang dia mau. Itu bukan perilaku yang pantas, Gabriel. Biarkan istrimu melakukan apa yang dia mau .... Biarkan dia lanjutkan kuliahnya." Mama Moira tiba-tiba menyahut.

Aku menatap Mama Moira kaget. Jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih karena aku merasakan kebaikan Tante Moira padaku. Dia membela aku dari putranya sendiri.

"Ma, dia nggak perlu kuliah lagi. Buat apa? Aku mau dia tinggal di rumah dan bantu pekerjaan rumah. Disitulah tempatnya karena besarnya kesalahannya," kata Gabriel. Kemarahan tertahan jelas terdengar di suaranya saat dia mengatakan ini. Aku langsung menunduk sambil berusaha menahan air mata agar nggak jatuh.

"Kamu nggak menikahinya untuk menjadikannya pembantu di rumah ini, Gabriel. Carissa istrimu, jadi kamu harus perlakukan Carissa dengan benar. Gabriel, Mama tahu kamu marah pada Carissa karena apa yang terjadi, tapi jangan sampai pendidikannya terpengaruh. Pokoknya dia akan melanjutkan studinya," jawab Mama Moira.

"Maaf, Ma, tapi kali ini aku yang harus dituruti. Dan kalau Mama bersikeras soal ini, aku terpaksa memindahkan Carissa ke rumah lain supaya aku bisa mendapatkan apa yang aku mau," desak Gabriel.

"Berani-beraninya kamu! Kamu mengancam mama, Gabriel? Ralph, lihatlah tingkah anakmu. Apa dia masih anak kita?" Mama Moira marah.

"Cukup, Gabriel. Nggak ada yang akan pergi dari rumah ini kecuali aku yang bilang. Nggak ada alasan untuk kamu membawa istrimu ke rumah lain. Aku tahu apa yang ada di kepalamu .... Kalian akan tetap di sini. Karena siapa yang tahu apa lagi yang akan kamu lakukan pada Carissa," jawab Papa Ralph.

Gabriel nggak menanggapi perkataan papanya. Dia sangat menghormati papanya, jadi meskipun itu bertentangan dengan keinginannya, dia nggak membalas. Beberapa saat kemudian, dia berdiri dan minta izin, dia bilang akan pergi sebentar. Kemarahan hebat yang nggak bisa dia luapkan terlihat jelas di wajahnya karena rasa hormatnya yang besar pada orang tuanya.

"Abaikan suamimu, Sayang. Kami akan urus kuliahmu. Kamu akan selesaikan studimu meskipun suamimu keberatan," kata Mama Moira dengan lembut.

"Ayo kita makan. Abaikan saja Gabriel untuk saat ini. Lama-lama juga dia akan menerima semuanya. Untuk sekarang, jangan hiraukan dia, Sayang. Fokus pada dirimu sendiri .... Terutama pada studimu," kata Papa Ralph.

"Terima kasih, Ma, terima kasih juga, Pa," kataku pada mereka sambil tersenyum. Aku nggak menyangka mereka menerimaku sebaik ini. Sifat mereka sangat berbeda dari orang tua kandungku.

...

Kami sudah selesai makan malam, jadi aku sekarang di kamar, bersiap tidur.

Aku bersyukur mertuaku baik padaku. Mereka bilang mereka akan mengurus kuliahku, yang mana aku sangat bersyukur. Raul akan mengantar-jemputku kuliah, awalnya aku sangat keberatan, tapi Mama Moira ngotot. Mereka nggak mau aku kesusahan.

Mereka juga memberiku segepok uang tunai untuk uang sakuku. Ada kartu ATM juga yang sudah atas namaku. Aku malu menerimanya, tapi Mama Moira memaksa.

Aku hampir nggak percaya. Sepanjang hidupku, ini pertama kalinya aku memegang uang sebanyak ini. Mereka memberiku uang tunai 1,6 miliar rupiah, ditambah kartu ATM yang aku nggak tahu isinya berapa. Mungkin aku akan cek waktu ke bank nanti. Wow, sebegitu kayanya mereka?

Mama Moira bilang mereka sering bepergian ke luar negeri, jadi aku harus mengingatkan mereka kalau uang sakuku habis. Tapi jauh di lubuk hati, aku pikir sampai aku lulus pun, uang saku yang mereka berikan ini akan lebih dari cukup.

Terima kasih, Tuhan, karena mereka sangat baik padaku. Mereka nggak memperlakukanku berbeda. Cara Mama Moira dan Papa Ralph memperlakukanku jauh banget dari keluargaku sendiri.

...

Aku sudah tertidur ketika aku terbangun karena ada orang lain di kamarku. Lampu meja di sebelah kasurku menyala, dan aku langsung terduduk kaget waktu melihat siapa yang ada di kamarku.

"G-Gabriel?" kataku ketakutan. Aku nggak tahu gimana dia masuk karena seingatku aku sudah mengunci pintu sebelum tidur.

"Ha! Kamu senang? Semua rencanaku untuk membuatmu menderita jadi gagal gara-gara Mama ada di sini," katanya. Dia mencengkram daguku dengan kuat dan mengangkat wajahku.

Aku mencium bau alkohol di tubuhnya, tangannya yang memegangku juga membuatku sakit.

"Gab ... tolong ...." Aku mau bicara, tapi dia tiba-tiba memotongku.

"Berhenti memanggilku begitu, jalang," katanya marah. Dia tiba-tiba mendorongku, membuatku jatuh kembali ke kasur. Aku bangun lagi dan duduk di pinggir.

"Aku bukan siapa-siapamu, jadi jangan panggil aku begitu. Kalau kamu pikir kamu bisa lepas dari kemarahanku karena Mama ada di sini, kamu salah." Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatapku dengan tajam.

"Aku akan cari cara .... Kamu tahu betapa menyakitkannya apa yang kamu lakukan pada Ara dan aku? Kamu adalah alasan dia putus denganku," katanya marah.

"Ga ... Gabriel .... Aku minta maaf, aku juga nggak tahu .... Sudah berkali-kali aku bilang. Aku juga bingung tiba-tiba bangun di sebelahmu di kasur itu," kataku padanya sambil menangis.

"Kamu pikir aku percaya? Nggak, Carissa. Ara bilang kamu sudah lama diam-diam suka padaku .... Jadi kamu mungkin memang cari cara untuk pisahkan kami," katanya marah.

"Apa yang kamu masukkan ke minumanku? Kenapa aku bangun di kamarmu ...? Carissa, jawab aku," kata Gabriel sambil mengguncang bahuku. Cengkeramannya kuat, itu sakit banget.

Aku kaget dengan pertanyaannya. "Aku nggak tahu ... tolong percaya padaku .... Bahkan aku juga kaget bagaimana kita bisa ada di kamar itu .... Bagaimana kita bisa ada di ranjang bersama .... Aku juga bingung, Gabriel," jawabku.

Aku melihat dia terdiam sebentar. Tapi setelah beberapa saat, kegarangan kembali ke wajahnya. "Kamu pembohong! Ini semua ulahmu, kamu akan menyesal karena melakukan ini."

Dia lalu melepaskan bahuku dan berpaling. Aku pikir dia akan pergi, tapi dia tiba-tiba menghadapku dan menyeringai.

"Karena kamu sudah jadi istriku, mungkin kita harus tidur bersama sekarang, atau minimal kamu harus menjalankan tugasmu sebagai istriku," katanya sambil menyeringai.

"Apa? Maksudmu apa?" tanyaku bingung. Dia tiba-tiba mendorongku ke kasur dan menindihku.

"Kamu jelas tahu maksudku. Apa yang biasa dilakukan pasangan suami istri di dalam kamar tidur?" bisik Gabriel padaku.

Aku merinding. Ya, aku memang pernah suka padanya .... Aku naksir dia dulu, tapi aku nggak akan setuju kalau sampai terjadi apa-apa lagi di antara kami. Hati nuraniku nggak bisa menerima. Aku tahu dia cinta Ara, dan aku nggak mau dimanfaatkan.

"Nggak, aku nggak mau," kataku sambil mendorongnya. Tapi dia terlalu kuat. Dia nggak beranjak sedikit pun dari posisinya di atasku.

"Ya, Carissa. Kamu akan menjalankan tugasmu sebagai istri di ranjang." Tiba-tiba aku merasakan tangannya masuk ke dalam baju tidurku. Aku pakai blus dan celana panjang waktu tidur. Aku pun tersentak karena ulahnya.

"Gabriel, aku nggak mau. Tolong kasihanilah aku. Aku nggak mau itu terjadi lagi," pintaku padanya. Dia kuat, dan kalau dia mau, dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan.

Aku merintih waktu merasakan tangannya yang lain meremas dadaku. Rasanya sakit, itu membuatku makin panik. Tangannya yang lain dengan paksa berusaha mengangkat blusku.

Aku nggak akan setuju kalau sampai terjadi apa-apa lagi di antara kami. Walaupun pernah terjadi .... Tapi kenapa aku nggak bisa ingat apa-apa .... Apa yang sebenarnya terjadi di antara kami malam itu?

Aku mencoba mendorongnya saat dia sibuk dengan apa yang dia lakukan. Aku benar-benar nggak mau. Aku nggak bisa melakukannya karena aku tahu dia nggak punya cinta padaku. Aku pun mencakar lengannya dan memukul dadanya dengan kedua tangan, membuatnya menghentikan apa yang dia lakukan.

Dia lalu menatapku kesal. "Ada apa, Carissa? Apa lagi yang kamu banggakan? Aku sudah ambil semuanya darimu. Cara kamu bersikap sekarang, kamu begitu .... Kamu bikin jijik. Aku tahu ini yang kamu mau, makanya kamu menjebakku," katanya mengejek sebelum turun dari atasku.

Aku menangis mendengar ucapannya. Aku tahu, apa pun penjelasan yang kuberikan soal kejadian itu, dia nggak akan percaya. Jadi aku cuma diam sambil menangis.

"Sialan! Omong kosong! Diam di situ saja kalau begitu! Kamu ini lebay banget. Lain kali, jangan berani-berani berakting lebay denganku, oke? Lain kali, kamu nggak akan lolos dariku. Penuhi tugasmu sebagai istri di ranjang! Setidaknya dengan begitu aku bisa balas dendam padamu! Nggak usah khawatir, kamu juga akan menikmatinya. Tapi sekarang, aku sudah nggak nafsu! Sialan!" Dia lalu keluar dari kamarku.

Ketika Gabriel pergi, seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku duduk meringkuk di sudut ruangan, berusaha menenangkan diri.

Air mata mengalir deras dari mataku. Aku takut. Aku tahu dia bisa melakukan semua ancaman yang dia katakan padaku. 'Gimana ini? Apa yang sudah terjadi pada hidupku? Aku bahkan nggak punya siapa-siapa untuk curhat. Aku juga nggak mau cerita ke teman-temanku dulu. Mereka pasti akan kaget.'
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 100

    POV Ara.Sambil pegangi pinggulku yang masih terasa nyeri, aku jalan tertatih menuju pintu yang terkunci. Aku coba putar gagangnya, berharap sepenuh hati bisa kabur dari tempat terkutuk ini.Namun harapanku langsung runtuh ketika aku sadari pintu itu benar-benar terkunci. Aku nggak bisa keluar. Gaston kurung aku di sini.“Buka pintunya! Tolong biarkan aku keluar! Tolong!” teriakku sambil memukul-mukul pintu itu, dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Aku nggak tahu apa aku masih sanggup bertahan jika Gaston kembali lakukan hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.Aku terus pukul pintu kayu itu. Namun tempat ini terasa sunyi seolah nggak berpenghuni, nggak ada satu orang pun yang jawab aku. Perlahan aku jatuh ke lantai, air mata kaburkan pandanganku, tubuhku gemetar karena takut. Aku sama sekali nggak tahu nasib seperti apa yang menungguku di tangan Gaston.Aku jalan tertatih kembali ke ranjang kecil itu lalu rebahkan diri menyamping sambil terus menangis. Aku merasa nggak punya siapa pun di

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 99

    POV Ara.Aku pejamkan mata rapat-rapat saat Gaston lepaskan kait bra-ku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jadi manusia paling hina di dunia. Aku bisa dengar suara siulan, tawa, dan decakan kagum dari teman-temannya ketika dadaku terekspos sepenuhnya di hadapan mereka.“Ayo, Gaston mulai saja. Kita sudah nggak sabar di sini. Lihat tubuhnya … gila,” ujar pria di samping sopir dengan nada penuh gairah menjijikkan.“Nggak! Ga-Gaston, aku mohon … kasihanilah aku. Jangan hina aku seperti ini!” pintaku sambil nangis.“Ara, sayangku … ternyata kamu belum benar-benar kenal aku. Beginilah aku saat marah. Kenapa kamu lari dari aku?” geram Gaston di dekat telingaku, sementara tangannya sibuk lepaskan pakaiannya sendiri.Aku bukan orang bodoh, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tahu apa yang diinginkan pria-pria lain di dalam van itu. Aku rasakan tangan seseorang bergerak dari bahuku menuju payudaraku yang lain. Aku langsung menjauh dengan jijik. Seluruh tubuhku

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 98

    POV Ara.“Gaston, lepaskan aku!” bentakku sambil berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya.Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhku begitu aku lihat wajah Gaston dengan jelas. Aku sama sekali nggak nyangka dia sudah kembali ke negara ini.Namun kalau dipikir-pikir, sejak aku melarikan diri darinya, aku memang nggak pernah dengar kabarnya lagi. Sekarang dia juga jadi buronan, aku sendiri yang laporkan dia dengan bantuan Gabriel.Gabriel berhasil hapus video-videoku dari situs-situs porno tempat video itu sempat tersebar. Bagi Gabriel, hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan, mengingat koneksi yang dia miliki.“Tenang, sayangku,” ujar Gaston sambil tarik aku kasar dan dorong aku masuk ke dalam van. Aku hampir terjatuh karena kuatnya dorongan itu.Begitu mataku menyapu isi kendaraan itu, napasku tercekat ketakutan, ada beberapa orang lain di dalamnya. Semuanya laki-laki, dan mereka semua menatapku sambil menyeringai. Total ada enam orang, termasuk Gaston dan sopir. Tig

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 97

    POV Ara.Aku terisak di depan pintu kaca mausoleum tempat kedua orang tuaku dimakamkan. Kedua tanganku menempel erat di permukaannya yang dingin, sementara rasa sakit di dadaku terasa begitu menyesakkan. Sudah berbulan-bulan berlalu, tetapi semua yang terjadi masih terasa begitu nyata di kepalaku, seolah semuanya baru terjadi kemarin. Hati nuraniku nggak pernah kasih aku ketenangan.Aku terus mimpikan wajah Mama. Dalam mimpiku, dia marah ke aku. Papa juga seperti itu.Sulit sekali terima kenyataan, setelah semua cinta yang mereka berikan ke aku, justru aku yang akhiri hidup mereka.Aku menyesal seumur hidup pun, semuanya sudah terlambat.Nggak ada air mata yang mampu hidupkan kembali nyawa yang telah aku ambil dengan tanganku sendiri.Mausoleum itu terkunci, jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Namun jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih ke Carissa. Setelah semua yang telah kita lakukan ke dia, Carissa masih kasih Mama dan Papa pemakaman yang layak dan penuh penghormatan.Ini a

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 96

    POV Carissa.Aku baru saja hendak bilang sesuatu ketika Gabriel bungkam aku dengan sebuah ciuman. Mataku perlahan terpejam, nikmati manisnya bibirnya yang selalu berhasil buat aku tenggelam. Harus aku akui, aku cinta setiap ciuman yang dia berikan ke aku.“Gabriel, sudah. Ayo tidur saja. Anak-anak bisa bangun dan lihat apa yang kamu lakukan,” bisikku pelan.“Sayang, aku ingin kamu. Tolong, aku sudah nggak bisa tahan lagi. Malam ini aku benar-benar ingin rasakan kamu,” bisik Gabriel di telingaku. Dia gigit pelan daun telingaku, buat tubuhku seketika langsung meremang. Aku gigit bibirku sendiri agar nggak keluarkan suara. Anak-anak bisa terbangun kapan saja.“Tapi kita nggak bisa. Anak-anak ada di sini,” jawabku lirih.Namun saat katakan itu, tubuhku justru mulai bereaksi terhadap sentuhannya. Aku juga kangen dengan kehangatan Gabriel. Tangannya terus bergerak tanpa henti, menyelinap ke balik pakaian tidurku dan perlahan belai dadaku.Aku tahan desahan yang hampir lolos.Sesaat kemudian

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 95

    POV Carissa.Aku tertawa waktu dengar ucapan Roxie. Aku tahu akhir-akhir ini penampilanku memang banyak berubah.“Ah, bisa saja kamu. Dari dulu aku memang cantik, tahu? Ngomong-ngomong, kapan kamu mau nikah?” tanyaku sambil menggoda.“Apaan sih? Aku masih muda, yah. Nikah itu belum masuk daftar rencanaku sekarang,” jawabnya santai.“Ya sudah, santai saja. Nanti juga pria yang tepat datang sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong soal itu. Gabriel bilang Jonathan undang kita. Katanya minggu depan dia akan buka resort barunya di Paloria,” kataku pada Roxie.“Beneran? Aku malah belum tahu soal itu,” ucap Roxie sambil mengernyitkan dahi.Aku menatapnya heran. Bukannya Jonathan adalah kakaknya sendiri? Gimana mungkin dia nggak tahu soal bisnis kakaknya?“Kok bisa kamu nggak tahu? Dia kan kakakmu sendiri. Dasar lucu,” balasku sambil terkekeh.“Andai kamu tahu yang sebenarnya .…” gumam Roxie lirih. Ada nada sedih yang samar dalam suaranya. Lalu dia berdiri dan pamitan.Aku perhatikan dia pergi dengan

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 5

    POV CarissaAku tiba di kampus pagi-pagi sekali. Seperti yang sudah diperintahkan Mama Moira dan Papa Ralph, aku diantar Raul. Mulai hari ini, dia yang akan mengantar-jemputku. Meskipun aku malu, nggak ada yang bisa kulakukan karena ini yang mereka mau. Aku langsung menuju tempat nongkrong kami, tem

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 2

    POV Ara Aku sedang di taman di rumah kami, duduk bersila, senyum-senyum sendiri sambil melamun. Akhirnya, rencanaku berhasil, Mama adalah “kaki tangan”ku. Aku menghisap rokokku lalu menghembuskan asapnya. Aku pun memejamkan mata, menikmati nikotin yang meluncur ke tenggorokanku. Setelah rokok habis

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 1

    POV CarissaAku langsung kaget dan terbangun saat mendengar seseorang menggedor-gedor pintu kamarku. Aku nggak tahu ini jam berapa—yang kurasa cuma sakit kepala yang nyut-nyutan. Waktu aku turun perlahan dari kasur, aku baru sadar kalau aku nggak pakai baju apa-apa. Tapi saat aku lihat ke kasur, ada

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 3

    POV Carissa Upacara pernikahan dengan Gabriel sudah selesai. Aku masih linglung waktu itu. Aku nggak percaya semuanya terjadi secepat ini. Aku nggak tahu gimana harus bersikap. Yang aku tahu, jauh di lubuk hati, aku takut.Aku sedang berada kamarku, mengemasi barang-barang. Aku harus ikut Gabriel k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status