共有

Bab 3

作者: Cathy
POV Carissa

Upacara pernikahan dengan Gabriel sudah selesai. Aku masih linglung waktu itu. Aku nggak percaya semuanya terjadi secepat ini. Aku nggak tahu gimana harus bersikap. Yang aku tahu, jauh di lubuk hati, aku takut.

Aku sedang berada kamarku, mengemasi barang-barang. Aku harus ikut Gabriel karena itu yang sudah disepakati sebelum pernikahan. Meskipun aku kesal pada Mama Papaku yang seolah-olah mengusirku, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku harus menuruti mereka meskipun itu bertentangan dengan keinginanku.

Aku sudah bertemu orang tua Gabriel, dan aku nggak tahu harus bersikap apa di depan mereka. Mereka tahunya Ara adalah pacar anak mereka. Mereka mungkin memandangku rendah. Mereka kelihatannya baik, tapi siapa tahu mereka hanya berpura-pura. Setahuku orang-orang kaya biasanya kaku dan susah diajak bergaul. Sedangkan Gabriel, aku tahu dia marah padaku. Aku bisa lihat kemarahan dan kebencian di matanya setiap kali dia menatapku.

Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku nggak bisa banyak bicara dengan Mama dan Papa, apalagi Ara. Yang mereka katakan cuma aku nggak bisa tinggal di rumah ini lagi karena Ara sakit hati gara-gara kejadian itu. Aku juga sakit hati. Aku bahkan nggak tahu kenapa semua ini terjadi.

Aku tahu Mama dan Papa lebih sayang pada Ara daripada aku. Kadang aku bertanya-tanya, apa aku benar-benar anak mereka, bahkan dari dulu, aku nggak pernah merasa dianggap ada di keluarga ini. Ara selalu jadi kesayangan mereka. Apa pun yang dia mau, selalu dikasih, sementara aku sama sekali nggak dipedulikan.

Sedih rasanya karena aku nggak bisa rasakan apakah aku penting bagi keluarga ini. Aku nggak tahu nasibku ke depan akan bagaimana.

Aku juga belum cerita soal keadaanku ini ke teman-temanku. Mereka pasti bakal kaget kalau tahu aku sudah menikah. Aku berencana kasih tahu mereka saat sudah masuk kuliah saja. Yang jelas, aku harus fokus memikirkan bagaimana hidupku nanti saat tinggal bersama Gabriel. Aku cuma berharap dia baik padaku dan nggak menyalahkanku atas apa yang terjadi.

"Sudah selesai kemasi barang-barangmu? Gabriel sudah lama nunggu di bawah. Cepat sedikit. Kamu lambat banget sih," kata Mama padaku dengan nada tinggi.

"Hampir selesai, Ma. Aku lagi susun buku-buku kuliahku. Memastikan nggak ada yang kelupaan," jawabku.

"Sekarang kamu dan Gabriel sudah menikah, dia yang bertanggung jawab atas kamu. Kami nggak peduli lagi dengan keputusan apa pun yang dia ambil soal kehidupan kalian. Minggu depan, kakakmu akan ke Kota Yorke untuk mengejar impiannya jadi model dan juga untuk melupakan masalah ini," kata Mama. Meskipun aku terkejut dengan kabar terbaru dari Mama, aku nggak menanggapi dan melanjutkan kegiatanku. Aku memang sudah tahu sejak dulu kalau impian Ara adalah keluar negeri dan pergi ke Kota Yorke untuk jadi model terkenal.

"Ma, aku harap Ara bisa maafin aku. Meskipun sampai sekarang aku masih bingung kenapa ini bisa terjadi," kataku sedih.

"Kamu membiarkan sifat genitmu menguasaimu. Aku nggak tahu sifat itu turun dari siapa. Kamu selalu buat masalah di keluarga ini," kata Mama padaku dengan marah.

"Kata-kata Mama itu menyakitkan. Demi Tuhan, aku juga nggak mau ini semua terjadi," kataku sambil air mata terus menetes.

"Nggak usah drama deh. Cepatlah supaya kamu bisa pergi," katanya marah. Mama nggak peduli pada perasaanku. Mungkin dia memang nggak punya kasih sayang sedikitpun untukku. Cara mama memperlakukanku, seperti aku bukan anaknya sama sekali.

Air mataku makin deras mendengar kata-kata Mama. Sakit rasanya mendengar ucapan menyakitkan seperti itu. Rasanya seakan mereka bukan orang tuaku. Aku bahkan nggak bisa merasakan kasih sayang mereka.

"Ma, kenapa Mama begini padaku? Kenapa aku nggak bisa rasakan kasih sayang Mama?" Aku nggak tahan untuk tidak mengatakan itu padanya.

"Persetan! Nggak usah lebay lah. Kita semua tahu kalau kakakmu Ara jauh lebih baik darimu dalam segala hal. Dia yang akan bawa keberuntungan untuk keluarga ini. Kamu? Apa kontribusimu pada keluarga ini?" kata Mama marah. "Sejak kecil, Ara selalu bawa kehormatan untuk keluarga kita. Dia selalu menang di kontes kecantikan yang dia ikuti. Kakakmu pintar dan punya cita-cita dalam hidup. Sementara kamu? Kamu punya apa? Nggak ada, kan? Kamu nggak punya cita-cita dalam hidup. Jadi jangan tanya kenapa kami lebih memilih Ara daripada kamu. Karena dia jauh lebih baik darimu dalam banyak hal," lanjut Mama panjang lebar.

Aku makin terisak mendengar ucapan Mama. Sakit banget rasanya mendengar ibu kandungmu sendiri membanding-bandingkan kamu dengan saudaramu. Rasanya hatiku ditusuk-tusuk jarum.

Aku nggak berkata apa-apa lagi dan cuma melanjutkan kemas-kemas barangku. Aku kesal sama Mama, tapi aku nggak mau bicara lagi karena itu cuma akan membuat perasaanku makin benci padanya.

"Ayo cepat, nanti Gabriel bosan menunggumu!" bentak Mama lagi dan langsung keluar dari kamarku.

...

Aku sekarang sudah di mobil Gabriel. Dia ada di kursi depan samping sopir, dan aku di belakang. Kami diam sepanjang perjalanan saat mobil melaju.

Tepat setelah upacara pernikahan, orang tua Gabriel langsung pergi. Selain upacara pernikahan yang berlangsung di perpustakaan rumah kami, nggak ada acara lain. Nggak ada resepsi atau kumpul-kumpul seperti pernikahan normal lainnya. Hanya selembar kertas yang memisahkan kami berdua.

Aku juga nggak melihat Ara sebelum kami pergi. Menurut Papa, dia mengunci diri di kamar dan belum mau bicara dengan siapa pun.

Aku nggak tahu Gabriel akan membawaku ke rumah yang mana, tapi aku berharap hubungan kami bisa baik-baik saja. Aku berharap dia nggak melakukan ancamannya untuk membalas dendam padaku karena Ara putus dengannya.

"Langsung saja ke Vila." Aku mendengar Gabriel bilang ke sopirnya, Raul Sanchez. "Carissa nggak boleh tinggal di rumah impian yang kubangun bersama Ara. Tempat itu cuma milik kami berdua, nggak ada wanita lain yang akan tinggal di sana."

Hatiku terasa diremas mendengar itu. Aku nggak komentar apa-apa karena tahu aku nggak punya hak untuk mengeluh.

Setelah beberapa saat, kami memasuki area yang luas. Aku terperangah melihat keindahan halamannya. Rasanya seperti berada di surga, aku nggak menyangka mereka sekaya ini.

Pembantu mereka, Delia Samson, menyambut kami. "Selamat sore, Tuan Gabriel." Dia menyapa Gabriel dengan sopan.

"Bawa Carissa ke kamar pelayan. Dia orang baru yang akan mendampingimu di sini. Tunjukkan semua yang harus dia lakukan," kata Gabriel.

Aku terpana mendengar ucapannya. Aku nggak sangka dia akan menjadikanku pelayan rumah. Yah, mungkin ini pembalasan dendam yang dia maksud. Jadi aku nggak bicara dan cuma menundukkan kepala.

"Apa? Tapi Nyonya Moira bilang dia istri Anda?" kata Delia terkejut.

"Nggak. Aku nggak punya istri, dan aku nggak akan pernah menjadikannya istriku," jawab Gabriel dengan gigi terkatup.

"Oh. Baik, saya mengerti. Ayo ikut saya, saya tunjukkan kamarmu," kata Delia, menoleh padaku.

"Raul, ambil barang-barang Carissa dari mobil dan bawa ke kamar pelayan," perintah Gabriel pada sopirnya.

"Baik, Tuan Gabriel," jawab Raul.

"Apa-apaan ini?! Carissa tinggal di kamar pelayan? Gabriel, apa maksudnya ini? Omong kosong apa yang ada di kepalamu?" Tante Moira tiba-tiba muncul.

"Mama nggak salah dengar. Carissa akan tinggal di kamar pelayan karena aku nggak akan pernah bisa menerimanya sebagai istriku. Hanya ada satu wanita yang ingin kunikahi, yaitu Ara," jawab Gabriel.

"Gabriel, jaga mulutmu. Istrimu ada di sini. Apa kamu nggak pikir dia akan tersinggung oleh apa yang keluar dari mulutmu?" Tante Moira memarahi.

"Nggak, Ma, lagian wanita itu nggak punya perasaan atas apa yang dia lakukan pada Ara dan aku," balas Gabriel.

"Gabriel, sejak kapan kamu jadi kasar gini?! Papa dan Mama nggak membesarkanmu untuk menyakiti perasaan orang, apalagi istrimu sedang berdiri di depanmu," jawab Tante Moira dengan marah.

"Dia harusnya tinggal di kamarmu karena dia istrimu," kata Tante Moira pada Gabriel.

"Nggak, Ma, aku nggak punya istri, dan aku yang akan memutuskan di mana kamar Carissa karena dia sudah berbuat salah padaku," jawab Gabriel.

"Itu bahkan lebih nggak boleh, Nak. Jangan gini sama istrimu. Bagaimanapun juga, Carissa sekarang istrimu, jadi kamu harus membiasakan diri untuk menghormatinya sebagai pasangan hidupmu," jelas Tante Moira.

"Dia nggak akan tinggal di kamarku, Ma. Kalau Mama memaksakan keinginan Mama, aku benar-benar nggak akan pulang ke rumah ini lagi. Aku nggak mau bersama wanita itu," jawab Gabriel.

Aku merasa seperti ditampar mendengar itu. Kata-kata Gabriel sangat menyakitkan. Dia memang marah padaku.

"Tante Moira, nggak apa-apa. Aku tinggal di kamar pelayan saja. Tolong, jangan bertengkar," kataku pelan. Aku malu dengan apa yang terjadi. Gara-gara aku, ibu dan anak ini seolah-olah akan saling membenci.

"Panggil Mama, Carissa. Sejak kamu dan Gabriel menikah, Tante jadi ibu mertuamu. Jadi kamu harus memanggil Om Ralph dan Tante, Papa dan Mama sekarang," kata Tante Moira padaku.

Aku terkejut dengan ucapannya. Aku nggak nyangka dia sebaik ini. Aku nggak melihat ada penghakiman dalam tatapannya. Dia seolah menerima apa yang terjadi.

"Oke, Ma .... Ma .... Mama," jawabku terbata-bata, dan ketika mataku tertuju pada Gabriel, dia menatapku tajam. Dia terlihat menakutkan ketika menatap seperti itu.

"Gabriel, kalau kamu belum siap mengizinkan istrimu tinggal di kamarmu, dia bisa tinggal di salah satu kamar lain di rumah ini. Kita punya banyak kamar kosong di sini di mana Carissa bisa nyaman. Mama mohon jangan kejam padanya. Dia terlalu muda untuk menderita," kata Tante Moira dengan lembut.

"Terserah mama saja, asalkan jangan di kamarku karena aku nggak akan pernah bisa menerima wanita itu. Aku masuk dulu, percakapan ini nggak ada ujungnya." Gabriel langsung berbalik pergi.

"Ayo, Nak, Aku akan tunjukkan kamarmu. Tolong sabar dengan suamimu untuk saat ini ya?" kata Tante Moira padaku dengan manis.

"Tante, maksudku Mama, nggak marah padaku? Aku yang disalahkan semua orang karena kekacauan ini," tanyaku pada Tante Moira dengan air mata mulai menggenang.

"Sayang, aku nggak berhak menghakimimu. Kamu baru delapan belas tahun, kan? Kamu terlalu muda untuk masalah seperti ini," jawab Tante Moira sambil tersenyum.

Aku nggak percaya mama Gabriel sebaik ini. Aku benar-benar mengira dia akan bersikap tegas karena dia nggak berkomentar apa-apa tadi waktu di acara pernikahan.

"Terima kasih, Ma. Mama baik banget," jawabku sambil tersenyum.

Dia menatap wajahku dan mengelus pipiku. Kedua pipiku masih sedikit sakit karena tamparan Mama pagi tadi.

"Ayo, Nak, Aku tunjukkan di mana kamarmu," Tante Moira menggandeng tanganku.

"Raul, bawa barang-barang Carissa ke kamarnya," perintah Tante Moira pada Raul.

"Ya, Nyonya," jawab Raul.

"Ayo, Nak ...." kata Tante Moira padaku.

...

Aku nggak percaya betapa indahnya kamar yang diberikan Tante Moira padaku. Seluruh ruangan berwarna merah muda, dan kemewahan perabotan di dalamnya benar-benar terlihat. Sangat berbeda dengan tampilan kamarku di rumah kami. Aku nggak bisa membayangkan betapa kayanya mereka.

"Ini akan jadi kamarmu, Sayang. Pintu yang kita lewati tadi adalah kamar suamimu," kata Tante Moira padaku sambil tersenyum.

"Kamar ini indah banget, Ma. Terima kasih," kataku padanya sambil tersenyum.

"Nah, Sayang, istirahat dulu ya. Mama tahu kamu capek. Mama akan suruh pelayan memanggilmu nanti kalau sudah waktunya makan malam," kata Tante Moira padaku.

"Terima kasih lagi, Ma," kataku dengan malu-malu. Dia hanya tersenyum padaku dan meninggalkan ruangan.

Ketika aku sendirian di kamar, aku termenung. Masa depan seperti apa yang menantiku di babak baru kehidupanku ini? Aku sangat bersyukur Tante Moira baik padaku. Aku takut pada Gabriel, yang sekarang jadi suamiku. Dia menatapku dengan tatapan berbeda. Menyakitkan dan tajam. Kemarahannya padaku sangat jelas.

Sakit rasanya karena mereka menuduhku yang bersalah.

Aku menyentuh pipiku yang masih merah karena tamparan ibuku. Aku pun menghela napas sedih. Aku nggak tahu nasib apa yang menantiku. Rasanya seperti aku sudah dibuang oleh keluargaku sendiri. Mereka semua marah padaku gara-gara kejadian itu. Yah, aku nggak bisa menyalahkan mereka karena bahkan dari dulu, Ara selalu jadi anak kesayangan mereka.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 50

    POV CarissaGabriel dan aku akhirnya sendirian di kamar. Teman-temanku telah pergi.Keheningan yang canggung menyelimuti kami. Dia telah menatapku untuk waktu yang terasa seperti selamanya, senyum lembut, hampir konyol, tersungging di bibirnya. Dia bertingkah sangat berbeda."Dokter sudah izinkan kamu untuk makanan lunak. Mau aku ambilkan kamu sesuatu?" tanyanya, suaranya luar biasa lembut.Aku hanya menggeleng, nggak yakin gimana harus bicara dengannya. Kenapa dia masih di sini? Bukankah seharusnya dia pulang?'Mungkin Ara menunggunya,' pikirku. Gagasan mereka menikah membuat mataku perih dengan air mata yang hampir jatuh."Jadi … gimana kabar bayi-bayi itu? Roxie bilang mereka ada di vila." Aku berhasil bertanya, mengalihkan pembicaraan."Mereka sempurna. Orang tuaku jaga mereka. Ini, mau lihat?" tanyanya, sudah mengeluarkan ponselnya.Dia bergerak lebih dekat, duduk di tepi tempat tidur. Napasku tercekat saat dia dengan hati-hati membantuku duduk dan bersandar pada kepala tempat tid

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 49

    POV Carissa"Ya, tapi kamu yang mulai langgar janji kita pada Carissa, dan ...." Ronald mencoba membela diri, tetapi Roxie memotongnya lagi."Dan kamu diam saja! Soalnya kamu terpesona melihat teman-teman Gabriel dan Jonathan yang seksi setiap kali mereka berkunjung," balas Roxie."Bisa berhenti nggak? Kalau nggak aku akan beri tahu Papamu tentang akun Instagram rahasiamu," ancam Roxie, meskipun kami semua tahu itu adalah gertakan kosong."Dasar penyihir. Selalu pakai itu untuk mengancamku? Baiklah! Terserah! Itu salah kami berdua. Katakan saja kami berdua yang buka rahasia, meskipun kami nggak benar-benar bicara .…" gerutu Ronald, bibir bawahnya cemberut berlebihan."Baiklah, kalian berdua, cukup." Aku menyela, senyum menyentuh bibirku. "Aku sebenarnya nggak marah. Tapi kalian berjanji akan merawat bayi-bayiku. Kenapa nggak? Untung aku nggak mati, kalau tidak hantuku sudah menghantui kalian sekarang." Aku nggak bisa menahan diri untuk melemparkan lelucon itu.Mata mereka tiba-tiba mel

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 48

    POV CarissaAku hanya menggelengkan kepala melihat kedua temanku yang konyol ini. Aku nggak mengerti kenapa mereka keluar dengan dramatis. Seolah-olah mereka melihat selebriti, bukan wanita yang bangun dari tidur.Semenit kemudian, mereka masuk kembali, keduanya terengah-engah. Ronald bahkan tampak menyeret Roxie yang kehabisan napas karena tergesa-gesa."Sobat! Kamu benar-benar bangun!" Suara Roxie murni penuh kegembiraan. Dia bergegas ke sisi tempat tidurku, menangkup wajahku dan menatap mataku seolah ingin memastikan aku nyata. Aku nggak bisa menahan senyum."Syukurlah kamu kembali. Ya Tuhan, kamu sudah nggak sadar selama lebih dari setahun," kata Ronald, kebahagiaan terpancar.Aku membuka mulut untuk menanyakan jutaan pertanyaan yang berputar di kepalaku, tetapi pintu terbuka lagi, dan Dokter Aster masuk bersama dua perawat. Dia pun memulai pemeriksaannya dengan senyum hangat."Selamat datang kembali, Carissa. Gimana perasaanmu?" tanyanya."Aku … baik-baik saja," kataku, suaraku se

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 47

    POV GabrielAku adalah Gabriel Madison. Nama itu memiliki bobot di kota ini. Aku memiliki kekayaan, pengaruh, dan reputasi yang membuat orang memperhatikanku, terutama para wanita.Aku nggak pernah menjadi orang yang cengeng. Akulah yang biasanya mengakhiri hubungan, yang biasa dikejar. Tapi Carissa … dia mengubah segalanya. Karena dia, air mataku jatuh tanpa peringatan.Siapa pun yang mengenalku akan terkejut melihat Gabriel Madison berlutut karena seorang wanita. Sama seperti mereka sekarang, melihatku berdiri di sini ….Air mata mengalir di wajahku saat aku melihat senyum samar dan sadar di bibirnya. Aku nggak bisa mencerna. Dia sudah bangun ....Aku berjalan ke kamarnya dalam keadaan linglung. Roxie dan Ronald menoleh saat aku masuk, mata mereka juga berkaca-kaca, dan mereka diam-diam menyingkir untuk memberiku ruang. Istriku, wanita yang kucintai lebih dari segalanya, menatapku kembali, ekspresinya penuh keheranan yang lembut.Dia akhirnya bangun. Sekarang dia sudah sadar. Aku pun

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 46

    POV Gabriel"Kami mohon maaf, Tuan." Salah satu dari mereka menjawab, pandangannya terpaku pada lantai.Aku menghela napas panjang dan menyerahkan cek kepada mereka berdua. Mereka mendongak, terkejut."Saya nggak akan coba hentikan kalian. Ini adalah gaji terakhir kalian. Tapi tolong, tunggu sampai besok pagi untuk pergi, ini sudah terlalu malam untuk bepergian," kataku, menjaga suaraku tetap tenang."Tapi, Tuan Gabriel, ini … ini terlalu banyak." Salah satu tergagap, melihat jumlah yang murah hati itu."Anggap saja sebagai bonus. Gunakan untuk keluarga kalian. Kalian layak mendapatkannya," jawabku."Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak," kata mereka serempak, kelegaan mereka sangat terasa."Tolong minta Marta masuk menemui saya sebelum kalian pergi," kataku. Kupikir nggak ada gunanya mempekerjakan pengasuh baru saat ini."Ya, Tuan Gabriel. Terima kasih sekali lagi."Beberapa menit kemudian, Marta masuk. Aku pun memberi isyarat padanya untuk duduk."Marta, kamu sudah lihat polanya.

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 45

    POV Gabriel"Sstt, Sayang, Oma memelukmu." Mama membujuk sembari dengan lembut mengayunkan Christian yang sekarang mulai tenang."Kamu terlalu berlebihan, Sayang. Dia mungkin hanya lapar," kata Papa mengelak. Dia berbalik ke Miracle, mencium dahinya dan mencubit pipinya dengan lembut. Putriku tertawa, melambaikan tangannya kegirangan."Jangan coba-coba alihkan pembicaraan. Kamu buat dia terkejut. Lagian bukannya kamu mau tidur?" tanya Mama, nadanya melunak."Aku memang mau tidur. Aku mau tidur di sini malam ini. Ranjangnya cukup besar," jawab Papa dengan senyum hangat."Sungguh mengejutkan," kata Mama, senyumnya kembali. "Kamu selalu tidur di sini.""Itu karena kamu selalu di sini, Sayangku. Jadi aku tentu harus di sini juga," jawab Papa.Mereka bersikeras memasang ranjang ukuran king di kamar bayi, dan itu telah menjadi rutinitas malam mereka. Jika mereka bisa pindahkan si kembar ke kamar mereka sendiri, mereka pasti sudah melakukannya. Aku menolak ide itu, ingin mereka memiliki ruang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status