Share

Bab 7

Author: Cathy
POV Gabriel

Aku sudah cukup lama menatap wajah cantik Carissa. Banyak pikiran mengganggu benakku. Aku nggak menyangka dia masih perawan, padahal kami berdua terbangun tanpa busana pagi itu. Kalau begitu, berarti nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Tapi siapa yang merencanakan semuanya? Kenapa kami bangun bersebelahan pagi itu, sama-sama telanjang?

Aku nggak pulang beberapa hari ini karena aku sibuk dengan urusan bisnis. Aku juga baru kembali dari tur bisnis di Eurona tadi pagi. Aku tahu Carissa mengira aku menghindarinya, bahwa aku marah padanya. Sebenarnya aku juga nggak peduli sama dia karena aku pikir dia sudah berbuat jahat pada Ara dan aku, bahwa dia sudah menjebakku.

Dia sudah berkali-kali menolak, bersikeras kalau dia nggak tahu apa yang terjadi, bahwa dia nggak bersalah. Sekarang aku merasa bersalah. Kalau itu benar, lalu siapa yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kami?

Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Aku nggak tahu harus merasa apa saat ini. Aku akui, aku sangat membenci Carissa karena hubunganku dengan Ara hancur. Aku pikir dia menjebakku, bahwa dia dalang di balik semua ini. Tapi malam ini aku sudah membuktikan kalau dia nggak bersalah. Dia polos banget.

Aku membelai wajahnya dengan lembut. Dia bahkan nggak bangun. Mungkin dia terlalu lelah karena apa yang kami lakukan tadi. Baru sekarang aku menyadari betapa cantiknya dia. Wajahnya terlihat lembut banget. Dulu saat aku mengunjungi Ara, dia selalu menunduk. Dia juga nggak pernah bicara denganku. Aku pun menyadari dia dan Ara nggak dekat. Ara sendiri nggak pernah menyebut-nyebut Carissa waktu kami bersama. Ara nggak suka pada adiknya ini. Tapi aku nggak peduli. Yang penting bagiku waktu itu cuma Ara. Aku nggak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Aku mungkin harus menyelidiki apa yang terjadi pada kami hari itu. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur. Aku lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Aku tahu dia akan kedinginan karena dia nggak pakai sehelai benang pun. Sebesar apa pun keinginanku untuk memakaikannya baju, aku khawatir dia akan bangun. Dia tidur nyenyak banget.

Aku memakai pakaianku sendiri dan mendekatinya lagi di tempat tidur. Aku pun memberinya ciuman ringan di dahi. Aku nggak mengerti apa yang kurasakan sekarang. Rasanya Carissa tiba-tiba mengambil bagian besar dari hatiku. Andai saja aku bisa berbaring di sebelahnya dan tidur semalaman. Tapi aku nggak bisa. Aku punya banyak urusan yang harus kuurus, dan aku harus pergi ke kantor pagi-pagi besok. Aku nggak mau mengganggu tidurnya. Aku takut nggak bisa mengontrol diriku dan akan menidurinya lagi. Aku tersenyum mengingat apa yang terjadi di antara kami barusan. Aku belum mau menidurinya lagi karena aku tahu dia terlalu lelah. Lagipula ini pertama kalinya, pasti tubuhnya akan pegal besok.

Dengannya, aku mengalami menikmati seks untuk pertama kalinya. Nggak pernah membosankan, dan aku tahu tubuhku akan mendambakan sensasi itu. Aku nggak tahu kenapa, tapi dengannya aku merasakan kepuasan seksual. Mungkin ini bonus karena dia masih perawan.

Aku sudah nggak bisa hitung berapa banyak wanita yang sudah bersamaku. Aku hanya pacaran lama dengan Ara. Ara terlalu penyayang dan sangat bagus di ranjang. Aku akui seks pertamanya bukan denganku. Tapi itu bukan masalah besar karena aku tahu susah mencari wanita perawan saat ini. Aku nggak ngerti kenapa keluarga Ara terburu-buru menikahkan kami, Carissa dan aku, padahal aku dan Ara sudah bertemu mereka dan bersama beberapa kali tapi Papa Mama mereka nggak pernah menuntut kami segera menikah. Makanya sampai kejadian malam itu, aku nggak pernah terpikir akan ada hal buruk yang terjadi.

Kebanyakan wanita masa kini nggak terlalu menghargai keperawanan lagi. Makanya aku kaget tadi malam waktu aku berhubungan badan dengan Carissa dan dia masih perawan. Carissa wanita baik-baik, jadi aku harus menebus kesalahanku padanya.

Aku akhirnya meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke kamarku sendiri dan mencari ponselku. Setelah itu aku langsung menelepon Mark Wilson, salah satu temanku yang tahu banyak soal detektif. Aku akan suruh dia selidiki keluarga Carissa. Aku sudah lama berhubungan dengan Ara, tapi aku nggak tahu apa yang terjadi di keluarga mereka. Aku tahu alasanku dangkal, tapi aku ingin tahu semuanya, keluarga macam apa Ara dan Carissa ini.

"Halo Gabriel?!" Kudengar Mark menjawab. Terdengar jelas dari suaranya kalau aku mengganggunya karena suaranya tampak seperti malas-malasan.

"Aku mau selidiki sesuatu, makanya aku menelepon," kataku langsung. Nggak basa-basi. Aku tahu teman-temanku sudah terbiasa dengan kepribadianku.

"Ayolah, Kawan. Ini sudah larut. Nggak bisa tunggu besok?" kata Mark di seberang telepon. Rasa kesal di suaranya nggak terbantahkan.

"Nggak .... Aku nggak mau buang waktu. Kenapa harus tunggu besok kalau kita bisa mulai sekarang?" jawabku tegas.

"Oh Tuhanku ... kalau begitu, siapa yang mau kamu selidiki?" jawab Mark kesal.

"Keluarga Smith," jawabku singkat.

"Hah? Keluarga mantan pacarmu, Ara? Kenapa .... Maksudku, apa kamu benar-benar perlu lakukan ini? Kenapa kamu nggak terima saja kalau kalian berdua sudah tidak bisa bersama karena kamu sudah nikah dengan adiknya?" tanya Mark bingung.

"Malam itu, Carissa dan aku nggak lakukan apa-apa, dan kamu juga tahu, aku paling benci dibodohi siapa pun," jawabku.

"Ap .... Ap .... Apaaaaa? Gimana kamu bisa bilang nggak ada yang terjadi? Bukankah itu alasan kalian tiba-tiba dinikahkan? Kamu sudah rebut keperawanan Carissa, makanya kalian tiba-tiba menikah," balas Mark.

"Itu juga yang kukira .... Tapi ...."

"Tapi apa?" jawab Mark lagi.

"Sesuatu terjadi di antara Carissa dan aku barusan," kataku singkat pada Mark.

"Nggak ada yang salah kan?! Itu normal bagi kalian berdua karena kalian sudah nikah. Jangan bilang itu pertama kalinya kalian berhubungan seks setelah menikah," jawab Mark sambil tertawa.

"Itu dia. Aku bingung karena dia masih perawan tadi. Kalau terjadi sesuatu di antara kami malam itu, dia seharusnya nggak perawan lagi, kan?" jawabku.

"Wow apaa? Tunggu .... Wow ... kamu hebat banget .... Kamu beruntung banget! Tunggu .... Gimana itu bisa terjadi? Bukankah kamu bilang terjadi sesuatu di antara kalian berdua malam itu?" balas Mark.

"Makanya aku mau ini diselidiki. Nggak heran Carissa terus membantah, karena memang nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Rasanya kami berdua cuma ditelanjangi dan dibuat tidur bersebelahan," jawabku.

"Kasihan Carissa kalau begitu. Bayangkan, kamu kutuk dia terus padahal dia juga korban dalam hal ini," kata Mark.

"Makanya aku mau tahu kebenarannya .... Aku mau kamu selidiki dan tolong dapatkan hasil secepatnya," kataku pada Mark.

"Apa sampai perlu penyelidikan segala? Kurasa akan lebih cepat kalau kita tanya Jonathan Diaz saja. Aku yakin dia tahu banyak soal kehidupan Carissa dan keluarganya," balas Mark.

Dahiku mengernyit mendengar balasan Mark. Aku nggak mengerti apa maksudnya, kenapa Jonathan dibawa-bawa dalam percakapan kami?

"Maksudmu apa? Apa hubungannya Jonathan dengan ini?" tanyaku.

"Ya ampun ... kamu ini benar-benar ya ... apa kamu nggak tahu kalau Carissa dan adik Jonathan, Roxie, itu berteman? Aku yakin dia tahu banyak soal apa yang terjadi di kehidupan Carissa. Informasinya pasti gratis, ditambah lagi, kamu akan tahu kebenarannya dalam sehari," jawab Mark panjang lebar.

"Gimana kamu bisa tahu itu?" tanyaku. Aku nggak tahu soal ini. Yah, aku juga biasanya nggak peduli sama hal-hal begini. Pikiranku terlalu fokus pada bisnis, jadi aku nggak punya waktu untuk urusan lain.

"Tentu saja, aku selalu lihat Carissa di rumah mereka waktu kami nongkrong di sana. Mereka sepertinya teman dekat dan kuliah di kampus yang sama. Kamu yang selalu menolak waktu kami ajak kamu minum di rumah Jonathan beberapa kali, jadi begitulah, kamu jadi ketinggalan info," jawab Mark panjang lebar.

Aku nggak bisa menanggapi apa yang dia katakan.

"Aku suka banget sama Carissa. Tapi dia jual mahal banget. Dia nggak mau bergaul sama kami, ditambah adik Jonathan sombong banget," kata Mark sambil tertawa.

Aku menghela napas mendengar ucapan Mark. Aku benar-benar nggak tahu soal hal-hal ini. Mungkin aku telepon Jonathan besok pagi saja. Sekarang sudah terlalu larut, aku tahu dia pasti sudah tidur.

Aku langsung pamit pada Mark. Tapi aku tetap menyuruhnya melakukan apa yang kuminta. Agar lebih yakin.

...

Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi. Aku harus berangkat cepat karena ada rapat jam tujuh pagi. Meskipun ragu, aku melewati kamar Carissa. Aku ingin melihatnya sebelum meninggalkan rumah. Aku nggak tahu kenapa, tapi jauh di lubuk hati, aku ingin selalu melihatnya.

Aku perlahan membuka pintu kamarnya. Senyum muncul di bibirku waktu melihat dia masih tidur. Aku pun nggak masuk kamar lagi dan cuma menutupnya lagi hendak pergi. Kalau aku masuk, dia bisa bangun.

Waktu aku turun ke bawah, aku bertemu Marta Davis, salah satu pembantu kami. Dia menyapaku selamat pagi, yang cuma kubalas dengan anggukan.

"Selamat pagi, Tuan Gabriel .... Sarapan sudah siap di ruang makan," katanya dengan sopan.

"Aku nggak sarapan hari ini deh, Marta. Aku buru-buru sekarang," jawabku dan langsung keluar vila. Aku langsung menuju mobilku yang sudah siap, masuk, dan langsung melaju.

Setibanya di kantor, aku disambut sekretarisku, Aron Mendoza. Aku memilih sekretaris laki-laki karena aku nggak mau kejadian digoda sekretaris perempuan terulang beberapa kali. Banyak sekretaris perempuan yang datang dan pergi. Aku nggak mau mencampuradukkan kesenangan dengan bisnisku, jadi menghindari hubungan intim dengan karyawan.

Aku nggak punya masalah apa-apa bahkan dengan sekretaris laki-laki. Dia rajin dan bisa dipercaya. Dia anak dari mantan karyawan kami dan punya catatan baik di perusahaan kami.

Seharian aku mencoba fokus pada pekerjaanku meskipun Carissa terus terlintas di pikiranku. Aku nggak bisa melupakan apa yang terjadi di antara kami. Aku nggak bisa menghapus wajah cantiknya dari benakku. Tubuhnya yang kudambakan .... Aku nggak tahu apa yang terjadi padaku. Ini pertama kalinya aku merasakan hal ini. Aku nggak tahu apa aku cuma merasa bersalah atau bagaimana.

Aku ingin mendengar suaranya, tapi aku sadar aku nggak punya nomor teleponnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sudah makan? Apa yang dia lakukan? Apa dia memikirkanku juga? Ah, apa yang terjadi padaku?

Aku nggak tahan lagi, aku pun meraih ponselku. Aku akan telepon ke vila. Aku yakin ada yang bakal jawab karena para pengurus rumah ada di seluruh vila saat ini. Saat yang tepat karena ini jam bersih-bersih.

Aku langsung memutar nomor. Belum sampai lima kali dering, ada yang menjawab di seberang telepon. Aku langsung menanyakan soal Carissa.

"Tuan Gabriel, Nona Carissa belum keluar dari kamarnya," jawab suara sopan itu.

Dahiku mengernyit mendengar jawaban itu. Aku tiba-tiba khawatir. Ini jam sepuluh pagi, tapi dia masih tidur? Jam berapa biasanya dia bangun? Aku nggak tahu karena aku nggak peduli padanya sebelumnya, dan aku belum tinggal dengannya di rumah yang sama karena setelah pernikahan kami, aku nggak pernah mengunjungi vila kecuali tadi malam waktu terjadi sesuatu di antara kami.

Aku akui aku membawanya ke kamar untuk membuatnya tersiksa. Aku berencana menjadikannya budak seksku. Tapi semuanya berubah waktu aku tahu dia masih perawan, bahwa aku satu-satunya pria dalam hidupnya.

"Jam berapa biasanya dia bangun?" tanyaku.

"Dia selalu bangun pagi, Tuan Gabriel, tapi saya nggak tahu kenapa dia belum turun hari ini," jawab suara itu.

"Bisa tolong suruh Marta cek Carissa di kamarnya?" perintahku. Aku tiba-tiba khawatir.

"Ya, Tuan Gabriel, saya akan bilang padanya," jawab suara di seberang telepon.

"Bilang pada Marta untuk meneleponku setelah dia mengecek Carissa, mengerti?" perintahku.

"Baik, Tuan Gabriel," jawab suara itu. Aku langsung mematikan ponselku. Aku menatap kosong dengan dahi berkerut. Belum sampai tiga puluh menit, ponselku berdering. Waktu kulihat siapa yang menelepon, aku melihat nomor telepon vila. Aku langsung menjawabnya, dan suara Marta ada di seberang telepon. Aku pun segera menanyakan kabar Carissa.

"Maaf, Tuan Gabriel, saya baru balas telepon sekarang. Saya harus mengurus Nona Carissa dulu karena dia demam tinggi," kata Marta langsung.

Aku nggak bisa menanggapi ucapan Marta. Aku langsung merasa sangat khawatir.

"Tapi Tuan Gabriel, kami sudah memberinya makan dan dia sudah minum obat. Kami pantau dulu, mungkin demamnya akan turun sebentar lagi," tambah Marta.

"Nggak, aku akan suruh Genie Madison datang ke sana untuk cek kondisi Carissa," jawabku. Genie adalah sepupu pertamaku, seumuran denganku dan seorang dokter. Aku tahu dia bisa memeriksa Carissa dengan benar. Dia putri dari Delfin Madison, saudara papaku.

"Ya, Tuan Gabriel. Akan lebih baik kalau dokter yang memeriksa Nona," setuju Marta.

"Tunggu saja di rumah. Dan awasi Carissa. Aku juga akan pulang," kataku pada Marta.

Setelah berbicara dengan Marta, aku langsung menelpon Genie untuk pergi ke vila. Untungnya dia langsung setuju. Mungkin dia nggak terlalu sibuk. Dia bilang dia baru saja keluar rumah dan akan langsung menuju vila.

Begitu aku menutup telepon, aku langsung menelepon sekretarisku untuk masuk ke ruanganku.

"Batalkan semua janjiku hari ini, Aron," kataku langsung padanya.

Rasa bingung yang nggak terbantahkan tertulis di seluruh wajahnya. Mungkin ini pertama kalinya aku membatalkan janji dan rapat. Dia tahu kalau soal pekerjaan, aku ketat.

"Tapi Tuan .... Anda ada rapat makan siang dengan Tuan Chua. Mereka sudah antri lama untuk mendapatkan slot janji. Sekretarisnya juga menelepon saya tadi untuk mengingatkan janji Anda nanti," kata sekretarisku.

Aku menghela napas dan menatap Aron.

"Bilang padanya aku ada urusan darurat. Cari saja alasan," kataku padanya sambil berdiri dan langsung berjalan keluar dari kantor. Aku bergegas masuk mobil dan melaju pulang ke vila dengan kecepatan penuh.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 100

    POV Ara.Sambil pegangi pinggulku yang masih terasa nyeri, aku jalan tertatih menuju pintu yang terkunci. Aku coba putar gagangnya, berharap sepenuh hati bisa kabur dari tempat terkutuk ini.Namun harapanku langsung runtuh ketika aku sadari pintu itu benar-benar terkunci. Aku nggak bisa keluar. Gaston kurung aku di sini.“Buka pintunya! Tolong biarkan aku keluar! Tolong!” teriakku sambil memukul-mukul pintu itu, dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Aku nggak tahu apa aku masih sanggup bertahan jika Gaston kembali lakukan hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.Aku terus pukul pintu kayu itu. Namun tempat ini terasa sunyi seolah nggak berpenghuni, nggak ada satu orang pun yang jawab aku. Perlahan aku jatuh ke lantai, air mata kaburkan pandanganku, tubuhku gemetar karena takut. Aku sama sekali nggak tahu nasib seperti apa yang menungguku di tangan Gaston.Aku jalan tertatih kembali ke ranjang kecil itu lalu rebahkan diri menyamping sambil terus menangis. Aku merasa nggak punya siapa pun di

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 99

    POV Ara.Aku pejamkan mata rapat-rapat saat Gaston lepaskan kait bra-ku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jadi manusia paling hina di dunia. Aku bisa dengar suara siulan, tawa, dan decakan kagum dari teman-temannya ketika dadaku terekspos sepenuhnya di hadapan mereka.“Ayo, Gaston mulai saja. Kita sudah nggak sabar di sini. Lihat tubuhnya … gila,” ujar pria di samping sopir dengan nada penuh gairah menjijikkan.“Nggak! Ga-Gaston, aku mohon … kasihanilah aku. Jangan hina aku seperti ini!” pintaku sambil nangis.“Ara, sayangku … ternyata kamu belum benar-benar kenal aku. Beginilah aku saat marah. Kenapa kamu lari dari aku?” geram Gaston di dekat telingaku, sementara tangannya sibuk lepaskan pakaiannya sendiri.Aku bukan orang bodoh, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tahu apa yang diinginkan pria-pria lain di dalam van itu. Aku rasakan tangan seseorang bergerak dari bahuku menuju payudaraku yang lain. Aku langsung menjauh dengan jijik. Seluruh tubuhku

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 98

    POV Ara.“Gaston, lepaskan aku!” bentakku sambil berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya.Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhku begitu aku lihat wajah Gaston dengan jelas. Aku sama sekali nggak nyangka dia sudah kembali ke negara ini.Namun kalau dipikir-pikir, sejak aku melarikan diri darinya, aku memang nggak pernah dengar kabarnya lagi. Sekarang dia juga jadi buronan, aku sendiri yang laporkan dia dengan bantuan Gabriel.Gabriel berhasil hapus video-videoku dari situs-situs porno tempat video itu sempat tersebar. Bagi Gabriel, hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan, mengingat koneksi yang dia miliki.“Tenang, sayangku,” ujar Gaston sambil tarik aku kasar dan dorong aku masuk ke dalam van. Aku hampir terjatuh karena kuatnya dorongan itu.Begitu mataku menyapu isi kendaraan itu, napasku tercekat ketakutan, ada beberapa orang lain di dalamnya. Semuanya laki-laki, dan mereka semua menatapku sambil menyeringai. Total ada enam orang, termasuk Gaston dan sopir. Tig

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 97

    POV Ara.Aku terisak di depan pintu kaca mausoleum tempat kedua orang tuaku dimakamkan. Kedua tanganku menempel erat di permukaannya yang dingin, sementara rasa sakit di dadaku terasa begitu menyesakkan. Sudah berbulan-bulan berlalu, tetapi semua yang terjadi masih terasa begitu nyata di kepalaku, seolah semuanya baru terjadi kemarin. Hati nuraniku nggak pernah kasih aku ketenangan.Aku terus mimpikan wajah Mama. Dalam mimpiku, dia marah ke aku. Papa juga seperti itu.Sulit sekali terima kenyataan, setelah semua cinta yang mereka berikan ke aku, justru aku yang akhiri hidup mereka.Aku menyesal seumur hidup pun, semuanya sudah terlambat.Nggak ada air mata yang mampu hidupkan kembali nyawa yang telah aku ambil dengan tanganku sendiri.Mausoleum itu terkunci, jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Namun jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih ke Carissa. Setelah semua yang telah kita lakukan ke dia, Carissa masih kasih Mama dan Papa pemakaman yang layak dan penuh penghormatan.Ini a

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 96

    POV Carissa.Aku baru saja hendak bilang sesuatu ketika Gabriel bungkam aku dengan sebuah ciuman. Mataku perlahan terpejam, nikmati manisnya bibirnya yang selalu berhasil buat aku tenggelam. Harus aku akui, aku cinta setiap ciuman yang dia berikan ke aku.“Gabriel, sudah. Ayo tidur saja. Anak-anak bisa bangun dan lihat apa yang kamu lakukan,” bisikku pelan.“Sayang, aku ingin kamu. Tolong, aku sudah nggak bisa tahan lagi. Malam ini aku benar-benar ingin rasakan kamu,” bisik Gabriel di telingaku. Dia gigit pelan daun telingaku, buat tubuhku seketika langsung meremang. Aku gigit bibirku sendiri agar nggak keluarkan suara. Anak-anak bisa terbangun kapan saja.“Tapi kita nggak bisa. Anak-anak ada di sini,” jawabku lirih.Namun saat katakan itu, tubuhku justru mulai bereaksi terhadap sentuhannya. Aku juga kangen dengan kehangatan Gabriel. Tangannya terus bergerak tanpa henti, menyelinap ke balik pakaian tidurku dan perlahan belai dadaku.Aku tahan desahan yang hampir lolos.Sesaat kemudian

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 95

    POV Carissa.Aku tertawa waktu dengar ucapan Roxie. Aku tahu akhir-akhir ini penampilanku memang banyak berubah.“Ah, bisa saja kamu. Dari dulu aku memang cantik, tahu? Ngomong-ngomong, kapan kamu mau nikah?” tanyaku sambil menggoda.“Apaan sih? Aku masih muda, yah. Nikah itu belum masuk daftar rencanaku sekarang,” jawabnya santai.“Ya sudah, santai saja. Nanti juga pria yang tepat datang sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong soal itu. Gabriel bilang Jonathan undang kita. Katanya minggu depan dia akan buka resort barunya di Paloria,” kataku pada Roxie.“Beneran? Aku malah belum tahu soal itu,” ucap Roxie sambil mengernyitkan dahi.Aku menatapnya heran. Bukannya Jonathan adalah kakaknya sendiri? Gimana mungkin dia nggak tahu soal bisnis kakaknya?“Kok bisa kamu nggak tahu? Dia kan kakakmu sendiri. Dasar lucu,” balasku sambil terkekeh.“Andai kamu tahu yang sebenarnya .…” gumam Roxie lirih. Ada nada sedih yang samar dalam suaranya. Lalu dia berdiri dan pamitan.Aku perhatikan dia pergi dengan

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 41

    POV AraPapa menatapku dengan kaget.“Kamu bilang apa barusan? Apa kamu sudah gila, Ara? Setelah semua ulahmu itu, kamu masih mau kejar Gabriel? Apa kamu sedikit pun nggak merasa menyesal pada adikmu?" kata Papa, suaranya bergetar karena marah."Papa sendiri yang bilang. Carissa masih muda. Dia past

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 38

    POV Roxie"Jangan … menangis … Mama," bisik Carissa, setiap kata penuh dengan usaha yang luar biasa. Air mata menelusuri jejak diam dari sudut matanya ke bantal."Oh, Sayangku, Mama sangat merindukanmu. Kenapa kamu nggak datang cari Mama? Apa kamu tahu betapa khawatirnya Mama? Mama mencarimu ke mana

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 37

    POV Roxie"Ada masalah, Sayang?" tanya Mama, suaranya dipenuhi kebingungan."Jonathan, apa yang kamu lakukan pada adikmu?" bentak Mama, mengalihkan rasa frustrasinya pada kakakku."Kenapa selalu aku? Aku nggak ngapa-ngapain! Aku hanya suruh dia berhenti gigit kuku sampai ke pangkalnya," balasnya den

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 36

    POV RoxieSetelah menjenguk Carissa, aku langsung pulang. Aku tetap memakai kacamata hitam meskipun sudah gelap, agar nggak ada yang menyadari mataku yang merah dan bengkak.Jika Mama melihatku seperti ini lagi, pertanyaan pasti akan dimulai. Aku menyelinap melalui gerbang rumah kami, bergerak perla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status