POV Gabriel
Aku sudah cukup lama menatap wajah cantik Carissa. Banyak pikiran mengganggu benakku. Aku nggak menyangka dia masih perawan, padahal kami berdua terbangun tanpa busana pagi itu. Kalau begitu, berarti nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Tapi siapa yang merencanakan semuanya? Kenapa kami bangun bersebelahan pagi itu, sama-sama telanjang?
Aku nggak pulang beberapa hari ini karena aku sibuk dengan urusan bisnis. Aku juga baru kembali dari tur bisnis di Eurona tadi pagi. Aku tahu Carissa mengira aku menghindarinya, bahwa aku marah padanya. Sebenarnya aku juga nggak peduli sama dia karena aku pikir dia sudah berbuat jahat pada Ara dan aku, bahwa dia sudah menjebakku.
Dia sudah berkali-kali menolak, bersikeras kalau dia nggak tahu apa yang terjadi, bahwa dia nggak bersalah. Sekarang aku merasa bersalah. Kalau itu benar, lalu siapa yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kami?
Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Aku nggak tahu harus merasa apa saat ini. Aku akui, aku sangat membenci Carissa karena hubunganku dengan Ara hancur. Aku pikir dia menjebakku, bahwa dia dalang di balik semua ini. Tapi malam ini aku sudah membuktikan kalau dia nggak bersalah. Dia polos banget.
Aku membelai wajahnya dengan lembut. Dia bahkan nggak bangun. Mungkin dia terlalu lelah karena apa yang kami lakukan tadi. Baru sekarang aku menyadari betapa cantiknya dia. Wajahnya terlihat lembut banget. Dulu saat aku mengunjungi Ara, dia selalu menunduk. Dia juga nggak pernah bicara denganku. Aku pun menyadari dia dan Ara nggak dekat. Ara sendiri nggak pernah menyebut-nyebut Carissa waktu kami bersama. Ara nggak suka pada adiknya ini. Tapi aku nggak peduli. Yang penting bagiku waktu itu cuma Ara. Aku nggak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Aku mungkin harus menyelidiki apa yang terjadi pada kami hari itu. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur. Aku lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Aku tahu dia akan kedinginan karena dia nggak pakai sehelai benang pun. Sebesar apa pun keinginanku untuk memakaikannya baju, aku khawatir dia akan bangun. Dia tidur nyenyak banget.
Aku memakai pakaianku sendiri dan mendekatinya lagi di tempat tidur. Aku pun memberinya ciuman ringan di dahi. Aku nggak mengerti apa yang kurasakan sekarang. Rasanya Carissa tiba-tiba mengambil bagian besar dari hatiku. Andai saja aku bisa berbaring di sebelahnya dan tidur semalaman. Tapi aku nggak bisa. Aku punya banyak urusan yang harus kuurus, dan aku harus pergi ke kantor pagi-pagi besok. Aku nggak mau mengganggu tidurnya. Aku takut nggak bisa mengontrol diriku dan akan menidurinya lagi. Aku tersenyum mengingat apa yang terjadi di antara kami barusan. Aku belum mau menidurinya lagi karena aku tahu dia terlalu lelah. Lagipula ini pertama kalinya, pasti tubuhnya akan pegal besok.
Dengannya, aku mengalami menikmati seks untuk pertama kalinya. Nggak pernah membosankan, dan aku tahu tubuhku akan mendambakan sensasi itu. Aku nggak tahu kenapa, tapi dengannya aku merasakan kepuasan seksual. Mungkin ini bonus karena dia masih perawan.
Aku sudah nggak bisa hitung berapa banyak wanita yang sudah bersamaku. Aku hanya pacaran lama dengan Ara. Ara terlalu penyayang dan sangat bagus di ranjang. Aku akui seks pertamanya bukan denganku. Tapi itu bukan masalah besar karena aku tahu susah mencari wanita perawan saat ini. Aku nggak ngerti kenapa keluarga Ara terburu-buru menikahkan kami, Carissa dan aku, padahal aku dan Ara sudah bertemu mereka dan bersama beberapa kali tapi Papa Mama mereka nggak pernah menuntut kami segera menikah. Makanya sampai kejadian malam itu, aku nggak pernah terpikir akan ada hal buruk yang terjadi.
Kebanyakan wanita masa kini nggak terlalu menghargai keperawanan lagi. Makanya aku kaget tadi malam waktu aku berhubungan badan dengan Carissa dan dia masih perawan. Carissa wanita baik-baik, jadi aku harus menebus kesalahanku padanya.
Aku akhirnya meninggalkan kamarnya. Aku kembali ke kamarku sendiri dan mencari ponselku. Setelah itu aku langsung menelepon Mark Wilson, salah satu temanku yang tahu banyak soal detektif. Aku akan suruh dia selidiki keluarga Carissa. Aku sudah lama berhubungan dengan Ara, tapi aku nggak tahu apa yang terjadi di keluarga mereka. Aku tahu alasanku dangkal, tapi aku ingin tahu semuanya, keluarga macam apa Ara dan Carissa ini.
"Halo Gabriel?!" Kudengar Mark menjawab. Terdengar jelas dari suaranya kalau aku mengganggunya karena suaranya tampak seperti malas-malasan.
"Aku mau selidiki sesuatu, makanya aku menelepon," kataku langsung. Nggak basa-basi. Aku tahu teman-temanku sudah terbiasa dengan kepribadianku.
"Ayolah, Kawan. Ini sudah larut. Nggak bisa tunggu besok?" kata Mark di seberang telepon. Rasa kesal di suaranya nggak terbantahkan.
"Nggak .... Aku nggak mau buang waktu. Kenapa harus tunggu besok kalau kita bisa mulai sekarang?" jawabku tegas.
"Oh Tuhanku ... kalau begitu, siapa yang mau kamu selidiki?" jawab Mark kesal.
"Keluarga Smith," jawabku singkat.
"Hah? Keluarga mantan pacarmu, Ara? Kenapa .... Maksudku, apa kamu benar-benar perlu lakukan ini? Kenapa kamu nggak terima saja kalau kalian berdua sudah tidak bisa bersama karena kamu sudah nikah dengan adiknya?" tanya Mark bingung.
"Malam itu, Carissa dan aku nggak lakukan apa-apa, dan kamu juga tahu, aku paling benci dibodohi siapa pun," jawabku.
"Ap .... Ap .... Apaaaaa? Gimana kamu bisa bilang nggak ada yang terjadi? Bukankah itu alasan kalian tiba-tiba dinikahkan? Kamu sudah rebut keperawanan Carissa, makanya kalian tiba-tiba menikah," balas Mark.
"Itu juga yang kukira .... Tapi ...."
"Tapi apa?" jawab Mark lagi.
"Sesuatu terjadi di antara Carissa dan aku barusan," kataku singkat pada Mark.
"Nggak ada yang salah kan?! Itu normal bagi kalian berdua karena kalian sudah nikah. Jangan bilang itu pertama kalinya kalian berhubungan seks setelah menikah," jawab Mark sambil tertawa.
"Itu dia. Aku bingung karena dia masih perawan tadi. Kalau terjadi sesuatu di antara kami malam itu, dia seharusnya nggak perawan lagi, kan?" jawabku.
"Wow apaa? Tunggu .... Wow ... kamu hebat banget .... Kamu beruntung banget! Tunggu .... Gimana itu bisa terjadi? Bukankah kamu bilang terjadi sesuatu di antara kalian berdua malam itu?" balas Mark.
"Makanya aku mau ini diselidiki. Nggak heran Carissa terus membantah, karena memang nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Rasanya kami berdua cuma ditelanjangi dan dibuat tidur bersebelahan," jawabku.
"Kasihan Carissa kalau begitu. Bayangkan, kamu kutuk dia terus padahal dia juga korban dalam hal ini," kata Mark.
"Makanya aku mau tahu kebenarannya .... Aku mau kamu selidiki dan tolong dapatkan hasil secepatnya," kataku pada Mark.
"Apa sampai perlu penyelidikan segala? Kurasa akan lebih cepat kalau kita tanya Jonathan Diaz saja. Aku yakin dia tahu banyak soal kehidupan Carissa dan keluarganya," balas Mark.
Dahiku mengernyit mendengar balasan Mark. Aku nggak mengerti apa maksudnya, kenapa Jonathan dibawa-bawa dalam percakapan kami?
"Maksudmu apa? Apa hubungannya Jonathan dengan ini?" tanyaku.
"Ya ampun ... kamu ini benar-benar ya ... apa kamu nggak tahu kalau Carissa dan adik Jonathan, Roxie, itu berteman? Aku yakin dia tahu banyak soal apa yang terjadi di kehidupan Carissa. Informasinya pasti gratis, ditambah lagi, kamu akan tahu kebenarannya dalam sehari," jawab Mark panjang lebar.
"Gimana kamu bisa tahu itu?" tanyaku. Aku nggak tahu soal ini. Yah, aku juga biasanya nggak peduli sama hal-hal begini. Pikiranku terlalu fokus pada bisnis, jadi aku nggak punya waktu untuk urusan lain.
"Tentu saja, aku selalu lihat Carissa di rumah mereka waktu kami nongkrong di sana. Mereka sepertinya teman dekat dan kuliah di kampus yang sama. Kamu yang selalu menolak waktu kami ajak kamu minum di rumah Jonathan beberapa kali, jadi begitulah, kamu jadi ketinggalan info," jawab Mark panjang lebar.
Aku nggak bisa menanggapi apa yang dia katakan.
"Aku suka banget sama Carissa. Tapi dia jual mahal banget. Dia nggak mau bergaul sama kami, ditambah adik Jonathan sombong banget," kata Mark sambil tertawa.
Aku menghela napas mendengar ucapan Mark. Aku benar-benar nggak tahu soal hal-hal ini. Mungkin aku telepon Jonathan besok pagi saja. Sekarang sudah terlalu larut, aku tahu dia pasti sudah tidur.
Aku langsung pamit pada Mark. Tapi aku tetap menyuruhnya melakukan apa yang kuminta. Agar lebih yakin.
...
Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi. Aku harus berangkat cepat karena ada rapat jam tujuh pagi. Meskipun ragu, aku melewati kamar Carissa. Aku ingin melihatnya sebelum meninggalkan rumah. Aku nggak tahu kenapa, tapi jauh di lubuk hati, aku ingin selalu melihatnya.
Aku perlahan membuka pintu kamarnya. Senyum muncul di bibirku waktu melihat dia masih tidur. Aku pun nggak masuk kamar lagi dan cuma menutupnya lagi hendak pergi. Kalau aku masuk, dia bisa bangun.
Waktu aku turun ke bawah, aku bertemu Marta Davis, salah satu pembantu kami. Dia menyapaku selamat pagi, yang cuma kubalas dengan anggukan.
"Selamat pagi, Tuan Gabriel .... Sarapan sudah siap di ruang makan," katanya dengan sopan.
"Aku nggak sarapan hari ini deh, Marta. Aku buru-buru sekarang," jawabku dan langsung keluar vila. Aku langsung menuju mobilku yang sudah siap, masuk, dan langsung melaju.
Setibanya di kantor, aku disambut sekretarisku, Aron Mendoza. Aku memilih sekretaris laki-laki karena aku nggak mau kejadian digoda sekretaris perempuan terulang beberapa kali. Banyak sekretaris perempuan yang datang dan pergi. Aku nggak mau mencampuradukkan kesenangan dengan bisnisku, jadi menghindari hubungan intim dengan karyawan.
Aku nggak punya masalah apa-apa bahkan dengan sekretaris laki-laki. Dia rajin dan bisa dipercaya. Dia anak dari mantan karyawan kami dan punya catatan baik di perusahaan kami.
Seharian aku mencoba fokus pada pekerjaanku meskipun Carissa terus terlintas di pikiranku. Aku nggak bisa melupakan apa yang terjadi di antara kami. Aku nggak bisa menghapus wajah cantiknya dari benakku. Tubuhnya yang kudambakan .... Aku nggak tahu apa yang terjadi padaku. Ini pertama kalinya aku merasakan hal ini. Aku nggak tahu apa aku cuma merasa bersalah atau bagaimana.
Aku ingin mendengar suaranya, tapi aku sadar aku nggak punya nomor teleponnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia sudah makan? Apa yang dia lakukan? Apa dia memikirkanku juga? Ah, apa yang terjadi padaku?
Aku nggak tahan lagi, aku pun meraih ponselku. Aku akan telepon ke vila. Aku yakin ada yang bakal jawab karena para pengurus rumah ada di seluruh vila saat ini. Saat yang tepat karena ini jam bersih-bersih.
Aku langsung memutar nomor. Belum sampai lima kali dering, ada yang menjawab di seberang telepon. Aku langsung menanyakan soal Carissa.
"Tuan Gabriel, Nona Carissa belum keluar dari kamarnya," jawab suara sopan itu.
Dahiku mengernyit mendengar jawaban itu. Aku tiba-tiba khawatir. Ini jam sepuluh pagi, tapi dia masih tidur? Jam berapa biasanya dia bangun? Aku nggak tahu karena aku nggak peduli padanya sebelumnya, dan aku belum tinggal dengannya di rumah yang sama karena setelah pernikahan kami, aku nggak pernah mengunjungi vila kecuali tadi malam waktu terjadi sesuatu di antara kami.
Aku akui aku membawanya ke kamar untuk membuatnya tersiksa. Aku berencana menjadikannya budak seksku. Tapi semuanya berubah waktu aku tahu dia masih perawan, bahwa aku satu-satunya pria dalam hidupnya.
"Jam berapa biasanya dia bangun?" tanyaku.
"Dia selalu bangun pagi, Tuan Gabriel, tapi saya nggak tahu kenapa dia belum turun hari ini," jawab suara itu.
"Bisa tolong suruh Marta cek Carissa di kamarnya?" perintahku. Aku tiba-tiba khawatir.
"Ya, Tuan Gabriel, saya akan bilang padanya," jawab suara di seberang telepon.
"Bilang pada Marta untuk meneleponku setelah dia mengecek Carissa, mengerti?" perintahku.
"Baik, Tuan Gabriel," jawab suara itu. Aku langsung mematikan ponselku. Aku menatap kosong dengan dahi berkerut. Belum sampai tiga puluh menit, ponselku berdering. Waktu kulihat siapa yang menelepon, aku melihat nomor telepon vila. Aku langsung menjawabnya, dan suara Marta ada di seberang telepon. Aku pun segera menanyakan kabar Carissa.
"Maaf, Tuan Gabriel, saya baru balas telepon sekarang. Saya harus mengurus Nona Carissa dulu karena dia demam tinggi," kata Marta langsung.
Aku nggak bisa menanggapi ucapan Marta. Aku langsung merasa sangat khawatir.
"Tapi Tuan Gabriel, kami sudah memberinya makan dan dia sudah minum obat. Kami pantau dulu, mungkin demamnya akan turun sebentar lagi," tambah Marta.
"Nggak, aku akan suruh Genie Madison datang ke sana untuk cek kondisi Carissa," jawabku. Genie adalah sepupu pertamaku, seumuran denganku dan seorang dokter. Aku tahu dia bisa memeriksa Carissa dengan benar. Dia putri dari Delfin Madison, saudara papaku.
"Ya, Tuan Gabriel. Akan lebih baik kalau dokter yang memeriksa Nona," setuju Marta.
"Tunggu saja di rumah. Dan awasi Carissa. Aku juga akan pulang," kataku pada Marta.
Setelah berbicara dengan Marta, aku langsung menelpon Genie untuk pergi ke vila. Untungnya dia langsung setuju. Mungkin dia nggak terlalu sibuk. Dia bilang dia baru saja keluar rumah dan akan langsung menuju vila.
Begitu aku menutup telepon, aku langsung menelepon sekretarisku untuk masuk ke ruanganku.
"Batalkan semua janjiku hari ini, Aron," kataku langsung padanya.
Rasa bingung yang nggak terbantahkan tertulis di seluruh wajahnya. Mungkin ini pertama kalinya aku membatalkan janji dan rapat. Dia tahu kalau soal pekerjaan, aku ketat.
"Tapi Tuan .... Anda ada rapat makan siang dengan Tuan Chua. Mereka sudah antri lama untuk mendapatkan slot janji. Sekretarisnya juga menelepon saya tadi untuk mengingatkan janji Anda nanti," kata sekretarisku.
Aku menghela napas dan menatap Aron.
"Bilang padanya aku ada urusan darurat. Cari saja alasan," kataku padanya sambil berdiri dan langsung berjalan keluar dari kantor. Aku bergegas masuk mobil dan melaju pulang ke vila dengan kecepatan penuh.