Share

Bab 6

Penulis: Cathy
POV Carissa

Hari-hari berlalu dengan cepat. Sudah hampir sebulan sejak aku pindah ke vila Gabriel. Perlakuan mertuaku padaku sangat baik.

Aku merasa mereka menerimaku. Mama Moira baik banget, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya di taman vila kalau nggak ada kuliah. Aku membantunya merawat koleksi tanamannya. Mama Moira memang suka tanaman. Sementara itu, Papa Ralph selalu mengunci diri di ruang kerja.

Soal suamiku Gabriel, sudah hampir sebulan dia nggak pulang. Sejak dia menyerangku di kamar waktu itu, aku nggak pernah melihatnya lagi. Mama Moira bilang dia sibuk banget dengan urusan bisnis, kadang tidur di kantor atau di apartemennya. Aku sebenarnya senang untuk sementara nggak melihat Gabriel ... karena aku takut padanya.

Roxie dan Ronald selalu bersamaku kalau di kampus. Meskipun kami beda jurusan, itu nggak jadi penghalang bagi ikatan persahabatan kami.

Aku juga nggak pernah kembali ke rumahku setelah aku bertengkar dengan Mama. Aku pun nggak lagi bicara dengan mereka. Berita terakhir yang kudengar, Ara sudah berangkat ke Kota Yorke.

Aku masih merasa sakit hati pada mereka. Aku merasa nggak berharga di mata mereka. Mungkin aku hanya perlu berjuang keras agar aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku harus fokus pada pendidikanku agar aku bisa menghidupi diriku sendiri.

Suatu pagi, aku sedang di taman bersama Mama Moira.

"Carissa, Sayang, lusa nanti Papa Ralph dan Mama akan pergi ke Pulau Pantai. Kalau saja kami bisa ajak kamu biar kamu bisa liburan juga, pasti kami ajak. Tapi kamu kuliah. Mungkin waktu liburanmu nanti saja ya," kata Mama Moira.

"Benarkah? Wah, kudengar Pulau Pantai indah sekali. Tapi aku ada kuliah, lagian nggak enak kalau ikut, itu kan waktu berdua Mama dan Papa Ralph," jawabku sambil tersenyum.

"Aduh, Sayang, sudah berapa kali Mama bilang jangan sungkan pada kami? Kamu sudah seperti anak kami sendiri, jadi lupakan rasa sungkan itu," jawab Mama Moira sambil tersenyum.

Aku cuma tersenyum dan berkata, "Ma, boleh aku tanya sesuatu? Kalau Mama nggak keberatan?"

"Silakan, Sayang. Ada apa?" jawabnya.

"Kenapa Mama baik sekali padaku?" tanyaku malu-malu.

Mama Moira tersenyum mendengar pertanyaanku. "Sayang, dari pertama kali Mama lihat kamu, Mama tahu kamu gadis yang baik. Mama langsung merasa suka padamu," jawabnya sambil tersenyum.

"Meskipun aku bukan wanita yang diimpikan Gabriel?" tanyaku ragu.

"Kami sudah bertemu Ara, kakakmu, beberapa kali. Dia juga baik dan penyayang, tapi kamu berbeda darinya. Ada sesuatu di dirimu yang buat Mama benar-benar merasa tertarik," jelas Mama Moira.

"Mama senang kamu yang jadi istri putra Mama. Mama tahu kamu akan jadi istri yang baik buat dia. Mama cuma berharap kalian berdua bisa belajar saling mencintai," lanjutnya.

"Semoga kamu sabar menghadapinya Sayang. Mama akan selalu berdoa pada Tuhan agar putra Mama bisa mencintai kamu. Kamu anak yang baik, nggak ada hal buruk yang bisa Mama katakan tentang sifatmu," kata Mama Moira sambil memegang tanganku.

"M-Mama .... Aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi terima kasih banyak karena sudah menerimaku. Terima kasih karena sudah membuatku merasa bahwa aku juga penting." Air mata mengalir di wajahku saat aku berbicara.

"Tentu, Sayang. Cuma janji pada Mama, untuk saat ini kamu sabar dengan Gabriel ya? Jangan menyerah. Mama mau kalian berdua bersama sampai akhir," katanya sambil tersenyum.

Aku cuma mengangguk pelan mendengar ucapannya, meskipun dalam hati aku tahu kami nggak akan bertahan. Ini hanya sementara, dan Ara akan kembali. Jadi aku harus mempersiapkan diri untuk saat hari itu tiba.

"Baiklah, Sayang, ayo kita masuk, matahari sudah mulai menyengat di kulit," ajak Mama Moira.

"Oke, Ma," jawabku.

...

Beberapa hari berlalu lagi. Mama Moira dan Papa Ralph berangkat ke Pulau Pantai. Aku nggak tahu berapa hari mereka akan pergi karena mungkin mereka akan singgah di negara lain untuk melepas penat. Aku tinggal di vila bersama para staf rumah tangga. Aku nyaman-nyaman saja karena Gabriel juga masih belum pulang sampai sekarang.

Aku sih nggak masalah dia nggak pulang, karena aku tahu dia nggak menerimaku sebagai istrinya. Dia membenciku.

Sore itu, saat aku sedang bersiap tidur, pintu kamarku tiba-tiba terbuka.

Aku kaget waktu menyadari Gabriel yang masuk. Seperti biasa, dia tampan banget. Dia pasti baru datang karena dia sudah pakai baju rumahan. Rupanya dia pulang ke vila tanpa kusadari. Yah, aku juga nggak banyak keluar kamar waktu di vila.

"Halo .... Kangen aku?" sapa Gabriel sambil tersenyum.

"Ga-Gabriel, apa ... apa yang kamu lakukan di sini...? Mama nggak ada, mereka di Pulau Pantai," kataku terbata-bata.

"Aku tahu, Sayang," katanya, menatapku sambil menyeringai. "Sepertinya istriku makin cantik ya?" Dia mendekat dan membelai wajahku.

"Hah? Apa?" Aku mundur selangkah untuk menghindari sentuhannya di wajahku.

Dia malah melangkah lagi ke arahku, memegang bahuku, mendekatkan wajahnya ke telingaku, dan berbisik, "Malah lebih baik Mama nggak ada sekarang. Kita bisa lakukan apa pun yang kita mau."

Aku merinding mendengar ucapannya. Bulu kudukku berdiri.

"M-maksudmu apa?" tanyaku bingung.

Dia menatap intens wajahku dan berkata, "Nanti kamu akan tahu," lalu tiba-tiba menempelkan bibirnya ke bibirku.

Mataku terbelalak dengan apa yang dia lakukan. Rasanya seperti ribuan volt listrik menjalar ke seluruh tubuhku saat bibirnya menyentuh bibirku.

Aku merasakan lidahnya menyentuh bibirku, berusaha membukanya. Mulutku masih tertutup karena aku nggak tahu harus bereaksi gimana.

Aku juga merasakan tangannya merayap masuk ke dalam blusku, lalu aku merasa dia mengelus payudaraku.

Bibirku pun terbuka, dan dia langsung menyedotnya dan memasukkan lidahnya. Dia melahap bibirku dengan ciuman. Nggak puas, dia terus meremas salah satu payudaraku.

Dia menjelajahi bibirku dengan saksama sebelum aku merasakan ciumannya berpindah turun ke leherku. Dia menyedot leherku. Aku tahu itu akan meninggalkan bekas di sana. Rasanya enak banget, seperti aku melayang di awan.

Dia lalu melepaskan blusku sepenuhnya, payudaraku yang berukuran sedang, terpapar padanya. Dia pun membimbingku untuk berbaring di tempat tidur sambil menatap intens dadaku.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan dia menyedot salah satu putingku. Aku tersentak, aku merasakan sedikit sakit dari apa yang dia lakukan pada payudaraku. Dia menyedotnya seperti bayi, sementara tangannya yang lain memijat putingku yang lain.

Aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku pun mencoba memberontak, tapi Gabriel lebih kuat dariku.

Gabriel mengabaikanku dan melanjutkan apa yang dia lakukan, sampai aku merasakan tangannya bergerak turun dan dengan paksa melepaskan piyama celana panjangku. Aku sontak merasa hanya celana dalamku yang tersisa.

Dia menatap mataku dengan penuh hasrat, tersenyum, dan berkata, "Aku akan menidurimu berulang kali malam ini. Aku sudah lama nggak pulang, jadi ini kesempatanku."

Ciumannya lalu bergerak turun ke perutku, membuatku sangat panik. Aku mau bangun, tapi dia menghentikanku.

"Biarkan aku mencicipi ini dulu," katanya dengan mata penuh nafsu, menyingkirkan celana dalamku dan menjilati klitorisku.

Tubuhku hampir melengkung karena kenikmatan yang nggak bisa dijelaskan. Ini pertama kalinya aku mengalami ini, jadi aku nggak tahu harus menangis atau mengerang. Aku nggak bisa menjelaskan kenikmatan yang kurasakan dari apa yang dilakukan Gabriel. Ada sesuatu yang menumpuk di inti tubuhku yang ingin kulepaskan.

Dia melepaskan celana dalamku sepenuhnya, menatap vagina basahku, aku melihat senyum terbentuk di bibirnya.

"Wow, cantik. Aku nggak nyangka kamu segini indahnya!" Lalu aku merasakan mulutnya menempel di vaginaku. Dia mulai menyedot dan menggigit klitorisku. Aku nggak tahu harus memalingkan kepalaku ke mana karena kenikmatan itu.

"Ah, Gabriel, sudah, aku mau pipis," kataku panik.

"Keluarkan saja. Biarkan aku mencicipi jusmu dulu, Carissa. Kamu enak banget," katanya sembari menempelkan bibirnya di intiku.

"Ahhhhhhh, Gabriel .... Ughhhhhh .... Ummmmmhhh." Aku hampir berteriak. Lututku gemetar saat sesuatu keluar dariku.

"Slurp ... slurp ... slurp." Kudengar Gabriel menyeruput di intiku. Dia menelan semua cairan yang keluar dariku. Aku merasa malu melihat apa yang dia lakukan.

"Kamu seksi banget, Carissa," erangnya sambil memposisikan dirinya di atasku.

Aku menatapnya malu-malu. Wajahnya serius saat dia menatapku.

Beberapa saat kemudian, dia melahapku dengan ciuman lagi. Aku pun membalas ciumannya karena aku juga sangat menginginkannya. Aku belajar cara berciuman darinya. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Aku akui, aku juga menginginkan apa yang dilakukan Gabriel. Nggak ada yang salah kalau aku menyerahkan diriku karena kami sudah menikah. Mungkin memang wajar kami melakukan ini.

Aku merasakan dia menjauh dariku. Waktu aku lihat, dia sudah melepaskan pakaiannya. Dia menatap tubuh telanjangku sambil melepaskan pakaiannya. Aku pun menelan ludah waktu melihat tubuhnya, perut berotot, jelas dirawat baik di gym. Waktu dia melepas celana dalamnya, aku menelan ludah melihat ukuran dan panjang penisnya. Alat itu berdenyut seakan menyapaku.

"Besar banget, tunggu, apa aku bisa tahan?" bisikku pada diri sendiri dalam ketakutan.

Dia menyeringai sedikit sambil menatapku. "Ini akan membawamu ke surga, Carissa. Percaya padaku." Dia lalu memposisikan dirinya di atasku lagi.

Dia mencium bibirku sementara satu tangannya menggoda putingku, memijatnya.

Tangannya yang lain membelai seluruh tubuhku dan menyentuh intiku lagi. Dia mencoba memasukkan jarinya ke vaginaku, tapi akhirnya aku merasakan dia melepaskannya juga.

Aku sudah terbakar hasrat dari apa yang dia lakukan. Aku juga merasakan penisnya di pintu vaginaku, keras dan panjang.

Beberapa saat kemudian, dia mengangkat kedua kakiku. Aku patuh saja pada apa yang dia lakukan. Aku juga menginginkan ini, jadi kenapa aku harus malu? Aku sudah lama mencintai Gabriel. Jadi aku akan ikut arus saja. Bagaimanapun juga, dia suamiku sekarang.

"Apa kamu siap, Carissa?" Dia memposisikan penisnya dan mendorong masuk. Aku sontak berteriak merasakan dorongannya. Rasanya seluruh tubuhku terbelah. Sakit banget. Gabriel berhenti sebentar, kaget saat dia menatapku. Matanya bertanya-tanya saat dia menatapku.

"Apa? Kamu masih perawan? Bukankah sudah terjadi sesuatu di antara kita? Kenapa kamu masih perawan?" Aku mendengar dia berkata saat di atasku. Aku nggak bisa menjawab dan hanya menutup mataku rapat-rapat. Aku merasakan dia menghapus air mata di sudut mataku. Saking sakitnya, aku bahkan tidak sadar aku sudah nangis.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan bibirnya menempel lembut di dahiku.

"Aku minta maaf, tapi aku harus melanjutkan apa yang kumulai .... Aku tahu kamu kesakitan, tapi sebentar lagi akan berlalu .... Percayalah, Cintaku," kudengar kata-kata lembutnya. Rasanya suara lembutnya membelai hatiku. Ini pertama kalinya dia memanggilku begitu—Cintaku. Kedengarannya manis banget, jadi aku mengangguk.

Gabriel mencium bibirku lagi, yang langsung kubalas. Aku memeluknya juga. Dia mendorong masuk beberapa kali lagi, yang menyebabkan rasa sakit luar biasa padaku, sampai aku merasakan tubuh kami menyatu.

Dia lalu berhenti sebentar dan menatapku. Aku tersenyum padanya untuk menunjukkan aku baik-baik saja. Beberapa saat kemudian, aku merasakan dia bergerak di atasku lagi. Aku tersentak atas apa yang dia lakukan karena setelah beberapa saat, aku merasakan rasa sakit yang kualami menghilang. Sebaliknya, muncul kenikmatan geli yang nggak bisa dijelaskan.

"Aggghhhh Gabriel ...." Aku mengerang. Aku nggak tahu harus berpegangan ke mana. Aku perlahan mencengkeram bahunya saat dia terus mendorong masuk. Aku juga menancapkan kuku aku ke kulitnya.

"Ya, Cintaku, begitu. Kamu enak banget. Kamu rapat banget," bisik Gabriel sambil mencium bibirku.

"Aghhhhhh .... Ughhhhhh .... Ughhhhhh Gabriel .... Lagi .... Enak banget ...." Aku hampir nggak mengenali suaraku dari eranganku. Mataku juga mulai penuh hasrat.

Beberapa saat kemudian, Gabriel tiba-tiba berhenti. Dia membimbingku ke posisi lain. Dia membuatku berlutut di tempat tidur dengan wajah tertanam di bantal sementara dia berlutut di belakangku dan tiba-tiba masuk dengan penisnya yang berdenyut. Dia terus menumbukku tanpa ampun, dan aku hampir kehabisan suara karena mengerang. "Hmmmm .... Ughhhhhhh ...."

Aku hampir berteriak karena kenikmatan luar biasa yang kurasakan. Aku nggak percaya ada sesuatu yang lebih enak dari posisi pertama yang kami lakukan.

Aku merasakan intiku terisi penuh oleh miliknya. Aku bisa dengan jelas mendengar suara tubuh kami beradu, kenikmatan tak tertandingi yang kurasakan sekarang.

Aku hampir menenggelamkan diri di tempat tidur karena dorongan Gabriel yang intens. Aku juga bisa mendengar umpatan pelan darinya.

"Sialan, Cintaku, yaaa, kamu enak banget .... Ohhhh," erangnya pelan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 100

    POV Ara.Sambil pegangi pinggulku yang masih terasa nyeri, aku jalan tertatih menuju pintu yang terkunci. Aku coba putar gagangnya, berharap sepenuh hati bisa kabur dari tempat terkutuk ini.Namun harapanku langsung runtuh ketika aku sadari pintu itu benar-benar terkunci. Aku nggak bisa keluar. Gaston kurung aku di sini.“Buka pintunya! Tolong biarkan aku keluar! Tolong!” teriakku sambil memukul-mukul pintu itu, dadaku terasa sesak oleh ketakutan. Aku nggak tahu apa aku masih sanggup bertahan jika Gaston kembali lakukan hal-hal mengerikan seperti sebelumnya.Aku terus pukul pintu kayu itu. Namun tempat ini terasa sunyi seolah nggak berpenghuni, nggak ada satu orang pun yang jawab aku. Perlahan aku jatuh ke lantai, air mata kaburkan pandanganku, tubuhku gemetar karena takut. Aku sama sekali nggak tahu nasib seperti apa yang menungguku di tangan Gaston.Aku jalan tertatih kembali ke ranjang kecil itu lalu rebahkan diri menyamping sambil terus menangis. Aku merasa nggak punya siapa pun di

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 99

    POV Ara.Aku pejamkan mata rapat-rapat saat Gaston lepaskan kait bra-ku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jadi manusia paling hina di dunia. Aku bisa dengar suara siulan, tawa, dan decakan kagum dari teman-temannya ketika dadaku terekspos sepenuhnya di hadapan mereka.“Ayo, Gaston mulai saja. Kita sudah nggak sabar di sini. Lihat tubuhnya … gila,” ujar pria di samping sopir dengan nada penuh gairah menjijikkan.“Nggak! Ga-Gaston, aku mohon … kasihanilah aku. Jangan hina aku seperti ini!” pintaku sambil nangis.“Ara, sayangku … ternyata kamu belum benar-benar kenal aku. Beginilah aku saat marah. Kenapa kamu lari dari aku?” geram Gaston di dekat telingaku, sementara tangannya sibuk lepaskan pakaiannya sendiri.Aku bukan orang bodoh, aku tahu persis apa yang akan dia lakukan. Dan aku juga tahu apa yang diinginkan pria-pria lain di dalam van itu. Aku rasakan tangan seseorang bergerak dari bahuku menuju payudaraku yang lain. Aku langsung menjauh dengan jijik. Seluruh tubuhku

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 98

    POV Ara.“Gaston, lepaskan aku!” bentakku sambil berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya.Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhku begitu aku lihat wajah Gaston dengan jelas. Aku sama sekali nggak nyangka dia sudah kembali ke negara ini.Namun kalau dipikir-pikir, sejak aku melarikan diri darinya, aku memang nggak pernah dengar kabarnya lagi. Sekarang dia juga jadi buronan, aku sendiri yang laporkan dia dengan bantuan Gabriel.Gabriel berhasil hapus video-videoku dari situs-situs porno tempat video itu sempat tersebar. Bagi Gabriel, hal seperti itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan, mengingat koneksi yang dia miliki.“Tenang, sayangku,” ujar Gaston sambil tarik aku kasar dan dorong aku masuk ke dalam van. Aku hampir terjatuh karena kuatnya dorongan itu.Begitu mataku menyapu isi kendaraan itu, napasku tercekat ketakutan, ada beberapa orang lain di dalamnya. Semuanya laki-laki, dan mereka semua menatapku sambil menyeringai. Total ada enam orang, termasuk Gaston dan sopir. Tig

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 97

    POV Ara.Aku terisak di depan pintu kaca mausoleum tempat kedua orang tuaku dimakamkan. Kedua tanganku menempel erat di permukaannya yang dingin, sementara rasa sakit di dadaku terasa begitu menyesakkan. Sudah berbulan-bulan berlalu, tetapi semua yang terjadi masih terasa begitu nyata di kepalaku, seolah semuanya baru terjadi kemarin. Hati nuraniku nggak pernah kasih aku ketenangan.Aku terus mimpikan wajah Mama. Dalam mimpiku, dia marah ke aku. Papa juga seperti itu.Sulit sekali terima kenyataan, setelah semua cinta yang mereka berikan ke aku, justru aku yang akhiri hidup mereka.Aku menyesal seumur hidup pun, semuanya sudah terlambat.Nggak ada air mata yang mampu hidupkan kembali nyawa yang telah aku ambil dengan tanganku sendiri.Mausoleum itu terkunci, jadi aku nggak bisa masuk ke dalam. Namun jauh di lubuk hati, aku sangat berterima kasih ke Carissa. Setelah semua yang telah kita lakukan ke dia, Carissa masih kasih Mama dan Papa pemakaman yang layak dan penuh penghormatan.Ini a

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 96

    POV Carissa.Aku baru saja hendak bilang sesuatu ketika Gabriel bungkam aku dengan sebuah ciuman. Mataku perlahan terpejam, nikmati manisnya bibirnya yang selalu berhasil buat aku tenggelam. Harus aku akui, aku cinta setiap ciuman yang dia berikan ke aku.“Gabriel, sudah. Ayo tidur saja. Anak-anak bisa bangun dan lihat apa yang kamu lakukan,” bisikku pelan.“Sayang, aku ingin kamu. Tolong, aku sudah nggak bisa tahan lagi. Malam ini aku benar-benar ingin rasakan kamu,” bisik Gabriel di telingaku. Dia gigit pelan daun telingaku, buat tubuhku seketika langsung meremang. Aku gigit bibirku sendiri agar nggak keluarkan suara. Anak-anak bisa terbangun kapan saja.“Tapi kita nggak bisa. Anak-anak ada di sini,” jawabku lirih.Namun saat katakan itu, tubuhku justru mulai bereaksi terhadap sentuhannya. Aku juga kangen dengan kehangatan Gabriel. Tangannya terus bergerak tanpa henti, menyelinap ke balik pakaian tidurku dan perlahan belai dadaku.Aku tahan desahan yang hampir lolos.Sesaat kemudian

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 95

    POV Carissa.Aku tertawa waktu dengar ucapan Roxie. Aku tahu akhir-akhir ini penampilanku memang banyak berubah.“Ah, bisa saja kamu. Dari dulu aku memang cantik, tahu? Ngomong-ngomong, kapan kamu mau nikah?” tanyaku sambil menggoda.“Apaan sih? Aku masih muda, yah. Nikah itu belum masuk daftar rencanaku sekarang,” jawabnya santai.“Ya sudah, santai saja. Nanti juga pria yang tepat datang sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong soal itu. Gabriel bilang Jonathan undang kita. Katanya minggu depan dia akan buka resort barunya di Paloria,” kataku pada Roxie.“Beneran? Aku malah belum tahu soal itu,” ucap Roxie sambil mengernyitkan dahi.Aku menatapnya heran. Bukannya Jonathan adalah kakaknya sendiri? Gimana mungkin dia nggak tahu soal bisnis kakaknya?“Kok bisa kamu nggak tahu? Dia kan kakakmu sendiri. Dasar lucu,” balasku sambil terkekeh.“Andai kamu tahu yang sebenarnya .…” gumam Roxie lirih. Ada nada sedih yang samar dalam suaranya. Lalu dia berdiri dan pamitan.Aku perhatikan dia pergi dengan

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 7

    POV GabrielAku sudah cukup lama menatap wajah cantik Carissa. Banyak pikiran mengganggu benakku. Aku nggak menyangka dia masih perawan, padahal kami berdua terbangun tanpa busana pagi itu. Kalau begitu, berarti nggak ada apa-apa yang terjadi di antara kami. Tapi siapa yang merencanakan semuanya? Ke

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 5

    POV CarissaAku tiba di kampus pagi-pagi sekali. Seperti yang sudah diperintahkan Mama Moira dan Papa Ralph, aku diantar Raul. Mulai hari ini, dia yang akan mengantar-jemputku. Meskipun aku malu, nggak ada yang bisa kulakukan karena ini yang mereka mau. Aku langsung menuju tempat nongkrong kami, tem

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 4

    POV CarissaAku terbangun sekitar jam enam sore. Aku langsung bangun dan ke kamar mandi untuk mandi. Aku pun melakukan rutinitas dan berpakaian. Baru selesai berpakaian, kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku cepat-cepat membukanya dan melihat seorang pelayan berseragam. Dia terlihat berusia

  • Cinta Sejati Seorang Miliarder   Bab 3

    POV Carissa Upacara pernikahan dengan Gabriel sudah selesai. Aku masih linglung waktu itu. Aku nggak percaya semuanya terjadi secepat ini. Aku nggak tahu gimana harus bersikap. Yang aku tahu, jauh di lubuk hati, aku takut.Aku sedang berada kamarku, mengemasi barang-barang. Aku harus ikut Gabriel k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status