Share

10. Tuduhan

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-17 17:27:01

Selesai makan malam, Larissa juga yang harus membersihkan bekas makan mereka. Wanita itu membawa piring kotor ke tempat cuci dan mencuci semuanya.

Tak lama terdengar suara riuh dari tangga, ternyata tiga sahabat tadi sedang bercengkrama sambil menuruni anak tangga. Mereka menuju pintu keluar tanpa mengucapkan satu katapun.

"Aku memang nggak seharusnya disini," Larissa menghela nafas. Jika punya pilihan, dia jelas tak mau berada disini. "Setelah ini, aku harus tidur."

Tubuh Larissa lelah, entah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   70. Prematur

    Sejak semalam bi Ira tidak tidur. Dia menunggu di ruang tamu. Jikalau nyonya hamil itu pulang maka dia lekas membukakan pintu.Namun hasilnya nihil.. hingga pukul 9 pagi, batang hidung wanita itu akhirnya terlihat. Lila pulang dalam keadaan terengah. Perutnya yang membuncit seolah menjadi beban untuknya."Selamat pagi, nyonya." Ucap bi Ira tanpa ekspresi.Lila menoleh sekilas dan naik ke lantai atas. Kakinya yang gemetaran tiba-tiba membuatnya hampir jatuh terduduk. Bi Ira segera menolong."Anda tidak apa-apa, nyonya?" Tanya bi Ira."Singkirkan tanganmu itu!" Sahut Lila kesal.Wanita ini mencoba menaiki anak tangga lagi. Oh kenapa langkah kaki ini begitu berat? Sial. Nanti ketika Paskal pulang Lila akan meminta agar kamar mereka dipindahkan ke lantai bawah saja. Lama-lama dia sesak nafas jika harus turun tangga begini.Tangan bi Ira yang ingin menolong lalu diturunkan lagi. Biarkan saja Lila menaiki tangga dengan susah p

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   69. Meninggalkan Larissa

    Larissa menyeka air matanya. Kedua pipi ini basah akan lelehan air mata. Larissa berusaha mengelak perasaan yang sejak tadi berkecamuk di hatinya.Namun apa daya..Anak yang ada di dalam kandungannya ini seperti mengerti apa yang terjadi diluar sana.Jika ada suara ayah kandungnya yang terdengar. Ia datang untuk menjemput Larissa.Tapi semua sudah terlambat..Larissa tak akan pernah bisa bersama pria itu lagi. Paskal yang hebat. Seorang pewaris. Pria yang nyaris sempurna.Sementara Larissa hanya wanita biasa. Wanita yang tak memiliki apapun untuk dibanggakan. Larissa yang bahkan tak tahu dari rahim siapa dia lahirkan. Tok. Tok. Larissa cepat-cepat menghapus air matanya yang berjatuhan lagi. Ia lalu bangkit berdiri saat mendengar suara ketukan pintu.Hari sudah gelap. Gemuruh mulai terdengar sesahutan. Malam ini dipastikan hujan lebat."Larissa!"Seorang pria berkulit coklat masuk ke

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   68. Patah Hati

    Dua mata itu beradu. Kali ini lebih dalam. Dengan makna yang sulit diartikan. Ada kerinduan yang tak bisa dijelaskan..Rasa terkejut dan juga tak percaya.Pria yang memakai jas putih itu adalah Paskal. Pria sama yang pernah menjadi suaminya. Namun, aura yang ia tonjolkan tak lagi sama.Paskal terlihat hangat. Seperti sinar matahari pagi yang menyentuh pelan dan menyinari seisi bumi.Begitu juga dengan Paskal yang termenung. Lukisan indah yang selalu ia anggap sebagai malapetaka itu menjelma bak bidadari sempurna.Paskal mengutuk dirinya sendiri.Selama ini, ia tak pernah mau menatap wajah manis itu. Wajah yang dianggapnya sebagai musuh. Namun selalu siap menjadi tameng untuk kemarahannya.Larissa yang malang. Yang selalu terhina. Dia dicampakkan setelah menikah dengan Paskal.Paskal sangat menyesali perbuatannya. Enam bulan ini, ia bergelut dengan rasa bersalah. Entah rasa itu.. rasa iba atau rasa lain

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   67. Merindukanmu

    "Nyonya mau kemana?"Lila mencebik. Baru saja dia turun dari tangga sambil membawa perut besarnya. Tapi pelayan yang bernama bi Ira ini seperti enggan melepaskannya."Bukan urusanmu!""Nyonya. Anda sedang hamil!" Bi Ira menatap lekat."Iya, aku tahu. Dan aku belum mau melahirkan. Aku heran sekali padamu, bi Ira. Kenapa kamu suka sekali mengusik hidupku? Dengar! Kamu hanya pelayan! Tugasmu itu di dapur!" Bentak Lila emosi."Saya hanya ditugaskan tuan untuk menjaga anda." Jawab bi Ira datar."Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lebih baik urus dapur mu sebelum meledak lagi!!" Lila langsung pergi dengan santainya setelah mengatakan itu. Sedangkan bi Ira jadi geleng-geleng kepala."Sebenarnya dia betul-betul hamil atau tidak? Kenapa energi marahnya tidak pernah habis?" Bi Ira menarik nafas pelan dan mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan pada seseorang.Di tempat lain, Paskal dan Farhan baru saja tiba setelah

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   66. Keinginan Lila

    Paskal menatap tajam pada pria yang baru masuk. Seorang pria paruh baya dengan memakai jas rapi. Di tangan kirinya memegang tas kerja. Sedangkan di tangan kanannya mengulurkan sebuah map dokumen berwarna biru muda.Lila tersenyum sambil mengambil map tersebut. Ia lalu menunjukkannya pada Paskal."Ini adalah surat dimana aku meminta hak anakku padamu. Sesuai dengan janjimu, Paskal. Aku ingin 25% saham Alvaro menjadi miliknya.""Ini bukan saat yang tepat, Lila."Apa yang sedang Lila lakukan saat ini? Paskal tak habis pikir! Apakah Lila sedang berusaha menjebaknya?"Apa maksudmu bukan saat yang tepat?" Lila berbicara santai. "Di depan dokter yang telah memeriksaku, mereka bisa menjadi saksi kalau kamu akan memenuhi janjimu.""Lila!" Tegur Paskal dengan penuh penekanan."Baca saja dulu!"Paskal meraih map tersebut dan membaca surat di dalamnya. Ada sebuah tulisan dimana Paskal harus memberikan seperempat saham kelua

  • Cinta Suci Larissa, Aku Istrimu!   65. Hidup Baru Larissa

    Larissa membuang bungkusan ke kotak sampah. Wanita ini menyeka sudut bibirnya dengan telunjuk. Saat dia ingin berbalik, Larissa jatuh terduduk. Wanita ini memegang perutnya.Dari matanya jatuh beberapa titik air mata. Larissa menggigit bibir dengan kuat hingga memerah. Mual ini sungguh tak tertahankan."Larissa, ya ampun!" Panggil Fitri terkejut. Wanita ini bergegas menolong Larissa. "Ayo duduk disana!"Fitri mengajak Larissa duduk di dekat gubuk yang berada di tepi pasar. Larissa diberikan satu gelas minuman."Kamu muntah lagi?" Larissa mengangguk dengan wajah memerah."Kayaknya kamu nggak bisa lagi kerja sama bu Ningsih, Larissa. Setiap mencium bau amis kamu pasti muntah." Larissa meneguk ludah. "Nggak apa-apa. Ini bisa kutahan.""Sampai kapan kamu mau pura-pura kuat, Larissa? Semua orang sudah tahu apa yang terjadi padamu. Kamu hamil disaat sudah bercerai dengan tuan muda itu.""Fitri." Larissa men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status