LOGINLarissa pulang lebih lambat siang hari ini. Pasar memang ramai tapi pengunjung di lapaknya sepi. Hanya sekitar 15 orang yang membeli dagangannya.
Larissa yang tengah bersemangat mencari uang rela berpanas-panasan sampai siang agar ikan yang di dagangkannya habis terjual. Namun memang rezeki memiliki hari tersendiri, Larissa dan Ningsih patut bersyukur atas rezeki yang mereka dapatkan hari ini.Wanita ini merogoh kocek di saku jaket rajutnya. Beberapa hari ini, ia selalu meng"Pak Teguh??" Sekretaris wanita ini nampak ketakutan saat melihat dua pria tampan yang gagah sedang menatapnya.Di belakang dua pria itu ada beberapa pria yang memakai baju serba hitam. Mereka berbaris seperti pengawal."Iya. Apa ada pak Teguh disini?" Tanya Farhan mengambil alih situasi."A-ada.. tapi anda berdua siapa?" Sekretaris ini jadi terbata-bata.Paskal tersenyum. "Malaikat maut."Tanpa menunggu persetujuan, Paskal yang tak sabar melewati wanita itu begitu saja. Ia lalu pergi ke ruangan yang menjadi ruang kerja Teguh."Saya tidak terima dikalahkan. Gara-gara Paskal Alvaro, saya tidak bisa menjadi politisi lagi!" Seru Teguh.Gara-gara skandal anaknya di masa lalu yang membuat namanya tercemar karena korupsi, Teguh jadi mundur dari pemilihan anggota dewan. Dan sialnya, Paskal Alvaro malah menang dalam pemilihan ini.Oh.. Teguh tak terima! Ia pun menyuap seorang jurnalis agar membuat berita palsu mengenai
"Saya sudah tidur bersama tuan Alvaro." Erica tersenyum tipis. Dengan anggun dan lembut ia mengambil beberpaa lembar foto yang ada di tas tangannya lalu memberikan pada Larissa.Larissa mengambil foto tersebut dan menatap nanar. Disana ada foto Paskal dan Erica yang tengah beradu kasih di tempat tidur. Terlihat Paskal yang tidak memakai pakaian tidur memeluk Erica dengan erat."Anda pasti tahu mengenai gosip yang beredar, kan? Benar sekali, nyonya. Saya dan tuan memang memiliki hubungan sejak lama. Yaitu ketika kalian belum rujuk kembali."Bi Ira yang mendengar itu jadi meradang. Ia lalu menghardik Erica."Itu semua pasti tidak benar, nyonya! Wanita ini mengada-ngada!" Bi Ira jijik sekali melihat Erica.Sementara, Erica tak perduli dengan ucapan wanita paruh baya itu. Hanya pelayan, ia tak berniat meladeninya.Larissa memperhatikan foto-foto itu dengan seksama. Setelah itu, ia mengusap perutnya."Lalu anda mau
Pagi ini, Paskal izin bekerja. Larissa kembali dijaga oleh bi Ira. Keduanya bersikap biasa seprti tak ada masalah. Paskal tak menyinggung berita negatif yang mengenai dirinya. Pun begitu Larissa yang mengantungi kesetiaan suaminya. Ya, anggaplah begitu. Dokter wanita datang lagi untuk memeriksa keadaan Larissa. Kali ini nyonya Alvaro dipindahkan ke ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin. Semuanya normal dalam keadaan baik. Namun yang tak baik adalah denyut jantung Larissa. "Tekanan darah anda sedikit naik, nyonya." Ucap dokter tersebut. "Apa anda tidur nyenyak semalam?" Larissa mengangguk. "Ya. Saya tidur dengan nyenyak.." "Oke. Kalau begitu kita lihat dulu tekanan darahnya sampai besok. Jika masih tinggi kita bisa pertimbangkan alternatif lain." Sambung dokter wanita ini lagi. Selesai diperiksa, Larissa dibawa lagi pulang ke kamar dengan bantuan kursi roda. Daritadi
"Ini tidak benar." Paskal memberikan lagi ponsel itu pada pemiliknya.Berita disana mengabarkan jika Paskal telah berselingkuh dengan seorang model bernama Erica. Terlihat dari cuplikan foto ketika mereka berpelukan.Narasi negatif makin tergiring karena track record Paskal yang gelap. Yaitu pernah mendua saat di pernikahannya yang pertama dengan orang yang sama."Mereka sepertinya ingin menjebak tuan." Balas Farhan."Atau mungkin wanita itu. Harusnya aku tahu kalau dia memang wanita penghibur." Paskal lalu meminta tolong pada pengacaranya."Bersihkan semua berita negatif itu. Cari media yang menerbitkannya. Temukan dalang dari semua ini. Jangan sampai Larissa mendengarkan berita ini."Farhan mengangguk. "Akan saya lakukan."Farhan bergegas menelusuri asal muasal berita ini tercipta. Paskal yang merasa semuanya beres lantas pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, Paskal dihubungi oleh Triwan. Anggota dewan ini me
"Tuan!" Aris menyergap Paskal yang baru saja keluar dari bar room. "Tadi saya mendapat kabar dari...""Aris. Kita pulang sekarang!" Potong Paskal.Aris mengangguk. Itu artinya tuan muda sudah mendapat kabar dari rumah."Saya tunggu di lobi." Ucap Paskal. Ia tak mau lagi kembali ke kamar hotel dan mengemas barang-barangnya. Biarkan Aris yang melakukannya.Keduanya lalu memisahkan diri. Aris ke kamar dan Paskal turun ke lobi utama.Setelah keluar dari lift, Paskal memijit kepalanya perlahan. Tiba-tiba saja kepalanya sakit. Perutnya mual. Padahal dia tidak menyentuh apapun di dalam sana. Namun sepertinya aroma kuat itu menusuk ulu hatinya.Padahal dulu, Paskal berteman dengan aroma-aroma khas seperti itu.. namun setelah ia berubah, seketika juga batinnya menolak bersentuhan dengan minuman keras itu lagi.Selagi menunggu Aris, Psskal merogoh sakunya untuk melihat ponsel. Ia lalu mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari
Larissa dibawa ke rumah sakit segera setelah mengalami perdarahan. Nyeri perut hingga pinggang yang selalu dia abaikan kini berawal menjadi bencana.Ternyata Larissa mengalami kontraksi. Anaknya terancam lahir dalam keadaan prematur. Dokter ini menyarankan agar Larissa mendapatkan perawatan. Bi Ira yang bertindak sebagai wali pun menyetujui."Saya akan memberitahu tuan mengenai keadaan nyonya." Ujar Bi Ira.Larissa mengangguk. Dia sudah tak bisa berpikir lagi. Dengan kehadiran Paskal setidaknya membuatnya tenang.Berkali-kali nomor Paskal dihubungi. Namun tak terangkat. Bi Ira pun meminta pada asisten rumah untuk menghubungi Aris yang menjadi teman dalam perjalanan dinas Paskal.Sementara, di hotel.. para pejabat sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Oleh karena acara ini semi formal. Beberapa pria memakai kemeja biasa. Sementara, Paskal mencuri perhatian dengan memakai pakaian jas lengkap. Maklum saja, dia seorang pebisnis yang terb







