เข้าสู่ระบบ"Anakku, lihat siapa yang datang."
Lila meraih putranya dalam gendongan. Ia berjalan mendekat pada Paskal yang baru saja tiba. Paskal melihat putranya secara sekilas. Hampir 3 bulan, Azka bertarung di ruang intensif. Syukurlah Azka bisa melewati masa kritisnya. Tubuh yang kecil itu mulai menggembul, kulitnya kemerahan. Alis matanya tipis dengan bibir yang kecil. "Dia mirip sekali denganmu, kan?" Paskal tersenyum miriLarissa mengerjap tangisnya. Permintaan Paskal bak sembilu yang mengoyak hatinya.Pria itu menginginkan dirinya menjadi ayah angkat dari Chiara. Terlebih Paskal mengatakan dengan sorot mata yang tulus dan penuh keseriusan. Membuat hati Larissa bergetar sulit untuk diartikan."Aku tahu ini terlambat." Suara Paskal terdengar berat. "Tapi maafkan aku, Larissa. Aku benar-benar menyesal karena sudah pernah menyakitimu. Sikapku buruk sekali padamu di masa lalu. Aku sudah menyiksamu dan menghancurkan harga dirimu."Paskal lalu menghela nafas panjang."Padahal kamu berkali-kali menolongku. Saat pertama kali kita bertemu dalam kecelakaan lalu saat kamu menolongku dari serangan orang-orang asing di rumah.. sekarang aku menyadari kalau hanya kamu yang sangat tulus padaku. Kamu menolongku tanpa pamrih.. aku menyadari semua kesalahanku, Larissa. "Sambung Paskal tercekat. "Tolong maafkan aku.."Mendengar itu, Larissa semakin menggigit bibirnya menahan
Lila berdecak menatap lilin-lilin yang sudah terhias di atas kue. Ah sial sekali! Kenapa momen romantis seperti ini selalu dirusak oleh Paskal.Wanita ini sudah cantik menggunakan gaun. Ruangan ini sudah didekorasi sedemikian rupa. Belum lagi meja makan dengan kue serta lilin diatasnya ini menambah kesan romantis.Sayang sekali suaminya itu mengabarkan tidak akan pulang karena urusan pekerjaan. Dan anehnya lagi, Paskal tak langsung menghubunginya. Melainkan bi Ira, pelayan yang tak ada harganya."Jahat sekali kamu padaku, Paskal!" Lila rasanya ingin menangis.Cinta mereka yang meletup-letup itu sekarang menjadi dingin. Membeku hingga melampirkan jarak antara keduanya."Jangan.. aku nggak boleh marah." Seru Lila mengingat hadiah yang diberikan suaminya pagi tadi. "Dia sudah memberikanku saham sebanyak 25%. Di genggaman tanganku sudah ada separuh harta Alvaro."Lila lalu menyeringai. Namun perkataan Bram menyentak hatinya. Jika Bra
Paskal menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan Larissa melahirkan putrinya. Keringat dan tangisan yang bercampur menjadi satu. Kucuran darah yang banyak terbuang. Serta rasa sakit yang tak tertahankan.Paskal masih setia berada di sisi Larissa sampai wanita itu selesai dijahit.Larissa terkulai lemas dengan kepala yang bersandar ke tempat tidur. Tangan wanita itu di genggam erat oleh Paskal.Pria ini merelakan tangannya dipegang dengan kuat. Paskal bahkan merasa tulang di jemarinya sampai remuk. Ya.. dia tak bisa membayangkan betapa sakitnya Larissa dalam berjuang melahirkan. Ada alasan kenapa surga ada di telapak kaki ibu.Sebab melihat perjuangan Larissa yang hampir mati. Paskal harus mengucapkan terima kasih pada Imelda yang juga dulu berjuang melahirkannya."Lihat.. cantik sekali.." bu Cik menimang bayi yang baru saja dibersihkannya.Larissa yang sudah separuh lemas lantas tersadar. Dia punya alasan untuk bertahan
Menggunakan helikopter, Paskal dan rombongan tiba sore ini ke tempat pengungsian yang tak jauh dari desa Pulau. Sebuah dataran tinggi yang tak terkena banjir bandang.Setibanya disana, Paskal melihat banyak tenda darurat didirikan. Banyak pegawai yang memakai seragam hijau tengah membantu warga mendirikan tenda dan mengangkut bantuan.Di sebrang sana ada dapur sederhana yang menjadi tempat mereka memasak. Selama tiga hari ini mereka hanya bisa memakan mie instan. Dan syukurlah tim penyelamat sudah datang, mereka membawa beberapa sembako yang bisa diolah."Pak Farhan. Hubungi Redi. Katakan untuk melakukan donasi atas nama perusahaan Sandhya untuk bencana ini." Paskal memberikan perintah."Akan saya laksanakan." Farhan memundurkan langkahnya untuk menghubungi Redi, sekretaris tuannya. Oleh karena tak terjangkau, sinyal di ponsel ini juga sangat lemah. Farhan harus berjalan cukup jauh untuk bisa menghubungi Redi.Sementara bu Cik b
"Aduh, pak. Kira-kira ada nggak bis yang mau nganter kita ke desa, ya?" Bu Cik jadi cemas."Kita tanya saja dulu, bu." Sahut Yanto mencoba tenang.Bagaimana tidak? Lima hari yang lalu, Yanto dan istrinya pergi ke kota untuk memasarkan hasil panen mereka. Tapi saat tengah bersiap untuk pulang, sore itu mereka mendapat kabar jika desa Pulau terserang banjir bandang.Bukan sekali dua kali, banjir meluap desa tersebut.. namun kali ini lebih parah.Banjir melahap habis ratusan rumah. Sawah hancur, hewan ternak banyak yang tenggelam. Yang dikhawatirkan oleh Yanto adalah anak-anaknya yang tinggal disana. Ia takut terjadi sesuatu meskipun mereka telah pindah ke pengungsian.Bu Cik memegang lengan suaminya saat mereka berjalan cepat menuju terminal bis. Sayang sekali tak ada satupun bis yang mau mengantar. Akses sulit dengan jalan terputus menjadi alasannya."Ya, Tuhan.. bagaimana ini?" Bu Cik bersusah hati.Yanto mencoba mencari
Paskal bergegas pergi ke kediaman Farhan. Pria ini sampai terkejut ketika tuannya datang. Apalagi ucapan Paskal bak perintah yang harus ditepati sekarang juga. "Tapi hari sudah tengah malam, tuan. Akses menuju desa terputus." Keluh Farhan. Paskal menggeleng. "Aku tidak perduli. Kita harus memastikan keadaan Larissa." "Lalu apa yang anda akan lakukan, tuan?" "Menyelamatkannya." "Bersama dengan suaminya?" Pertanyaan itu menyentak hati Paskal. Pria ini baru teringat kalau Larissa telah memiliki suami. "Tuan.. suami nona Larissa pasti tidak akan membiarkan istrinya dalam kesulitan. Saya dengar, mereka sudah mendapatkan tempat untuk menyelamatkan diri. Bantuan sudah berdatangan." Paskal menarik nafas panjang. Ia berpikir dengan keras. Di satu sisi dia mengkhawatirkan mantan istrinya. Tapi di sisi lain, Larissa sudah memiliki suami yang jelas mencintainya.







