Compartir

Bab 4

Autor: Elv_
last update Última actualización: 2026-01-12 14:15:32

Keesokan paginya, suasana meja sarapan jauh lebih mencekam. Sandra duduk dengan sebuah tumpukan dokumen di depannya. "Arkan, Mama sudah memutuskan," Sandra memulai tanpa basa-basi. "Jika dalam enam bulan pengobatan ini tidak berhasil, Mama akan membawa masalah ini ke dewan direksi untuk membatalkan pernikahan kalian. Keluarga kita butuh pewaris, bukan sekadar menantu yang cacat suaranya dan cacat rahimnya."

Aku tersedak air yang sedang kuminum. Arkan membanting sendoknya ke piring. "Ma! Berhenti bicara seolah dia tidak ada di sini!"

"Ini bukan omong kosong! Ini masa depan Dirgantara!" Sandra balas berteriak. "Atau kau lebih memilih mempertahankan gadis bisu ini daripada kursi CEO-mu?"

Sandra menatapku dengan kebencian murni. "Kau dengar itu, Gia? Enam bulan. Jika kau gagal, bersiaplah angkat kaki dari sini tanpa membawa sepeser pun."

Aku menunduk, air mataku jatuh tepat di atas piring yang kosong. Enam bulan. Waktu yang diberikan padaku untuk melakukan mukjizat di tengah badai rumah tangga yang baru saja dimulai.

Bang.

Arkan pergi tanpa menghabiskan sarapannya. Di meja yang luas itu, kini hanya tersisa aku dan Sandra. Keheningan yang tercipta terasa lebih menyiksa daripada cacian yang baru saja ia lontarkan.

Sandra menyesap tehnya dengan anggun, seolah baru saja membicarakan cuaca dan bukan sedang menghancurkan masa depanku.

"Kenapa masih di sini?" tanya Sandra tanpa menoleh. "Cepat bersihkan wajahmu. Kau terlihat seperti hantu dengan mata sembab begitu. Sebentar lagi Maya akan datang."

Aku tertegun, tanganku bergerak cepat mengambil tablet tulis di samping kursi. [Siapa Maya, Ma?]

Sandra meletakkan cangkirnya dengan denting yang nyaring. "Jangan panggil aku 'Ma' saat kita hanya berdua. Aku mual mendengarnya. Maya adalah putri pemilik rekanan bisnis terbesar Dirgantara. Dia cantik, berkelas, dan yang terpenting... dia bisa bicara. Dia akan membantumu 'belajar' menjadi nyonya rumah yang pantas, sebelum kau benar-benar pergi dari sini."

Aku meremas ujung gaunku. Belajar? Bagiku, itu terdengar seperti prosesi penggantian posisi secara perlahan.

Belum sempat aku menjawab, seorang wanita cantik dengan gaun selutut berwarna merah menyala melangkah masuk. Senyumnya lebar, namun matanya memancarkan keangkuhan yang setara dengan Sandra.

"Tante Sandra!" sapa Maya dengan suara merdu yang langsung membuatku merasa semakin kecil. Ia melirikku sekilas, lalu beralih ke Sandra. "Jadi, ini wanita yang membuat Arkan harus 'terjebak'?"

"Begitulah, Maya. Tolong ajari dia cara bersikap di depan kolega nanti malam. Ada gala dinner kecil," ucap Sandra sambil bangkit. "Aku ada janji di salon. Urus dia."

Sandra pergi, meninggalkanku bersama wanita yang kini menatapku seperti sedang meneliti barang cacat di toko barang bekas.

"Jadi, Gia, ya?" Maya berjalan mengelilingi kursiku. "Sayang sekali. Wajahmu lumayan, tapi diammu itu menyeramkan. Kau tahu? Arkan benci sesuatu yang tidak cepat tanggap."

Aku hanya menunduk, mengetik di ponsel: [Terima kasih sarannya. Apa yang harus aku pelajari?]

Maya tertawa, suara tawanya jernih namun terasa dingin. "Pelajari? Pelajari cara mengemas koper dengan rapi, Gia. Karena enam bulan itu sebentar. Arkan butuh pendamping yang bisa bernegosiasi, bukan yang hanya bisa mengetik di layar ponsel."

Sore harinya, Arkan pulang lebih awal. Aku sedang berada di perpustakaan, mencoba membaca buku tentang etiket yang ditinggalkan Maya dengan sengaja. Saat Arkan masuk, ia tampak kacau. Dasinya sudah longgar dan rambutnya berantakan.

"Gia," panggilnya pendek.

Aku bangkit dan mendekat. Aku menyentuh lengannya dengan ragu, mencoba bertanya lewat tatapan mata.

"Jangan menatapku seperti itu," desis Arkan, namun ia tidak menepis tanganku seperti biasanya. Ia justru menjatuhkan kepalanya di bahuku sejenak, membuatku membeku. "Dewan direksi mulai mendesak soal isu kesehatanmu. Seseorang membocorkan laporan klinik itu."

Aku tersentak. Aku segera mengambil papan tulis kecilku: [Apakah itu karena pernyataan tidak percaya yang Mama katakan tadi pagi?]

Arkan menarik diri, menatapku dengan mata yang memerah karena lelah. "Ya. Jika dalam enam bulan tidak ada tanda-tanda kehamilan, mereka punya celah hukum untuk menurunkanku. Kakek menuliskan syarat 'keturunan sah' dalam wasiat kepemilikan saham utama."

Aku merasa dadaku sesak. Semua ini bukan lagi tentang cinta atau benci, tapi tentang takhta yang sedang goyah.

"Maya bilang kau harus ikut ke gala malam ini," ucap Arkan tiba-tiba. "Bisa kau melakukannya? Hanya berdiri di sampingku, tersenyum, dan jangan biarkan siapa pun tahu bahwa kau sedang tertekan."

Aku mengangguk mantap. Aku ingin membantunya, setidaknya sebagai bentuk terima kasih karena ia masih mempertahankanku di meja sarapan tadi pagi.

"Bagus. Pakai gaun yang paling mahal. Aku ingin mereka melihat bahwa istri Arkan Dirgantara tidak selemah yang mereka bicarakan," Arkan berbalik hendak pergi, namun ia berhenti sejenak. "Gia... soal ucapan Mama tadi pagi... jangan terlalu dimasukkan ke hati."

Aku tertegun. Baru saja aku ingin menulis 'terima kasih', Arkan sudah menutup pintu dengan keras.

Malam itu, gala dinner diadakan di salah satu hotel milik keluarga Dirgantara. Aku mengenakan gaun sutra berwarna sampanye yang sangat indah. Arkan menggandeng lenganku dengan erat saat kami memasuki aula.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di tengah kerumunan, Maya muncul dengan gaun yang jauh lebih glamor. Ia mendekat ke arah kami dengan segelas sampanye di tangan.

"Arkan! Kau tampak hebat malam ini," sapa Maya manis. Ia lalu menatapku. "Gia, kau sudah belajar cara menyapa tamu dengan anggukan, kan?"

Beberapa kolega bisnis Arkan mulai berkumpul. Seorang wanita paruh baya dengan perhiasan berlebih menatapku sinis. "Jadi ini Nyonya Dirgantara? Saya dengar dia punya... kendala bahasa?"

Maya tertawa kecil, sengaja memancing suasana. "Bukan kendala, Jeng. Hanya saja, Gia lebih suka menjadi pendengar yang baik. Benar kan, Gia?"

Aku merasa semua mata menghakimi kebisuanku. Aku meremas tangan Arkan yang berada di pinggangku. Aku merasa seperti tontonan di kebun binatang.

"Istriku memang tidak banyak bicara, tapi dia mengerti segalanya," suara Arkan terdengar tegas, memecah kecanggungan. "Dan kurasa, di meja bisnis, lebih baik diam daripada banyak bicara tapi tidak ada isinya."

Suasana mendadak kaku. Maya tampak tersinggung, namun ia segera menutupi wajahnya dengan senyum palsu.

Tiba-tiba, seorang pelayan tanpa sengaja menyenggol Maya, membuat sampanye di tangannya tumpah tepat ke gaun sampanyeku.

"Oh my God! Gia, maafkan aku!" teriak Maya dengan nada yang sangat dibuat-buat.

Aku terkesiap melihat noda besar di gaunku. Sandra, yang entah sejak kapan ada di sana, langsung mendekat dengan wajah geram.

"Gia! Kenapa kau ceroboh sekali?" bentak Sandra, cukup keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Kau mempermalukan nama keluarga dengan gaun kotor itu di depan kolega penting!"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 15

    Pagi itu, kediaman Arkan yang biasanya sunyi dan kaku kini dipenuhi oleh aroma kopi yang kuat dan tawa renyah yang samar. Gia berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, jemarinya lincah memadukan syal sutra untuk menutupi lehernya yang masih terasa sedikit kaku.Arkan muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari Gia."Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Arkan, suaranya rendah namun penuh kekaguman.Gia menoleh, senyumnya kini tidak lagi hanya lewat mata, tapi juga tersirat di sudut bibirnya. "Berbeda... bagaimana?" tanyanya. Suaranya sudah tidak seberat beberapa hari lalu, meski masih ada getaran serak yang tipis—seperti suara gesekan biola yang belum sempurna disetel.Arkan mendekat, membantu merapikan ujung syal Gia. "Ada cahaya di matamu yang dulu sempat padam. Dan aku suka mendengar suaramu, meski kau hanya menanyakan di mana letak dasiku."Gia

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 14

    Babak baru dalam hidupku telah dimulai, bukan hanya sebagai istri Arkan, melainkan juga sebagai Gia yang mampu berbicara. Kata-kata yang keluar dari bibirku tadi bagai sihir, membungkam riuhnya wartawan dan dentuman kamera. Arkan menatapku dengan mata tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja menyaksikan keajaiban. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kerumunan wartawan itu perlahan membubarkan diri, meninggalkan keheningan yang lebih berarti. Arkan masih memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, selaras dengan detak jantungku sendiri. "Gia..." Suara Arkan serak, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau benar-benar mengatakannya." Aku tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. Rasa sakit di tenggorokanku kembali menyerang, mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Namun, kebahagiaan yang melingkupiku jauh lebih besar dari rasa sakit fisik. Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepalak

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 13

    Duniaku seolah berhenti berputar. Aku menatap Arkan. Dia tampak sama terkejutnya denganku."Ayah...?" bisik Arkan pelan.Di tengah kekacauan itu, Sandra meronta-ronta saat diseret keluar. Maya, yang ternyata bersembunyi di balik pilar, mencoba melarikan diri namun segera ditangkap.Keheningan kembali menguasai ruangan. Aku dan Arkan berdiri mematung di tengah reruntuhan rahasia keluarga Dirgantara.Aku mendekati Arkan, menyentuh lengannya. Arkan tiba-tiba jatuh berlutut, menyembunyikan wajahnya di perutku dan menangis hebat. Pria es itu hancur berkeping-keping.Aku mengelus rambutnya, air mataku pun mengalir. Namun, saat aku mencoba menenangkannya, sebuah suara... sebuah bisikan kecil yang asing keluar dari tenggorokanku."Ar... kan..."Itu suaraku. Sangat kecil, serak, dan menyakitkan. Tapi itu suaraku.Arkan mendongak dengan mata terbelalak. "Gia? Kau... kau bicara?"Aku mencoba lagi, namun rasa sakit di tenggorokanku begitu hebat hingga aku jatuh pingsan di pelukannya.**Bau anti

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 12

    Jantungku berdegup kencang. Aku tidak meraih tablet. Aku mengambil tangan Arkan, meletakkannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila, lalu aku mengangguk mantap.Namun, di tengah momen haru itu, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor yang tidak dikenal.Pesan di layar ponsel itu seolah berubah menjadi belati yang menghujam jantungku.“Kau pikir ini sudah selesai? Tanya suamimu, siapa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang merenggut suaramu sepuluh tahun lalu.”Tanganku gemetar hebat. Ponsel itu hampir saja meluncur dari genggamanku jika Arkan tidak segera menangkap pergelangan tanganku. Ia menatapku dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada raut wajahku."Gia? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arkan, suaranya yang berat kini terdengar penuh kecemasan.Aku menarik tanganku dengan kasar. Aku mundur selangkah, menatapnya dengan tatapan yang mungkin belum pernah ia lihat dariku—tatapan penuh kecurigaan.Arkan tertegun. Ia mencoba mendeka

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 11

    Ciuman Arkan masih menyisakan sensasi terbakar di bibirku. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat suara langkah kaki yang kasar menghantam lantai beton taman atap."Bagus sekali. Drama picisan di atas penderitaan keluarga!"Aku tersentak dan melepaskan pelukan Arkan. Sandra berdiri di sana, wajahnya merah padam, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, Maya tampak sibuk menghapus air mata buaya.Arkan menarikku ke belakang punggungnya. "Cukup, Ma. Dokter sudah bilang Gia sehat.""Sehat rahimnya, tapi otaknya mungkin tidak!" Sandra melemparkan ponselnya ke atas meja taman. "Lihat ini! Saham Dirgantara Group merosot lima persen dalam satu jam karena berita pernikahanmu dengan wanita bisu ini bocor ke media dengan narasi 'skandal wasiat paksa'."Aku terpaku. Tanganku meraba mencari tablet, tapi benda itu tergeletak jauh di kursi taman. Aku hanya bisa menarik ujung kemeja Arkan, mencoba menyalurkan rasa takutku.Arkan tidak menoleh. Suaranya mendingin, kembali menjadi es y

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 10

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama kediaman Dirgantara. Bagi Gia, ini adalah pagi pertama ia terbangun bukan sebagai "beban" yang terpaksa diterima, melainkan sebagai wanita yang baru saja dijanjikan sebuah perlindungan. Arkan sudah tidak ada di sampingnya, namun cekungan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bergamot—menjadi bukti bahwa pelukan semalam bukanlah mimpi.Gia turun dari tempat tidur, langkah kakinya terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang mengingat agenda hari ini: pemeriksaan medis. Ia berjalan menuju cermin besar, menyentuh lehernya sendiri. Takdir telah merenggut suaranya, namun Arkan—pria yang awalnya sedingin es kutub—telah berjanji untuk menjadi pelantang bagi jiwanya.Pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil roti panggang."Ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status