Share

Bab 5

Author: Elv_
last update Last Updated: 2026-01-12 14:22:33

Aku tersentak mundur saat jari telunjuk Sandra nyaris mengenai hidungku. Rasa malu membakar pipiku lebih panas daripada tumpahan sampanye dingin yang merembes ke kulit. Di aula yang megah ini, di depan kolega-kolega bisnis papan atas, aku merasa seperti noda menjijikkan yang merusak pemandangan.

Maya berdiri di samping Sandra dengan wajah yang pura-pura panik, meski matanya berkilat puas. "Tante, ini salahku. Aku tidak sengaja," ucap Maya dengan nada yang sangat palsu.

"Tidak, Maya. Kau tidak salah. Gadis ini saja yang tidak becus membawa diri!" bentak Sandra lagi. Ia menatapku dengan kebencian murni. "Masuk ke toilet sekarang! Bersihkan dirimu dan jangan keluar sampai acara ini selesai. Kau hanya merusak reputasi Arkan!"

Aku menunduk dalam, mencoba menahan isakan yang menyesakkan tenggorokan. Lidahku yang kelu terasa semakin berat. Aku ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa Maya yang sengaja menyenggolkan gelasnya, tapi apa gunanya? Di tempat ini, suaraku tidak lebih dari hembusan angin yang tak terdengar.

Saat aku hendak melangkah pergi dengan kepala tertunduk, sebuah tangan kokoh mendarat di bahuku. Aroma parfum sandalwood yang sangat aku kenali menyeruak. Arkan.

Tanpa sepatah kata pun, Arkan melepas jas hitamnya. Ia menyampirkannya ke bahuku, menutupi noda besar di bagian perut gaun sampanyeku dengan gerakan yang sangat posesif.

"Arkan? Apa yang kau lakukan?" Sandra bertanya dengan nada tidak percaya. "Biarkan dia pergi bersihkan pakaian atau pulang sekalian!"

Arkan tidak menoleh pada ibunya. Ia justru menatapku. Matanya yang biasanya sedingin es, kini memancarkan sesuatu yang sulit kubaca—mungkin kemarahan, tapi bukan padaku.

"Istriku tidak akan bersembunyi di toilet seperti penyakitan, Ma," suara Arkan terdengar rendah namun bergetar hebat oleh otoritas. "Dia tidak ceroboh. Aku melihat sendiri bagaimana gelas itu tumpah."

Pandangan Arkan beralih tajam ke arah Maya. Maya yang tadinya tersenyum penuh kemenangan, mendadak pucat pasi. Ia mundur satu langkah, jemarinya meremas gelas kosong di tangannya.

"Maya, kuharap kau bisa menjaga keseimbanganmu dengan lebih baik lain kali," sindir Arkan telak. "Dan Ma, jika menurut Mama jas ini cukup untuk menutupi noda itu, maka Gia akan tetap di sini, di sampingku. Sebagai Nyonya Dirgantara."

Sandra ternganga. "Kau membela gadis bisu ini di depan tamu-tamu kita?"

"Aku membela istriku," potong Arkan singkat. Ia kemudian menggandeng tanganku, jemarinya yang hangat menyelip di sela-sela jariku yang dingin dan gemetar. "Ayo, Gia. Kita belum menyapa komisaris utama."

Selama sisa acara, Arkan tidak melepaskan genggamannya. Meski jasnya terasa kebesaran dan berat di bahuku, namun benda itu terasa seperti baju zirah yang melindungiku dari tatapan tajam Sandra yang mengintai dari kejauhan.

Namun, kehangatan itu segera menguap saat kami masuk ke dalam mobil untuk perjalanan pulang. Begitu pintu tertutup, Arkan melepaskan tanganku dan kembali menjadi pria asing yang dingin. Ia bersandar di kursi belakang, memejamkan mata dengan rahang yang mengeras.

Aku mengambil ponselku, mengetik dengan jari yang masih sedikit bergetar: [Terima kasih untuk jasnya. Dan maaf karena aku merusak malammu.]

Arkan membuka matanya, melirik layar ponselku sekilas, lalu mendengus sinis. "Jangan salah paham, Gia. Aku melakukannya bukan karena peduli padamu. Aku hanya tidak ingin Maya atau Mama membuat keributan yang akan menjadi santapan media besok pagi. Posisi saham Dirgantara sedang sensitif."

Hatiku yang sempat menghangat, kini kembali mendingin. Aku menunduk, menyimpan ponselku kembali. Tentu saja. Segalanya tentang bisnis. Segalanya tentang citra.

"Tapi," Arkan bicara lagi, suaranya lebih lembut, nyaris seperti bisikan. "Kau melakukan tugasmu dengan baik tadi. Kau tetap tersenyum meski mereka menghinamu. Itu... lebih dari yang kuharapkan."

Aku menoleh, namun Arkan sudah kembali membuang muka ke arah jendela, menatap lampu-lampu kota yang berlarian.

Sesampainya di mansion, suasana kembali mencekam. Sandra rupanya sudah pulang lebih dulu dan menunggu kami di ruang tengah. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya mengeras seperti batu.

"Arkan, kita perlu bicara. Tanpa dia," tunjuk Sandra padaku dengan dagunya.

"Aku lelah, Ma. Besok saja," jawab Arkan sambil terus melangkah menuju tangga.

"Ini soal kontrak pengobatan itu!" teriak Sandra. "Mama sudah mengatur pertemuan dengan tim dokter dari Singapura lusa. Dan satu hal lagi, Mama ingin Maya mulai bekerja di kantor sebagai asisten pribadimu. Kau butuh seseorang yang bisa berkomunikasi dengan cepat, bukan seseorang yang harus mengetik setiap kali ingin bicara!"

Langkah Arkan terhenti. Ia berbalik, menatap ibunya dengan tatapan yang sangat tajam. "Maya? Di kantorku? Mama sudah keterlaluan."

"Ini demi kebaikanmu! Jika dalam enam bulan gadis ini tidak memberikan hasil, Maya adalah kandidat terbaik untuk menggantikannya. Kau tahu itu, Arkan. Dewan direksi lebih menyukai Maya!"

Aku berdiri mematung di belakang Arkan. Kata-kata Sandra seperti pisau yang menguliti harga diriku satu per satu. Aku menatap punggung Arkan, menanti apa yang akan ia katakan. Apakah ia akan setuju demi kursinya?

Arkan terdiam lama, lalu ia menoleh sedikit ke arahku, seolah ingin memastikan keberadaanku di sana.

"Gia akan ikut denganku ke kantor mulai besok," ucap Arkan tiba-tiba.

"Apa?!" Sandra dan aku tersentak bersamaan.

"Dia akan menjadi asisten pribadiku. Dia tidak butuh suara untuk mengatur jadwalku. Dia punya mata dan otak yang bekerja," Arkan menatap Sandra dengan tantangan terbuka. "Jadi, Mama tidak perlu repot-repot mengirim Maya. Karena posisi itu sudah terisi oleh istriku sendiri."

Arkan kemudian menarik lenganku, membawaku naik ke lantai atas, meninggalkan Sandra yang berteriak histeris di bawah. Begitu sampai di depan pintu kamar, ia melepaskanku.

"Belajarlah bangun lebih pagi, Asisten," ucapnya datar sebelum masuk ke kamarnya sendiri dan mengunci pintu.

Aku berdiri sendirian di koridor yang sunyi, memeluk jas hitam Arkan yang masih aku kenakan. Di satu sisi, aku merasa terlindungi, namun di sisi lain, aku tahu Arkan baru saja menyeretku ke dalam medan perang yang jauh lebih besar di kantor Dirgantara.

Aku memejamkan mata, memeluk aroma jas itu kuat-kuat. Enam bulan. Aku harus bertahan hidup di neraka ini selama enam bulan lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 15

    Pagi itu, kediaman Arkan yang biasanya sunyi dan kaku kini dipenuhi oleh aroma kopi yang kuat dan tawa renyah yang samar. Gia berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, jemarinya lincah memadukan syal sutra untuk menutupi lehernya yang masih terasa sedikit kaku.Arkan muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari Gia."Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Arkan, suaranya rendah namun penuh kekaguman.Gia menoleh, senyumnya kini tidak lagi hanya lewat mata, tapi juga tersirat di sudut bibirnya. "Berbeda... bagaimana?" tanyanya. Suaranya sudah tidak seberat beberapa hari lalu, meski masih ada getaran serak yang tipis—seperti suara gesekan biola yang belum sempurna disetel.Arkan mendekat, membantu merapikan ujung syal Gia. "Ada cahaya di matamu yang dulu sempat padam. Dan aku suka mendengar suaramu, meski kau hanya menanyakan di mana letak dasiku."Gia

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 14

    Babak baru dalam hidupku telah dimulai, bukan hanya sebagai istri Arkan, melainkan juga sebagai Gia yang mampu berbicara. Kata-kata yang keluar dari bibirku tadi bagai sihir, membungkam riuhnya wartawan dan dentuman kamera. Arkan menatapku dengan mata tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja menyaksikan keajaiban. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kerumunan wartawan itu perlahan membubarkan diri, meninggalkan keheningan yang lebih berarti. Arkan masih memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, selaras dengan detak jantungku sendiri. "Gia..." Suara Arkan serak, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau benar-benar mengatakannya." Aku tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. Rasa sakit di tenggorokanku kembali menyerang, mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Namun, kebahagiaan yang melingkupiku jauh lebih besar dari rasa sakit fisik. Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepalak

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 13

    Duniaku seolah berhenti berputar. Aku menatap Arkan. Dia tampak sama terkejutnya denganku."Ayah...?" bisik Arkan pelan.Di tengah kekacauan itu, Sandra meronta-ronta saat diseret keluar. Maya, yang ternyata bersembunyi di balik pilar, mencoba melarikan diri namun segera ditangkap.Keheningan kembali menguasai ruangan. Aku dan Arkan berdiri mematung di tengah reruntuhan rahasia keluarga Dirgantara.Aku mendekati Arkan, menyentuh lengannya. Arkan tiba-tiba jatuh berlutut, menyembunyikan wajahnya di perutku dan menangis hebat. Pria es itu hancur berkeping-keping.Aku mengelus rambutnya, air mataku pun mengalir. Namun, saat aku mencoba menenangkannya, sebuah suara... sebuah bisikan kecil yang asing keluar dari tenggorokanku."Ar... kan..."Itu suaraku. Sangat kecil, serak, dan menyakitkan. Tapi itu suaraku.Arkan mendongak dengan mata terbelalak. "Gia? Kau... kau bicara?"Aku mencoba lagi, namun rasa sakit di tenggorokanku begitu hebat hingga aku jatuh pingsan di pelukannya.**Bau anti

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 12

    Jantungku berdegup kencang. Aku tidak meraih tablet. Aku mengambil tangan Arkan, meletakkannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila, lalu aku mengangguk mantap.Namun, di tengah momen haru itu, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor yang tidak dikenal.Pesan di layar ponsel itu seolah berubah menjadi belati yang menghujam jantungku.“Kau pikir ini sudah selesai? Tanya suamimu, siapa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang merenggut suaramu sepuluh tahun lalu.”Tanganku gemetar hebat. Ponsel itu hampir saja meluncur dari genggamanku jika Arkan tidak segera menangkap pergelangan tanganku. Ia menatapku dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada raut wajahku."Gia? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arkan, suaranya yang berat kini terdengar penuh kecemasan.Aku menarik tanganku dengan kasar. Aku mundur selangkah, menatapnya dengan tatapan yang mungkin belum pernah ia lihat dariku—tatapan penuh kecurigaan.Arkan tertegun. Ia mencoba mendeka

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 11

    Ciuman Arkan masih menyisakan sensasi terbakar di bibirku. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat suara langkah kaki yang kasar menghantam lantai beton taman atap."Bagus sekali. Drama picisan di atas penderitaan keluarga!"Aku tersentak dan melepaskan pelukan Arkan. Sandra berdiri di sana, wajahnya merah padam, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, Maya tampak sibuk menghapus air mata buaya.Arkan menarikku ke belakang punggungnya. "Cukup, Ma. Dokter sudah bilang Gia sehat.""Sehat rahimnya, tapi otaknya mungkin tidak!" Sandra melemparkan ponselnya ke atas meja taman. "Lihat ini! Saham Dirgantara Group merosot lima persen dalam satu jam karena berita pernikahanmu dengan wanita bisu ini bocor ke media dengan narasi 'skandal wasiat paksa'."Aku terpaku. Tanganku meraba mencari tablet, tapi benda itu tergeletak jauh di kursi taman. Aku hanya bisa menarik ujung kemeja Arkan, mencoba menyalurkan rasa takutku.Arkan tidak menoleh. Suaranya mendingin, kembali menjadi es y

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 10

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama kediaman Dirgantara. Bagi Gia, ini adalah pagi pertama ia terbangun bukan sebagai "beban" yang terpaksa diterima, melainkan sebagai wanita yang baru saja dijanjikan sebuah perlindungan. Arkan sudah tidak ada di sampingnya, namun cekungan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bergamot—menjadi bukti bahwa pelukan semalam bukanlah mimpi.Gia turun dari tempat tidur, langkah kakinya terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang mengingat agenda hari ini: pemeriksaan medis. Ia berjalan menuju cermin besar, menyentuh lehernya sendiri. Takdir telah merenggut suaranya, namun Arkan—pria yang awalnya sedingin es kutub—telah berjanji untuk menjadi pelantang bagi jiwanya.Pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil roti panggang."Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status