LOGINBau disinfektan yang menyengat di klinik elit ini terasa seperti mencekik paru-paruku. Aku duduk di bangku tunggu yang dingin, meremas jemariku sendiri hingga memutih. Di depanku, Arkan berdiri mematung menatap jendela koridor, sementara Sandra berjalan mondar-mandir dengan suara hak sepatu yang menghentak keras, seperti detak bom waktu.
Pintu ruang konsultasi terbuka. Dokter spesialis itu keluar dengan wajah yang sulit dibaca. "Tuan Arkan, Nyonya Sandra, bisa kita bicara di dalam? Hanya keluarga inti." Aku baru saja hendak berdiri saat tangan Sandra menahan bahuku dengan kasar, mendorongku kembali duduk ke kursi besi yang dingin. "Kau tunggu di sini, Pajangan," desis Sandra tajam, matanya berkilat penuh peringatan. "Dokter bilang keluarga inti. Dan di mataku, kau belum benar-benar menjadi bagian dari kami." Aku menatap Arkan, memohon lewat tatapan mataku agar dia mengizinkanku ikut. Bagaimanapun, ini adalah tubuhku yang sedang dibicarakan. Namun, Arkan hanya melirikku sekilas—tatapan dingin yang sama seperti saat kami di altar—lalu melangkah masuk mengikuti ibunya tanpa sepatah kata pun. Pintu tertutup rapat. Aku ditinggalkan sendiri di koridor sunyi ini. Aku mengambil ponsel, jemariku bergetar saat mengetik di kolom catatan: [Aku takut. Aku merasa seperti barang yang sedang diperiksa kelayakannya di laboratorium. Apakah mereka akan membuangku jika aku tidak sempurna?] Hampir tiga puluh menit berlalu sebelum pintu itu akhirnya terbuka kembali. Wajah Sandra tampak merah padam, kemarahan meluap-luap dari matanya. Sedangkan Arkan, dia keluar dengan rahang yang mengatup begitu rapat hingga otot lehernya menegang. "Hebat sekali!" teriak Sandra tiba-tiba, suaranya menggema di lorong klinik. "Bisa-bisanya Kakek memberikan menantu yang bahkan tidak bisa memberikan kepastian!" Arkan menarik lengan ibunya. "Ma, kecilkan suara Mama. Ini tempat umum." "Kenapa harus kecil? Biar gadis ini tahu diri!" Sandra menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang gemetar. "Dokter bilang kau memiliki penyumbatan akibat trauma masa kecilmu, Gia! Peluangmu untuk hamil secara alami sangat kecil. Kau dengar itu? Kecil!" Duniaku serasa runtuh. Aku menggeleng kuat, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku. Aku meraih ponselku, mengetik dengan panik: [Itu tidak mungkin. Aku selalu sehat. Pasti ada kesalahan.] Sandra merampas ponsel itu dari tanganku dan membantingnya ke kursi tunggu. "Kesalahan? Dokter spesialis terbaik di kota ini tidak mungkin salah! Kau itu gadis gagal, Gia! Sudah bisu, sekarang rahimmu pun bermasalah!" Aku jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Isakan tanpa suara yang menyesakkan dada meledak di sana. Aku merasa begitu kerdil, begitu tidak berharga di hadapan mereka. "Cukup, Ma!" Arkan membentak, suaranya menggelegar membuat Sandra terdiam sejenak. "Pulang sekarang. Aku tidak mau berdebat di sini." Arkan menatapku yang masih bersimpuh di lantai. Untuk pertama kalinya, aku melihat kilatan amarah di matanya, tapi bukan ditujukan pada Sandra, melainkan padaku. Dia mencengkeram lenganku, memaksaku berdiri dengan kasar. "Berhenti menangis," bisik Arkan tepat di wajahku, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Air matamu tidak akan memperbaiki diagnosa dokter. Kau hanya membuat dirimu terlihat semakin menyedihkan di depan orang-orang." Perjalanan pulang di dalam mobil adalah neraka yang nyata. Sandra terus mengoceh di kursi belakang, menyumpah-nyumpah tentang bagaimana dia harus mencari cara untuk membatalkan wasiat itu. Sementara itu, Arkan duduk di sampingku, menatap lurus ke depan dengan tangan yang menggenggam kemudi begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Sesampainya di mansion, Arkan langsung menarikku menuju kamar utama, mengabaikan teriakan ibunya di ruang tamu. Begitu pintu kamar tertutup, ia melepaskan tanganku dengan sentakan. "Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Gia?" tanya Arkan, suaranya bergetar oleh kemarahan yang tertahan. Aku mengambil tablet tulis yang selalu ada di nakas, menulis dengan tangan gemetar: [Aku tidak tahu. Demi Tuhan, aku tidak pernah tahu soal masalah itu. Aku tidak bermaksud menipu siapa pun.] "Kau tidak tahu atau kau sengaja menutupinya supaya bibimu bisa melunasi hutangnya?" Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Kakek memilihmu karena kau dianggap 'bersih'. Tapi sekarang? Kau hanya menambah beban dalam hidupku!" Aku menggeleng, air mata kembali jatuh. Aku menulis lagi: [Aku akan berobat. Aku akan melakukan apa saja agar bisa memberikanmu pewaris. Tolong, jangan benci aku.] Arkan tertawa sinis, sebuah suara yang menyayat hatiku. "Pewaris? Kau pikir aku menginginkan anak dari pernikahan paksa ini? Aku hanya butuh status untuk menyelamatkan posisi CEO-ku! Tapi sekarang ibuku tidak akan berhenti menggangguku karena kondisimu!" Arkan berbalik, mengambil vas bunga di meja rias dan membantingnya ke lantai. Prang! Serpihan kaca berserakan, persis seperti hatiku saat ini. "Kenapa kau tidak bisa menjadi pajangan yang normal saja, Gia? Kenapa kau harus membawa begitu banyak masalah ke dalam hidupku yang sudah cukup rumit?" Aku tersentak mundur, ketakutan. Namun, saat melihat Arkan yang terengah-engah dengan mata yang memerah, aku tidak melihat seorang CEO yang berkuasa. Aku melihat seorang pria yang terluka oleh ekspektasi keluarganya sendiri. Aku memberanikan diri melangkah mendekat, meski ragu, aku menyentuh lengan kemejanya. Ia tersentak, menatap tanganku seolah-olah aku adalah sesuatu yang beracun. "Jangan menyentuhku," ucapnya, namun kali ini suaranya tidak setajam tadi. Dia melepaskan tanganku dengan pelan. "Tidurlah. Aku akan tidur di ruang kerja." Arkan berbalik pergi, meninggalkan aku di tengah kekacauan pecahan kaca dan diagnosa yang menghancurkan harapanku. Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku berlutut di atas karpet, memunguti serpihan kaca vas bunga satu per satu dengan tangan kosong. Ujung jariku teriris, darah merah segar menetes di atas kain putih gaun tidurku, tapi aku tidak merasakannya. Rasa sakit di hatiku jauh lebih dominan. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Aku melihat bayangan Arkan di sana. Dia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatapku yang sedang memunguti kaca dalam kegelapan. "Biarkan pelayan yang mengerjakannya besok pagi," ucapnya lirih. Aku menoleh, menatapnya dengan mata sembab. Aku memberikan isyarat tangan yang sederhana: [Maaf.] Arkan terdiam lama. Dia bersandar di bingkai pintu, menatap langit-langit. "Jangan meminta maaf untuk hal yang bukan salahmu, Gia. Itu membuatku terlihat seperti penjahat di sini." Dia menutup pintu kembali. Aku tertegun. Apakah itu sebuah bentuk simpati? Ataukah hanya rasa bersalah?Ruangan kedap suara itu terasa semakin sempit, seolah-olah dinding baja di sekeliling mereka perlahan menghimpit oksigen keluar dari paru-paru Gia. Di hadapannya, Surya Mahendra—pria yang selama ini dikenal sebagai pilar kebijaksanaan di keluarga besar mereka—menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Tidak ada lagi kehangatan paman yang sering memberinya cokelat saat ia masih kecil. Yang tersisa hanyalah seorang predator yang telah menunggu selama dua puluh tahun untuk momen ini.Gia menatap layar monitor dengan jantung yang serasa berhenti berdetak. Di sana, di lantai atas yang penuh asap, Bibi Ida sudah menekan ujung jarum suntik ke leher Arkan. Arkan masih sibuk menangkis serangan pria bertopeng di depannya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang telah merawatnya sejak kecil adalah malaikat maut yang dikirim oleh pamannya sendiri."Lakukan saja," desis Gia sekali lagi. Suaranya pecah, namun matanya memancarkan keberanian yang nekat. "Bunuh dia. Jika Ark
Debu dari ledakan di gerbang depan masih menggantung di udara, menciptakan siluet abu-abu yang mencekam di bawah lampu kristal yang bergetar. Suara tembakan menyalak di kejauhan, bersahutan dengan teriakan instruksi dari tim keamanan Johan yang mencoba menahan gelombang serangan. Di tengah kekacauan itu, Gia merasa dunianya melambat, setiap detak jantungnya terdengar seperti palu yang menghantam besi panas.Arkan tidak melepaskan dekapannya. Lengan pria itu terasa seperti jeruji baja yang melindunginya, namun setelah apa yang Gia dengar tadi, pelukan itu justru terasa seperti belenggu."Berdiri, Gia! Ikuti Johan!" perintah Arkan. Suaranya tidak lagi lembut; itu adalah suara seorang komandan perang yang tidak menerima bantahan.Gia ditarik paksa untuk bangkit. Ia melihat pecahan kaca vas bunga yang baru saja hancur berserakan di atas meja makan, tercampur dengan omelet yang belum sempat disentuh. Simbol kedamaian pagi mereka telah hancur dalam hitungan detik.Johan muncul dari balik pi
Lampu sorot helikopter masih menyapu balkon, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di lantai marmer. Haris Winata dibawa pergi dalam diam, namun tatapan terakhirnya pada Gia bukanlah tatapan seorang pria yang kalah. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menanam benih kehancuran dan sedang menunggu waktu untuk melihatnya tumbuh.Arkan menarik Gia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya dari kilatan lampu kamera para tamu yang kini mulai berhamburan keluar. "Sudah selesai, Gia. Kau aman sekarang," bisiknya.Gia mengangguk pelan, namun jemarinya masih mencengkeram jas tuxedo Arkan dengan kuat. Keheningan yang mengikuti hiruk-pikuk penangkapan itu terasa aneh. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya beban di dadanya terangkat sepenuhnya. Namun, rasa dingin di tengkuknya tidak kunjung hilang."Arkan," panggil Gia dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Dia tidak terlihat terkejut. Kenapa dia tidak terlihat takut?"Arkan melepaskan pelukannya, menatap Gia dengan
Pintu aula besar itu terbuka dengan sapuan yang megah, mengungkapkan sebuah dunia yang dibangun dari emas, kristal, dan kemunafikan. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma sampanye yang berbuih, namun bagi Gia, udara di dalam sana terasa tipis, seolah-olah oksigen telah disedot keluar untuk memberi ruang bagi ego para tamu undangan.Arkan melangkah masuk dengan tangan Gia yang bertumpu kokoh di lengannya. Kehadiran mereka seketika menciptakan riak. Bisik-bisik halus merambat seperti api di atas jerami kering. Pasangan Mahendra yang selama ini tertutup—dengan sang istri yang kabarnya mengalami trauma bicara—kini muncul dengan aura yang begitu dominan. Gaun merah darah Gia bukan sekadar pilihan busana; itu adalah deklarasi perang."Tetap di sampingku," bisik Arkan hampir tak terdengar. Ia menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum profesional yang tidak pernah mencapai matanya.Dari kejauhan, di dekat panggung utama, sosok Haris Winata tampak sedang berbincang dengan seorang pejaba
Malam itu, Mansion Mahendra tidak lagi terasa seperti rumah. Ruangan-ruangan luas dengan pilar marmer yang biasanya memancarkan kemewahan, kini tampak seperti labirin yang penuh dengan sudut-sudut gelap. Setelah Arkan membimbing Gia kembali ke dalam, suasana di meja makan terasa begitu berat. Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu yang tak terelakkan.Gia menatap piringnya, namun pikirannya tertahan pada kata-kata Arkan tentang Haris Winata. Bekas luka bakar itu... sebuah tanda permanen dari malam yang selama ini menjadi mimpi buruknya."Mas Arkan," panggil Gia pelan, memecah kesunyian.Arkan, yang sedang menyesap anggur merahnya, menatap Gia dengan lembut. "Ya, Gia?""Boleh aku melihat data tentang Haris Winata? Semuanya. Rekam jejaknya, hubungannya dengan Ayah, dan apa yang dia lakukan di perusahaan selama ini."Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sangat terukur. "Gia, aku sudah
Gia merasakan seluruh sendinya membeku. Suara di telepon itu tidak terdengar seperti gertakan biasa; ada nada otoritas yang tenang, seolah pria itu sedang berbicara tentang cuaca dan bukannya ancaman kematian. Gia mencoba menarik napas, mengatur getaran di pita suaranya yang baru saja pulih."Siapa kau?" Gia mengulang pertanyaannya, kali ini dengan nada yang lebih menuntut. "Jika kau pikir ancaman ini akan membuatku bungkam lagi, kau salah besar."Tawa pelan yang kering terdengar di seberang sana. "Keberanian yang menarik. Arkan Mahendra pasti sudah mencuci otakmu dengan rasa aman yang palsu. Kau pikir dinding mansion itu cukup tebal untuk melindungimu dari sejarah yang ditulis dengan darah?""Apa hubungannya dengan Garda Elang?" potong Gia, mencoba memancing informasi.Hening sejenak. Suara napas di seberang sana terdengar sedikit lebih berat. "Kau sudah melihat fotonya, rupanya. Gadis kecil dengan mawar-mawar yang akan layu. Gia, ada alasan kenapa ayahmu memilih untuk tidak menyelam







