Compartir

Bab 3

Autor: Elv_
last update Última actualización: 2026-01-12 14:03:33

Bau disinfektan yang menyengat di klinik elit ini terasa seperti mencekik paru-paruku. Aku duduk di bangku tunggu yang dingin, meremas jemariku sendiri hingga memutih. Di depanku, Arkan berdiri mematung menatap jendela koridor, sementara Sandra berjalan mondar-mandir dengan suara hak sepatu yang menghentak keras, seperti detak bom waktu.

Pintu ruang konsultasi terbuka. Dokter spesialis itu keluar dengan wajah yang sulit dibaca. "Tuan Arkan, Nyonya Sandra, bisa kita bicara di dalam? Hanya keluarga inti."

Aku baru saja hendak berdiri saat tangan Sandra menahan bahuku dengan kasar, mendorongku kembali duduk ke kursi besi yang dingin.

"Kau tunggu di sini, Pajangan," desis Sandra tajam, matanya berkilat penuh peringatan. "Dokter bilang keluarga inti. Dan di mataku, kau belum benar-benar menjadi bagian dari kami."

Aku menatap Arkan, memohon lewat tatapan mataku agar dia mengizinkanku ikut. Bagaimanapun, ini adalah tubuhku yang sedang dibicarakan. Namun, Arkan hanya melirikku sekilas—tatapan dingin yang sama seperti saat kami di altar—lalu melangkah masuk mengikuti ibunya tanpa sepatah kata pun.

Pintu tertutup rapat. Aku ditinggalkan sendiri di koridor sunyi ini. Aku mengambil ponsel, jemariku bergetar saat mengetik di kolom catatan: [Aku takut. Aku merasa seperti barang yang sedang diperiksa kelayakannya di laboratorium. Apakah mereka akan membuangku jika aku tidak sempurna?]

Hampir tiga puluh menit berlalu sebelum pintu itu akhirnya terbuka kembali. Wajah Sandra tampak merah padam, kemarahan meluap-luap dari matanya. Sedangkan Arkan, dia keluar dengan rahang yang mengatup begitu rapat hingga otot lehernya menegang.

"Hebat sekali!" teriak Sandra tiba-tiba, suaranya menggema di lorong klinik. "Bisa-bisanya Kakek memberikan menantu yang bahkan tidak bisa memberikan kepastian!"

Arkan menarik lengan ibunya. "Ma, kecilkan suara Mama. Ini tempat umum."

"Kenapa harus kecil? Biar gadis ini tahu diri!" Sandra menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang gemetar. "Dokter bilang kau memiliki penyumbatan akibat trauma masa kecilmu, Gia! Peluangmu untuk hamil secara alami sangat kecil. Kau dengar itu? Kecil!"

Duniaku serasa runtuh. Aku menggeleng kuat, air mata mulai mengalir deras membasahi pipiku. Aku meraih ponselku, mengetik dengan panik: [Itu tidak mungkin. Aku selalu sehat. Pasti ada kesalahan.]

Sandra merampas ponsel itu dari tanganku dan membantingnya ke kursi tunggu. "Kesalahan? Dokter spesialis terbaik di kota ini tidak mungkin salah! Kau itu gadis gagal, Gia! Sudah bisu, sekarang rahimmu pun bermasalah!"

Aku jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahku dengan kedua tangan. Isakan tanpa suara yang menyesakkan dada meledak di sana. Aku merasa begitu kerdil, begitu tidak berharga di hadapan mereka.

"Cukup, Ma!" Arkan membentak, suaranya menggelegar membuat Sandra terdiam sejenak. "Pulang sekarang. Aku tidak mau berdebat di sini."

Arkan menatapku yang masih bersimpuh di lantai. Untuk pertama kalinya, aku melihat kilatan amarah di matanya, tapi bukan ditujukan pada Sandra, melainkan padaku. Dia mencengkeram lenganku, memaksaku berdiri dengan kasar.

"Berhenti menangis," bisik Arkan tepat di wajahku, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Air matamu tidak akan memperbaiki diagnosa dokter. Kau hanya membuat dirimu terlihat semakin menyedihkan di depan orang-orang."

Perjalanan pulang di dalam mobil adalah neraka yang nyata. Sandra terus mengoceh di kursi belakang, menyumpah-nyumpah tentang bagaimana dia harus mencari cara untuk membatalkan wasiat itu. Sementara itu, Arkan duduk di sampingku, menatap lurus ke depan dengan tangan yang menggenggam kemudi begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

Sesampainya di mansion, Arkan langsung menarikku menuju kamar utama, mengabaikan teriakan ibunya di ruang tamu. Begitu pintu kamar tertutup, ia melepaskan tanganku dengan sentakan.

"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Gia?" tanya Arkan, suaranya bergetar oleh kemarahan yang tertahan.

Aku mengambil tablet tulis yang selalu ada di nakas, menulis dengan tangan gemetar: [Aku tidak tahu. Demi Tuhan, aku tidak pernah tahu soal masalah itu. Aku tidak bermaksud menipu siapa pun.]

"Kau tidak tahu atau kau sengaja menutupinya supaya bibimu bisa melunasi hutangnya?" Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Kakek memilihmu karena kau dianggap 'bersih'. Tapi sekarang? Kau hanya menambah beban dalam hidupku!"

Aku menggeleng, air mata kembali jatuh. Aku menulis lagi: [Aku akan berobat. Aku akan melakukan apa saja agar bisa memberikanmu pewaris. Tolong, jangan benci aku.]

Arkan tertawa sinis, sebuah suara yang menyayat hatiku. "Pewaris? Kau pikir aku menginginkan anak dari pernikahan paksa ini? Aku hanya butuh status untuk menyelamatkan posisi CEO-ku! Tapi sekarang ibuku tidak akan berhenti menggangguku karena kondisimu!"

Arkan berbalik, mengambil vas bunga di meja rias dan membantingnya ke lantai. Prang! Serpihan kaca berserakan, persis seperti hatiku saat ini.

"Kenapa kau tidak bisa menjadi pajangan yang normal saja, Gia? Kenapa kau harus membawa begitu banyak masalah ke dalam hidupku yang sudah cukup rumit?"

Aku tersentak mundur, ketakutan. Namun, saat melihat Arkan yang terengah-engah dengan mata yang memerah, aku tidak melihat seorang CEO yang berkuasa. Aku melihat seorang pria yang terluka oleh ekspektasi keluarganya sendiri. Aku memberanikan diri melangkah mendekat, meski ragu, aku menyentuh lengan kemejanya. Ia tersentak, menatap tanganku seolah-olah aku adalah sesuatu yang beracun.

"Jangan menyentuhku," ucapnya, namun kali ini suaranya tidak setajam tadi. Dia melepaskan tanganku dengan pelan. "Tidurlah. Aku akan tidur di ruang kerja."

Arkan berbalik pergi, meninggalkan aku di tengah kekacauan pecahan kaca dan diagnosa yang menghancurkan harapanku.

Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku berlutut di atas karpet, memunguti serpihan kaca vas bunga satu per satu dengan tangan kosong. Ujung jariku teriris, darah merah segar menetes di atas kain putih gaun tidurku, tapi aku tidak merasakannya. Rasa sakit di hatiku jauh lebih dominan.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Aku melihat bayangan Arkan di sana. Dia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatapku yang sedang memunguti kaca dalam kegelapan.

"Biarkan pelayan yang mengerjakannya besok pagi," ucapnya lirih.

Aku menoleh, menatapnya dengan mata sembab. Aku memberikan isyarat tangan yang sederhana: [Maaf.]

Arkan terdiam lama. Dia bersandar di bingkai pintu, menatap langit-langit. "Jangan meminta maaf untuk hal yang bukan salahmu, Gia. Itu membuatku terlihat seperti penjahat di sini."

Dia menutup pintu kembali. Aku tertegun. Apakah itu sebuah bentuk simpati? Ataukah hanya rasa bersalah?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 15

    Pagi itu, kediaman Arkan yang biasanya sunyi dan kaku kini dipenuhi oleh aroma kopi yang kuat dan tawa renyah yang samar. Gia berdiri di depan cermin besar di ruang ganti, jemarinya lincah memadukan syal sutra untuk menutupi lehernya yang masih terasa sedikit kaku.Arkan muncul dari balik pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Ia berhenti sejenak, bersandar pada bingkai pintu sambil melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari Gia."Kau terlihat berbeda hari ini," gumam Arkan, suaranya rendah namun penuh kekaguman.Gia menoleh, senyumnya kini tidak lagi hanya lewat mata, tapi juga tersirat di sudut bibirnya. "Berbeda... bagaimana?" tanyanya. Suaranya sudah tidak seberat beberapa hari lalu, meski masih ada getaran serak yang tipis—seperti suara gesekan biola yang belum sempurna disetel.Arkan mendekat, membantu merapikan ujung syal Gia. "Ada cahaya di matamu yang dulu sempat padam. Dan aku suka mendengar suaramu, meski kau hanya menanyakan di mana letak dasiku."Gia

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 14

    Babak baru dalam hidupku telah dimulai, bukan hanya sebagai istri Arkan, melainkan juga sebagai Gia yang mampu berbicara. Kata-kata yang keluar dari bibirku tadi bagai sihir, membungkam riuhnya wartawan dan dentuman kamera. Arkan menatapku dengan mata tak percaya, bibirnya sedikit terbuka, seolah-olah baru saja menyaksikan keajaiban. Aku tahu, ini adalah awal dari segalanya. Kerumunan wartawan itu perlahan membubarkan diri, meninggalkan keheningan yang lebih berarti. Arkan masih memelukku erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia melepaskannya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, selaras dengan detak jantungku sendiri. "Gia..." Suara Arkan serak, matanya berkaca-kaca. "Kau... kau benar-benar mengatakannya." Aku tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. Rasa sakit di tenggorokanku kembali menyerang, mengingatkanku bahwa aku belum sepenuhnya pulih. Namun, kebahagiaan yang melingkupiku jauh lebih besar dari rasa sakit fisik. Aku mengangguk pelan, menyandarkan kepalak

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 13

    Duniaku seolah berhenti berputar. Aku menatap Arkan. Dia tampak sama terkejutnya denganku."Ayah...?" bisik Arkan pelan.Di tengah kekacauan itu, Sandra meronta-ronta saat diseret keluar. Maya, yang ternyata bersembunyi di balik pilar, mencoba melarikan diri namun segera ditangkap.Keheningan kembali menguasai ruangan. Aku dan Arkan berdiri mematung di tengah reruntuhan rahasia keluarga Dirgantara.Aku mendekati Arkan, menyentuh lengannya. Arkan tiba-tiba jatuh berlutut, menyembunyikan wajahnya di perutku dan menangis hebat. Pria es itu hancur berkeping-keping.Aku mengelus rambutnya, air mataku pun mengalir. Namun, saat aku mencoba menenangkannya, sebuah suara... sebuah bisikan kecil yang asing keluar dari tenggorokanku."Ar... kan..."Itu suaraku. Sangat kecil, serak, dan menyakitkan. Tapi itu suaraku.Arkan mendongak dengan mata terbelalak. "Gia? Kau... kau bicara?"Aku mencoba lagi, namun rasa sakit di tenggorokanku begitu hebat hingga aku jatuh pingsan di pelukannya.**Bau anti

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 12

    Jantungku berdegup kencang. Aku tidak meraih tablet. Aku mengambil tangan Arkan, meletakkannya di dadaku agar dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila, lalu aku mengangguk mantap.Namun, di tengah momen haru itu, sebuah pesan masuk ke ponselku dari nomor yang tidak dikenal.Pesan di layar ponsel itu seolah berubah menjadi belati yang menghujam jantungku.“Kau pikir ini sudah selesai? Tanya suamimu, siapa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang merenggut suaramu sepuluh tahun lalu.”Tanganku gemetar hebat. Ponsel itu hampir saja meluncur dari genggamanku jika Arkan tidak segera menangkap pergelangan tanganku. Ia menatapku dengan kening berkerut, menyadari perubahan drastis pada raut wajahku."Gia? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," tanya Arkan, suaranya yang berat kini terdengar penuh kecemasan.Aku menarik tanganku dengan kasar. Aku mundur selangkah, menatapnya dengan tatapan yang mungkin belum pernah ia lihat dariku—tatapan penuh kecurigaan.Arkan tertegun. Ia mencoba mendeka

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 11

    Ciuman Arkan masih menyisakan sensasi terbakar di bibirku. Namun, kedamaian itu pecah seketika saat suara langkah kaki yang kasar menghantam lantai beton taman atap."Bagus sekali. Drama picisan di atas penderitaan keluarga!"Aku tersentak dan melepaskan pelukan Arkan. Sandra berdiri di sana, wajahnya merah padam, memegang ponsel dengan tangan gemetar. Di belakangnya, Maya tampak sibuk menghapus air mata buaya.Arkan menarikku ke belakang punggungnya. "Cukup, Ma. Dokter sudah bilang Gia sehat.""Sehat rahimnya, tapi otaknya mungkin tidak!" Sandra melemparkan ponselnya ke atas meja taman. "Lihat ini! Saham Dirgantara Group merosot lima persen dalam satu jam karena berita pernikahanmu dengan wanita bisu ini bocor ke media dengan narasi 'skandal wasiat paksa'."Aku terpaku. Tanganku meraba mencari tablet, tapi benda itu tergeletak jauh di kursi taman. Aku hanya bisa menarik ujung kemeja Arkan, mencoba menyalurkan rasa takutku.Arkan tidak menoleh. Suaranya mendingin, kembali menjadi es y

  • Cinta Tanpa Suara   Bab 10

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama kediaman Dirgantara. Bagi Gia, ini adalah pagi pertama ia terbangun bukan sebagai "beban" yang terpaksa diterima, melainkan sebagai wanita yang baru saja dijanjikan sebuah perlindungan. Arkan sudah tidak ada di sampingnya, namun cekungan di bantal dan aroma maskulin yang tertinggal—campuran kayu cendana dan bergamot—menjadi bukti bahwa pelukan semalam bukanlah mimpi.Gia turun dari tempat tidur, langkah kakinya terasa ringan namun jantungnya berdegup kencang mengingat agenda hari ini: pemeriksaan medis. Ia berjalan menuju cermin besar, menyentuh lehernya sendiri. Takdir telah merenggut suaranya, namun Arkan—pria yang awalnya sedingin es kutub—telah berjanji untuk menjadi pelantang bagi jiwanya.Pintu kamar terbuka. Arkan muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Ia membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring kecil roti panggang."Ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status