Share

Bab 3

"Gila, kamu gila sekali, Ayu!"

Maya bertepuk tangan heboh saat melihat sahabatnya yang duduk termenung di kantin kampus. Gosipnya sudah menyebar luas ke seantero fakultas. Adam Mahendra baru saja dilabrak oleh seorang mahasiswi. Dan mahasiswi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ayudia.

"Iya, sepertinya aku memang sudah gila, May." Ujar Ayudia dengan tatapan kosong ke depan.

"Loh? Kenapa? Kok kamu seperti tidak senang? Kamu baru saja jadi mahasiswa paling terkenal di kampus, Yu!" Seru Maya heboh.

Ayudia meletakkan gelas yang ia pegang sejak tadi dengan heboh. Ia lalu menatap Maya dengan mendelik.

"May! Aku baru saja melabrak Pak Adam, May! Pembimbingku! Aduh, bisa mati aku! Lagipula kenapa aku bisa sampai kesetanan seperti itu tadi?!" Keluh Ayudia dengan kepanikannya sendiri.

Gadis itu meracau dalam rasa khawatir. Sepersekian detik setelah Adam menandatangani dokumen tersebut dan meninggalkannya, Ayudia baru menyadari kesalahan apa yang ia perbuat. Ia baru saja dengan gilanya memarahi seorang Adam Mahendra.

Dan itu dilakukannya di depan belasan pasang mata.

Mengingat kejadian itu lagi membuat Ayudia meringis ngeri. Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya. Adam pasti tidak akan diam saja dan membiarkan dirinya hidup tenang.

"Astaga, bagaimana kalau Pak Adam marah kepadaku, May? Bisa kacau tesisku!" Ucap Ayudia lagi tidak kunjung tenang.

Maya menyeruput kopi gula aren miliknya dan tertawa lagi. Ia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Bagaimana mungkin Ayudia bisa terpikir untuk menyembur Adam dengan kemarahannya? Sesuatu yang bahkan tidak akan dilakukan oleh rekan kerja pria itu.

"Kamu juga, Yu! Kenapa kamu bisa terpikir seperti itu?" Balas Maya bingung.

Ayudia menggeleng. Sejujurnya ia juga tak mengerti dengan dirinya. Saat itu hanya ada emosi memuncak pada seorang Adam Mahendra yang ada di kepala Ayudia. Mungkin karena akhir-akhir ini pekerjaannya memberikan begitu banyak tekanan kepadanya. Atau mungkin karena alasan sederhana bahwa Ayudia membenci Adam Mahendra.

Entahlah.

Yang jelas sekarang hanya ada penyesalan yang mengakar di hati Ayudia. Dan rasa takut akan ketidak pastian saat nanti ia bertemu Adam dalam konsultasi selanjutnya.

"Wih! Kamu keren sekali, Yu!" Suara seorang pria dari belakang Ayudia.

Ayudia menoleh dan menatap tajam ke arah pria itu.

"Diam, Yoga. Aku sedang pusing!" Balas Ayudia ketus.

Pria itu tertawa puas melihat Ayudia yang tampak runyam seperti benang kusut. Sementara Ayudia tenggelam dalam penyesalan luar biasa atas tingkah gegabahnya lima jam lalu.

***

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan terdengar di pintu kantor Adam. Ia mempersilahkan sang tamu masuk tanpa berpikir dua kali. Sejak tadi pikirannya hanya tentang Ayudia dan tingkah kurang ajarnya. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa berani membentak Adam? Ini pertama kali baginya dan mengingatnya lagi membuat darah Adam terasa mendidih.

Pintu kantornya terbuka dan sebuah wajah menyembul dari sela pintu. Seorang pria yang tampaknya seumuran dengan Adam. Robi Prakoso, dosen muda yang mengampu mata kuliah pemasaran di Fakultas Ekonomi Universitas Bhinneka. Dan sekaligus satu-satunya rekan kerja yang berani mendekati Adam dalam jarak kurang dari satu meter.

"Bagaimana rasanya dimarahi pagi-pagi?" Goda Robi begitu masuk di kantor Adam.

Adam melotot dan mendengus sebal ke arah lawan bicaranya. Ia sudah cukup kesal dengan ocehan Ayudia pagi tadi. Dan sekarang ia harus mendengar ledekan dari rekannya ini? Oh, tolonglah.

"Aku sedang tidak ingin bercanda, Robi. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, pergilah." Balas Adam sebal.

Robi tertawa lebar dan menarik kursi di hadapan Adam. Ia lalu duduk disana sembari menyilangkan kakinya dan kedua tangannya di depan dada.

"Jadi siapa dia?" Tanya Robi sembari menyeringai lebar.

"Siapa apanya?"

"Siapa gadis yang berani memarahi Yang Mulia Adam Mahendra?"

Adam berdecak kesal dan menatap tajam ke arah Robi. Seolah berusaha mengancam temannya itu. Namun Robi tidak peduli dan melanjutkan ledekannya tanpa henti. Jarang sekali ia mendapatkan kesempatan untuk meledek Adam. Dan ia tidak akan membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu saja.

"Hentikan, Robi. Sebelum aku mengusirmu dari sini." Ancam Adam lagi.

"Siapa namamya? Kalau tidak salah, Ayudia, huh? Mahasiswi magister yang berkacamata itu kan?"

Adam memutar bola matanya dengan jengah. Robi kembali melanjutkan ledekannya.

"Wah, hebat sekali, Ayudia. Bukan hanya otaknya yang cerdas, ternyata mulutnya juga tajam dan mampu memukul mundur Adam Mahendra!" Seru Robi seraya bertepuk tangan heboh.

Semakin lama Robi berada di ruangannya, Adam semakin merasa kesabarannya menipis. Ingin sekali ia mengusir pria di hadapannya ini. Namun Adam sangat mengenal Robi. Temannya ini tidak akan menyerah sampai Adam menampakkan satu di antara dua reaksi.

Meledak marah atau diam tanpa emosi.

Dan Adam akan melakukan yang kedua. Ia akan mencoba menahan amarahnya dan menampilkan wajah datar. Pasti Robi akan merasa bosan dan meninggalkan ruangannya.

"Lagipula, kamu itu sudah kelewatan, Dam. Kamu tahu kan, dia berkuliah dengan beasiswa. Wajar kalau dia selalu mengejarmu agar tesisnya cepat selesai." Sambung Robi.

"Beasiswa?" Adam sedikit tertarik mendengar topik tersebut. Karena jarang sekali ia menemukan seorang mahasiswi yang berkuliah di kampusnya dengan beasiswa. Rata-rata pasti menggunakan uang pribadi atau beasiswa kedua orangtua mereka.

Mungkin Ayudia hanyalah segelintir di antara mereka. Dan itu berarti rumornya benar. Ayudia memang memiliki otak yang luar biasa cerdas.

Robi mengangguk.

"Beasiswa apa?" Tanya Adam lagi.

"Sama sepertimu. Young Economic Leader Scholarship."

Adam mengangguk-angguk sembari mendengarkannya dengan saksama. Oke, satu poin lagi yang membuat Ayudia semakin menarik bagi Adam. Selain sifatnya yang menyebalkan, ternyata gadis ini memiliki otak yang begitu cemerlang. Buktinya, Ayudia berhasil mendapatkan beasiswa yang terkenal sangat sulit itu.

Tanpa disadari, Adam tersenyum puas mendengar fakta baru itu.

"Kamu kenapa tersenyum? Suka dengan Ayu?" Tanya Robi bingung.

Adam tersadar dan buru-buru menggeleng cepat.

"Bukan! Mana mungkin aku menyukai gadis menyebalkan itu!"

Dan benar, Adam tersenyum bukan karena hatinya yang tertarik pada Ayudia. Ia tersenyum karena otaknya baru saja merencanakan balas dendam luar biasa kepada Ayudia. Adam akan membuat perjalanan tesis gadis itu menjadi begitu berliku.

Sangat berliku hingga ia akan menyerah dan mengganti pembimbingnya. Karena bagaimanapun juga, Ayudia harus lulus tepat waktu agar beasiswa itu tidak melayang dari tangannya. Dan Adam akan mendapatkan lagi ketenangan hidupnya. Jauh dari gadis bernama Ayudia Cempaka.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status