Share

Bab 2

"Sialan! Sialan! Sialan!"

Sejak tadi Ayudia terus menerus mengumpat seperti orang gila. Wajahnya memerah karena amarah dan nafasnya menderu bagaikan seseorang yang baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer.

Maya hanya menatapnya dengan perasaan campur aduk. Kasihan karena sahabatnya ini harus mengalami kesialan luar biasa siang tadi. Tapi Maya juga merasa lucu melihat Ayudia yang terus meracau seperti sebuah radio rusak.

"Psikopat! Aku yakin Adam pasti psikopat!" Seru Ayudia lagi dengan emosi.

Kali ini Maya tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan ajaib itu. Pipinya yang tembam tampak bergerak karen tawanya barusan.

"Wah, gila, Yu! Psikopat? Bisa jadi!" Seru Maya memanas-manasi Ayudia.

Ayudia meloncat dan duduk di kasur bersama Maya.

"Benar, kan?! Mana mungkin ada manusia yang begitu kejam dan tidak berhati seperti Adam! Kalaupun ada, pasti dia adalah psikopat! Pasti ada mayat yang disembunyikan di rumahnya, May!" Balas Ayudia lagi tak mau kalah.

Tawa Maya terdengar makin meledak. Sahabatnya ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Baru satu hari ia menjadi mahasiswa bimbingan Adam, tapi kewarasannya sudah terbang entah kemana. Kasihan sekali, Ayudia.

"Jadi kapan Pak Adam bisa ditemui besok, Yu?" Tanya Maya setelah ia berhasil menenangkan dirinya.

Ayudia mengedikkan bahunya. Ia memeriksa ponselnya lagi dan tidak mendapati balasan pesan singkat dari Adam. Sudah sepuluh jam berlalu sejak ia mengirimkan pesan itu, namun Adam tak juga membalasnya.

"Entahlah. Dia belum membalas pesanku. Mungkin jarinya patah." Gerutu Ayudia kesal.

Maya menepuk pelan pundak sahabatnya dan menyeringai lebar. Senyum jahil terlukis di wajah gemuk Maya.

"Semangat ya. Pasti hidupmu akan seru sekali!"

Ayudia mendelik ke arah sahabatnya itu. Gila. Emosinya kembali meledak dan Ayudia melemparkan bantal ke arah Maya.

"Sialan, Maya!"

***

Ayudia tidak bisa tidur dengan nyenyak selama semalaman. Ia terus menerus terpikir dengan berkas yang belum ditandatangani Adam tersebut. Ia tidak bisa mulai mengerjakan tesisnya jika pria sialan itu belum menandatangani persetujuannya. Dan karena itulah Ayudia tidak bisa merasa tenang.

Ponselnya berdenting di pukul enam pagi. Ayudia dengan cepat meraihnya dan membaca pesan yang masuk. Matanya memicing karena ia baru saja tertidur sejenak setelah semalaman begitu gelisah.

Pesan dari Adam Mahendra.

Ayudia membelalak dan dengan cepat membuka pesan tersebut.

"Temui saya di ruangan pukul 06.30."

Mata gadis itu melotot seperti akan keluar dari rongganya. 06.30? Itu artinya setengah jam lagi? Seketika Ayudia merasakan panik menggulungnya. Bagaimana mungkin ia bisa tiba di kampus setengah jam lagi? Kostnya saja berjarak dua puluh menit dari kampus, belum lagi ia harus bersiap-siap kesana?

Ah! Umpatan lainnya meluncur dari bibir Ayudia.

"Adam sialan!"

Secepat kilat Ayudia melesat dari kasurnya dan bersiap untuk pergi hanya dalam waktu lima menit. Dengan buru-buru, ia memacu motornya menyusuri jalan raya yang sialan sekali, pagi itu menjadi sangat macet.

Hari Jumat. Tentu saja jalanan akan macet mengingat jumlah karyawan yang harus berangkat pagi untuk acara senam di kantor mereka. Dan sialan sekali jika Ayudia harus terjebak disini. Dengan panik ia berkali-kali melirik ke arah arlojinya.

Pukul 06.25. Jika lima menit lagi ia belum sampai di kampus, maka Ayudia benar-benar dalam masalah besar.

***

Sepuluh menit waktu yang ia habiskan untuk terjebak di antara kemacetan. Ia memacu kakinya dengan begitu cepat. Berlari di antara mahasiswa lainnya yang satu persatu memasukki ruang kelas masing-masing. Bagaikan kakinya terbakar api, Ayudia melesat hingga akhirnya ia sampai di ruangan Adam pukul 06.40. Sepuluh menit lebih akhir dibandingkan waktu yang mereka janjikan.

Adam hendak keluar dari ruangannya saat ia melihat Ayudia berlari menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.

"Tunggu dulu, Pak."

Pria itu menatap Ayudia dengan datar. Tanpa emosi sedikitpun sehingga Ayudia mungkin bisa salah mengenalinya sebagai sebuah patung.

"Kamu terlambat." Ucapnya dingin.

Ayudia buru buru berdiri tegak dan hendak mengatakan maafnya. Namun maaf itu tenggelam dan berubah menjadi protes saat ia melihat Adam hendak berjalan meninggalkannya.

"Pak, Bapak mau kemana?" Seru Ayudia sembari mengejar Adam.

"Saya mau mengajar."

"Form saya bagaimana, Pak?"

Tanpa menoleh sedikit pun kepada Ayudia, Adam menolak mentah-mentah permohonan memelas dari Ayudia.

"Kamu sudah terlambat sepuluh menit, Ayu. Nanti saja."

Ayudia terdiam. Emosi membakarnya bulat-bulat dan kedua tinjunya terkepal di sisi tubuhnya. Mati-matian ia mengendalikan dirinya agar tidak meledak dalam kemarahan, tapi ia gagal melakukannya. Hari ini sudah terlalu buruk dan Ayudia tidak bisa menerima omong kosong lainnya. Apalagi dari pria menyebalkan bernama Adam Mahendra.

"Bapak tidak bisa seperti itu! Bapak yang mendadak memberitahu tentang jadwal pertemuan ini. Dan Bapak berharap saya bisa tepat waktu?"

Ayudia merangsek dan menghampiri Adam yang menatapnya dengan terkejut. Baru kali ini ada seorang mahasiswa yang berani meninggikan suara kepadanya. Gadis ini luar biasa keras kepala.

"Bapak baru membalas pesan saya setengah jam sebelum waktu yang ditetapkan! Dan Bapak tahu dimana kost saya?! Jaraknya saja dua puluh menit dari sini! Saya hampir menabrak tiang listrik karena buru-buru! Dan saat saya sudah sampai, Bapak bahkan tidak mau menandatangani formulir saya?!"

Gadis itu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan racauannya.

"Bahkan tidak butuh lebih dari lima menit untuk menandatanganinya! Apakah jari Bapak patah atau Bapak ingin saya mematahkannya?!" Seru Ayudia semakin sebal.

Perdebatan di pagi hari itu mulai mendapatkan satu dua pasang mata yang tertarik menonton. Rata-rata petugas kebersihan kampus. Beberapa mahasiswa bahkan turut memperhatikan dan saling berbisik. Namun tidak ada yang menghentikan pertengkaran itu. Seolah mereka begitu menikmati seorang Adam Mahendra disembur gadis muda di hadapannya.

"Hentikan ocehanmu sekarang! Banyak yang memperhatikan kita, Ayu!" Ancam Adam dengan suara rendah.

"Saya tidak peduli! Bapak lah yang bertingkah menyebalkan! Kenapa saya yang harus berhenti?!"

Adam menghela nafas pelan. Ia menyerah. Mendengar ocehan ini terus menerus akan membuat paginya semakin buruk. Lagipula ia punya kelas yang harus dikejar dan perdebatan alot dengan gadis ini tidak akan menghasilkan apapun selain rasa malu.

"Baiklah, apa yang kamu inginkan sekarang?" Keluh Adam sembari mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Kupingnya bahkan masih berdenging panas karena celotehan Ayudia.

Gadis itu tersenyum puas. Merasa menang karena sudah membuat Adam Mahendra menyerah. Ia menyodorkan kertas tersebut ke Adam dengan senyum yang sangat lebar.

"Tolong tanda tangani ini, Yang Terhormat Bapak Adam Mahendra."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status