Share

Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku
Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku
Penulis: EYN

Bab 1 - Om, Kamu Tampan

Penulis: EYN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-03 13:06:55

"Engh... yes... di situ... mmh…."

Suara desahan seorang pria terdengar menembus dinding tipis yang membatasi antara kamar Meilissa dan mamanya.

Tubuh Meilissa menegang. Bunyi decit ranjang yang bergerak secara teratur sangat mengganggu akal sehatnya.

"Aaah, Ron. Di sana... enak sekali… oh...." Desahan seorang wanita menyusul. Itu suara mamanya.

Selanjutnya, desahan dan erangan terdengar bersahutan. Semakin lama semakin kencang dan intens.

Meilissa lekas menyambar headset bluetooth dari atas meja dan menyumpal telinganya dengan benda itu. 

“Dasar tidak tahu malu!” gerutunya jijik. Jemarinya bergetar saat memilih lagu. Detik berikutnya, musik berirama cepat dan menghentak memenuhi telinga gadis itu, menggantikan suara-suara yang membuatnya ingin muntah.

Ini bukan pertama kalinya Meilissa menyaksikan dan mendengarkan hal tidak senonoh macam ini. Ibunya kerap membawa pacar-pacarnya ke rumah dan bercinta seolah mereka adalah pemilik dunia. 

Tapi, tetap saja, Meilissa tidak pernah terbiasa dengan kondisi seperti ini.

“Hhh… kali ini dengan pacarnya yang mana lagi?" lirihnya, campuran marah dan sedih.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru bagaikan neraka baginya. 

Gadis itu menengok keluar jendela. ‘Masih sore. Dan mereka melakukannya seakan-akan aku tidak ada,’ batinnya nelangsa.

Meilissa duduk di lantai sambil memeluk dirinya sendiri. Matanya memandangi ponsel yang tergeletak di dekat kakinya, menunggu-nunggu sebuah telepon yang sangat dia harapkan.

Andai saja bisa, dia ingin pergi dari tempat ini.

Penantian itu berakhir saat layar ponselnya menyala. Nama Liora, sahabatnya, tertera di layar.

“Mei! Sopir sudah menuju ke rumah kamu. Okay?” Suara cerita Liora terdengar dari loudspeaker ponsel Meilissa begitu panggilan terhubung.

“Ugh, lamanya. Aku sudah menunggu dari tadi,” keluh Meilissa sambil melihat sekilas petunjuk waktu di layar ponselnya.

Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun sahabatnya. Meilissa tentu turut diundang hadir ke pesta. Tadinya, Meilissa ingin berangkat sendiri. Namun Liora bersikeras meminta sopirnya menjemput Meilissa.

“Lima menit lagi, Mei! Sabar ya,” seru Liora lagi. “Sekarang aku mau pakai gaun dulu. Bye.” Telepon ditutup sepihak. 

Menghela napas, Meilissa mulai menghitung mundur waktu di mana dia bisa kabur sejenak dari suasana yang tidak nyaman ini.

Tak lama, pesan dari sopir Liora masuk, memberitahu bahwa dirinya sudah sampai di depan rumah. 

Meilissa meloncat dari duduknya. Dia menyambar tas kecilnya, lalu keluar kamar. Langkah kakinya bergerak cepat menuju pintu keluar, meninggalkan suara desahan-desahan menjijikkan itu di belakang.

BLAM!

Di depan rumah, sopir sudah menunggu dan langsung membukakan pintu untuknya.

“Terima kasih, Pak.”

Begitu pintu mobil tertutup, Meilissa menghembuskan napas lega. 

Perjalanan menuju rumah Liora tidak membutuhkan waktu lama, tapi cukup untuk mengendorkan urat syaraf Meilissa. 

Tiba di rumah Liora, suasana kontras menyambutnya. Rumah besar nan mewah. Pelayan yang sopan dan ramah. Lalu, sambutan hangat Liora.

“Hey! Ayo cepat. Aku sudah menyiapkan gaun untukmu di kamarku,” ucap Liora, langsung merangkul sahabatnya.

“Wow, cantiknya! Aku sampai tidak mengenalmu,” puji Meilissa spontan sembari mengikuti langkah Liora menuju kamarnya.

“Dia akan membantumu berdandan,” ujar Liora saat mereka sudah sampai di kamar. 

Liora menunjuk seorang wanita muda yang berprofesi sebagai penata rias wajah dan rambut profesional.

Meilissa mengangguk sambil tersenyum canggung.

“Gaunmu ada di ruangan itu.” Liora menunjuk sebuah pintu yang letaknya masih di ruangan yang sama.

“Thanks, Li,” ucap Meilissa terharu. Seharusnya dia datang membawa kado, tapi sebaliknya temannya itu malah menyiapkan segalanya untuknya.

“Eh, Mei! Sebentar. Apa kamu tahu?” Liora mengangkat ponselnya tepat di depan hidung Meilissa.

“Apa?” Meilissa memundurkan kepalanya, ingin melihat apa yang ditunjukkan oleh temannya. Ada sebuah pesan dari cowok yang ditaksir oleh Liora.

“Dia… sebentar lagi datang!” bisik Liora, menutup mulut sambil tertawa pelan.

“Cie… cepat sambut dia. Sampaikan peluk dan cium dariku,” canda Meilissa spontan.

“Hey, dia milikku!” Liora pura-pura marah, “Kamu itu cocoknya sama Om-Om,” celetuknya asal.

Meilissa terkekeh. Tangannya melambai seperti gerakan mengusir. “Pergilah! Ingat! Jangan bermesraan dengannya di hadapanku.”

“Kalau iri, cari jodohmu malam ini.” Liora menjulurkan lidah, lalu pergi sambil tertawa keras. 

Meilissa menggelengkan kepala, ikut tertawa. Candaan semacam itu sudah biasa terlontar di antara dua gadis yang bersahabat itu.

“Silahkan, Nona,” ucap penata rias, mulai mengarahkan Meilissa untuk bersiap.

Sentuhan demi sentuhan disapukan ke wajah polos Meilissa. Rambut digulung supaya bergelombang di ujung. Terakhir, gaun dan sepatu dipakai satu per satu oleh Meilissa.

“Anda cantik sekali, Nona,” puji penata rias, menatap bayangan Meilissa di cermin.

“Terima kasih,” ucap Meilissa, ikut mengagumi dirinya sendiri. Gaun mahal yang menyapu lantai, heels yang nyaman dan tas cantik melekat sempurna di tubuhnya yang langsing.

Setelah penata rias berpamitan, Meilissa kembali mematut diri di depan cermin, kemudian asyik selfie dengan berbagai pose.

Sedang asyik-asyiknya bergaya, suara laki-laki terdengar dari luar kamar.

“Liora? Sayang? Papa udah pulang!”

Deg!

Jantung Meilissa seakan berhenti berdetak mendengar suara bariton yang familiar itu.

“Astaga, Om Lionel!” pekiknya panik, bergegas mengambil tas tangan dan bersiap keluar. 

Tidak ingin bertemu berdua saja dengan Lionel di kamar, Meilissa tergopoh-gopoh berlari keluar, bermaksud kabur karena pasti akan canggung bertemu dengan pria itu tanpa Liora.

Tapi….

“Aah!”

Ujung gaunnya terinjak oleh kakinya sendiri. Pintu terbuka bersamaan dengan tubuhnya yang hilang keseimbangan. Meilissa terhuyung ke depan.

Bruk!

“Aduuh!” lirihnya, saat merasakan tubuh bagian depannya mendarat di atas sesuatu yang keras dan padat.

“Ugh! Kamu ternyata berat juga.”

Meilissa membeku saat mendengar erangan seorang pria di dekat telinganya. Detik itu juga dia menoleh. Matanya membulat, wajahnya tidak sampai sejengkal dari wajah Lionel.

“Oh, ya ampun! Maaf, Om!” seru Meilissa setelah berhasil menguasai diri. Pipinya terasa panas.

Dia berusaha bangun, Lionel juga ikut bangun. Tapi, entah bagaimana, gaunnya lagi-lagi tersangkut ujung heels.

Meilissa kembali terhuyung

“Hati-hati….” Lionel meringis pelan, satu tangan refleks menahan pinggang Meilissa.

Napas Meilissa tersentak saat merasakan lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menjaganya supaya tidak terjatuh.

“Om… Lionel…” bisiknya pelan, nyaris tanpa suara. Jantungnya berdebar kencang tak terkendali.

Mereka sudah pernah bertemu beberapa kali saat beliau mengantar Liora ke kampus.

Tapi… mengapa Meilissa baru menyadari pria di hadapannya ini tampan sekali?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Effie Widjaya
di awal cerita sdh menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 83 - Lionelku

    Meilissa tertegun. Ucapan Liora seperti mengingatkannya pada hubungan rahasia antara dirinya dan Lionel.Sejak kapan caranya bersikap pada Liora perlahan berubah—lebih menyerupai seorang ibu daripada seorang sahabat?Mendapati Meilissa diam saja, kening Liora berkerut.“Mei? Kamu kenapa?” tanyanya sambil menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Meilissa.Liora tidak menyadari bahwa ucapannya barusan tanpa sengaja menyentil perasaan sahabatnya. Seperti biasa, dia ceplas-ceplos tanpa banyak pikir.“Eh, tidak. Aku tidak apa-apa," Meilissa tertawa pelan, "Tiba-tiba aku kepikiran tentang masa depan kita setelah ini."Liora mengerucutkan bibir tanpa berkomentar apa-apa. Maka, Meilissa melanjutkan ucapannya, "Apa rencanamu? Apa kamu akan bekerja di klinik Om Lionel? Atau buka apotek sendiri?”Liora langsung melingkarkan lengannya ke lengan Meilissa, menautkan tubuh mereka seperti biasa."Kalau kamu sendiri gimana, Mei?” tanyanya balik. Sebenarnya, Liora belum punya rencana pasti setelah

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 82

    “Ada deh.” Liora mengedipkan mata sambil tertawa cekikikan—jelas-jelas menikmati rasa penasaran Meilissa.Gemasl, Meilissa memutar bola matanya. “Dasar Liora. Kamu...—”Belum sempat kalimat itu selesai, Liora sudah bergerak lebih dulu. Dengan lincah, dia menepuk bahu seorang laki-laki muda yang berdiri tak jauh dari mereka, lalu memberikan ponselnya.“Hey, Kak. Tolong fotokan kami, dong,” pintanya sambil memasang ekspresi memelas yang dibuat-buat. Tanpa menunggu persetujuan, Liora meraih tangan pemuda itu dan langsung meletakkan ponselnya diatas telapak tangan pemuda tampan itu. Laki-laki itu tertawa pelan. Satu tangannya menerima ponsel, sedang tangan satunya mengusap kepala Liora pelan.Diam-diam Meilissa memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Cara pemuda itu mengusap kepala terlihat terlalu akrab untuk disebut teman biasa. Meilissa jadi ingat saat Lionel mengusap kepalanya. "Ayo, Mei!" Liora merangkul lengan Meilissa, menariknya sedikit lebih dekat untuk berpose. “Senyum, M

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 81 - Aw! Aw! Hey!

    Otak Meilissa masih berusaha mencerna arti kalimat Lionel, ketika lelaki itu melangkah pergi dan kembali ke sofa yang tadi dia duduki.Menghembuskan napas panjang, Lionel itu mengeluarkan ponselnya lalu menekan beberapa tombol. Wajahnya seketika berubah serius. Lionel masuk dalam mode kerja.Meilissa berdiri kaku memandang Lionel. Kakinya terasa seperti kehilangan tenaga. Dia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak saat pramuniaga kembali menghampiri dan bertanya, "Apakah Nona ingin mencoba model lain?” "Tidak. Yang ini saja." Meilissa menggelengkan kepala. Ketegangan dalam dirinya belum sepenuhnya reda.Beberapa menit selanjutnya, Lionel menyelesaikan pembayaran. Pramuniaga mengucapkan terima kasih, sementara Meilissa hanya mengangguk sopan.Tidak lama, mereka meninggalkan butik dan pergi ke klinik untuk bekerja.Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Lionel fokus menyetir, sementara Meilissa duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar, menatap lurus ke

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 80 - Leher Jenjang Nan Mulus

    Di saat Lionel terperangkap dalam bayangan Meilissa dan gaun pengantinnya, gadis yang ada di dalam imajinasinya justru sedang memikirkan hal lain.Meilissa masih kepikiran soal Liora yang pergi begitu saja tanpa benar-benar memilih gaunnya.Firasat aneh itu kembali menyelusup di dalam hati Meilissa. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya, tapi tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.Sayangnya, sebelum pikiran tentang Liora menemukan penjelasan nyata, suara pramuniaga itu sudah lebih dulu menyela.“Permisi, Nona Meilissa. Anda ingin mencoba yang mana?"Meilissa tersentak dari lamunannya. Sesaat tadi, dia benar-benar lupa kalau ada seorang wanita cantik sedang menunggu keputusan darinya dengan senyum profesional yang tak pernah luntur."Yang ini saja," putus Meilissa kemudian.Dia menunjuk salah satu gaun selutut dengan potongan A-line yang tergantung di ujung rak. Model pilihan Meilissa tidak jauh berbeda dari gaun Liora. Memang rencananya mereka akan seragaman saat wisuda nanti. Mungk

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 79 - Gaun Pernikahan

    Entah faktor mana yang lebih dominan—kabar kelulusan Liora atau iming-iming liburan dari Lionel. Yang jelas, sejak malam itu Meilissa bekerja dua kali lipat lebih keras dari biasanya. Tenaganya seolah tidak pernah habis.Ada semacam dorongan dalam dirinya untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan sempurna. Tugas akhir selesai dan ujian berhasil dilalui Meilissa dengan hasil yang baik.Hari kelulusan kian dekat. Nama Liora diumumkan sebagai perwakilan lulusan termuda dengan prestasi terbaik. Sebuah pencapaian yang pantas dia dapatkan setelah perjuangannya selama ini.Hal itu sama sekali tidak menimbulkan rasa iri di hati Meilissa, sebaliknya, Meilissa justru ikut dalam kesibukan membantu Liora mempersiapkan pidato kelulusan.Seharian mereka mengurung diri di kamar. Meilissa duduk bersila di atas karpet dengan laptop di pangkuannya, sementara Liora berdiri di depan cermin membaca kalimat-kalimat yang baru saja mereka susun.Mereka memilih kata-kata yang sederhana, tapi mengena. Kali

  • Cinta Terlarang : Terjerat Pesona Papa Temanku   Bab 78 - Tidur Bersamamu

    Bulu-bulu halus di lengan Meilissa meremang. Bukan karena udara dingin tengah malam, melainkan karena nada suara Lionel yang terdengar menggoda.Ucapan Lionel membuat pikiran Meilissa berkelana ke arah yang tidak seharusnya. Gugup, Meilissa menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mata Lionel yang terasa menelanjangi dirinya.“Lihat aku,” perintah Lionel lembut, tapi selalu berhasil membuat jantung Meilissa berdebar lebih cepat.Pelan-pelan sekali, Meilissa mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Lionel. Tatapan itu hangat dan teduh.“Apa yang kamu takutkan?” Lionel tersenyum menenangkan. “Apa kamu keberatan? Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, katakan saja. Jangan kamu simpan sendiri."“Hm…."Meilissa terdiam cukup lama. Jemarinya saling bertaut di pangkuan. Ada satu nama yang terus berputar di kepalanya sejak tadi. Satu sosok yang entah kenapa sama sekali tidak disebut Lionel dalam rencana mereka, padahal orang itu penting bagi mereka.Setelah mengumpulkan keber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status