Mag-log inPOV Javier“Saya melihat Anda sekarang sangat bahagia, Tuan. Saya senang melihat perubahan Anda,” ucap Alex mengejutkanku.Aku menatap Alex sejenak, lalu menganggukkan kepala pelan. Aku memang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku lagi. Aku sudah menderita selama lima tahun, dan aku tidak ingin merasakan penderitaan itu lagi.“Karena aku sudah menemukan duniaku kembali, Lex.”“Saya ikut senang, Tuan.”“Terima kasih,” jawabku tulus. Namun, raut wajahku mendadak berubah serius saat teringat bagaimana cara Arlo menatap Camila waktu itu.Aku tahu betul siapa dia dan bagaimana kelakuannya dengan perempuan di luar sana. Bahkan aku tahu, pria yang tidur dengan Adriana saat itu juga adalah dia.Dulu aku menerima kerja sama dengannya murni karena profesionalitas kerja, meskipun saat itu dia sudah tidur dengan calon istriku. Lagipula, aku sedikit merasa lega karena berkat kejadian itu, aku jadi memiliki alasan kuat untuk membatalkan pernikahan dengan Adriana.Namun sekarang, aku harus ekstra
Karena apa yang dilakukan Javier pada tubuhku semalam, aku tidak bisa bangun lebih awal. Dan saat aku terbangun, aku sudah tidak mendapatinya lagi di sebelahku.“Hari ini kan hari pertama Nico masuk sekolah di sekolahan barunya!”Aku menepuk keningku saat menyadari hal itu. Padahal aku sudah meminta untuk tidur lebih awal agar bisa bangun pagi. Tapi apa yang terjadi? Aku malah hampir tidak tidur sama sekali, dan ini semua karena ulah Javier yang membuat tubuhku kelelahan luar biasa.Aku bergegas melangkah keluar menuju kamar Nico sambil mencari keberadaan Javier.Namun, aku tidak mendapati siapa pun di kamarnya. Seorang pelayan yang berjalan tergopoh-gopoh mendadak menghampiriku.“Kok sudah sepi?” tanyaku langsung.“Maaf, Nyonya. Tadi Tuan Muda Nicolas sudah berangkat bersama Tuan Javier. Tuan Javier berpesan agar Nyonya cukup di rumah saja, karena nanti ada yang datang untuk melakukan fitting baju pengantin. Soal Tuan Muda, Nyonya tidak perlu khawatir karena nanti pulangnya akan dian
“Ah, Javier, apa yang kamu lakukan?!” teriakku kaget saat Javier langsung memegang dua tanganku dan memasangkan borgol di pergelangan tanganku.“Kamu sudah mencuri di rumah ini, jadi kamu harus dihukum,” katanya dengan sepasang mata yang menggelap, dipenuhi kabut gairah yang tebal.Aku menggeleng pelan. Diikat saja sudah membuatku merasa tersiksa, dan kini tanganku malah diborgol. Namun, Javier tampaknya tidak peduli dengan protesku.Dia sudah melepaskan seluruh pakaiannya, bahkan langsung memegang penisnya yang sudah mengeras besar dan padat.“Javier, lepas! Aku mau itu …” pintaku, berharap Javier bersedia melepaskan tanganku dari cengkeraman borgol.Kepalanya menggeleng tegas. Ia langsung berdiri di depanku dengan senyum nakal yang menggoda.“Buka mulutmu, Cantik. Kamu harus menerima hukumanmu dulu,” jawabnya.Aku membuka bibirku, dan tentu saja Javier langsung melesakkan penisnya ke dalam mulutku. Ia memaju mundurkan pinggulnya, membuatku hampir tersedak karena aksinya yang mendada
POV Camila“Jadi nanti aku pindah sekolah, Ibu?”Aku mengangguk pelan mendengar pertanyaan itu. Aku duduk di sebelah Nicolas dan membantunya membereskan semua barang yang diberikan oleh Nenek dan Kakeknya.“Iya, kamu akan masuk sekolah baru, mendapat teman-teman baru, dan juga bertemu dengan guru yang baru.”“Apakah semua orang akan menerima Nico dengan baik, Ibu?”“Kenapa tidak? Semua orang akan menerima Nico dengan baik selama Nico jadi anak yang baik, ya?”Bibir Nicolas seketika melengkung ke atas membentuk senyuman lebar. “Baik, Ibu! Nico akan selalu jadi anak yang baik.”“Pintar! Sekarang waktunya kamu tidur, ya. Sudah malam, Sayang. Besok kamu harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah baru.”Nicolas mengangguk penurut. Ia sudah ke kamar mandi untuk menggosok gigi, bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Ia lalu naik ke atas ranjang, menarik selimut, dan bersiap tidur.“Ibu, apakah Ibu tidak menemani Nico tidur?” tanyanya menatapku.“Kenapa? Bukankah kamu sudah besa
POV Author“Jadi, dia memang anak kandungku?”“Benar, Tuan. Awalnya Adriana berniat untuk menjebak Tuan Javier dengan anak itu, tetapi Tuan Javier lebih pintar hingga membongkar semuanya. Kasihan sekali, Tuan … selama ini Adriana menyiksanya, bahkan tubuh anak itu sangat kurus.”Tanpa sadar Arlo meremas tangannya kuat-kuat. Bagaimanapun juga, ada darah dagingnya yang mengalir di tubuh anak itu.“Bilang pada Adriana, dia mau apa? Kalau memang tidak menginginkan anak itu, kamu ambil saja, lalu bawa ke panti asuhan. Berikan beberapa uang untuk menitipkannya di sana, dan pastikan agar Adriana tidak berulah, yang meragukanku atau keluargaku!” kata Arlo tegas.Asisten Arlo mengangguk sigap, lalu melangkah keluar ruangan setelah berpamitan untuk segera menjalankan perintah bosnya.Arlo berdiri dari tempat duduknya, melangkah menuju kulkas kecil di sudut ruangan. Tenggorokannya terasa kering dan gatal; ia membutuhkan sesuatu yang dingin untuk menyegarkan dan menenangkan pikirannya.Di dalam k
POV AuthorSuara tangis anak kecil membuat perempuan yang masih terbungkus selimut itu langsung terbangun dengan wajah berselimut amarah. Tidurnya terganggu saat anak itu menangis memanggil namanya.“Kenapa kamu tidak diam, hah?!”“Maaf … aku lapar, Ibu,” cicit anak itu ketakutan.“Bisa makan, kenapa kamu malah menangis?!”“Tidak ada makanan, Ibu …”Adriana. Ya, dialah Adriana—perempuan yang nekat melahirkan anaknya tanpa memiliki seorang suami. Namun bukannya memberikan kasih sayang, Adriana justru membuat anak itu menderita. Bahkan fisik anak itu tampak tidak seperti anak-anak seusianya. Tubuhnya sangat kurus dengan sepasang mata yang menguning, mirip seperti anak yang mengidap penyakit serius.Adriana melangkah kasar, lalu mengambil sepotong roti yang mungkin saja sudah kedaluwarsa, lantas melemparkannya pada sang anak.“Ini, makan!”Anak itu menerimanya dengan perasaan gembira. Kalau saja ia bisa memilih, mungkin ia tidak akan pernah mau dilahirkan dari ibu seperti Adriana—seseora







