Share

48. Jadilah Berani

"Aku suamimu."

Suami? batin Kania bertanya-tanya. Ia pun meneliti sosok di hadapannya itu dari ujung kepala hingga pinggang karena saat itu dirinya masih dalam posisi berbaring, otomatis pandangannya pun menjadi terbatas.

Ia pun mencoba untuk bangun, tetapi upayanya itu ternyata membuat kepalanya terasa berputar hebat hingga ia pun harus kembali berbaring. Beruntung sosok yang duduk di samping ranjangnya itu menangkap tubuhnya dengan sigap hingga ia tak perlu terbanting kembali ke tempat tidur.

Kemudian, tatapannya pun jatuh pada lengan yang tadi menahan tubuhnya itu. Sebuah perban putih bersih melingkari lengan kekar itu.

"Itu." Kania menunjuk lengan orang yang mengaku suaminya itu dengan raut kasihan dan tak enak hati. Lengan itu terluka, tapi masih saja berusaha menangkar tubuhnya yang oleng.

"Tidak apa-apa." Wajah itu kembali melemparkan senyum hangat yang menenangkan. "Sebaiknya jangan bangun dulu sampai dokter datang memeriksa kondisimu."

"Aku kenapa?" Kania bertanya karena
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status