Home / Romansa / Cinta Yang Lain / 7. Maaf yang salah

Share

7. Maaf yang salah

Author: Aprilia Choi
last update publish date: 2026-02-05 19:55:49

~ Aku yang minta maaf walau kau yang salah ~

Abhimana Pratama

Mobil Abhi berhenti tepat di depan rumah mereka. Lampu teras menyala temaram, seolah ikut menyambut dengan sunyi yang canggung. Ayla turun lebih dulu, lalu kembali membuka pintu sisi pengemudi saat melihat Abhi masih diam memegangi rahangnya yang lebam.

“Mas… bisa berdiri?” tanyanya pelan.

Abhi mengangguk, meski tubuhnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Begitu ia berdiri, keseimbangannya sedikit goyah. Refleks Ayla memapahnya, satu tangan melingkar di pinggang Abhi, satu lagi menahan lengannya.

Kontak itu membuat Abhi terdiam sesaat.

Masih seperti ini… selalu seperti ini, batinnya.

Ayla selalu peduli. Selalu hadir. Tapi hatinya… bukan milikku.

Mereka masuk ke dalam rumah. Ayla membantu Abhi duduk di sofa ruang tamu, lalu bergegas mengambil kotak P3K dari lemari kecil. Ia berlutut di hadapan Abhi, membuka botol antiseptik dengan hati-hati.

“Awh… sakit.”

Desis pelan itu lolos dari bibir Abhi saat cairan dingin menyentuh sudut bibirnya yang pecah. Ayla refleks menghentikan gerakannya.

“Maaf, Mas,” ucapnya lirih. “Tahan sebentar ya.”

Abhi mengangguk. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah Ayla. Wajah yang dua tahun terakhir menjadi rutinitas hidupnya—yang ia bangunkan setiap subuh, yang ia cium keningnya setiap pergi kerja, yang selalu ia rindukan bahkan saat berada di ruangan yang sama.

Ayla mengobati luka itu dengan sangat hati-hati. Jemarinya dingin, sentuhannya ringan, seolah takut menyakiti. Padahal Abhi tahu, bukan cairan antiseptik itu yang paling perih—melainkan kenyataan bahwa wanita yang sedang merawatnya ini, hatinya bukan untuknya.

Namun anehnya…

Abhi justru merasa tenang.

Beginilah rasanya dicintai… meski bukan dengan cinta, batinnya pahit.

Setelah selesai, Ayla membantu Abhi berdiri. Tubuh pria itu sedikit terhuyung. Tanpa berpikir panjang, Ayla kembali memapahnya menuju kamar. Aroma tubuh Ayla—lembut, bersih, dan sangat familiar—menyelinap ke indra Abhi, membuat dadanya menghangat sekaligus sesak.

Di kamar, Ayla membantu Abhi mengganti pakaian. Gerakannya canggung, tapi penuh perhatian. Ia memalingkan wajah saat membuka kancing kemeja Abhi, seolah menjaga jarak yang rapuh di antara mereka.

Setelah itu, Ayla membimbing Abhi naik ke atas tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi tubuh pria itu dengan rapi.

“Istirahat ya, Mas,” ucap Ayla lembut. “Mau aku buatkan minuman hangat?”

Abhi menggeleng pelan. Tangannya menahan pergelangan Ayla sebelum wanita itu sempat berdiri.

“Temani aku saja,” pintanya lirih—hampir seperti bisikan yang bisa hilang jika tak segera dipegang.

Ayla terdiam beberapa detik. Ada pergulatan di matanya. Lalu ia mengangguk kecil.

“Baik.”

Ia duduk di sisi tempat tidur, mengusap kepala Abhi perlahan. Abhi memejamkan mata, jemarinya mengerat di lengan Ayla—seolah takut jika ia melepas, wanita itu akan pergi dan tak kembali.

Ayla memperhatikan wajah Abhi dalam diam. Wajah yang terlihat jauh lebih muda saat tertidur. Baru kini ia menyadari, betapa aman rasanya berada di dekat pria ini. Tak ada tuntutan, tak ada paksaan—hanya ketulusan yang terlalu besar untuk ia balas.

Tangannya terangkat, membelai wajah Abhi, lalu berhenti di sudut bibirnya yang terluka.

Abhi membuka mata. Senyum kecil terbit di wajahnya.

Ayla tersentak, hendak menarik tangannya, namun Abhi menahannya. Dengan gerakan perlahan, Abhi meraih lampu tidur dan mematikannya. Gelap menyelimuti mereka, menyisakan keheningan yang sarat makna.

Tanpa kata, Abhi menarik Ayla ke dalam pelukannya—rutinitas malam yang tetap mereka jalani, meski cinta Ayla belum pernah singgah sepenuhnya.

Dalam gelap, Abhi berdoa.

Ya Allah… jika masih ada satu saja pintu di hatinya untukku, bukakanlah. Aku tak butuh cinta yang besar. Sedikit saja… asal milikku.

**

Usai semuanya, Ayla segera beranjak dari tempat tidur. Ada kegelisahan yang tiba-tiba menyergap dadanya. Ia menyalakan lampu tidur, mengenakan piama, lalu membuka laci kecil di samping tempat tidur—laci yang selalu ia kunci rapat.

Keningnya berkerut.

Kosong.

“Ke mana…?” gumamnya panik.

Abhi terbangun oleh cahaya lampu. Ia memicingkan mata, melihat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.

“Kamu cari apa, Sayang?” tanyanya menguap.

Ayla terkejut. Tangannya refleks menutup laci. “A—aku cari vitamin, Mas.”

“Vitamin apa?” tanya Abhi pelan.

“Ya… vitamin biasa.”

Abhi bangkit. Dengan tubuh telanjang dada, ia melangkah mendekat. Tatapannya tajam—berbeda dari sebelumnya.

“Sejak kapan vitamin berubah jadi obat anti hamil?” tanyanya tenang. Terlalu tenang.

Ayla membeku. Jantungnya berdentum keras.

“Dari mana Mas tahu?”

Abhi tersenyum masam. “Ini rumahku, Ayla. Dan kamu istriku.”

Hening jatuh seperti palu.

“Sejak kapan kamu minum obat itu?” ulang Abhi.

Ayla menunduk. Bibirnya digigit kuat, menahan getar.

“Nggak mau jawab?”

Getar ponsel memecah keheningan. Nama Davin terpampang jelas di layar.

Tanpa ragu, Abhi mengambil ponsel itu dan menjawabnya.

“Masih punya sopan santun tidak?” ucapnya dingin. “Ini pukul dua pagi. Wanita ini istri saya. Mulai sekarang, jangan ganggu lagi.”

Panggilan diputus.

Abhi keluar kamar membawa ponsel Ayla. Ayla terduduk lemas di tepi ranjang. Tak berani mengejar. Tak berani bicara.

Ia tahu—

Diam Abhi jauh lebih menakutkan daripada amarah.

**

Pagi datang dengan sunyi yang canggung.

Abhi meletakkan ponsel Ayla di atas meja. “Maaf,” ucapnya lirih.

Ayla menatap heran. “Maaf untuk apa?”

“Untuk semalam.”

Ayla mengangguk kecil. “Nggak apa-apa.”

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah ayah dan bunda.”

“Mas antar.”

“Nggak usah.”

“Ayla…” Abhi menahan langkah wanita itu.

“Aku sudah minta maaf walau kamu yang salah. Apa lagi yang harus aku lakukan supaya kamu mencintaiku?”

Ayla menghela napas berat. “Aku nggak cinta sama kamu, Mas.”

“Cukup!” potong Abhi cepat. “Jangan pernah ucapkan nama itu lagi dalam setiap pembicaraan kita.”

Ia menatap Ayla lama. Lalu berpaling.

“Sekarang kita ke rumah ayah dan bunda. Mas ikut,” ucapnya tegas, lantas berjalan melewati Ayla menuju garasi mobil.

Saat pintu terbuka—

“Ayla!”

Seorang pria berlari kecil menghampiri.

“Kamu…?” Ayla tertegun.

Abhi membeku.

Di hadapan mereka berdiri Davin.

Dan untuk pertama kalinya…

Abhimana Pratama sadar, cinta yang ia pertahankan mati-matian itu—

benar-benar berada di ujung tanduk.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Lain   43. Pesta 40 hari (END)

    Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k

  • Cinta Yang Lain   42. Dua singa satu atap

    Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I

  • Cinta Yang Lain   41. Sepupu dari London

    Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya

  • Cinta Yang Lain   40. Pelangi yang sempurna

    Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa

  • Cinta Yang Lain   39. Hati yang pulang

    Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel

  • Cinta Yang Lain   38. Kecemburuan Abhi

    Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan

  • Cinta Yang Lain   14. Hadiah yang tak diinginkan

    ~ Aku sadar, aku tidak berhak untuk terus memaksamu mencintaiku sepenuh hati ~Abhimana PratamaWaktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore, Abhi baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Pria itu merasa lebih baik setelah mandi, tidak seperti

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Cinta Yang Lain   12. Orang asing

    ~ Meski kamu melakukan kebohongan itu untuk menutupi suatu hal yang menurutmu baik, tetap tidak akan mengubah kenyataan yang sebenarnya ~ Abhimana Pratama**“Di antara kita memang belum ada rasa cinta, tapi sebagai suami ... aku minta kamu harus bisa menjaga sikap saat kita di luar rumah, teru

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Cinta Yang Lain   11. Hanya status

    ~ Hubungan yang diawali tanpa rasa cinta ini, bagiku hanya sebuah status di atas selembar kertas ~Ayla Shanaya**Abhi pamit mandi lebih dulu, suaranya tenang seolah ini bukan malam pertama mereka sebagai suami istri. Ayla hanya mengangguk, duduk di depan meja rias sambil menatap bayangannya se

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Cinta Yang Lain   9. Perjodohan

    ~ Dia adalah lelaki baik yang sudah ayah dan bunda percaya untuk menjadi suami kamu ~ Pak Mirza, ayah Ayla**Flashback On...Dua tahun sebelumnya...“Ayla ... ayah dan bunda ingin agar kamu segera menikah dengan anak sahabat ayah,” ujar pak Mirza, ayah dari Ayla.“Apa? Menikah? Nggak Ayah,

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status