Mag-log in~ Mengapa Tuhan pertemukan kita yang tak mungkin menyatu? ~
Ayla Shanaya ** Ponsel Ayla bergetar pelan di tangannya, membuat lamunannya terhenti. Nama Bunda tertera di layar. Ia menghela napas sebentar sebelum akhirnya menggeser ikon hijau dan menjawab panggilan itu saat mobil yang dikemudikan Abhi melaju meninggalkan perumahan mereka. [Assalamualaikum… kamu apa kabar, Nak?] Suara lembut bundanya terdengar hangat, membuat hati Ayla sejenak terasa lunak. [Waalaikumsalam, Bunda. Ayla baik, Mas Abhi juga baik-baik saja.] [Kok jarang sekali main ke sini? Kalian tidak ada masalah, kan?] Ayla tersenyum tipis, meski senyum itu tak sampai ke matanya. [Enggak, Bun. Kami baik-baik saja. Maaf ya, Mas Abhi sering sibuk. Nanti kalau ada waktu, kami ke sana.] [Syukurlah. Bunda sama ayah kangen sekali. Rumah terasa sepi tanpa kalian.] Kalimat itu membuat dada Ayla menghangat sekaligus sesak. [Iya, Bun. Ayla juga kangen.] [Oh iya… jangan lupa jaga kesehatan. Biar cepat hamil. Ayah dan bunda sudah tidak sabar menimang cucu.] Ayla terdiam beberapa detik. Jemarinya mengerat di sekitar ponsel. [Iya, Bunda…] jawabnya lirih, meski hatinya berteriak sebaliknya. [Baiklah, jaga diri kalian. Assalamualaikum.] [Waalaikumsalam.] Panggilan berakhir. Ayla memejamkan mata, memijit keningnya yang tiba-tiba terasa berat. Bagaimana bisa hamil kalau aku saja selalu meminum obat itu? Aku belum siap… aku bahkan belum tahu, siapa yang benar-benar kucintai, batinnya getir. “Kamu kenapa, Sayang?” suara Abhi terdengar tenang dari balik kemudi. Ayla menoleh. Wajah suaminya terlihat fokus menatap jalan, tapi sorot matanya penuh perhatian. “Nggak apa-apa, Mas,” jawabnya singkat sambil menggeleng. Abhi tak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali berkonsentrasi mengemudi. ** Kafe Choco malam itu dipenuhi tawa dan sorak bahagia. Balon warna-warni menghiasi sudut ruangan, aroma manis kue bercampur dengan wangi kopi yang menguar lembut. Ayla dan Abhi tiba tepat saat Lena bersiap meniup lilin ulang tahunnya. Semua mata seolah tertuju pada mereka. Ayla dengan gaun navy yang sopan dan elegan. Abhi dengan setelan jas senada, berdiri di samping istrinya—tenang, berwibawa, dan tampak seperti pasangan sempurna. Tak terkecuali Davin. Pria itu terdiam sejenak di atas panggung kecil, matanya membelalak saat melihat Ayla datang bersama suaminya. Ada kekecewaan yang tak sempat ia sembunyikan. Setelah acara tiup lilin dan potong kue selesai, Davin naik ke atas panggung dengan gitar kesayangannya. Lampu diredupkan, sorotan cahaya mengarah padanya. “Sayang, malam ini kamu cantik sekali,” bisik Abhi di dekat telinga Ayla. Jantung Ayla berdebar aneh. Wajahnya merona tipis. Ia lupa bagaimana caranya bersikap dingin saat Abhi bersikap selembut itu. Semua itu tak luput dari tatapan Davin yang memandang mereka dengan rahang mengeras. Petikan gitar mulai terdengar. Mengapa kita bertemu, bila akhirnya dipisahkan… Suara Davin mengalun sendu, menusuk tepat ke jantung Ayla. Matanya berkaca-kaca. Mengapa kita berjumpa, bila akhirnya dijauhkan… Abhi mengulurkan tangannya. Ayla refleks hendak menolak, namun Abhi membungkuk sedikit dan berbisik, “Berdansalah denganku. Setelah ini, aku beri kamu waktu berbicara dengannya.” Ayla tercekat. Ia menatap wajah Abhi—tak ada amarah di sana, hanya kelelahan dan cinta yang terlalu dalam. Dengan langkah berat, Ayla menerima uluran tangan itu. Kau bilang hatimu aku, nyatanya bukan untuk aku… Mereka berdansa perlahan. Abhi merapatkan tubuh Ayla dengan hati-hati, seolah takut membuatnya tak nyaman. Davin memejamkan mata sejenak, suaranya terdengar semakin parau. Aku hancur, kuterluka… namun engkaulah napasku… Air mata Ayla jatuh tanpa disadari. Abhi merasakan bahu istrinya bergetar, namun ia tak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk sedikit lebih erat, menahan dirinya agar tidak runtuh. Dan ku beruntung sempat memilikimu… Lagu berakhir. Tepuk tangan menggema. Abhi tersenyum kecil saat melihat Ayla menatap Davin dengan mata sendu. Senyum itu pahit, tapi ia paksa tetap terukir. ** “Davin, maaf ... aku nggak bisa pakai gaun dari kamu,” ujar Ayla menyesal saat sedang berbicara berdua dengan Davin di sudut ruangan. Abhi memperhatikan mereka dari kejauhan sambil menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya. Matanya tak bisa lepas untuk mengawasi istrinya itu. Davin menggeleng pelan. “Nggak papa, Sayang. Yang penting kamu sudah datang, meski pun ... dengan suami kamu,” ucapnya dengan tersenyum getir. “Maafkan aku, aku janji nggak akan terjadi lagi ya,” kata Ayla sambil menggenggam jemari Davin, pria itu pun tersenyum lalu mengecup tangan Ayla dengan penuh kelembutan. Abhi merasa kesal melihat pemandangan di hadapannya, ia pun hanya mengaduk-aduk makanannya dengan tak berselera. “Aku sangat mencintai kamu, tetaplah menjadi Ayla yang selalu mencintaiku,” pinta Davin dengan mengelus rambut panjang Ayla yang tergerai. “Kenapa Tuhan pertemukan kita, kalau kita nggak bisa bersatu seperti ini?” Ayla menunduk, merasa sedih dengan nasib percintaannya. Davin mengangkat wajah Ayla agar menatapnya lantas pria itu pun tersenyum. “Bersabarlah, kita pasti bisa melalui semua ini. Asal kita selalu bersama-sama ya.” Ayla mengangguk, mereka berdua saling melempar senyum lalu berpelukan. Tak ada yang menyadari hubungan gelap mereka di tengah keramaian itu, kecuali Abhi yang sudah tak tahan lagi ingin menghajar lelaki yang sudah merebut Ayla darinya. ** “Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu cintai sedang bermesraan dengan pria lain? Sangat sakit bukan?” tukas Abhi ketika dirinya sedang berpapasan dengan Davin saat akan masuk ke dalam toilet. Davin menatap Abhi sambil mengepalkan kedua tangan, mencoba menahan amarahnya. “Jadi kamu melakukan itu semua dengan sengaja?” Abhi balik menatap Davin lantas tersenyum masam. “Itu bukan apa-apa dibanding hal yang kamu lakukan, perebut istri orang,” ucapnya tepat di hadapan muka Davin. Bugh! Davin tak dapat lagi menahan dirinya dengan hinaan yang dilontarkan oleh Abhi. Abhi yang juga tak terima balik memukul Davin tepat mengenai hidung mancung pria itu hingga darah segar mengucur dari sana. Tak sampai di situ, mereka berdua lanjut saling balas memukul hingga Rian serta beberapa temannya datang untuk melerai mereka berdua. “Jangan mentang-mentang kamu punya segalanya lalu aku akan diam saja! Aku akan memperjuangkan cintaku dan Ayla, ingat itu!” ancam Davin kemudian berlalu pergi dari kerumunan orang yang mengerubungi mereka. Abhi hanya tersenyum getir, sudut bibirnya terasa sangat perih akibat pukulan Davin padanya tadi. Ayla yang sedang berbincang bersama Lena dan teman-teman wanitanya, begitu terkejut ketika melihat wajah Davin dengan darah segar yang masih keluar dari hidung pria itu. “Davin, apa yang terjadi? Kenapa mukamu sampai begini?” cecar Ayla dengan khawatir sambil menuntun Davin untuk duduk di salah satu kursi panjang kafe itu. “Ini semua karena ulah suami kamu,” sahut Davin dengan mendesis memegangi hidungnya yang kesakitan. “Obati dulu,” ujar Lena dengan memberikan kompres pada Ayla untuk mengobati hidung Davin. Davin semakin mendesis kesakitan saat kompres itu mengenai hidungnya, Ayla pun mengelap bekas darah di hidung kekasihnya itu. Tak lama kemudian, Abhi muncul dengan keadaan yang hampir sama dengan Davin. “Ayla, suami kamu ...” panggil Lena sambil menepuk pelan bahu Ayla, membuat wanita itu menoleh pada Abhi yang memegangi wajah lebamnya. “Mas Abhi, kamu juga ... apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Ayla sambil menatap pada Abhi dan Davin bergantian. “Nggak tahu bagaimana awal mulanya, aku dan teman-temanku menemukan mereka tengah berkelahi di depan toilet pria. Kami segera melerai mereka dan ... begitulah,” terang Rian sambil mengedikkan bahunya. “Ayla, lebih baik kamu bawa suamimu pulang. Biar Davin kami yang urus,” ujar Lena menyarankan. “Maaf ya Len, karena hal ini pesta kamu jadi berantakan,” balas Ayla dengan mimik wajah yang menyesal. Lena menggeleng pelan sambil mengusap lengan Ayla. “ Ini bukan salah kamu, segera bawa pulang dan obati luka suami kamu ya. Kasihan dia sudah sangat kesakitan.” Ayla mengangguk. Sebelum pergi, Davin memeluknya singkat. “Aku menunggumu.” Di dalam mobil, Ayla menatap Abhi yang diam menahan sakit. Hatinya berantakan. Di balik setir, Abhi tersenyum samar. ‘Cinta memang tak selalu harus memiliki,’ batinnya. ‘Tapi sakitnya… tetap harus aku yang menanggungnya sendiri.’Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k
Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I
Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya
Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa
Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel
Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan
~ Dia adalah lelaki baik yang sudah ayah dan bunda percaya untuk menjadi suami kamu ~ Pak Mirza, ayah Ayla**Flashback On...Dua tahun sebelumnya...“Ayla ... ayah dan bunda ingin agar kamu segera menikah dengan anak sahabat ayah,” ujar pak Mirza, ayah dari Ayla.“Apa? Menikah? Nggak Ayah,
~ Cinta itu sederhana, yang rumit itu kamu ~ Abhimana Pratama**Semua orang dalam ruangan itu pun menghentikan aktivitas makannya lalu menatap pada Ayla, namun hanya Abhi saja yang masih terlihat sibuk dengan makanan di atas piringnya. Telinganya menyimak dengan tajam, meski pandangannya tak m
POV Davin AlfiansyahAku masih mengingat hari pertama aku bertemu Ayla dengan detail yang terlalu jelas—terlalu tajam—untuk sekadar disebut kenangan. Beberapa ingatan seharusnya memudar seiring berjalannya waktu, namun bayangan Ayla sore itu seperti tinta permanen yang tumpah di atas kertas putih
~ Biar aku yang pergi, biar aku yang tersakiti ~Davin AlfiansyahDavin masih berdiri di hadapan Ayla, menunggu kalimat lanjutan yang tak kunjung terucap dari bibir wanita itu. Jantungnya berdetak tak beraturan, seolah ada firasat buruk yang perlahan merayap ke dalam dada. Tatapannya menelusuri wa







