หน้าหลัก / Romansa / Cinta Yang Lain / 8. Diam bukan karena kalah

แชร์

8. Diam bukan karena kalah

ผู้เขียน: Aprilia Choi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-05 19:56:34

~ Aku diam bukan karena mengalah, aku hanya tidak ingin kita bertengkar lagi ~

Abhimana Pratama

**

Abhi sama sekali tak menghiraukan kehadiran Davin. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil, duduk di kursi pengemudi, lalu menutup pintu agak keras. Mesin mobil dinyalakan, tapi ia tak segera melaju. Pandangannya lurus ke depan, rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan amarah yang berdesakan di dalam dada.

Ia menunggu.

Menunggu istrinya.

Di luar, Ayla berdiri canggung ketika sosok Davin sudah berada tepat di hadapannya.

“Kamu …” Ayla menggantungkan kata-katanya.

“Hai …” sapa Davin antusias, seolah pagi itu tak menyimpan ketegangan apa pun. Senyumnya hangat, terlalu hangat untuk ukuran seseorang yang baru saja ditegur suami orang di tengah malam.

Dari dalam mobil, Abhi melihat segalanya. Cara Davin berdiri terlalu dekat. Cara matanya menatap Ayla tanpa batas. Tangannya terkepal di atas setir. Ia bisa keluar sekarang, bisa menarik Ayla masuk ke mobil, bisa membuat keributan—tapi tidak.

Bukan karena ia takut.

Bukan karena ia kalah.

Ia hanya lelah bertengkar dengan wanita yang seharusnya berada di pihaknya.

“Ada apa kamu kemari pagi-pagi begini?” tanya Ayla akhirnya, suaranya berusaha terdengar biasa.

“Aku cuma khawatir,” jawab Davin lembut. “Semalam yang angkat telepon suamimu, kan? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu.”

Tangan Davin terangkat, refleks hendak menyentuh wajah Ayla.

Abhi menahan napas.

Ayla mengangguk pelan, lalu dengan halus menepis tangan Davin. “Aku nggak papa. Kamu tenang saja, ya.”

Senyum Davin mengembang lega. “Syukurlah.”

Ia lalu mengusap kepala Ayla dengan gestur yang terlalu akrab, sebelum melirik sekilas ke arah mobil tempat Abhi duduk. Tatapan mereka sempat bertemu—singkat, dingin, penuh peringatan yang tak terucap.

“Nanti jangan lupa temui aku,” ujar Davin. “Aku pergi dulu.”

Ayla hanya mengangguk.

Setelah Davin berlalu, Ayla segera masuk ke dalam mobil. Pintu ditutup, keheningan pun menyergap mereka berdua.

Tak ada sapa.

Tak ada tanya.

Abhi langsung melajukan mobil keluar dari garasi, meninggalkan rumah dengan suasana yang jauh dari kata hangat.

“Aku diam bukan karena mengalah,” batin Abhi pahit.

“Aku diam karena aku tidak ingin kita bertengkar lagi karena lelaki itu.”

**

Mobil berhenti di halaman rumah orang tua Ayla. Keduanya turun hampir bersamaan. Abhi secara refleks merangkul pinggang istrinya, gestur yang begitu natural bagi orang luar, namun terasa asing bagi Ayla.

Ayla menoleh sebentar, hendak menolak, namun tatapan Abhi seakan berkata: tolong, sekali ini saja.

Ayla menurut.

Mereka melangkah masuk ke rumah dengan senyum yang dipaksakan.

“Assalamualaikum …” ucap mereka hampir bersamaan.

“Waalaikumsalam … ya Allah, akhirnya kalian datang juga,” sambut Pak Mirza dan Bu Dewi dengan wajah sumringah.

Ayla dan Abhi mencium tangan orang tua itu bergantian, lalu duduk di ruang tamu.

“Ayah senang sekali kalian bisa datang,” ujar Pak Mirza membuka percakapan.

“Iya, Yah,” sahut Abhi sopan. “Maaf selama ini jarang berkunjung. Sekarang saya sudah tidak sering ke luar negeri, insya Allah kami akan lebih sering ke sini.”

Orang tua Ayla tersenyum lega.

“Tidak apa-apa, Nak Abhi,” kata Bu Dewi. “Kami paham kesibukan kamu. Yang penting Ayla tidak merasa diabaikan.”

Ayla muncul dari dapur membawa nampan berisi minuman dan camilan. “Bunda kok tanya begitu sih,” protesnya ringan.

Bu Dewi tersenyum. “Bunda cuma ingin memastikan.”

Abhi melirik sekilas pada Ayla di sampingnya lalu tersenyum dengan lembut. “Tidak Bun, Ayla istri yang sangat baik dan juga penurut. Dia juga rajin memasak dan mengurus rumah kami dengan sangat baik,” terangnya membuat kedua orang tua Ayla tersenyum bersamaan.

“Syukurlah Nak, kami sangat lega mendengarnya ya Bun,” ucap pak Mirza meminta persetujuan sang istri.

Bu Dewi pun mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. “Iya, kalau begitu sekarang kalian bisa lebih sering menghabiskan waktu berdua ya. Dengan begitu harapan kami para orang tua untuk segera memiliki cucu akan segera terwujud ya, Yah.”

“Iya Nak, kami sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu,” ungkap pak Mirza menambahi ucapan istrinya.

Ayla dan Abhi hanya saling pandang beberapa saat, sebelum Abhi tertawa pelan kemudian. “Kami juga sangat ingin segera memiliki keturunan, tapi kembali lagi kami serahkan semua kepada Allah ya, Sayang,” sahut Abhi seraya memegang jemari Ayla yang membuat wanita itu hanya bisa mengangguk dan tersenyum kikuk.

Pak Mirza dan bu Dewi ikut mengangguk setuju dengan ucapan menantunya itu. Tak ada pembicaraan lebih lanjut, mereka lebih memilih untuk menikmati minuman segar dan makanan ringan yang telah dihidangkan oleh Ayla.

**

Usai berpamitan, Abhi mengantar Ayla sampai depan rumah mereka.

“Aku langsung ke kantor,” ucap Abhi singkat.

“Iya,” jawab Ayla.

Tak ada pelukan. Tak ada cium perpisahan.

Begitu mobil Abhi menjauh, Ayla segera bersiap menemui Davin.

**

“Sayang, lama sekali datangnya. Aku sudah menunggu sejak tadi,” ujar Davin seraya merangkul pundak Ayla, membimbing wanita itu untuk masuk bersamanya ke dalam kafe.

“Iya maaf, aku harus ke rumah ayah dan bunda dulu tadi,” sahut Ayla sambil duduk di salah satu meja bersama dengan Davin.

“Apa ada masalah?” tanya Davin menyelidik.

Ayla menggeleng pelan diiringi senyuman tipis dari wajah cantiknya, perempuan itu menyibak helai rambut panjangnya ke belakang telinga.

“Apa mereka membahas tentang anak lagi?” tebak Davin yang sangat tepat sasaran, Ayla hanya bisa mengangguk lalu memeluk kekasihnya itu.

“Aku cinta kamu, Davin ... aku nggak mau anak dari lelaki lain, aku hanya ingin dari kamu,” balas Ayla membuat senyuman manis menghiasi wajah tampan Davin.

Davin semakin mengeratkan pelukan mereka sambil mencium puncak kepala kekasihnya itu. “Aku akan berjuang untuk hubungan kita, Sayang. Jaga hatimu hanya untukku ya,” pintanya kemudian.

Ayla mengurai pelukan dengan Davin, keduanya saling bertatapan dan melempar senyum. Davin meraih tangan Ayla lalu mencium jemari kekasihnya itu. “Aku sangat mencintaimu, Ayla ....”

Pipi Ayla bersemu merah mendengar ungkapan cinta dari kekasihnya itu, perempuan itu hanya tersenyum namun entah mengapa ia merasa sedikit hampa. Apakah hatinya mulai terbagi dengan pria lain, yang tak lain adalah suaminya sendiri?

Ayla menggeleng pelan untuk mengusir pikiran itu, ia berusaha meyakinkan hatinya bahwa hanya Davin yang dicintainya. Tidak boleh ada pria lain, termasuk suaminya.

Tak lama kemudian, kedua sahabat mereka yaitu Lena dan Rian datang untuk ikut bergabung bersama keduanya. Akhirnya, sore itu mereka habiskan untuk saling berbincang bersama seperti yang sering mereka lakukan setiap harinya.

Lena dan Rian, meski telah mengetahui sejak lama perselingkuhan Ayla dan Davin namun tetap memilih bungkam. Awal mulanya mereka sangat menolak keras perselingkuhan itu, namun seiring berjalannya waktu mereka sadar bahwa Ayla dan Davin memang saling mencintai dan tak ada hak untuk terlalu mencampuri urusan keduanya. Karena bagi mereka, kebahagiaan kedua sahabatnya itu jauh lebih penting.

**

Abhi tengah termenung sendiri di ruang tamu, menanti Ayla yang tak kunjung pulang. Berkali-kali ia mencoba menghubungi istrinya itu, namun tidak ada jawaban. Merasa lelah dengan semuanya, pria itu pun berbaring di atas sofa sambil berusaha memejamkan mata. Namun pikirannya terlalu kacau untuk diajak beristirahat, hingga akhirnya ia kembali bangun dan merenung sambil memandangi foto pernikahannya dengan Ayla yang tergantung dengan indahnya di ruang tamu rumah mereka.

“Ayla … kenapa begitu sulit membuatmu mencintaiku?” gumamnya lirih.

Diam Abhi malam itu bukan tanda menyerah.

Itu adalah bentuk cintanya yang paling sunyi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Yang Lain   43. Pesta 40 hari (END)

    Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k

  • Cinta Yang Lain   42. Dua singa satu atap

    Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I

  • Cinta Yang Lain   41. Sepupu dari London

    Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya

  • Cinta Yang Lain   40. Pelangi yang sempurna

    Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa

  • Cinta Yang Lain   39. Hati yang pulang

    Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel

  • Cinta Yang Lain   38. Kecemburuan Abhi

    Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan

  • Cinta Yang Lain   14. Hadiah yang tak diinginkan

    ~ Aku sadar, aku tidak berhak untuk terus memaksamu mencintaiku sepenuh hati ~Abhimana PratamaWaktu telah menunjukkan pukul 05.00 sore, Abhi baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju kamarnya untuk segera mandi dan berganti pakaian. Pria itu merasa lebih baik setelah mandi, tidak seperti

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Cinta Yang Lain   11. Hanya status

    ~ Hubungan yang diawali tanpa rasa cinta ini, bagiku hanya sebuah status di atas selembar kertas ~Ayla Shanaya**Abhi pamit mandi lebih dulu, suaranya tenang seolah ini bukan malam pertama mereka sebagai suami istri. Ayla hanya mengangguk, duduk di depan meja rias sambil menatap bayangannya se

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Cinta Yang Lain   12. Orang asing

    ~ Meski kamu melakukan kebohongan itu untuk menutupi suatu hal yang menurutmu baik, tetap tidak akan mengubah kenyataan yang sebenarnya ~ Abhimana Pratama**“Di antara kita memang belum ada rasa cinta, tapi sebagai suami ... aku minta kamu harus bisa menjaga sikap saat kita di luar rumah, teru

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Cinta Yang Lain   13. Mengharap kesabaran

    ~ Meski kita belum saling mencintai, Mas tetap ingin berusaha membahagiakan kamu ~Abhimana Pratama**Pagi itu rumah terasa hangat. Bukan karena sinar matahari yang masuk dari jendela besar ruang makan, melainkan karena dua orang yang—meski belum saling mencintai—sedang belajar berbagi ruang da

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status