로그인Tepat pukul tujuh, suasana di sekitar restoran bintang lima di tengah kota terasa begitu tenang. Di tengah area makan, seorang pria paruh baya terlihat duduk dengan tenang. Indra Zalman, seorang pejabat tinggi pemerintahan yang juga merupakan politisi senior. Beliau terkenal dengan kata-katanya yang mampu menggerakan arah kebijakan nasional.
Ketika matanya menangkap sosok Laura dari arah pintu masuk, ketegasan di wajahnya seketika melunak. Senyuman hangat seorang ayah yang begitu merindukan putrinya terukir jelas disana. “Pagi, Ayah. Udah lama nunggu?” sapa Laura ceria sambil memeluk sang ayah singkat. Disampingnya, Theo berdiri dengan sangat tenang. “Ayah baru sampai lima menit yang lalu,” ujar Indra sambil terkeh pelan. Ia menatap putri dan menantunya dengan rasa bangga yang tidak ia sembunyikan. “Pagi, Ayah,” sapa Theo sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan mertuanya. “Ayah kelihatan lebih sehat pagi ini.” “Oh, jelas. Ayah bahagia lihat kalian berdua datang begitu serasi.” Balas Indra tulus. Laura masih mempertahankan senyum manisnya. Ia melirik tipis ke arah Theo yang juga tengah tersenyum ke arahnya. Sisa ketegangan pagi tadi terkubur di balik topeng kesempurnaan yang dipasang oleh keduanya. Obrolan pun mengalir begitu alami. Indra bertanya banyak hal soal kehidupan pernikahan mereka. Dan keduanya kompak memainkan peran sebagai pasangan suami-istri yang harmonis. Apanya yang harmonis? Mereka bahkan tidak berada di kamar yang sama. “Kamu kelihatan kurang tidur, Laura?” Pertanyaan santai dari ayahnya membuat Laura tersentak kecil. Ia tahu betul ayahnya tidak pernah melewatkan detail sekecil apapun dari lawan bicaranya. “Dia memang kurang tidur akhir-akhir ini, Ayah.” Theo menyela sebelum Laura sempat merangkai alasan. Laura menahan napas, menatap suaminya dengan penuh kewaspadaan, “Theo–” “Ayah tahu, semalam Laura kasih aku pandangan yang cukup cerdas tentang regulasi wilayah untuk proyek tol baru,” lanjut Theo, sambil tersenyum penuh perhatian ke arah Laura, “Padahal semalam Laura kelelahan, tapi dia masih sempat memikirkan karir suaminya.” Dan Laura tahu sandiwara yang sesungguhnya baru saja dimulai. Suaminya sedang mencoba memanfaatkan posisinya untuk memancing dukungan dari ayahnya. “Wistara ikut tender proyek itu?” Tanya Indra menaruh perhatian. Theo mengangguk, “Iya, Ayah.” Tentu saja Theo ikut. Mana mungkin pria seambisius Theo melewatkan tender bernilai ratusan miliar itu. “Makanya, aku beruntung punya Laura yang mendukung penuh setiap langkah suaminya.” Lanjut Theo sambil tersenyum yang terasa menyebalkan di mata Laura. Setiap langkah, katanya. Apa langkah Theo menuju apartemen wanita simpanannya juga termasuk dalam dukunganmu, Laura? “Jangan memujiku terlalu tinggi, Theo.” Sahut Laura sambil tertawa kecil, tidak membiarkan Theo menguasai panggung sandiwara sendirian, “Aku belum siap untuk jatuh.” Laura mencoba mempertahankan senyumnya, meskipun dalam hati yang terdalam ia ingin sekali bertepuk tangan mendengar betapa lancarnya mulut Theo mengarang cerita bohong tentang rumah tangga mereka. Tangan Laura bergerak menyentuh lengan Theo yang tertutup kemeja, “Aku hanya memastikan jika perusahaan Theo tetap berada di visi yang sejalan untuk memenangkan tender proyek ini, agar nama baik keluarga Zalman yang pro rakyat semakin kuat menjelang pergantian kabinet tahun depan.” Kalimat yang keluar dari mulut Laura memutar balikan keadaan secara halus. Ia mengimbangi permainan Theo demi keuntungan politik keluarganya, sekaligus memastikan Theo tetap terikat pada kesepakatan mereka. Mata Zalman berbinar mendengar analisis putrinya, “Benar, Laura. Pengaruh politik dari keluarga Zalman dan eksekusi infrastruktur dari Wistara adalah kombinasi yang tidak bisa dikalahkan oleh kompetitor mana pun.” “Makanya, aku harus memastikan setiap langkah yang Theo ambil gak boleh melupakan reputasi politik yang kita pertaruhkan, Ayah.” Laura kembali tersenyum ke arah Theo, menatap suaminya dengan sebuah pesan tersirat yang mengintimidasi, “Iya kan, Sayang?” Senyum Laura semakin lebar saat melihat perubahan tipis pada ekspresi di wajah Theo. Pria itu terlihat kesal ketika menyadari bahwa Laura baru saja mengunci pergerakan bisnisnya agar tidak keluar dari kontrol keluarga Zalman. “Iya, Sayang. Aku selalu ingat hal itu dalam setiap keputusan yang aku ambil.” Pertemuan mereka berakhir satu jam kemudian. Indra Zalman pergi lebih dulu dengan pengawalan mobil dinasnya setelah memberikan jaminan bahwa draft tender proyek milik Wistara Construction akan mendapatkan perhatian khusus. Kemesraan yang sebelumnya Laura dan Theo tunjukan langsung menghilang begitu mobil sang ayah menghilang di belokan. Theo menatap Laura dengan penuh kekesalan. “Sandiwara yang luar biasa, Laura.” Puji Theo sambil melipat kedua tangannya didepan dada saat mereka berjalan menuju tempat parkir VIP, “Harus aku akui kamu memang pintar bermain kata. Kamu berani memanfaatkan aku untuk memperkuat posisi politik keluargamu, Laura?” Laura menghentikan langkah kakinya tepat di samping mobil milik Theo. Ia memutar tubuhnya dengan anggun. Tidak ada rasa panik atau takut. Ia berdiri menghadap Theo dengan penuh ketenangan. Tapi matanya begitu tajam, dingin, dan penuh penilaian saat wanita itu menatap Theo dari atas ke bawah. Laura menolak terintimidasi oleh tuduhan sinis dari suaminya yang bersikap seolah menyepelekan dirinya. “Bukannya kamu yang mulai, Theo?” Balas Laura tajam, “Kamu pikir aku bakalan diam dijadikan pajangan cantik yang kamu manfaatkan secara gratis buat bikin perusahaan kamu semakin kaya?” Theo tidak langsung menjawab. Pria itu melipat tangan di dada sambil tersenyum remeh pada Laura. Sebuah senyuman menantang yang sengaja ia buat untuk memancing emosi istrinya. “Memang harusnya begitu, kan?” Ucap Theo sambil tersenyum remeh menantang istrinya, “Seorang istri cuma tinggal duduk diam dan menurut pada suaminya.” Keangkuhan Theo menggantung di udara. Kata-kata itu berhasil memancing amarah Laura. Tapi dengan sikapnya yang pintar mengendalikan emosi, Laura justru terkekeh sinis, "Biar aku perjelas satu hal penting diantara kita berdua, Theo. Pernikahan kita adalah sebuah kontrak, ingat? Keluargaku kasih kamu prioritas utama di dunia birokrasi, dan harusnya perusahaan kamu kasih kesan baik yang mendukung reputasi keluargaku.” Laura melangkah dan berhenti tepat di hadapan Theo, “Aku udah menjalankan bagianku dengan baik. Apalagi yang kurang? Aku menjaga reputasi kamu di depan media, menyiapkan semua keperluan kamu di rumah, dan aku baru aja memastikan ayahku kasih proyek yang sangat kamu inginkan pagi ini.” Laura terdiam sejenak, kemudian menunjuk dada Theo dengan tegas, “Aku sama sekali gak peduli kemana kamu pergi setiap malam, atau seberapa sering kamu datang mengunjungi ‘dosa’ kamu diluar sana. Itu urusan pribadi kamu yang menjijikan.” Laura bisa melihat jelas senyum remeh yang bertengger di wajah suaminya menghilang. Laura hanya ingin pria dihadapannya sadar satu hal penting jika istrinya ini bukanlah wanita lemah yang bisa dikendalikan dengan emosi. Laura adalah lawan yang setara yang bisa menghancurkan ambisi suaminya jika Theo melangkah terlalu jauh melewati batas. “Kamu benar-benar mengerikan, Laura.” Ucap Theo dengan nada penuh kebencian yang tertahan. “Kata mengerikan terlalu jahat untuk orang secantik aku, Theo.” Laura berbalik lalu menunjuk pintu mobil dengan dagunya, memberi kode pada Theo untuk membuka kunci mobilnya, “Ini namanya simulasi bertahan hidup di dunia yang isinya orang egois kayak kamu.” Konfrontasi mereka berakhir dengan sebuah garis batas yang semakin tegas. Perang dalam rumah tangga mereka telah resmi naik ke tingkat yang lebih tinggi, membuat mereka berdua harus memasang topeng yang lebih kuat. . . to be continuedKantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem
Suara pintu apartemen yang dibanting menggema. Suasana yang tadinya tenang dan sunyi mendadak menjadi tegang. Leia, wanita berambut pirang di pernikahan Theo kemarin terlonjak dari duduknya saat ia melihat sosok pria yang masuk ke dalam apartemennya dengan setelan formal. “Theo?” Ponsel yang sejak tadi ia pegang jatuh membentur lantai, “Kenapa kamu kesini? Aku kan udah bilang jangan pernah datang lagi!” Tanpa menjawab, Theo melangkah menuju Leia. Ia menarik tubuh kekasihnya dan mendekapnya dengan begitu erat. Theo menenggelamkan wajahnya di leher Leia, menghirup aroma vanilla yang selalu berhasil menenangkannya. "Jangan pernah usir atau minta aku buat gak datang lagi." Bisik Theo posesif. Leia memejamkan matanya, merasakan detak jantung Theo yang berdegup kencang. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya. “Lepas, Theo. Aku benci kamu!” Desis Leia berbohong. Mustahil Leia tidak mencintai Theo. Hubungan yang sudah terjalin sejak SMA membuatnya s
Jarum jam dinding bergerak teratur, menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Suasana rumah dengan konsep minimalis modern itu terasa terlalu hening. Cahaya lampu gantung di area ruang makan sengaja diredupkan, menyisakan sorot cahaya kekuningan yang temaram dan menenangkan. Seperti malam-malam sebelumnya, Laura tidak pernah melontarkan protes, marah, atau menghujani Theo dengan pesan singkat untuk bertanya jam berapa suaminya akan pulang. Ia tetap menjaga ketenangan meskipun emosinya mengalir di dalam. Di atas meja makan hitam yang dingin, semangkuk sup krim jamur dan secangkir teh hangat yang baru saja diseduh tersaji ketika bunyi klik pelan dari pintu smart lock terdengar. Theo yang baru saja pulang masuk dengan langkah yang terdengar berat, membuat Laura langsung menghampiri suaminya. “Kamu mau makan atau mau mandi dulu?” Tanya Laura sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil jas yang disampirkan Theo di lengannya. “Mandi.” Jawab Theo singkat. Laura menggantungkan ja
“Selamat pagi, Bu Laura,” Sapa petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu lift. Pria berseragam rapi itu melemparkan senyum ramah.Laura tersenyum anggun dengan sisa energinya, “Pagi, Pak.”Laura langsung melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia menekan tombol dengan angka enam dan membiarkan besi berlapis cermin itu menutup rapat. Begitu lift naik, pertahanan Laura runtuh. Bahunya yang tegak perlahan turun, helaan napas panjang menunjukan bahwa ia benar-benar lelah.‘Sialan! Benar-benar sialan!’Laura menyumpahi suaminya dalam hati. Pria brengsek itu bahkan tidak sudi mengantarnya sampai depan kantor. Theo malah meninggalkannya di pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Laura menarik napas dalam mencoba kembali mengontrol emosinya ketika suara dentingan lift terdengar. Topeng ketenangan seorang wanita karir kembali terpasang di wajah cantiknya saat ia melangkah keluar menuju ruang kerjanya.Beberapa staff yang berpapasan menyapanya dengan hormat, Laura membalasnya dengan ang
Tepat pukul tujuh, suasana di sekitar restoran bintang lima di tengah kota terasa begitu tenang. Di tengah area makan, seorang pria paruh baya terlihat duduk dengan tenang. Indra Zalman, seorang pejabat tinggi pemerintahan yang juga merupakan politisi senior. Beliau terkenal dengan kata-katanya yang mampu menggerakan arah kebijakan nasional. Ketika matanya menangkap sosok Laura dari arah pintu masuk, ketegasan di wajahnya seketika melunak. Senyuman hangat seorang ayah yang begitu merindukan putrinya terukir jelas disana. “Pagi, Ayah. Udah lama nunggu?” sapa Laura ceria sambil memeluk sang ayah singkat. Disampingnya, Theo berdiri dengan sangat tenang. “Ayah baru sampai lima menit yang lalu,” ujar Indra sambil terkeh pelan. Ia menatap putri dan menantunya dengan rasa bangga yang tidak ia sembunyikan. “Pagi, Ayah,” sapa Theo sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan mertuanya. “Ayah kelihatan lebih sehat pagi ini.” “Oh, jelas. Ayah bahagia lihat kalian berdua datang begitu ser
Jam dinding di ruang tengah rumah milik Theo baru saja melewati angka empat lewat tiga puluh menit. Di luar sana, langit masih berwarna biru gelap, menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam. Di antara keheningan yang masih terasa di sudut kediaman mewah berkonsep minimalis modern itu, Laura sudah berkutat di dapur. Rambut basah yang disisir rapi menandakan ia baru saja selesai mandi. Laura menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula menggunakan mesin espresso manual milik Theo. Aroma biji kopi yang baru digiling mengisi kekosongan udara di ruangan yang sepi. “Urusan kantor, katanya? Alasan konyol.” Bisik Laura pada dirinya sendiri. Semalam Theo tidak pulang. Pria itu menghilang begitu saja setelah pergi untuk ‘urusan penting’ yang terlihat sangat mendesak. Tidak ada pesan singkat, tidak ada panggilan telepon. Bagi Laura, sikap Theo yang mengabaikannya seolah mempertegas bahwa pernikahan mereka hanyalah formalitas. Tepat saat mesin espresso mengeluarkan tetesan terakhirnya, terdengar







