로그인“Selamat pagi, Bu Laura,” Sapa petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu lift. Pria berseragam rapi itu melemparkan senyum ramah.
Laura tersenyum anggun dengan sisa energinya, “Pagi, Pak.” Laura langsung melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia menekan tombol dengan angka enam dan membiarkan besi berlapis cermin itu menutup rapat. Begitu lift naik, pertahanan Laura runtuh. Bahunya yang tegak perlahan turun, helaan napas panjang menunjukan bahwa ia benar-benar lelah. ‘Sialan! Benar-benar sialan!’ Laura menyumpahi suaminya dalam hati. Pria brengsek itu bahkan tidak sudi mengantarnya sampai depan kantor. Theo malah meninggalkannya di pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Laura menarik napas dalam mencoba kembali mengontrol emosinya ketika suara dentingan lift terdengar. Topeng ketenangan seorang wanita karir kembali terpasang di wajah cantiknya saat ia melangkah keluar menuju ruang kerjanya. Beberapa staff yang berpapasan menyapanya dengan hormat, Laura membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman manis. Begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya, ia duduk di kursi kerjanya lalu memejamkan mata rapat-rapat. “Astaga, aku harus gimana lagi?” Laura memijat pelipisnya yang berdenyut. Suaranya terdengar begitu rapuh. Ia tidak menyangka kehidupan dewasa akan membuatnya se-lelah ini. “Selamat pagi.” Suara bariton dan ketukan pintu yang familiar membuat Laura tersentak. Mata indahnya mendadak terbuka lebar penuh kewaspadaan. Tapi ketika Laura melihat sosok pria yang berdiri di pintu masuk, ketegangan di wajah Laura perlahan mencair. “Arvin?” Laura mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, “Silahkan masuk.”. Arvin adalah ketua divisi perencanaan sekaligus rekan kerja yang telah mengenal Laura sejak masa kuliah. Pria itu melangkah masuk dengan senyum hangatnya lalu berjalan santai mendekati meja kerja Laura. Arvin meletakan sebuah gelas ramah lingkungan yang masih mengepulkan uap tipis. Disampingnya ia letakan sebuah kotak kertas kecil berisi donat keju yang masih hangat. “Apa ini?” Tanya Laura sambil menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut heran. Arvin menarik kursi di depan meja Laura lalu duduk dengan posisi yang santai tapi tetap sopan, “Pertolongan pertama pada stress tingkat tinggi.” Laura terdiam. Ada rasa hangat asing yang perlahan merayap di dadanya. Rasanya sedikit aneh melihat ada seseorang yang begitu peka pada sesuatu yang berusaha keras ia sembunyikan. “Tapi aku udah sarapan tadi sama ayahku, Vin.” Laura mencoba menolak secara halus. “Maksud kamu rapat kerja yang kebetulan ada makanannya?” Arvin terkekeh kecil, “Itu gak dihitung sarapan Laura. Aku yakin kalian lebih banyak ngobrol soal strategi bisnis daripada menikmati makanan, iya kan?” Kata-kata Arvin tepat sasaran. Bahu Laura yang tegap kembali merosot, ia tidak bisa menahannya lagi. Pertahanannya runtuh bukan karena ancaman, tapi karena sebuah sikap pengertian. Selama sarapan satu jam yang lalu, Laura memang hampir tidak menyentuh piringnya. Tenggorokannya bahkan tidak sanggup menelan sepotong roti karena otaknya dipaksa bekerja demi mengimbangi sandiwara Theo di depan ayahnya. “Wah, makasih banyak, Vin.” Ucap Laura sambil tertawa kecil, “Dari dulu kamu emang paling ngerti deh.” Aku rasa itu tawa lepas pertama yang kau rasakan sepanjang pagi ini, Laura. Ia menerima teh pemberian dari Arvin. Rasa hangat dan manis dari teh camomile langsung membuat ketegangan di otot lehernya mengendur. Arvin memperhatikan Laura dengan tatapan mata penuh kelembutan, “Sama-sama, Laura. Aku cuma memastikan timku gak akan pingsan di tengah rapat jam sepuluh nanti.” Kata-kata Arvin membuat Laura terkekeh geli. Pria itu memang selalu bisa mencairkan suasana. BRAK! Baik Laura maupun Arvin terkejut ketika pintu ruang kerja terbuka kasar tanpa adanya ketukan pintu. Seorang petugas hubungan masyarakat yang juga merupakan sahabat Laura melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah yang penuh emosi. “Bajingan itu memang gak punya otak! Berani-beraninya dia–” “Amel!” Laura memotong ucapan Amel ketika sahabatnya hampir saja berteriak memaki. Laura melirik Arvin dan memberikan kode pada Amel untuk tidak bersuara. Amel yang tadinya bersiap menumpahkan seluruh kemarahannya mendadak diam ketika melihat sosok Arvin yang sedang duduk santai di depan meja kerja Laura. Wajahnya menahan malu dan canggung karena hampir saja mengeluarkan ‘kata-kata mutiara’ di hadapan atasannya. “Kayaknya udah waktunya aku pergi.” Arvin berdiri dari kursinya dan tersenyum menghadapi sikap tidak sopan dari stafnya. “Ah, iya. Sekali lagi, makasih banyak ya, Vin.” Ucap Laura mencoba mengalihkan perhatian demi menyelamatkan situasi canggung ini. Arvin mengangguk halus, “Sama-sama. Donatnya juga dimakan ya. Sampai ketemu di ruang rapat jam sepuluh nanti, Laura.” Di dekat pintu masuk, Amel masih berdiri mematung. Ia mengangguk kecil dan tersenyum sangat sopan pada Arvin, “Pagi, Pak Arvin.” Arvin membalas senyuman Amel dengan anggukan kepala sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruang kerja Laura dengan sangat pelan. Begitu sosok Arvin menghilang sepenuhnya, suasana di dalam ruangan berubah seratus delapan puluh derajat. Amel hampir berlari menuju meja kerja Laura. Ia menarik kursi yang baru saja diduduki Arvin dengan kasar lalu menghempaskan tubuhnya disana. Ia menatap Laura dengan rasa yang campur aduk, antara marah, cemas, dan juga kekesalan yang tidak terbendung lagi setelah sebelumnya membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Laura. “Demi Tuhan, Laura! Dia bener-bener nurunin kamu di pinggir jalan?! Si brengsek itu memang gak punya otak!” Makian Amel keluar dengan lancar dari mulutnya dengan emosi yang meledak. Laura menghela napas panjang. Kemarahan Amel malah terasa seperti pelukan hangat di hatinya. Di dunianya yang penuh sandiwara dan kebohongan, Amel adalah satu-satunya manusia yang tahu tentang lika-liku kehidupan Laura, termasuk kebenaran tentang pernikahannya dengan Theo. “Ada rapat penting di lapangan, katanya.” Bisik Laura sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Lelah yang sempat menghilang kembali terasa. “Alah, dia cuma alasan, lah!” Seru Amel gemas, “Dia pikir dia siapa sih bisa seenaknya gitu? Kalau aku ada disana, udah ku lempar mukanya pakai batu!” Laura tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Amel, “Udah, Mel. Suara kamu bisa kedengeran sampai luar tuh.” Laura menceritakan secara singkat pertemuan dengan ayahnya tadi pagi. Ia juga menceritakan konfrontasi yang terjadi saat di tempat parkir, membuat raut wajah Amel berubah dari marah menjadi sangat puas. Tapi kepuasan itu tidak bertahan lama, wajah Amel kembali melunak saat ia melihat wajah lelah sahabatnya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam jari Laura dengan erat. “Kamu beneran gak apa-apa?” Suara Amel terdengar lebih pelan, penuh kekhawatiran. Laura menunduk, menatap genggaman tangan sahabatnya, “Bohong gak sih kalau aku bilang aku gak sakit hati?” “Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Kamu gak perlu pura-pura kuat kok depan aku.” Amel meremas tangan Laura lebih erat. Laura menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana, “Aku gak mau makeup mahalku luntur cuma buat meratapi nasib, Mel. Aku gak mau kelihatan kayak korban yang gak berdaya.” Amel menatap Laura beberapa detik, mengagumi mental sahabatnya yang luar biasa, “Oke. Pokoknya apapun yang kamu butuhkan, kasih tahu aku. Aku selalu ada di belakang kamu, Lau.” Laura mengangguk dan tersenyum, berterima kasih kepada sahabatnya. “Ngomong-ngomong…” Amel melirik ke arah donat keju di meja Laura, ia tersenyum menggoda sahabatnya, “Pak Arvin makin perhatian ya sama kamu?” Laura terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala, “Kamu kayak gak tahu Arvin aja, Mel. Dari jaman kuliah, dia emang paling peka. Apalagi sekarang jadi rekan kerja.” “Rekan kerja dari Hongkong!” Amel menggoda Laura sambil menyenggol kotak donatnya, ia menatap sahabatnya sambil tersenyum menyebalkan dimata Laura, “Tatapannya ke kamu itu beda, tahu!” “Mel, jangan mulai deh.” Laura memutar matanya malas ketika Amel sudah dalam mode tukang gosip. “Iya deh, iya.” Amel melipat kedua tangan di depan dadanya, “Cepet habisin donat rasa cintanya.” “Amel!” Laura memukul lengan Amel pelan ketika sahabatnya itu terus saja menggodanya. Kini diruangan yang tenang itu, mereka berdua yang telah berbagi cerita tentang kehidupan sejak jaman seragam putih abu, menghela napas bersamaan. Keduanya bersiap untuk menghadapi badai yang lebih besar. . . to be continuedKantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem
Suara pintu apartemen yang dibanting menggema. Suasana yang tadinya tenang dan sunyi mendadak menjadi tegang. Leia, wanita berambut pirang di pernikahan Theo kemarin terlonjak dari duduknya saat ia melihat sosok pria yang masuk ke dalam apartemennya dengan setelan formal. “Theo?” Ponsel yang sejak tadi ia pegang jatuh membentur lantai, “Kenapa kamu kesini? Aku kan udah bilang jangan pernah datang lagi!” Tanpa menjawab, Theo melangkah menuju Leia. Ia menarik tubuh kekasihnya dan mendekapnya dengan begitu erat. Theo menenggelamkan wajahnya di leher Leia, menghirup aroma vanilla yang selalu berhasil menenangkannya. "Jangan pernah usir atau minta aku buat gak datang lagi." Bisik Theo posesif. Leia memejamkan matanya, merasakan detak jantung Theo yang berdegup kencang. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata, mengaburkan pandangannya. “Lepas, Theo. Aku benci kamu!” Desis Leia berbohong. Mustahil Leia tidak mencintai Theo. Hubungan yang sudah terjalin sejak SMA membuatnya s
Jarum jam dinding bergerak teratur, menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Suasana rumah dengan konsep minimalis modern itu terasa terlalu hening. Cahaya lampu gantung di area ruang makan sengaja diredupkan, menyisakan sorot cahaya kekuningan yang temaram dan menenangkan. Seperti malam-malam sebelumnya, Laura tidak pernah melontarkan protes, marah, atau menghujani Theo dengan pesan singkat untuk bertanya jam berapa suaminya akan pulang. Ia tetap menjaga ketenangan meskipun emosinya mengalir di dalam. Di atas meja makan hitam yang dingin, semangkuk sup krim jamur dan secangkir teh hangat yang baru saja diseduh tersaji ketika bunyi klik pelan dari pintu smart lock terdengar. Theo yang baru saja pulang masuk dengan langkah yang terdengar berat, membuat Laura langsung menghampiri suaminya. “Kamu mau makan atau mau mandi dulu?” Tanya Laura sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil jas yang disampirkan Theo di lengannya. “Mandi.” Jawab Theo singkat. Laura menggantungkan ja
“Selamat pagi, Bu Laura,” Sapa petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu lift. Pria berseragam rapi itu melemparkan senyum ramah.Laura tersenyum anggun dengan sisa energinya, “Pagi, Pak.”Laura langsung melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia menekan tombol dengan angka enam dan membiarkan besi berlapis cermin itu menutup rapat. Begitu lift naik, pertahanan Laura runtuh. Bahunya yang tegak perlahan turun, helaan napas panjang menunjukan bahwa ia benar-benar lelah.‘Sialan! Benar-benar sialan!’Laura menyumpahi suaminya dalam hati. Pria brengsek itu bahkan tidak sudi mengantarnya sampai depan kantor. Theo malah meninggalkannya di pinggir jalan tanpa rasa bersalah. Laura menarik napas dalam mencoba kembali mengontrol emosinya ketika suara dentingan lift terdengar. Topeng ketenangan seorang wanita karir kembali terpasang di wajah cantiknya saat ia melangkah keluar menuju ruang kerjanya.Beberapa staff yang berpapasan menyapanya dengan hormat, Laura membalasnya dengan ang
Tepat pukul tujuh, suasana di sekitar restoran bintang lima di tengah kota terasa begitu tenang. Di tengah area makan, seorang pria paruh baya terlihat duduk dengan tenang. Indra Zalman, seorang pejabat tinggi pemerintahan yang juga merupakan politisi senior. Beliau terkenal dengan kata-katanya yang mampu menggerakan arah kebijakan nasional. Ketika matanya menangkap sosok Laura dari arah pintu masuk, ketegasan di wajahnya seketika melunak. Senyuman hangat seorang ayah yang begitu merindukan putrinya terukir jelas disana. “Pagi, Ayah. Udah lama nunggu?” sapa Laura ceria sambil memeluk sang ayah singkat. Disampingnya, Theo berdiri dengan sangat tenang. “Ayah baru sampai lima menit yang lalu,” ujar Indra sambil terkeh pelan. Ia menatap putri dan menantunya dengan rasa bangga yang tidak ia sembunyikan. “Pagi, Ayah,” sapa Theo sambil mengulurkan tangan, menjabat tangan mertuanya. “Ayah kelihatan lebih sehat pagi ini.” “Oh, jelas. Ayah bahagia lihat kalian berdua datang begitu ser
Jam dinding di ruang tengah rumah milik Theo baru saja melewati angka empat lewat tiga puluh menit. Di luar sana, langit masih berwarna biru gelap, menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam. Di antara keheningan yang masih terasa di sudut kediaman mewah berkonsep minimalis modern itu, Laura sudah berkutat di dapur. Rambut basah yang disisir rapi menandakan ia baru saja selesai mandi. Laura menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula menggunakan mesin espresso manual milik Theo. Aroma biji kopi yang baru digiling mengisi kekosongan udara di ruangan yang sepi. “Urusan kantor, katanya? Alasan konyol.” Bisik Laura pada dirinya sendiri. Semalam Theo tidak pulang. Pria itu menghilang begitu saja setelah pergi untuk ‘urusan penting’ yang terlihat sangat mendesak. Tidak ada pesan singkat, tidak ada panggilan telepon. Bagi Laura, sikap Theo yang mengabaikannya seolah mempertegas bahwa pernikahan mereka hanyalah formalitas. Tepat saat mesin espresso mengeluarkan tetesan terakhirnya, terdengar







