Share

Kehangatan

Author: Nympadoraaa
last update publish date: 2026-08-07 15:58:10

“Selamat pagi, Bu Laura,” Sapa petugas keamanan yang berdiri tegap di dekat pintu lift. Pria berseragam rapi itu melemparkan senyum ramah.

Laura tersenyum anggun dengan sisa energinya, “Pagi, Pak.”

Laura langsung melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Ia menekan tombol dengan angka enam dan membiarkan besi berlapis cermin itu menutup rapat. Begitu lift naik, pertahanan Laura runtuh. Bahunya yang tegak perlahan turun, helaan napas panjang menunjukan bahwa ia benar-benar lelah.

‘Sialan! Benar-benar sialan!’

Laura menyumpahi suaminya dalam hati. Pria brengsek itu bahkan tidak sudi mengantarnya sampai depan kantor. Theo malah meninggalkannya di pinggir jalan tanpa rasa bersalah.

Laura menarik napas dalam mencoba kembali mengontrol emosinya ketika suara dentingan lift terdengar. Topeng ketenangan seorang wanita karir kembali terpasang di wajah cantiknya saat ia melangkah keluar menuju ruang kerjanya.

Beberapa staff yang berpapasan menyapanya dengan hormat, Laura membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman manis. Begitu ia masuk ke dalam ruang kerjanya, ia duduk di kursi kerjanya lalu memejamkan mata rapat-rapat.

“Astaga, aku harus gimana lagi?” Laura memijat pelipisnya yang berdenyut. Suaranya terdengar begitu rapuh. Ia tidak menyangka kehidupan dewasa akan membuatnya se-lelah ini.

“Selamat pagi.” Suara bariton dan ketukan pintu yang familiar membuat Laura tersentak. Mata indahnya mendadak terbuka lebar penuh kewaspadaan. Tapi ketika Laura melihat sosok pria yang berdiri di pintu masuk, ketegangan di wajah Laura perlahan mencair.

“Arvin?” Laura mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, “Silahkan masuk.”.

Arvin adalah ketua divisi perencanaan sekaligus rekan kerja yang telah mengenal Laura sejak masa kuliah. Pria itu melangkah masuk dengan senyum hangatnya lalu berjalan santai mendekati meja kerja Laura.

Arvin meletakan sebuah gelas ramah lingkungan yang masih mengepulkan uap tipis. Disampingnya ia letakan sebuah kotak kertas kecil berisi donat keju yang masih hangat.

“Apa ini?” Tanya Laura sambil menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut heran.

Arvin menarik kursi di depan meja Laura lalu duduk dengan posisi yang santai tapi tetap sopan, “Pertolongan pertama pada stress tingkat tinggi.”

Laura terdiam. Ada rasa hangat asing yang perlahan merayap di dadanya. Rasanya sedikit aneh melihat ada seseorang yang begitu peka pada sesuatu yang berusaha keras ia sembunyikan.

“Tapi aku udah sarapan tadi sama ayahku, Vin.” Laura mencoba menolak secara halus.

“Maksud kamu rapat kerja yang kebetulan ada makanannya?” Arvin terkekeh kecil, “Itu gak dihitung sarapan Laura. Aku yakin kalian lebih banyak ngobrol soal strategi bisnis daripada menikmati makanan, iya kan?”

Kata-kata Arvin tepat sasaran. Bahu Laura yang tegap kembali merosot, ia tidak bisa menahannya lagi. Pertahanannya runtuh bukan karena ancaman, tapi karena sebuah sikap pengertian. Selama sarapan satu jam yang lalu, Laura memang hampir tidak menyentuh piringnya. Tenggorokannya bahkan tidak sanggup menelan sepotong roti karena otaknya dipaksa bekerja demi mengimbangi sandiwara Theo di depan ayahnya.

“Wah, makasih banyak, Vin.” Ucap Laura sambil tertawa kecil, “Dari dulu kamu emang paling ngerti deh.”

Aku rasa itu tawa lepas pertama yang kau rasakan sepanjang pagi ini, Laura.

Ia menerima teh pemberian dari Arvin. Rasa hangat dan manis dari teh camomile langsung membuat ketegangan di otot lehernya mengendur.

Arvin memperhatikan Laura dengan tatapan mata penuh kelembutan, “Sama-sama, Laura. Aku cuma memastikan timku gak akan pingsan di tengah rapat jam sepuluh nanti.”

Kata-kata Arvin membuat Laura terkekeh geli. Pria itu memang selalu bisa mencairkan suasana.

BRAK!

Baik Laura maupun Arvin terkejut ketika pintu ruang kerja terbuka kasar tanpa adanya ketukan pintu. Seorang petugas hubungan masyarakat yang juga merupakan sahabat Laura melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah yang penuh emosi.

“Bajingan itu memang gak punya otak! Berani-beraninya dia–”

“Amel!” Laura memotong ucapan Amel ketika sahabatnya hampir saja berteriak memaki. Laura melirik Arvin dan memberikan kode pada Amel untuk tidak bersuara.

Amel yang tadinya bersiap menumpahkan seluruh kemarahannya mendadak diam ketika melihat sosok Arvin yang sedang duduk santai di depan meja kerja Laura. Wajahnya menahan malu dan canggung karena hampir saja mengeluarkan ‘kata-kata mutiara’ di hadapan atasannya.

“Kayaknya udah waktunya aku pergi.” Arvin berdiri dari kursinya dan tersenyum menghadapi sikap tidak sopan dari stafnya.

“Ah, iya. Sekali lagi, makasih banyak ya, Vin.” Ucap Laura mencoba mengalihkan perhatian demi menyelamatkan situasi canggung ini.

Arvin mengangguk halus, “Sama-sama. Donatnya juga dimakan ya. Sampai ketemu di ruang rapat jam sepuluh nanti, Laura.”

Di dekat pintu masuk, Amel masih berdiri mematung. Ia mengangguk kecil dan tersenyum sangat sopan pada Arvin, “Pagi, Pak Arvin.”

Arvin membalas senyuman Amel dengan anggukan kepala sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruang kerja Laura dengan sangat pelan. Begitu sosok Arvin menghilang sepenuhnya, suasana di dalam ruangan berubah seratus delapan puluh derajat.

Amel hampir berlari menuju meja kerja Laura. Ia menarik kursi yang baru saja diduduki Arvin dengan kasar lalu menghempaskan tubuhnya disana. Ia menatap Laura dengan rasa yang campur aduk, antara marah, cemas, dan juga kekesalan yang tidak terbendung lagi setelah sebelumnya membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Laura.

“Demi Tuhan, Laura! Dia bener-bener nurunin kamu di pinggir jalan?! Si brengsek itu memang gak punya otak!” Makian Amel keluar dengan lancar dari mulutnya dengan emosi yang meledak.

Laura menghela napas panjang. Kemarahan Amel malah terasa seperti pelukan hangat di hatinya. Di dunianya yang penuh sandiwara dan kebohongan, Amel adalah satu-satunya manusia yang tahu tentang lika-liku kehidupan Laura, termasuk kebenaran tentang pernikahannya dengan Theo.

“Ada rapat penting di lapangan, katanya.” Bisik Laura sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Lelah yang sempat menghilang kembali terasa.

“Alah, dia cuma alasan, lah!” Seru Amel gemas, “Dia pikir dia siapa sih bisa seenaknya gitu? Kalau aku ada disana, udah ku lempar mukanya pakai batu!”

Laura tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Amel, “Udah, Mel. Suara kamu bisa kedengeran sampai luar tuh.”

Laura menceritakan secara singkat pertemuan dengan ayahnya tadi pagi. Ia juga menceritakan konfrontasi yang terjadi saat di tempat parkir, membuat raut wajah Amel berubah dari marah menjadi sangat puas. Tapi kepuasan itu tidak bertahan lama, wajah Amel kembali melunak saat ia melihat wajah lelah sahabatnya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam jari Laura dengan erat.

“Kamu beneran gak apa-apa?” Suara Amel terdengar lebih pelan, penuh kekhawatiran.

Laura menunduk, menatap genggaman tangan sahabatnya, “Bohong gak sih kalau aku bilang aku gak sakit hati?”

“Kalau kamu mau nangis, nangis aja. Kamu gak perlu pura-pura kuat kok depan aku.” Amel meremas tangan Laura lebih erat.

Laura menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana, “Aku gak mau makeup mahalku luntur cuma buat meratapi nasib, Mel. Aku gak mau kelihatan kayak korban yang gak berdaya.”

Amel menatap Laura beberapa detik, mengagumi mental sahabatnya yang luar biasa, “Oke. Pokoknya apapun yang kamu butuhkan, kasih tahu aku. Aku selalu ada di belakang kamu, Lau.”

Laura mengangguk dan tersenyum, berterima kasih kepada sahabatnya.

“Ngomong-ngomong…” Amel melirik ke arah donat keju di meja Laura, ia tersenyum menggoda sahabatnya, “Pak Arvin makin perhatian ya sama kamu?”

Laura terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala, “Kamu kayak gak tahu Arvin aja, Mel. Dari jaman kuliah, dia emang paling peka. Apalagi sekarang jadi rekan kerja.”

“Rekan kerja dari Hongkong!” Amel menggoda Laura sambil menyenggol kotak donatnya, ia menatap sahabatnya sambil tersenyum menyebalkan dimata Laura, “Tatapannya ke kamu itu beda, tahu!”

“Mel, jangan mulai deh.” Laura memutar matanya malas ketika Amel sudah dalam mode tukang gosip.

“Iya deh, iya.” Amel melipat kedua tangan di depan dadanya, “Cepet habisin donat rasa cintanya.”

“Amel!” Laura memukul lengan Amel pelan ketika sahabatnya itu terus saja menggodanya.

Kini diruangan yang tenang itu, mereka berdua yang telah berbagi cerita tentang kehidupan sejak jaman seragam putih abu, menghela napas bersamaan. Keduanya bersiap untuk menghadapi badai yang lebih besar.

.

.

to be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 14 - Sakit

    Langkah kaki Theo yang biasanya penuh percaya diri kini terdengar terseret saat melewati pintu utama. Suara sepatu kulitnya di atas lantai terdengar lelah. Wajah pria itu pucat. Ia terlihat frustasi dan kebingungan.Di ruang tengah, Nyonya Ida masih duduk santaip sambil menonton tayangan televisi. Wanita paruh baya itu menoleh, langsung tersenyum hangat begitu melihat anak tunggalnya berjalan masuk. Mau tak mau, topeng itu harus dipasang kembali, meski sudah sangat retak di berbagai sisi.Theo memaksakan senyuman tipis yang sangat terlihat dipaksakan, mengangguk singkat pada ibunya tanpa bersuara, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya. Ia tidak sanggup berpura-pura lebih lama lagi di bawah tatapan penuh selidik sang ibu.Tak lama kemudian, mobil Laura memasuki pekarangan rumah. Melihat mobil milik Theo sudah terparkir di garasi, Laura menghentikan langkahnya di ruang tengah. Terlihat Nyonya Ida sedang menyesap teh hangatnya, "Loh, Laura? Baru pulang, Sayang?""Iya, Ma.” jawab Lau

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 13: Cemas

    Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah tirai balkon mengusir kegelapan kamar utama. Kesadaran Laura perlahan kembali dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hidungnya menghirup aroma wangi hangatnya kulit tubuh manusia yang sangat dekat, bahkan terasa terlalu dekat. Saat matanya terbuka, Laura membeku ketika menyadari kepalanya tengah bersandar tepat diatas dada suaminya. Tangannya melingkar dengan santai di pinggang pria itu, sementara lengan kokoh suaminya merengkuh punggung Laura dengan begitu santai. Bantal guling yang semalam dipasang sebagai dinding pembatas buatan sudah tergeletak di ujung bawah tempat tidur. Tepat pada detik yang sama, kelopak mata suaminya ikut terbuka pelan. Dua pasang mata itu saling bertatapan dalam jarak yang hanya terpisah beberapa sentimeter. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti keduanya di udara. Secara refleks, Laura menarik tangannya dan dan mendorong tubuhnya menjauh. Theo pun ikut menarik lengannya mendadak, hampir saja ia terj

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 12: Mengalah

    Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Tak Disangka

    Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Kunjungan

    Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 10: Luapan Emosi

    Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status