Share

Ketenangan

Author: Nympadoraaa
last update publish date: 2026-08-02 16:17:46

Jam dinding di ruang tengah rumah milik Theo baru saja melewati angka empat lewat tiga puluh menit. Di luar sana, langit masih berwarna biru gelap, menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam. Di antara keheningan yang masih terasa di sudut kediaman mewah berkonsep minimalis modern itu, Laura sudah berkutat di dapur. Rambut basah yang disisir rapi menandakan ia baru saja selesai mandi.

Laura menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula menggunakan mesin espresso manual milik Theo. Aroma biji kopi yang baru digiling mengisi kekosongan udara di ruangan yang sepi.

“Urusan kantor, katanya? Alasan konyol.” Bisik Laura pada dirinya sendiri.

Semalam Theo tidak pulang. Pria itu menghilang begitu saja setelah pergi untuk ‘urusan penting’ yang terlihat sangat mendesak. Tidak ada pesan singkat, tidak ada panggilan telepon. Bagi Laura, sikap Theo yang mengabaikannya seolah mempertegas bahwa pernikahan mereka hanyalah formalitas.

Tepat saat mesin espresso mengeluarkan tetesan terakhirnya, terdengar suara deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah, disusul oleh suara gerbang otomatis yang menutup kembali.

“Nah, akhirnya dia pulang.” Ucap Laura pada udara. Ia tetap tenang saat menuang kopi hangat ke dalam cangkir.

Tak lama, pintu depan terbuka. Theo melangkah masuk dengan wajah lelah. Tuksedo hitam yang semalam ia pakai sudah tak lagi rapi. Dasinya dilepas, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka.

Ingatan Laura berputar ke acara pernikahan mereka seminggu lalu. Semuanya mendadak tersusun rapi di kepalanya seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya. Wanita berambut pirang dengan mata sembab, tatapan Theo yang penuh rasa bersalah, dan aroma parfum maskulin milik Theo yang kini bercampur dengan wangi manis vanilla menjadi sangat familiar bagi Laura dalam seminggu ini.

“Kamu pulang tepat waktu, Theo,” Laura memecah keheningan dengan nada suara lembut seperti biasanya. “Minum ini, terus mandi. Air hangat udah aku siapkan. Pakaian kamu juga udah aku siapkan di sana.”

Theo terpaku di ambang pintu dapur. Pandangannya tertuju pada secangkir kopi hitam, gelas berisi air hangat, dan sebuah aspirin yang disiapkan Laura. Ia beralih menatap wajah Laura dengan kening berkerut dalam, seolah mengamati setiap gerak-gerik istrinya.

“Kamu gak mau tanya sesuatu, Laura?” tanya Theo sambil menatap Laura penuh selidik. “Misalnya, kemana aku pergi? Atau kenapa aku baru pulang?”

Laura menyadari tatapan waspada Theo. Mungkin pria itu mengira jika Laura akan mengamuk atau menangis sambil menuntut penjelasan.

“Kamu mau aku tanya apa?” Laura menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. “Haruskah aku tanya, apa ‘urusan penting’ semalam terlalu menguras emosi?”

Laura tersenyum sinis ketika membayangkan drama apa yang telah terjadi sampai Theo pulang dengan wajah yang frustasi. Apa mereka bertengkar hebat? Apa wanita itu menangis histeris? Ah, kasihan sekali nasib wanita yang menggantungkan harapannya pada pria pengecut yang bahkan tidak punya keberanian untuk menolak perjodohan seperti Theo.

Laura terkekeh ketika melihat Theo menatapnya dengan tajam, “Jadi, apa yang harus ditanyakan kalau aku udah tahu jawabannya, Theo?”

Laura berjalan menghampiri Theo, merapikan rambut pria yang masih menatapnya tajam, “Aku lagi menjaga mood pagi. Jadi sebisa mungkin, aku gak mau membuang energi untuk hal yang gak penting. Dan perlu kamu ingat, ayahku sangat jeli. Kalau dia lihat ada ketegangan di antara kita berdua, menurut kamu apa yang dipikirkan ayah nanti?”

Theo mengepalkan tangannya, mencoba menahan emosinya, "Kamu terlalu takut dengan Ayahmu dan bisnis politik ini, Laura."

"Loh, memangnya kamu nggak?" Tanya Laura halus, matanya menatap lurus ke arah Theo, "Bukannya kamu sendiri yang menyetujui perjanjian ini demi ekspansi perusahaan Wistara? jangan mendadak amnesia, Theo."

Theo tertawa kaku, “Aku selalu penasaran, Laura. Kamu memang gak punya emosi sama sekali, ya?"

"Aku? Emosi?" Laura menaikkan satu alisnya, tersenyum lebih lebar. “Aku cukup tahu diri untuk tidak mempertaruhkan emosiku buat laki-laki yang membagi fokusnya di tempat lain, Theo. Lagipula, kenapa harus pakai emosi kalau hal itu sama sekali gak mengancam posisiku?"

Laura tersenyum tipis lalu melangkah melewati Theo. “Aku yakin kamu gak mau kehilangan proyek ratusan miliar itu cuma karena kita bertengkar di pagi buta, kan? Jadi, mandilah, Theo. Bau parfum murahan itu buat aku pusing.”

Theo meraih gelas berisi air hangat dan menyambar aspirin diatas meja, meminumnya dalam satu tegukan, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Theo melangkah menuju kamar utama dengan hentakan kaki penuh kekesalan.

Ketenangan Laura runtuh perlahan ketika mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras. Ia memejamkan matanya, menarik napas panjang dan mencoba kembali mengontrol emosinya. Sakit? Tentu saja.

Laura bukan robot tanpa perasaan. Wangi parfum wanita itu tidak hanya mengacaukan indra penciumannya, tapi juga menusuk ulu hatinya dengan tajam. Ia membiarkan rasa perih itu menjalar, tapi tetap tidak akan membiarkan air matanya menetes hanya karena keegoisan suaminya. Laura merasa terlalu berharga untuk menjadi wanita yang hanya bisa meratapi nasib.

Ia kembali membuka matanya yang kini terlihat lebih tenang dan terkendali. Laura menghela napas panjang lalu melangkah naik ke kamarnya di lantai dua.

Ini bukanlah akhir. Permainan mereka baru saja dimulai dan Laura akan melayani keegoisan Theo dengan kesabarannya. Ia akan tetap memastikan harga dirinya tetap berdiri diatas puing-puing kepalsuan mereka.

.

.

to be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 12: Mengalah

    Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Tak Disangka

    Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Kunjungan

    Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 10: Luapan Emosi

    Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 9: Bertemu

    Laura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya.“Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.”Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.”“Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepal

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 8: Aneh

    Kantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status