LOGINPernikahan Theo dan Laura tidak berdasarkan cinta. Theo terpaksa menikahi wanita yang tidak ia cintai dan meninggalkan kekasihnya hanya karena urusan bisnis. Siapa yang akhirnya harus Theo pilih? Ia bahkan tidak pernah bisa melepaskan kekasihnya meskipun dirinya sudah menikah dengan wanita lain. "Apa kita saling mengerti? Apa kita saling memahami? Kau tahu, terkadang aku frustasi ketika tak bisa mendengar perasaanmu. Hey, pria sombong tak berperasaan, kumohon, jangan membuatku terus berharap. Jika memang kau mempunyai perasaan yang sama denganku, aku akan menunggumu disini meskipun aku tahu ada seseorang disana tengah menantimu dengan penuh kerinduan." Laura, yang dengan sabar menunggu sang pria membuka hatinya. Namun, Theo malah kembali membawa luka.
View MoreDulu, ada seorang gadis yang sering berdoa dengan permintaan yang sangat sederhana tentang teman hidupnya kelak, namanya Aneisha Laura Zalman.
Laura tidak meminta seorang pangeran seperti dalam negeri dongeng. Ia hanya menginginkan seorang pria yang bisa menjadi seorang sahabat sebagai tempatnya bersandar ketika dunia terasa terlalu berat. Atau, seseorang yang mau berjuang untuk saling menyempurnakan. "Kita akan buka ibadah pemberkatan pernikahan yang indah ini dalam doa.” Suara seorang pendeta bergema lembut memecah bisik-bisik kagum di dalam gedung. Seluruh tamu undangan menundukkan kepala mereka, terlihat begitu khidmat mendengarkan doa yang dipanjatkan. Di barisan depan, dua wanita paruh baya yang tersenyum begitu bahagia ketika akhirnya persahabatan mereka berdua berhasil mengunci jalinan bisnis keluarga lewat ikatan pernikahan anak-anak mereka. “Kami persilahkan untuk kedua ibu dari calon pengantin untuk menyalakan lilin di bagian kanan dan kiri.” Kedua ibu melangkah maju dengan anggun, menyalakan lilin di sisi kanan dan kiri altar sebagai tanda restu dari kedua orang tua. Laura bisa mendengar samar-samar bisikan dari barisan tamu di bagian belakang. Dari balik pintu kayu yang menjulang tinggi di depannya, mata Laura tertuju pada calon suaminya yang berdiri kaku di depan altar lewat layar besar di hadapannya. Theo Rasendriya Wistara. Pria itu memakai tuksedo hitam yang pas di tubuhnya. Wajahnya terlihat tampan, tegas, dan menawan seperti biasa. Tapi dari jarak diantara Theo dan Laura saat ini, Laura hanya bisa melihat rahang pria itu mengeras tanpa ada senyuman sedikit pun. "Para tamu undangan yang terhormat, mari kita menyambut calon pengantin wanita kita.” Pintu kayu berukir megah terbuka lebar, menampilkan Laura yang terlihat anggun dengan gaun pengantin bermodel ballgown berwarna putih. Kain veil transparan menutupi wajah cantik yang dipoles riasan tipis. “Laura, kamu udah siap?” tanya sang ayah sambil menggenggam erat jari putri tercintanya. Laura mengangguk kecil sambil tersenyum, menyadari kekhawatiran sang ayah. “Aku baik-baik aja, Ayah.” Ketika Laura menegakan kepala dan menatap lurus ke arah altar, senyumnya nyaris menghilang saat melihat Theo sedang menatapnya dengan begitu datar dan dingin di tengah suasana pernikahan yang hangat. Meskipun terasa sulit, Laura tetap mencoba tersenyum semanis mungkin di hari yang seharusnya menjadi kebahagian dalam hidupnya. Tolong garis bawahi kata ‘seharusnya’. Karena jujur saja, Laura bingung harus bersikap seperti apa. Ada sih, sedikit harapan di hatinya jika lambat laun pernikahan impiannya bisa menjadi nyata. Tapi ketika takdir malah menyeretnya ke atas altar bersama pria yang menatapnya dingin, harapan itu remuk sebelum sempat berkembang. “Hari ini di hadapan Tuhan, seluruh keluarga, dan juga tamu undangan yang hadir. Aku, ayah Laura, menyerahkan putriku yang paling aku sayangi.” Suara sang ayah bergetar menahan rasa harunya. Ia terdiam, mengusap air mata yang hampir turun. Laura tersenyum sambil mengelus pelan punggung ayahnya, berusaha menguatkan. “Theo.” Sang ayah kembali terdiam, berusaha mengendalikan emosinya. “Tolong jaga Laura.” Theo mengangguk sambil tersenyum tipis, senyum yang terasa sangat palsu di mata Laura. Pria itu merengkuh tubuh ayah mertuanya sambil menepuk punggungnya pelan, “Aku akan jaga putrimu dengan baik.” Saat genggaman sang ayah terlepas, Theo mengulurkan tangan untuk membantu Laura menaiki tangga menuju altar. Laura menerimanya dengan senang hati, meskipun ia sadar betul bahwa hal itu tak lebih dari bagian skenario Theo. “Aku Theo Rasendriya Wistara mengambil kamu, Aneisha Laura Zalman menjadi istri ku, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.” Laura mendengarkan Theo mengucapkan janji pernikahannya. Memang terdengar begitu sempurna, tapi bagi Laura suara itu terlalu datar. “Aku Aneisha Laura Zalman mengambil kamu, Theo Rasendriya Wistara menjadi suami ku, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.” Suara Laura terdengar lebih halus meskipun sedikit bergetar karena rasa pasrah dan sedih yang berusaha ia sembunyikan. Tepuk tangan menggema saat pendeta meresmikan pernikahan mereka. Para sahabat Laura di barisan bridesmaid menyapu air mata haru tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik pernikahan ini. Seorang anak kecil perempuan berlari kecil membawakan keranjang berisi dua cincin. Sambil malu-malu, gadis kecil itu menyerahkan kotak cincinnya pada Theo lalu kembali berlari meninggalkan altar, menghampiri dan bersembunyi di belakang ibunya. Para tamu undangan tidak bisa menyembunyikan senyumnya melihat betapa menggemaskannya anak itu. “Kamu kelihatan mengerikan di hari bahagia ini, Laura,” bisik Theo pelan, menyematkan cincin di jari manis Laura dengan gerakan cepat dan kaku. Laura menahan napasnya. Ia mendengus pelan menanggapi sindiran pria yang kini sah menjadi suaminya. “Siapa yang kamu sindir, Theo? Perlu aku bawakan cermin?” “Yang perlu kalian ingat. Pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan cinta, melainkan awal dari perjalanan kalian yang sebenarnya.” Suara pendeta mengembalikan fokus mereka. “Silahkan untuk mempelai pria mencium istrinya tercinta.” Pfft… Laura hampir saja tidak bisa menahan tawanya. Cinta, katanya? Bagi Laura, pernikahan ini tak lebih dari sebuah panggung sandiwara yang menelan biaya mahal. Suara godaan riuh bersahut-sahutan dari teman-teman Theo. Pria itu menyeringai tipis lalu perlahan mengangkat veil yang menutupi wajah Laura. Untuk beberapa detik, mata mereka berdua bertemu. Tak ada apa pun yang bisa Laura lihat selain tatapan hampa dari mata suaminya. Theo menundukan kepala, mengikis jarak di antara mereka. Laura secara refleks memejamkan mata saat merasakan hangat napas Theo menyapu kulit wajahnya. Tapi sebelum bibir mereka bersentuhan, Theo menghentikan gerakannya. Ia memotong arah secara mendadak dan melayangkan ciuman singkat di pipi kiri Laura. “Jangan terlalu banyak berharap, Laura,” bisik Theo tajam tepat di telinganya, sebelum kembali menegakkan tubuh dan melemparkan senyum ke arah para tamu. Para tamu undangan tertawa gemas, mengira sang pengantin pria terlalu malu-malu menunjukan kemesraannya di depan publik, membuat Laura mendengus pelan. Ayolah, suaminya ini bukan sedang malu. Saat pandangan Laura menyapu barisan belakang, matanya menangkap sosok seorang wanita bergaun hitam dengan rambut pirang terurai yang berdiri di dekat pintu keluar. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah altar dengan wajah yang frustasi. Laura menyadari arah pandang Theo yang juga tertuju kesana. Suaminya tengah menatap wanita itu dengan tatapan yang tidak pernah Laura lihat selama mengenal Theo yang angkuh. Dan saat wanita itu menyapu air matanya, menggeleng pelan, lalu berbalik pergi, Laura menebak pasti ada kisah lain yang belum diselesaikan. Laura kembali menghela napas panjang. Bukan pernikahan seperti ini yang selalu ia panjatan dalam doanya. Tak ada kehangatan, tak ada cinta. Hanya ada dua orang asing yang mendadak terikat dokumen resmi demi menyelamatkan bisnis keluarga. Kini, deretan bunga mahal di ujung sana terlihat seperti karangan bunga duka cita bagi Laura. . . To be continuedLangkah kaki Theo yang biasanya penuh percaya diri kini terdengar terseret saat melewati pintu utama. Suara sepatu kulitnya di atas lantai terdengar lelah. Wajah pria itu pucat. Ia terlihat frustasi dan kebingungan.Di ruang tengah, Nyonya Ida masih duduk santaip sambil menonton tayangan televisi. Wanita paruh baya itu menoleh, langsung tersenyum hangat begitu melihat anak tunggalnya berjalan masuk. Mau tak mau, topeng itu harus dipasang kembali, meski sudah sangat retak di berbagai sisi.Theo memaksakan senyuman tipis yang sangat terlihat dipaksakan, mengangguk singkat pada ibunya tanpa bersuara, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya. Ia tidak sanggup berpura-pura lebih lama lagi di bawah tatapan penuh selidik sang ibu.Tak lama kemudian, mobil Laura memasuki pekarangan rumah. Melihat mobil milik Theo sudah terparkir di garasi, Laura menghentikan langkahnya di ruang tengah. Terlihat Nyonya Ida sedang menyesap teh hangatnya, "Loh, Laura? Baru pulang, Sayang?""Iya, Ma.” jawab Lau
Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah tirai balkon mengusir kegelapan kamar utama. Kesadaran Laura perlahan kembali dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hidungnya menghirup aroma wangi hangatnya kulit tubuh manusia yang sangat dekat, bahkan terasa terlalu dekat. Saat matanya terbuka, Laura membeku ketika menyadari kepalanya tengah bersandar tepat diatas dada suaminya. Tangannya melingkar dengan santai di pinggang pria itu, sementara lengan kokoh suaminya merengkuh punggung Laura dengan begitu santai. Bantal guling yang semalam dipasang sebagai dinding pembatas buatan sudah tergeletak di ujung bawah tempat tidur. Tepat pada detik yang sama, kelopak mata suaminya ikut terbuka pelan. Dua pasang mata itu saling bertatapan dalam jarak yang hanya terpisah beberapa sentimeter. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti keduanya di udara. Secara refleks, Laura menarik tangannya dan dan mendorong tubuhnya menjauh. Theo pun ikut menarik lengannya mendadak, hampir saja ia terj
Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro
Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews