Partager

Bab 11: Kunjungan

Auteur: Nympadoraaa
last update Date de publication: 2026-08-22 08:26:44

Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.

Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya.

Theo tertawa ra
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 12: Mengalah

    Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Tak Disangka

    Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Kunjungan

    Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 10: Luapan Emosi

    Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 9: Bertemu

    Laura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya.“Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.”Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.”“Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepal

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 8: Aneh

    Kantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status