Share

Bab 2

Author: Moura
Kalau dipikir-pikir, memang menggelikan. Aku dan Julio sudah berpacaran selama enam tahun, namun kami tidak pernah mendaftarkan pernikahan.

Awalnya, Julio mengatakan bahwa pernikahan tidak akan baik untuk perkembangan karirnya dan dia harus memprioritaskan masa depannya terlebih dahulu.

Demi mendukung karirnya, aku rela mengundurkan diri tanpa ragu dari pekerjaanku yang stabil dan bergaji tinggi, lalu menemaninya pindah ke kota besar untuk merintis bisnis.

Aku harus mempertaruhkan kesehatan dengan mabuk-mabukan di setiap jamuan makan demi menjalin relasi bisnis, hingga akhirnya berhasil membantu dia mendapatkan posisi saat ini.

Namun setelah karirnya stabil, Julio malah ingin menguji ketulusanku dengan mengatakan bahwa dia hanya akan setuju untuk mendaftarkan pernikahan kami jika aku lulus melewati lima puluh dua ujian pranikah yang dirancang oleh Diana.

Jadi, Diana menggunakan kedok ujian tersebut untuk membuatku mengumpulkan sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan pesan tulisan tangan dari orang asing sebagai bentuk restu bagi kami. Dia sengaja menuangkan air es ke kepalaku ketika aku baru bergabung di perusahaan, menambahkan obat pencahar ke air minumku hingga membuat perutku melilit hebat saat sedang rapat dengan klien, dan mempermalukanku di depan umum.

Bukan hanya itu, dia juga sering membawa Julio pergi saat kami sedang berkencan dengan berbagai macam alasan, dan semua itu diklaim sebagai bentuk ujian untukku.

Demi Julio, aku rela menanggung semua penghinaan itu.

Sampai kemarin, saat aku baru saja menyelesaikan sebuah proposal desain, Diana memintaku untuk memberikan berkas itu kepadanya, dan mengatakan bahwa itu adalah ujian terakhir.

Proposal tersebut adalah hasil dari kerja kerasku selama setahun penuh. Begitu melihat keenggananku, Diana langsung memutarbalikkan fakta menggunakan keraguanku sebagai bukti bahwa aku tidak mencintai Julio.

Aku tidak punya pilihan selain menyerahkannya, dan Julio akhirnya setuju untuk mendaftarkan pernikahan kami.

Aku sangat gembira sampai tidak bisa tidur sepanjang malam. Aku bahkan bangun pagi-pagi untuk mendapatkan nomor antrean dan menunggu di Kantor Catatan Sipil.

Tepat ketika kami akan menghadap dan mengurus akta nikah itu, Diana mendadak muncul dan langsung merebut giliran untuk mendaftarkan pernikahan dengan Julio.

Aku hanya mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi Julio justru membela wanita itu mati-matian. Dia bahkan sampai menyebutku tak berperikemanusiaan dan melihat semuanya dengan pandangan negatif.

Tetapi, jika dia benar-benar tidak punya perasaan untuk Diana, mengapa dia tidak membantu orang tua tunggal lainnya di perusahaan, dan hanya menunjukkan perhatian istimewa pada Diana?

Baru sekarang aku mengerti bahwa hati Julio sudah lama berpaling.

Yang disebut ujian itu, hanyalah alasan yang dia gunakan untuk tidak mendaftarkan pernikahan denganku.

Perutku kosong dan terasa perih, aku baru teringat kalau belum makan seharian.

Aku melewatkan sarapan demi bisa mengantre lebih awal agar bisa mendaftarkan pernikahanku lebih cepat, namun pada akhirnya hanya untuk diberikan kepada orang lain.

Itu sungguh tidak sepadan.

Aku pergi ke sebuah restoran, dan tepat setelah selesai makan, aku melihat Julio mengunggah foto akta nikahnya dengan Diana di status WhatsApp.

Rekan-rekan kantor semuanya berkomentar dengan mengucapkan selamat, dan tentu saja, mereka juga menyindirku di saat yang sama.

[Memangnya kenapa kalau Novia adalah kekasihnya Pak Bos? Toh, akhirnya Pak Julio mendaftarkan pernikahannya dengan Diana, kan?]

[Mana bisa dibandingkan antara wanita tua seperti dia dengan Diana yang masih muda dan cantik?]

Aku tahu Julio sedang mencoba memprovokasiku, namun kali ini, aku hanya tersenyum dingin dan memberi tanda suka pada unggahan tersebut.

Tak lama kemudian, orang tuaku juga melihat unggahan itu dan meneleponku.

"Sayang, apa maksud dari unggahan Julio? Kenapa dia bisa punya akta nikah dengan orang lain?"

Orang tuaku selalu merasa khawatir tentang urusan pernikahan kami, mereka hanya ingin melihatku segera menikah dengan Julio.

Namun Julio terus mengulur waktu. Dia tampaknya selalu merasa kasihan dengan kesulitan yang dialami oleh Diana, tetapi tidak pernah menyadari kesulitanku selama ini.

Tepat ketika aku hendak menjelaskan, Julio mengirimiku sebuah pesan.

[Novia, aku sengaja tidak memblokir nomor orang tuamu. Mereka pasti sudah membaca statusku dan merasa sangat khawatir, kan?]

[Kalau kau bersedia minta maaf ke Diana, aku bisa menjelaskan kepada mereka bahwa itu semua hanya salah paham saja. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya!]

Dahulu, Julio selalu menghormati keputusanku dan tidak pernah memaksaku melakukan apa pun.

Pernah suatu kali, saat aku pergi ke rumahnya untuk makan bersama keluarga, walaupun tahu kalau aku alergi terhadap telur, tetapi ibunya terus memaksaku untuk memakannya.

Julio langsung marah sampai membalikkan meja makan.

Sekarang, dia malah menggunakan status WhatsApp untuk memprovokasi orang tuaku hanya demi memaksaku meminta maaf kepada Diana.

Julio yang dulu sangat mencintaiku, kini telah tiada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 13

    "Novia, aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku. Aku sudah memecat Diana dan menghapus semua kontaknya. Aku bahkan sudah mengurus akta cerai dengannya. Aku berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan mereka seumur hidup.""Tolong, jangan marah lagi padaku. Ikut pulang denganku untuk mendaftarkan pernikahan kita. Boleh? Aku sudah mengecek lokasi pernikahan dan memesan gaun pengantin. Yang kurang sekarang hanyalah kau sebagai pengantin wanitanya ...." Melihat Julio datang, Roni langsung menundukkan kepala dengan wajah sedih dan segera bergeser ke samping untuk memberinya jalan.Tetapi, aku justru menahannya, lalu menggenggam tangannya dengan erat, dan berkata kepada Julio."Aku tidak akan pernah ikut bersamamu. Lagipula, kekasihku tidak akan pernah mengizinkanku pergi."Mata Roni langsung terbelalak lebar, dia merasa sangat tersanjung dan terkejut atas sikapku.Sedangkan Julio, dia tampak tidak percaya."Kekasih?""Novia, kau jelas-jelas pernah bilang kalau kau hanya mencintaiku, ba

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 12

    Dia benar-benar sudah keterlaluan dan menyepelekan diriku.Aku tidak membalas pesan Julio. Aku langsung memblokir nomornya dan menghapusnya dari daftar kontak.Setelah perjalanan bus selama empat jam, akhirnya aku tiba di kampung halaman.Orang tuaku sudah menunggu lama. Melihatku turun dari bus, mereka segera datang menyambutku dan mengambil alih koper bawaanku."Sayang, akhirnya kau sampai juga! Sudah bertahun-tahun, Ayah dan Ibu sudah rindu sekali padamu!" Setelah sekian lama tak berjumpa, rambut orang tuaku kini sudah banyak beruban, dan wajah mereka sudah dipenuhi oleh gurat-gurat keriput sebagai penanda bahwa waktu telah banyak berlalu.Melihat orang tuaku yang semakin tua, hidungku terasa menyengat karena dorongan air mata.Beberapa tahun terakhir ini, Julio selalu menggunakan alasan perkembangan perusahaan untuk memaksaku bekerja lembur tanpa bayaran di masa liburan, itu berarti aku tidak pernah punya waktu luang untuk pulang bahkan pada saat hari raya, sehingga jarang bertemu

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 11

    "Julio, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan kau tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.""Sebelum hari ini, aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan, tapi kau tidak pernah menghargainya. Kesempatan terakhirmu sudah hilang pada hari kau dan Diana mendapatkan akta nikah kalian."Aku menarik koperku, lalu berjalan melewati Julio menuju terminal bus.Ekspresi panik terlintas di sorot mata Julio, dia hendak mengejarku saat itu."Novia, tunggu sebentar. Kurasa kita perlu bicara ...."Detik berikutnya, sebuah suara erangan terdengar dari arah belakang.Saat menoleh, aku melihat Diana sedang memegangi perutnya, dan dalam posisi berjongkok di jalan menahan sakit."Kak Julio, sepertinya radang ususku kambuh lagi. Perutku sakit sekali. Apa kau bisa mengantarku ke rumah sakit?"Trik itu lagi!Dulu, Diana sering berpura-pura sakit untuk berperan sebagai wanita malang di depan Julio dan menjebakku, dia selalu berusaha untuk menciptakan keretakan di antara kami.Setiap kali selesai pergi d

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 10

    Aku tanpa sengaja mengaktifkan pengeras suara saat menekan tombol jawab.Pada detik berikutnya, suara orang tuaku terdengar dari ujung telepon."Sayang, kapan kau pulang? Ibumu sudah membuatkan pangsit kucai dan masakan daging favoritmu. Kami sudah menunggumu di rumah!""Sayang, Ibu juga sudah mengatur kencan buta buatmu. Dia putra sahabatnya Ibu, orangnya benar-benar bisa diandalkan dan bertanggung jawab!""Novia, apa kau akan pulang kampung?" Alis Julio seketika berkerut, ekspresinya penuh rasa terkejut.Setelah tersadar, dia baru menyadari koper di belakangku, dan jantungnya mendadak berdebar kencang."Kenapa kau membawa koper? Apa kau serius?""Dan apa maksudnya dengan jodoh? Kau sudah punya aku, tapi masih ingin pulang untuk mencari jodoh?"Aku mencibir dalam hati.Ukuran koper itu sangat besar, tetapi Julio baru menyadarinya sekarang. Sejak Diana muncul, dia memang selalu mengabaikan segala sesuatu tentangku.Dia selalu mengabaikan pengorbananku, kesukaanku, juga mengabaikan pro

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 9

    Julio memang selalu seperti ini. Dia sangat memercayai Diana yang baru dikenalnya kurang dari setahun, dan saking percayanya sampai memberitahu wanita itu kata sandi ponsel hingga semua rahasia perusahaan. Namun, dia selalu mencurigaiku, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama enam tahun. Dia selalu memeriksa setiap dokumen yang kuserahkan dengan sangat teliti, seolah takut aku menyimpan niat jahat yang tersembunyi.Aku merasa sikapnya itu sangat menggelikan."Terserah kau saja." Melihatku tidak bergeming, Julio yang emosi langsung menelepon staf SDM saat itu juga."Kalian, segera hubungi pengacara! Novia sudah memalsukan stempel perusahaan dan memalsukan surat pengunduran diri. Aku mau menuntutnya!" Staf SDM menyahut dengan nada penuh kebingungan."Surat pengunduran diri palsu? Pak Julio, sepertinya Anda sudah salah paham. Bu Novia sudah resmi mengundurkan diri kemarin.""Apa? Mengundurkan diri? Jadi, surat pengunduran dirinya asli, dan stempel perusahaannya juga asli?" Sekaran

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 8

    Aku selalu menghargai kerja keras Julio dalam mencari nafkah, jadi aku selalu berusaha menabung dan sebisa mungkin hidup hemat. Aku menggunakan sikat gigi sampai bulunya rusak, dan aku hanya memakai dua pasang kaus kaki seharga delapan ribu, meskipun sudah berlubang, aku memilih menambalnya daripada harus membeli baru.Namun, semua uang yang susah payah kutabung itu ternyata dihabiskan oleh Julio untuk Diana dan putrinya.Awalnya, aku mengira Julio hanya sedang banyak pengeluaran, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.Sampai hari di mana Julio dan Diana mendaftarkan pernikahan, aku baru mulai merasa ada yang tidak beres. Aku lalu pergi ke bank untuk memeriksa riwayat transaksi secara terperinci, dan justru menemukan bahwa sebagian besar uang yang dihabiskan oleh Julio untuk memenuhi kebutuhan Diana dan putrinya.Kalung senilai enam ratus juta, gaun mewah seharga satu miliar, hingga mainan seharga jutaan ... Julio membeli semua itu tanpa ragu sedikit pun.Sementara itu, aku sendiri haru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status