Partager

Bab 3

Auteur: Moura
Aku mengabaikannya.

Aku hanya menjawab orang tuaku.

"Ayah, Ibu, aku sudah putus dengan Julio. Aku akan mendengarkan kalian sekarang dan pulang untuk dijodohkan."

Orang tuaku sebenarnya memang tidak menyetujui hubunganku dan Julio, tetapi aku sendiri yang rela meninggalkan kampung halaman untuk bisa bersamanya.

Sekarang, tampaknya penilaian orang tuaku benar.

"Baguslah. Ayah dan Ibumu akan segera mencarikan jodoh untukmu!"

Setelah menutup telepon, aku langsung membeli tiket bus untuk besok, lalu naik taksi pulang ke rumah untuk mengemasi barang-barangku.

Saat sampai di pintu, aku mendengar suara tawa terbahak-bahak.

Aku mendorong pintu dan menemukan tiga pasang sepatu di area pintu masuk, sepatu dengan model yang serasi untuk orang tua dan anak.

Aku mengenali salah satu pasangnya sebagai milik Julio, dan sepatu itu adalah hadiah ulang tahun dari Diana, sepatu murah seharga dua puluh ribu per pasangnya.

Kualitas pengerjaannya kasar, dan bahannya pun murahan, namun Julio sangat menghargainya.

Sedangkan sepatu kulit mewah pesanan khusus yang kuhadiahkan untuknya dan seharga puluhan juta, kini justru dibiarkan berdebu tergeletak di sudut rak. Dia bahkan mengatakan kalau seleraku sangat buruk dan akan membuatnya malu jika dipakai keluar.

Dulu, aku sempat berpikir kalau seleraku memang benar-benar buruk, bahkan sampai harus meminta saran pada Diana tentang bagaimana cara memperbaiki selera berpakaian.

Sekarang aku menyadari bahwa Julio hanya tidak menyukai sepatu yang kuberikan padanya.

Aku menendang ketiga pasang sepatu itu ke samping dan berjalan masuk ke rumah.

Aku mendongak dan melihat Diana mengenakan gaun tidurku, dan bersantai di sofa sambil menonton TV, dia tampak seperti nyonya rumah yang asli.

Putrinya yang bernama Lia Aristio, sedang berlarian dengan bertelanjang kaki di atas karpet putih yang bersih.

Karpet itu dirajut oleh ibuku dengan susah payah dan memberikannya untukku. Namun sekarang, Lia telah mengotorinya dengan meninggalkan jejak kaki hitam di atasnya.

Yang benar-benar membuat tekanan darahku melonjak adalah dia juga melemparkan koleksi figur aksi milikku yang telah kukumpulkan dan kujaga dengan hati-hati ke lantai, beberapa di antaranya bahkan terlihat patah lengan dan kakinya.

Dengan penuh amarah, aku merebut kembali semua figur aksi itu dari tangan Lia dan menginterogasinya.

"Apa yang kalian lakukan di rumahku?"

Lia menjawab dengan angkuh, "Papa sudah izinkan!"

Pada detik berikutnya, Julio yang mendengar suara ribut, langsung berjalan keluar dari arah dapur.

Dia tidak pernah memasak selama ini, tetapi sekarang dia bersedia memasak untuk Diana dan putrinya.

"Lia, ada apa?"

Tepat saat Julio hendak memeluk Lia untuk menghiburnya, dia melihat keberadaanku dan gerakannya langsung terhenti seketika.

"Julio, kenapa aku tidak tahu kalau kau sudah jadi papa sekarang?"

Menghadapi pertanyaanku, Julio hanya tertegun sejenak, lalu berkata dengan santai.

"Lia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sejak kecil. Membiarkannya memanggilku Papa beberapa kali tidak akan jadi masalah, kan? Oh iya, kenapa kau tiba-tiba pulang?"

Aku merasa pertanyaan itu sangat lucu.

"Ini kan rumahku, memangnya aku tidak boleh pulang?"

"Sedangkan kau, tanpa izinku, berani sekali membawa mereka masuk ke sini?"

Julio kemudian berkata dengan lugas.

"Rumah Diana terlalu jauh dari sekolah Lia, tidak praktis kalau harus bolak-balik. Lama-lama bisa memengaruhi pelajaran Lia nanti."

"Kebetulan rumah kita dekat dengan sekolah Lia, jadi aku membawa mereka ke sini. Lagipula, rumah ini cukup besar. Sebelum Diana menemukan rumah yang cocok, mereka bisa tinggal di sini."

"Bagaimana kalau Diana tidak dapat menemukan rumah yang cocok?"

Julio memandang Diana dan putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Kalau begitu, mereka bisa tinggal di sini. Tinggal menambah dua set peralatan makan, beres."

Padahal sebelumnya, ketika aku ingin membawa orang tuaku untuk tinggal di rumah kami sementara waktu, Julio langsung menolaknya.

Julio mengatakan bahwa dia tidak terbiasa jika ada orang lain di rumah, dan bahwa dia mudah terbangun saat tidur sehingga akan merasa terganggu.

Sekarang dia justru menawarkan Diana dan putrinya untuk tinggal di rumah kami. Jadi, orang tuaku ternyata hanya dianggap sebagai orang luar.

Memikirkan hal itu, aku berkata dengan suara berat, "Aku tidak setuju mereka tinggal di sini."

Wajah Julio langsung menggelap dan suram.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 13

    "Novia, aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku. Aku sudah memecat Diana dan menghapus semua kontaknya. Aku bahkan sudah mengurus akta cerai dengannya. Aku berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan mereka seumur hidup.""Tolong, jangan marah lagi padaku. Ikut pulang denganku untuk mendaftarkan pernikahan kita. Boleh? Aku sudah mengecek lokasi pernikahan dan memesan gaun pengantin. Yang kurang sekarang hanyalah kau sebagai pengantin wanitanya ...." Melihat Julio datang, Roni langsung menundukkan kepala dengan wajah sedih dan segera bergeser ke samping untuk memberinya jalan.Tetapi, aku justru menahannya, lalu menggenggam tangannya dengan erat, dan berkata kepada Julio."Aku tidak akan pernah ikut bersamamu. Lagipula, kekasihku tidak akan pernah mengizinkanku pergi."Mata Roni langsung terbelalak lebar, dia merasa sangat tersanjung dan terkejut atas sikapku.Sedangkan Julio, dia tampak tidak percaya."Kekasih?""Novia, kau jelas-jelas pernah bilang kalau kau hanya mencintaiku, ba

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 12

    Dia benar-benar sudah keterlaluan dan menyepelekan diriku.Aku tidak membalas pesan Julio. Aku langsung memblokir nomornya dan menghapusnya dari daftar kontak.Setelah perjalanan bus selama empat jam, akhirnya aku tiba di kampung halaman.Orang tuaku sudah menunggu lama. Melihatku turun dari bus, mereka segera datang menyambutku dan mengambil alih koper bawaanku."Sayang, akhirnya kau sampai juga! Sudah bertahun-tahun, Ayah dan Ibu sudah rindu sekali padamu!" Setelah sekian lama tak berjumpa, rambut orang tuaku kini sudah banyak beruban, dan wajah mereka sudah dipenuhi oleh gurat-gurat keriput sebagai penanda bahwa waktu telah banyak berlalu.Melihat orang tuaku yang semakin tua, hidungku terasa menyengat karena dorongan air mata.Beberapa tahun terakhir ini, Julio selalu menggunakan alasan perkembangan perusahaan untuk memaksaku bekerja lembur tanpa bayaran di masa liburan, itu berarti aku tidak pernah punya waktu luang untuk pulang bahkan pada saat hari raya, sehingga jarang bertemu

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 11

    "Julio, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan kau tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.""Sebelum hari ini, aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan, tapi kau tidak pernah menghargainya. Kesempatan terakhirmu sudah hilang pada hari kau dan Diana mendapatkan akta nikah kalian."Aku menarik koperku, lalu berjalan melewati Julio menuju terminal bus.Ekspresi panik terlintas di sorot mata Julio, dia hendak mengejarku saat itu."Novia, tunggu sebentar. Kurasa kita perlu bicara ...."Detik berikutnya, sebuah suara erangan terdengar dari arah belakang.Saat menoleh, aku melihat Diana sedang memegangi perutnya, dan dalam posisi berjongkok di jalan menahan sakit."Kak Julio, sepertinya radang ususku kambuh lagi. Perutku sakit sekali. Apa kau bisa mengantarku ke rumah sakit?"Trik itu lagi!Dulu, Diana sering berpura-pura sakit untuk berperan sebagai wanita malang di depan Julio dan menjebakku, dia selalu berusaha untuk menciptakan keretakan di antara kami.Setiap kali selesai pergi d

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 10

    Aku tanpa sengaja mengaktifkan pengeras suara saat menekan tombol jawab.Pada detik berikutnya, suara orang tuaku terdengar dari ujung telepon."Sayang, kapan kau pulang? Ibumu sudah membuatkan pangsit kucai dan masakan daging favoritmu. Kami sudah menunggumu di rumah!""Sayang, Ibu juga sudah mengatur kencan buta buatmu. Dia putra sahabatnya Ibu, orangnya benar-benar bisa diandalkan dan bertanggung jawab!""Novia, apa kau akan pulang kampung?" Alis Julio seketika berkerut, ekspresinya penuh rasa terkejut.Setelah tersadar, dia baru menyadari koper di belakangku, dan jantungnya mendadak berdebar kencang."Kenapa kau membawa koper? Apa kau serius?""Dan apa maksudnya dengan jodoh? Kau sudah punya aku, tapi masih ingin pulang untuk mencari jodoh?"Aku mencibir dalam hati.Ukuran koper itu sangat besar, tetapi Julio baru menyadarinya sekarang. Sejak Diana muncul, dia memang selalu mengabaikan segala sesuatu tentangku.Dia selalu mengabaikan pengorbananku, kesukaanku, juga mengabaikan pro

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 9

    Julio memang selalu seperti ini. Dia sangat memercayai Diana yang baru dikenalnya kurang dari setahun, dan saking percayanya sampai memberitahu wanita itu kata sandi ponsel hingga semua rahasia perusahaan. Namun, dia selalu mencurigaiku, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama enam tahun. Dia selalu memeriksa setiap dokumen yang kuserahkan dengan sangat teliti, seolah takut aku menyimpan niat jahat yang tersembunyi.Aku merasa sikapnya itu sangat menggelikan."Terserah kau saja." Melihatku tidak bergeming, Julio yang emosi langsung menelepon staf SDM saat itu juga."Kalian, segera hubungi pengacara! Novia sudah memalsukan stempel perusahaan dan memalsukan surat pengunduran diri. Aku mau menuntutnya!" Staf SDM menyahut dengan nada penuh kebingungan."Surat pengunduran diri palsu? Pak Julio, sepertinya Anda sudah salah paham. Bu Novia sudah resmi mengundurkan diri kemarin.""Apa? Mengundurkan diri? Jadi, surat pengunduran dirinya asli, dan stempel perusahaannya juga asli?" Sekaran

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 8

    Aku selalu menghargai kerja keras Julio dalam mencari nafkah, jadi aku selalu berusaha menabung dan sebisa mungkin hidup hemat. Aku menggunakan sikat gigi sampai bulunya rusak, dan aku hanya memakai dua pasang kaus kaki seharga delapan ribu, meskipun sudah berlubang, aku memilih menambalnya daripada harus membeli baru.Namun, semua uang yang susah payah kutabung itu ternyata dihabiskan oleh Julio untuk Diana dan putrinya.Awalnya, aku mengira Julio hanya sedang banyak pengeluaran, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.Sampai hari di mana Julio dan Diana mendaftarkan pernikahan, aku baru mulai merasa ada yang tidak beres. Aku lalu pergi ke bank untuk memeriksa riwayat transaksi secara terperinci, dan justru menemukan bahwa sebagian besar uang yang dihabiskan oleh Julio untuk memenuhi kebutuhan Diana dan putrinya.Kalung senilai enam ratus juta, gaun mewah seharga satu miliar, hingga mainan seharga jutaan ... Julio membeli semua itu tanpa ragu sedikit pun.Sementara itu, aku sendiri haru

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status