LOGINAku dan Kemal Harlan sudah menjalani proses persidangan perceraian selama setengah tahun penuh. Dahulu, kami adalah pasangan suami istri muda yang membuat seluruh Kota Juna iri. Kini, kami justru menjadi pasangan suami istri yang dikenal luas karena saling membenci. Setengah jam sebelum sidang ketiga dimulai, Kemal mengajakku bertemu. Dia memijat pelipisnya, raut wajahnya tampak begitu lelah. “Sudah waktunya kita akhiri sandiwara ini. Larissa sudah nggak bisa menunggu lagi.” “Berapa pun uang yang kamu mau, akan kuberikan.” Aku bahkan belum sempat membuka mulut. Ponselnya sudah berdering nyaring tanpa henti. Kemal mengangkat telepon itu. Tanpa disadarinya, senyum lembut muncul di wajahnya. “Tenang saja, nggak merepotkan. Paling cuma kasih dia sedikit uang tambahan.” “Aku sebentar lagi selesai. Tunggu aku di rumah, ya.” Aku menatap wajah yang begitu kukenal sekaligus terasa asing itu. Saat itu, entah kenapa, seluruh tenagaku seolah terkuras. “Sudahlah.” “Kemal, kita nggak perlu melanjutkan persidangan ini. Aku setuju bercerai.”
View MoreRambutnya berantakan dan menempel di dahinya, sementara rongga matanya tampak cekung.Wajahnya pucat keabu-abuan, seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah.Bibirnya pecah-pecah dan janggut pendek di dagunya tampak menghitam.Sekilas kepanikan melintas di matanya. Dia refleks mengangkat tangan, berusaha menutupi wajahnya.Namun, sudah terlambat.Orang-orang di sekitar mulai berhenti dan memperhatikannya.“Bukankah itu Kemal?”“Sepertinya iya. Astaga, kenapa dia jadi seperti itu?”“Cepat foto, cepat! Itu bos Sentara yang ketahuan berselingkuh.”Bisik-bisik dengan cepat menyebar ke sekeliling.Semakin banyak orang mengangkat ponsel untuk memotret dan merekamnya.Kerumunan pun kian banyak, mengelilinginya di tengah.Beberapa pengelola media independen yang cepat mencium peluang sudah menyiapkan peralatan portabel dan mulai melakukan siaran langsung.Aku mengangkat sudut bibir dan tersenyum kepadanya.“Kalau begitu, sekarang rasakan sendiri gimana rasanya jadi sasaran perundungan di
Aku kembali ke rumah dan mulai mengemasi barang-barang.Jejak tujuh tahun itu kusimpan satu per satu ke dalam beberapa kardus.Kerudung pengantin yang kupakai saat menikah sudah menguning.Peralatan makan yang dulu kami pilih bersama, salah satunya sudah pecah. Aku juga tidak menginginkan sisanya lagi.Suvenir yang kami beli saat bulan madu sudah tertutup debu.Aku tidak menginginkan semua barang itu lagi. Hanya sedikit yang bisa kubawa.Namun, ada begitu banyak hal yang masih teringat.Ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang manis, ada pula yang menyakitkan.Namun, tak apa. Kelak, semuanya akan kulupakan.Hari keberangkatanku kebetulan jatuh pada hari yang cerah, sesuatu yang jarang terjadi.Langit tampak begitu biru, sementara sinar matahari memenuhi seluruh ruang bandara.Aku menarik koper menuju pemeriksaan keamanan. Langkahku terasa begitu ringan, hingga rasanya aku tidak sedang pergi ke negeri asing.Sebaliknya, rasanya seperti baru saja melepaskan beban yang telah kupanggul begi
Sejumlah mitra kerja mengumumkan penghentian seluruh kerja sama mereka dengan Sentara secara mendadak.Bank mulai memperketat pemberian pinjaman, sementara para pemasok berdatangan untuk menagih pembayaran.Kekaisaran Sentara yang dulu begitu berjaya mulai runtuh sedikit demi sedikit.Larissa pun panik. Semalaman, dia mengunggah beberapa tulisan panjang.Dia menulis di akun sosial medianya sambil menangis,[Kemal hanya terlalu baik. Dia selalu terbiasa menanggung semua kesalahan seorang diri.][Semua pernyataan itu dibuat karena dia dipaksa, bukan karena keinginannya sendiri.][Tolong jangan sampai kalian terpengaruh opini publik dan menyakiti orang yang baik.]Namun, tak lama setelah diunggah, semua tulisan panjang itu menghilang.Pihak platform memberikan alasan bahwa mereka menerima laporan dari pemegang hak karena kontennya tidak benar.Pihak yang melaporkannya ternyata adalah perusahaan Kemal sendiri.Kabarnya, Larissa begitu marah hingga langsung menerobos masuk ke kantor Kemal.
Dia berdiri di ambang pintu, wajahnya muram seperti langit sebelum badai.Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Larissa begitu kuat hingga perempuan itu meringis kesakitan.“Apa yang kamu lakukan?”Suaranya rendah dan berat. Setiap kata seolah keluar dari sela-sela giginya.Tatapannya sedingin permukaan danau yang membeku, tanpa sedikit pun kehangatan.Namun, kali ini tatapan dingin itu tertuju kepada Larissa.Larissa langsung gemetar. Sikap angkuhnya pun seketika sirna.Dia menggigit bibir. Matanya segera memerah dan air matanya mulai menggenang.“Aku cuma nggak tega melihat mereka memakimu seperti itu di internet ....”“Kamu tahu betapa sakit hatinya aku melihatmu seperti ini? Aku cuma nggak tahan, makanya aku datang mencarinya.”Suaranya terdengar terisak, lembut hingga seolah akan meleleh.Wajah memelas itu benar-benar berbeda dari perempuan yang tadi mengamuk dan menghancurkan barang-barangku.Kemal melepaskan pergelangan tangannya, lalu mengusap dahinya.“Ini nggak ada hubung












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.