Share

Bab 4

Author: Moura
"Novia, bagaimana mungkin kau bisa tidak punya rasa belas kasihan?"

Aku membalas dengan tawa dingin.

"Aku memang tidak bisa sebaikmu, sangat baik sampai kau rela bukan hanya mendaftarkan pernikahan dengan asistenmu itu, tapi juga membawa dia dan putrinya untuk tinggal di rumah kita."

Saat itu, Diana yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba berbicara.

Matanya merah saat melepas gaun tidur yang dia pakai, lalu berkata dengan raut wajah yang tampak lemah.

"Kak Novia, Kak Julio, tolong jangan bertengkar karena aku!"

"Karena Kak Novia tidak ingin kami tinggal di sini, aku akan membawa Lia pergi sekarang juga. Paling-paling Lia akan sedikit kelelahan saja saat pulang-pergi ke sekolah. Kak Julio, aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau membantu mengurus Kartu Keluarga untuk Lia, aku tidak berani meminta lebih ...."

Saat berbicara, dia bertukar pandang dengan Lia. Dan pada detik berikutnya, Lia sudah menerjang maju dan menggigit betisku dengan keras hingga berdarah.

Namun, Lia merasa belum puas meluapkan emosi, dia lalu mengepalkan tangan kecilnya dan mulai memukuliku.

"Dasar orang jahat, kenapa kau mengusirku dan Mama? Ini rumahku, kau yang harus pergi dari sini!"

Baru setelah Lia memukuliku sampai kulitku memerah, Diana maju dan membawanya menjauh.

"Kak Novia, anak ini belum tahu apa-apa, tolong jangan marah."

Sebelum aku sempat bicara, Julio sudah menyela.

"Diana, kau dan Lia bisa tinggal di sini dengan tenang."

"Novia, Diana merasa bersalah karena sudah merebut akta nikahmu, jadi dia membelikanmu hadiah untuk meminta maaf, tapi kau malah bersikap picik begini. Menurutku, kau sangat tidak masuk akal!"

Aku melihat ke arah yang ditunjuknya, dan melihat setengah kue telur yang sudah dimakan.

Aku langsung berkata dingin.

"Aku alergi telur, tidak bisa makan itu. Lagipula, aku ini bukan tempat sampah, dan tidak punya kebiasaan mendaur ulang sampah."

Mata Diana tampak berkaca-kaca.

"Kak Julio, aku tahu Kak Novia pasti menganggap hadiahku murahan, tapi ini hadiah yang terbaik yang bisa kuberikan. Kalau Kak Novia memang tidak suka, bilang saja terus terang. Kenapa dia harus menghinaku begitu?"

Ekspresi Julio tampak tidak senang dan langsung menyodorkan sisa kue telur itu ke dalam mulutku.

"Diana sudah berniat baik memberikan ini padamu, tapi kau malah menghinanya?"

"Kau bahkan bisa mengarang alasan konyol begitu? Aku mau lihat apakah kau benar-benar alergi pada telur!"

Aku tidak sempat menghindar, sehingga mulutku menjadi belepotan dengan lumatan kue telur. Aroma amis telur langsung menyengat hidungku dan membuatku tersedak. Aku akhirnya berhasil memuntahkan kue itu setelah waktu yang cukup lama.

Saat aku tersadar, tubuhku sudah dipenuhi oleh ruam merah yang gatal.

Julio kemudian baru teringat bahwa aku memang alergi pada telur, dan rasa bersalah terlintas di sorot matanya.

"Novia, aku ...."

Namun, aku sudah tak ingin mendengarkan omong kosongnya lagi, lalu langsung berbalik dan berjalan masuk ke kamar.

Julio mengikuti langkahku masuk, suaranya terdengar lembut.

"Novia, aku tadi hanya sangat marah sampai lupa soal alergimu. Maafkan aku."

Aku heran mengapa Julio tiba-tiba bisa menjadi begitu lembut, dan niat sebenarnya langsung terungkap di detik berikutnya.

"Tapi, apa kau bisa mengijinkan Diana dan Lia tinggal di sini untuk sementara?"

"Begitu Diana menemukan tempat tinggal, aku berjanji akan menyuruh mereka pindah dari sini. Setelah itu, kita bisa langsung mendaftarkan pernikahan ini, bagaimana?"

Jadi, semuanya tetap demi Diana.

Aku menepis tangan Julio.

"Tidak perlu repot-repot. Aku akan pindah sekarang agar kalian bertiga bisa tinggal bersama di sini sebagai keluarga."

Setelah itu, aku menundukkan kepala dan mulai mengemasi barang-barangku.

Julio benar-benar marah.

"Novia, aku sudah menyerah. Apa lagi yang kau mau? Kalau kau terus membuat keributan seperti ini, percayalah kalau aku akan memutuskan hubungan denganmu!"

Mendengar itu, aku hanya tersenyum dingin. "Kebetulan sekali, aku juga berpikir seperti itu. Ayo kita putus."

Julio seketika tercengang. Awalnya, dia hanya ingin membuatku mengalah seperti dulu dengan ancaman putus, tetapi dia tidak menyangka kalau aku akan langsung menyetujuinya.

"Novia, kau sadar apa yang kau katakan tadi?"

Aku mengangguk dengan mantap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 13

    "Novia, aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku. Aku sudah memecat Diana dan menghapus semua kontaknya. Aku bahkan sudah mengurus akta cerai dengannya. Aku berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan mereka seumur hidup.""Tolong, jangan marah lagi padaku. Ikut pulang denganku untuk mendaftarkan pernikahan kita. Boleh? Aku sudah mengecek lokasi pernikahan dan memesan gaun pengantin. Yang kurang sekarang hanyalah kau sebagai pengantin wanitanya ...." Melihat Julio datang, Roni langsung menundukkan kepala dengan wajah sedih dan segera bergeser ke samping untuk memberinya jalan.Tetapi, aku justru menahannya, lalu menggenggam tangannya dengan erat, dan berkata kepada Julio."Aku tidak akan pernah ikut bersamamu. Lagipula, kekasihku tidak akan pernah mengizinkanku pergi."Mata Roni langsung terbelalak lebar, dia merasa sangat tersanjung dan terkejut atas sikapku.Sedangkan Julio, dia tampak tidak percaya."Kekasih?""Novia, kau jelas-jelas pernah bilang kalau kau hanya mencintaiku, ba

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 12

    Dia benar-benar sudah keterlaluan dan menyepelekan diriku.Aku tidak membalas pesan Julio. Aku langsung memblokir nomornya dan menghapusnya dari daftar kontak.Setelah perjalanan bus selama empat jam, akhirnya aku tiba di kampung halaman.Orang tuaku sudah menunggu lama. Melihatku turun dari bus, mereka segera datang menyambutku dan mengambil alih koper bawaanku."Sayang, akhirnya kau sampai juga! Sudah bertahun-tahun, Ayah dan Ibu sudah rindu sekali padamu!" Setelah sekian lama tak berjumpa, rambut orang tuaku kini sudah banyak beruban, dan wajah mereka sudah dipenuhi oleh gurat-gurat keriput sebagai penanda bahwa waktu telah banyak berlalu.Melihat orang tuaku yang semakin tua, hidungku terasa menyengat karena dorongan air mata.Beberapa tahun terakhir ini, Julio selalu menggunakan alasan perkembangan perusahaan untuk memaksaku bekerja lembur tanpa bayaran di masa liburan, itu berarti aku tidak pernah punya waktu luang untuk pulang bahkan pada saat hari raya, sehingga jarang bertemu

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 11

    "Julio, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan kau tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.""Sebelum hari ini, aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan, tapi kau tidak pernah menghargainya. Kesempatan terakhirmu sudah hilang pada hari kau dan Diana mendapatkan akta nikah kalian."Aku menarik koperku, lalu berjalan melewati Julio menuju terminal bus.Ekspresi panik terlintas di sorot mata Julio, dia hendak mengejarku saat itu."Novia, tunggu sebentar. Kurasa kita perlu bicara ...."Detik berikutnya, sebuah suara erangan terdengar dari arah belakang.Saat menoleh, aku melihat Diana sedang memegangi perutnya, dan dalam posisi berjongkok di jalan menahan sakit."Kak Julio, sepertinya radang ususku kambuh lagi. Perutku sakit sekali. Apa kau bisa mengantarku ke rumah sakit?"Trik itu lagi!Dulu, Diana sering berpura-pura sakit untuk berperan sebagai wanita malang di depan Julio dan menjebakku, dia selalu berusaha untuk menciptakan keretakan di antara kami.Setiap kali selesai pergi d

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 10

    Aku tanpa sengaja mengaktifkan pengeras suara saat menekan tombol jawab.Pada detik berikutnya, suara orang tuaku terdengar dari ujung telepon."Sayang, kapan kau pulang? Ibumu sudah membuatkan pangsit kucai dan masakan daging favoritmu. Kami sudah menunggumu di rumah!""Sayang, Ibu juga sudah mengatur kencan buta buatmu. Dia putra sahabatnya Ibu, orangnya benar-benar bisa diandalkan dan bertanggung jawab!""Novia, apa kau akan pulang kampung?" Alis Julio seketika berkerut, ekspresinya penuh rasa terkejut.Setelah tersadar, dia baru menyadari koper di belakangku, dan jantungnya mendadak berdebar kencang."Kenapa kau membawa koper? Apa kau serius?""Dan apa maksudnya dengan jodoh? Kau sudah punya aku, tapi masih ingin pulang untuk mencari jodoh?"Aku mencibir dalam hati.Ukuran koper itu sangat besar, tetapi Julio baru menyadarinya sekarang. Sejak Diana muncul, dia memang selalu mengabaikan segala sesuatu tentangku.Dia selalu mengabaikan pengorbananku, kesukaanku, juga mengabaikan pro

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 9

    Julio memang selalu seperti ini. Dia sangat memercayai Diana yang baru dikenalnya kurang dari setahun, dan saking percayanya sampai memberitahu wanita itu kata sandi ponsel hingga semua rahasia perusahaan. Namun, dia selalu mencurigaiku, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama enam tahun. Dia selalu memeriksa setiap dokumen yang kuserahkan dengan sangat teliti, seolah takut aku menyimpan niat jahat yang tersembunyi.Aku merasa sikapnya itu sangat menggelikan."Terserah kau saja." Melihatku tidak bergeming, Julio yang emosi langsung menelepon staf SDM saat itu juga."Kalian, segera hubungi pengacara! Novia sudah memalsukan stempel perusahaan dan memalsukan surat pengunduran diri. Aku mau menuntutnya!" Staf SDM menyahut dengan nada penuh kebingungan."Surat pengunduran diri palsu? Pak Julio, sepertinya Anda sudah salah paham. Bu Novia sudah resmi mengundurkan diri kemarin.""Apa? Mengundurkan diri? Jadi, surat pengunduran dirinya asli, dan stempel perusahaannya juga asli?" Sekaran

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 8

    Aku selalu menghargai kerja keras Julio dalam mencari nafkah, jadi aku selalu berusaha menabung dan sebisa mungkin hidup hemat. Aku menggunakan sikat gigi sampai bulunya rusak, dan aku hanya memakai dua pasang kaus kaki seharga delapan ribu, meskipun sudah berlubang, aku memilih menambalnya daripada harus membeli baru.Namun, semua uang yang susah payah kutabung itu ternyata dihabiskan oleh Julio untuk Diana dan putrinya.Awalnya, aku mengira Julio hanya sedang banyak pengeluaran, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.Sampai hari di mana Julio dan Diana mendaftarkan pernikahan, aku baru mulai merasa ada yang tidak beres. Aku lalu pergi ke bank untuk memeriksa riwayat transaksi secara terperinci, dan justru menemukan bahwa sebagian besar uang yang dihabiskan oleh Julio untuk memenuhi kebutuhan Diana dan putrinya.Kalung senilai enam ratus juta, gaun mewah seharga satu miliar, hingga mainan seharga jutaan ... Julio membeli semua itu tanpa ragu sedikit pun.Sementara itu, aku sendiri haru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status