Partager

Bab 5

Auteur: Moura
"Bukannya kau sendiri yang bilang ingin putus? Aku sudah setuju, lalu apa masalahnya?"

Julio langsung terdiam, wajahnya memerah karena amarah.

Diana dan putrinya yang berada di ruang tamu mendengar keributan itu, mereka kemudian mendadak ikut masuk ke kamar.

Diana berkata dengan penuh kemunafikan.

"Kak Novia, aku tidak menyangka kau sampai tega memutuskan hubungan dengan Kak Julio hanya untuk memaksa kami pergi."

"Aku akan membawa Lia pergi sekarang juga, daripada membuat masalah di sini."

Diana menggendong Lia dan bergegas pergi keluar pintu. Julio sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengejar mereka keluar.

Sebelum pergi, dia tidak lupa mengatakan sesuatu yang menyakitkan. "Novia, kalau kau mau putus, ya sudah putus saja! Kalau kau mau pergi, pergi saja. Aku mau lihat berapa lama kau bisa merajuk seperti itu!"

Julio mengira pelarianku kali ini hanyalah luapan kekesalanku seperti yang biasa terjadi.

Aku masih ingat saat Julio memaksaku menanggung kesalahan Diana. Kami sampai bertengkar hebat, dan aku kabur dari rumah karena marah.

Julio mencariku cukup lama sebelum akhirnya berhasil menemukanku. Dia memelukku erat-erat sambil menangis tersedu-sedu.

"Novia, aku hanya mengkhawatirkan kondisi Diana dan tentang siapa yang akan merawat anaknya jika sesuatu terjadi padanya, itulah sebabnya aku terpaksa menyalahkanmu. Aku bersalah karena tidak mempertimbangkan perasaanmu, tapi aku benar-benar tidak bisa hanya tinggal diam melihat orang lain dalam kesulitan. Maafkan aku, ya?"

Melihat permintaan maafnya yang tulus, aku pun memaafkannya.

Julio mengira aku hanya sedang keras kepala kali ini. Dan hanya dengan sedikit bujukan, aku pasti akan langsung kembali ke sisinya nanti.

Tetapi, dia salah perhitungan. Kali ini, aku benar-benar bertekad untuk pergi dan tidak menginginkannya lagi.

Setelah Julio pergi, aku mengemasi barang-barangku.

Aku melepas semua foto bersama kami yang berjumlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan lembar dari dinding dan langsung membakarnya.

Aku pergi ke halaman belakang dan menatap kosong ke arah tanaman anggur dan ayunan yang terikat di atasnya.

Karena aku menyukai anggur, maka Julio menanam pohon anggur untukku di halaman dan membangunkan sebuah ayunan agar kami bisa berayun bersama di sana saat musim panas.

Namun sekarang, semuanya telah berubah.

Aku mengambil sebuah kapak, lalu menebang pohon anggur dan menghancurkan ayunan itu.

Bersamaan dengan itu, telah berakhir pula hubungan enam tahunku dengan Julio.

Setelah itu, aku membawa sertifikat kepemilikan rumah ke agen properti untuk menjual rumah tersebut.

Aku yang membayar rumah itu secara tunai, dan terdaftar atas namaku, jadi proses menjualnya tidak akan sulit.

Pihak agen properti tersebut dengan cepat menyelesaikan semua prosedur dan langsung memasang iklan rumahku secara daring.

Setelah meninggalkan kantor agen properti, aku pergi ke kantor untuk memproses pengunduran diriku ke bagian SDM.

Mereka mengatakan bahwa aku memerlukan persetujuan Julio agar pengunduran diriku dapat diproses, sehingga aku harus menghubunginya.

Tetapi, dia sama sekali tidak menjawab walaupun aku sudah meneleponnya belasan kali.

Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya bagian SDM menghubunginya sendiri, dan kali ini dia langsung menjawab panggilan tersebut.

"Pak Julio, Bu Novia, dia ...."

"Stempel perusahaan ada di laci. Terserah dia mau melakukan apa pun, kau urus saja. Aku sedang sibuk. Jangan ganggu dengan masalah sepele seperti itu."

Sebelum staf SDM sempat bereaksi, Julio sudah menutup telepon.

Karena Julio sudah setuju, maka staf SDM tidak bisa berkata apa-apa lagi dan langsung memproses surat pengunduran diriku.

Namun sedetik kemudian, aku justru menerima sebuah pesan pribadi yang bernada provokatif dari Diana.

Dalam foto tersebut, Julio yang biasanya takut pada ketinggian, kini terlihat menemani Diana dan putrinya menaiki wahana halilintar di taman hiburan.

Keterangan fotonya dilengkapi takarir: [Orang pintar tahu kapan harus mundur.]

Pantas saja Julio mengatakan kalau dia sedang sibuk dan langsung setuju tanpa bertanya lagi. Dia memang sedang sibuk menghabiskan waktu bersama Diana dan putrinya.

Aku tersenyum dingin dan membalas pesannya: [Ada orang-orang yang memang suka memungut sampah, jadi aku akan mengabulkan keinginannya dengan senang hati.]

Setelah menyelesaikan serah terima pekerjaan, aku langsung pergi meninggalkan kantor.

Begitu melangkah keluar dari pintu kantor, agen properti mengirim pesan.

[Nona Novia, sudah ada pembeli untuk rumah Anda. Berkas-berkasnya sudah bisa ditandatangani besok.]

[Baik, terima kasih.]

Setelah itu, aku naik taksi dan pulang ke rumah.

Selama perjalanan pulang, Diana tak henti-hentinya mengirimkan rangkaian foto Julio bersama dia dan putrinya yang sedang bermain bersama.

[Kak Julio menemaniku dan Lia naik bianglala. Semua orang mengira kalau kami bertiga adalah sebuah keluarga bahagia!]

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 13

    "Novia, aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku. Aku sudah memecat Diana dan menghapus semua kontaknya. Aku bahkan sudah mengurus akta cerai dengannya. Aku berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan mereka seumur hidup.""Tolong, jangan marah lagi padaku. Ikut pulang denganku untuk mendaftarkan pernikahan kita. Boleh? Aku sudah mengecek lokasi pernikahan dan memesan gaun pengantin. Yang kurang sekarang hanyalah kau sebagai pengantin wanitanya ...." Melihat Julio datang, Roni langsung menundukkan kepala dengan wajah sedih dan segera bergeser ke samping untuk memberinya jalan.Tetapi, aku justru menahannya, lalu menggenggam tangannya dengan erat, dan berkata kepada Julio."Aku tidak akan pernah ikut bersamamu. Lagipula, kekasihku tidak akan pernah mengizinkanku pergi."Mata Roni langsung terbelalak lebar, dia merasa sangat tersanjung dan terkejut atas sikapku.Sedangkan Julio, dia tampak tidak percaya."Kekasih?""Novia, kau jelas-jelas pernah bilang kalau kau hanya mencintaiku, ba

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 12

    Dia benar-benar sudah keterlaluan dan menyepelekan diriku.Aku tidak membalas pesan Julio. Aku langsung memblokir nomornya dan menghapusnya dari daftar kontak.Setelah perjalanan bus selama empat jam, akhirnya aku tiba di kampung halaman.Orang tuaku sudah menunggu lama. Melihatku turun dari bus, mereka segera datang menyambutku dan mengambil alih koper bawaanku."Sayang, akhirnya kau sampai juga! Sudah bertahun-tahun, Ayah dan Ibu sudah rindu sekali padamu!" Setelah sekian lama tak berjumpa, rambut orang tuaku kini sudah banyak beruban, dan wajah mereka sudah dipenuhi oleh gurat-gurat keriput sebagai penanda bahwa waktu telah banyak berlalu.Melihat orang tuaku yang semakin tua, hidungku terasa menyengat karena dorongan air mata.Beberapa tahun terakhir ini, Julio selalu menggunakan alasan perkembangan perusahaan untuk memaksaku bekerja lembur tanpa bayaran di masa liburan, itu berarti aku tidak pernah punya waktu luang untuk pulang bahkan pada saat hari raya, sehingga jarang bertemu

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 11

    "Julio, aku tidak akan pernah memaafkanmu, dan kau tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.""Sebelum hari ini, aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan, tapi kau tidak pernah menghargainya. Kesempatan terakhirmu sudah hilang pada hari kau dan Diana mendapatkan akta nikah kalian."Aku menarik koperku, lalu berjalan melewati Julio menuju terminal bus.Ekspresi panik terlintas di sorot mata Julio, dia hendak mengejarku saat itu."Novia, tunggu sebentar. Kurasa kita perlu bicara ...."Detik berikutnya, sebuah suara erangan terdengar dari arah belakang.Saat menoleh, aku melihat Diana sedang memegangi perutnya, dan dalam posisi berjongkok di jalan menahan sakit."Kak Julio, sepertinya radang ususku kambuh lagi. Perutku sakit sekali. Apa kau bisa mengantarku ke rumah sakit?"Trik itu lagi!Dulu, Diana sering berpura-pura sakit untuk berperan sebagai wanita malang di depan Julio dan menjebakku, dia selalu berusaha untuk menciptakan keretakan di antara kami.Setiap kali selesai pergi d

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 10

    Aku tanpa sengaja mengaktifkan pengeras suara saat menekan tombol jawab.Pada detik berikutnya, suara orang tuaku terdengar dari ujung telepon."Sayang, kapan kau pulang? Ibumu sudah membuatkan pangsit kucai dan masakan daging favoritmu. Kami sudah menunggumu di rumah!""Sayang, Ibu juga sudah mengatur kencan buta buatmu. Dia putra sahabatnya Ibu, orangnya benar-benar bisa diandalkan dan bertanggung jawab!""Novia, apa kau akan pulang kampung?" Alis Julio seketika berkerut, ekspresinya penuh rasa terkejut.Setelah tersadar, dia baru menyadari koper di belakangku, dan jantungnya mendadak berdebar kencang."Kenapa kau membawa koper? Apa kau serius?""Dan apa maksudnya dengan jodoh? Kau sudah punya aku, tapi masih ingin pulang untuk mencari jodoh?"Aku mencibir dalam hati.Ukuran koper itu sangat besar, tetapi Julio baru menyadarinya sekarang. Sejak Diana muncul, dia memang selalu mengabaikan segala sesuatu tentangku.Dia selalu mengabaikan pengorbananku, kesukaanku, juga mengabaikan pro

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 9

    Julio memang selalu seperti ini. Dia sangat memercayai Diana yang baru dikenalnya kurang dari setahun, dan saking percayanya sampai memberitahu wanita itu kata sandi ponsel hingga semua rahasia perusahaan. Namun, dia selalu mencurigaiku, wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama enam tahun. Dia selalu memeriksa setiap dokumen yang kuserahkan dengan sangat teliti, seolah takut aku menyimpan niat jahat yang tersembunyi.Aku merasa sikapnya itu sangat menggelikan."Terserah kau saja." Melihatku tidak bergeming, Julio yang emosi langsung menelepon staf SDM saat itu juga."Kalian, segera hubungi pengacara! Novia sudah memalsukan stempel perusahaan dan memalsukan surat pengunduran diri. Aku mau menuntutnya!" Staf SDM menyahut dengan nada penuh kebingungan."Surat pengunduran diri palsu? Pak Julio, sepertinya Anda sudah salah paham. Bu Novia sudah resmi mengundurkan diri kemarin.""Apa? Mengundurkan diri? Jadi, surat pengunduran dirinya asli, dan stempel perusahaannya juga asli?" Sekaran

  • Cinta Yang Terpenjara Muslihat dan Ancaman   Bab 8

    Aku selalu menghargai kerja keras Julio dalam mencari nafkah, jadi aku selalu berusaha menabung dan sebisa mungkin hidup hemat. Aku menggunakan sikat gigi sampai bulunya rusak, dan aku hanya memakai dua pasang kaus kaki seharga delapan ribu, meskipun sudah berlubang, aku memilih menambalnya daripada harus membeli baru.Namun, semua uang yang susah payah kutabung itu ternyata dihabiskan oleh Julio untuk Diana dan putrinya.Awalnya, aku mengira Julio hanya sedang banyak pengeluaran, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.Sampai hari di mana Julio dan Diana mendaftarkan pernikahan, aku baru mulai merasa ada yang tidak beres. Aku lalu pergi ke bank untuk memeriksa riwayat transaksi secara terperinci, dan justru menemukan bahwa sebagian besar uang yang dihabiskan oleh Julio untuk memenuhi kebutuhan Diana dan putrinya.Kalung senilai enam ratus juta, gaun mewah seharga satu miliar, hingga mainan seharga jutaan ... Julio membeli semua itu tanpa ragu sedikit pun.Sementara itu, aku sendiri haru

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status