Share

71. Frustasi

Author: MyMelody
last update Petsa ng paglalathala: 2024-09-20 23:44:55

“Jawab, sayang …, kamu masih cinta sama aku atau tidak?” rajuk Natalia dengan manja.

Gabriel meraih bahu Natalia dan memeluk lembut istrinya.

“Kamu ngomong apa sih, Natalia? Tentu saja aku mencintaimu.”

Mendengar kata-kata yang menenangkan dari suaminya, Natalia tersenyum lebar dari balik pelukan Gabriel. Kini dia bisa bernapas lega mendengar pengakuan langsung dari mulut suaminya.

Gabriel mendorong tubuh Natalia dengan pelan. “Aku harus siap-siap ke kantor sekarang.”

“Bisakah kamu mengantarka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (27)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Setelah merasakan emak2 dengan Grace sampe melupakan enaknya dengan Nathalie emang ya laki2
goodnovel comment avatar
Lestari Arsyila
gabriel ni plin plan bgt sih
goodnovel comment avatar
Anie Nhie
Gak ada puasnya si Gabriel,,, sana sini mau🫠🫠
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   166. Partner Baru

    Setelah menerima pesan singkat dari Gabriel yang terbaca di layar gawai beberapa jam lalu, Natalia hanya bisa mengunci kembali ponselnya dengan gerakan berdarah dingin. Sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibirnya—pahit dan penuh ketidakpercayaan."Mencintaiku, katanya?" gumam Natalia lirih pada dinding ruangan yang bisu.Ia mendengus pelan, menatap lurus pada pantulan dirinya di jendela kaca besar. Jika kata 'cinta' itu memang memiliki bobot yang nyata, seharusnya Gabriel mengucapkannya langsung di hadapannya, menatap sepasang matanya yang lelah, bukan menyembunyikannya di balik untaian karakter digital setelah malam yang hancur. Bagi Natalia, pesan itu tak lebih dari sekadar penawar rasa bersalah yang murahan."Aku dan Gabriel perlu menjaga jarak beberapa hari ini. Semoga dengan cara ini, aku dan dia kembali dekat seperti semula."Natalia mengusap wajahnya pelan. Harapan kecil muncul di hatinya. Dia ingin Gabriel sadar bahwa kepergiannya sesaat, akan menyadarkan Gabriel arti ke

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   165. Harum

    Erangan yang lolos dari belah bibirku seolah menjadi bahan bakar baru bagi Gabriel. Sentuhan lembut yang semula penuh kehati-hatian kini berubah menjadi sebuah tuntutan yang mendamba. Pria itu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap bibir bawahku yang basah sebelum akhirnya dia menunduk dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang dalam dan memabukkan."Kamu selalu seharum ini, Grace," bisik Gabriel di sela-sela pagutan kami, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan gairah. "Aroma tubuhmu selalu berhasil membuatku kehilangan arah."Aku tidak mampu membalas dengan kata-kata yang runtun. Tanganku bergerak naik, menyusup ke dalam rambut tebalnya, mencengkeramnya erat seiring dengan ciumannya yang semakin menuntut. Lidah kami saling bertautan, bertukar kehangatan yang segera menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Rasa haus yang terpendam selama berhari-hari kini pecah begitu saja.Perlahan, Gabriel menuntun tanganku turun, membawanya menyusuri dadanya yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   164. Biarkan Sebentar

    Sepatu pantofel Gabriel mengetuk lantai pualam dengan ragu saat dia melangkah melewati ambang pintu. Kehangatan pendingin ruangan langsung menyapu sisa-sisa hawa dingin jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku.Tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang menahannya agar tidak hancur. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang b

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   163. Malam Tanpa Jawaban

    Rumah itu terlalu sunyi.Gabriel berdiri di depan jendela kamar, menatap jalan di bawah yang basah setelah gerimis tipis. Netranya memperhatikan setiap pasang lampu mobil yang menikung masuk ke kompleks, dan setiap bayangan yang bergerak, menunggu seorang yang belum kembali juga.Natalia belum pulang."Kamu ke mana, Nat?" bisik Gabriel cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membuat secangkir kopi. Gabriel akan bergadang sambil menunggu kepulangan istrinya.Aroma kopi memenuhi ruang dapur, Gabriel menuangkan kopi ke dalam sebuah cangkir berukuran besar, dan kembali naik ke lantai atas."Semoga Natalia pulang sebentar lain," ucap Gabriel sambil berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menyesap kopi pahit itu.Jam di dinding menunjukkan angka yang semakin tidak masuk akal untuk seseorang yang belum tidur. Ponselnya ia angkat dan turunkan berkali-kali—layarnya penuh riwayat panggilan keluar dengan satu nama yang sama, semua berakhir dengan nada tunggu yang panjang sebelum

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   162. Jelaskan

    Jarum speedometer merayap ke angka yang tidak pernah Natalia sentuh saat dalam keadaan normal.Tangannya mencengkeram setir dengan cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dipegang—sesuatu yang tidak akan pergi, diam, atau tidak akan menatapnya dengan wajah kosong ketika ia bertanya apakah ia masih dicintai.Lampu jalan meluncur lewat layaknya bintang yang jatuh ke arah yang salah.Di dalam dada Natalia, ada kebakaran yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.Grace.Nama itu berputar di kepalanya—bukan seperti bisikan, tapi seperti alarm yang tidak punya tombol mati. Nama yang seharusnya tidak mengambil ruang sebesar ini di dalam pernikahan yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Nama yang meluncur dari bibir suaminya di atas ranjang mereka sendiri, di momen yang paling intim, di saat dia masih merasakan getar-getar percintaan mereka yang penuh gairah.Natalia tertawa kecil di dalam mobil, tapi suaranya tidak terdengar seperti tawa.Tangannya bergerak sendiri ke arah tas d

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   161. Salah Ucap

    Gabriel menggeram parau, gerakannya semakin liar.“Kamu suka begini, ya? Suamimu yang liar dan lapar?” Ia menunduk, menciumnya rakus sambil terus bergerak, satu tangannya meremas bagian depan Natalia, yang lain menahan pinggulnya agar tak bergerak.“Katakan … katakan siapa yang membuatmu seperti ini.”“Kamu … hanya kamu,” erang Natalia, tubuhnya mengejang setiap kali Gabriel menghantam titik paling sensitifnya. “Jangan berhenti … ah, sial, aku hampir …!”Mereka bergerak semakin cepat, irama yang brutal, tapi penuh kenikmatan. Tubuh Natalia melengkung indah, dadanya naik turun dengan cepat, matanya terpejam rapat penuh penghayatan. Gabriel merasakan otot-otot istrinya mengejang di sekitarnya, semakin erat, semakin panas.Saat gelombang itu datang menghantam Natalia lebih dulu, ia menjerit nama suaminya, tubuhnya bergetar hebat, kuku-kukunya menancap dalam di punggung Gabriel. Namun, Gabriel belum selesai. Ia terus bergerak, semakin dalam, semakin kuat, mengejar pelepasannya sendiri.“G

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   153. Diam!

    "Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya," guman Gabriel pelan penuh percaya diri.Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat kemarahan tadi, lalu melirik ke jam tangan. ‘Grace pasti sudah menunggu terlalu lama,’ pikirnya. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan taman, pikirannya tetap berputar,

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   152. Ke mana Dia?

    “Ayo, aku antarkan kamu pulang,” putus Gabriel sambil berdiri di depanku, lalu mengulurkan salah satu tangannya. Begitu aku hendak menyambut uluran tangan Gabriel, tanpa sengaja, aku melihat bayangan seseorang dari balik pohon besar tidak jauh dari tempat kami berdiri.Deg! Perasaanku tidak enak, aku

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   150. Cap-Cay

    Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang. Aku harus menyembunyikan kehamilan ini. Tak boleh ada seorang pun yang tahu, termasuk mama. Biarlah aku sendiri yang menanggung semua ini.Tangan mama semakin dekat, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Satu gerakan salah saja, semuanya bisa terbongkar.Kr

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   149. Curiga

    “Aku akan melakukan yang terbaik untuk papa.”“Bagus, Nona. Dalam minggu ini, kami akan memulai terapi saraf, dan memberikan rangsangan otak untuk mengaktifkan kembali jaringan-jaringan otak yang masih berfungsi dari Pak Kristanto.”Aku hanya mengangguk, menahan luapan bahagia yang nyaris pecah. Lalu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status