Share

Bab 8

Author: Sierra
Adik kelasnya yang langsung menolak permintaan pertemanannya!

Sutinah masuk sambil membawa secangkir kopi. Dia melihat ponsel Hendro. ‘Apa? Ternyata ada yang menolak permintaan pertemanan Pak Hendro???’

Ini serial macam apa?

Sutinah, "Pak, adik kelasmu ini... sangat unik."

Hendro mencibir, memang unik.

Dia orang pertama yang menolaknya.

Lupakan saja.

Hendro menyesap kopinya dan mengerutkan kening.

Sutinah, "Pak, apakah kopinya tidak sesuai selera? Aku ulang buat."

Hendro tiba-tiba merindukan kopi buatan Wenny, itu rasa yang paling disukainya.

Hendro berkata tanpa ekspresi, "Tulis cek dengan nilai ratusan miliaran untuk ganti rugi perceraianku kepada Wenny."

Wenny bilang ingin pergi tanpa membawa apa pun, tetapi Hendro tidak percaya dengan kata-katanya.

Bagaimana seorang gadis dari desa yang berhenti sekolah pada usia 16 tahun bisa menghasilkan uang?

Wenny hanya mau tarik ulur dan menginginkan lebih banyak uang.

Cek dengan nilai ratusan miliaran ini setara dengan membeli waktunya selama tiga tahun ini. Mulai sekarang, mereka saling tak berutang!

Sutinah mengangguk, "Ya, Pak."

Ponsel Sutinah tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk.

Sutinah menjawab panggilan itu dan berkata dengan senang, "Pak, kabar baik, Dewa C telah terima pengajuan kita. Dewa C telah setuju untuk melakukan operasi jantung pada Nona Hana!"

Dewa C adalah seorang dokter genius dengan keterampilan luar biasa dan merupakan seorang genius yang langka di bidang medis. Orang-orang terkaya mengantre untuk menemuinya.

Namun, tiga tahun lalu, Dewa C tiba-tiba menghilang dan tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi.

Tiga tahun kemudian, Dewa C kembali.

Hana menderita penyakit jantung sejak kecil dan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi saat kecil, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Sekarang Hendro menggunakan kekuatan uangnya, berhasil membuat janji dengan Dewa C untuk merawat Hana.

Kerutan di dahi Hendro akhirnya mengendur, dia tersenyum, Hana terselamatkan!

...

Hari berikutnya.

Wenny datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional.

Sekelompok pengawal berpakaian hitam yang terlatih tiba-tiba masuk, membuka jalan dengan cepat. Wenny dan orang-orang yang lewat pun terdorong ke samping.

Kedua gadis di sebelah Wenny tengah mengobrol, "Apa yang terjadi?"

"Apa kamu tidak tahu? Hana, si mawar merah Kota Livia dan juga penari utama balet, merasa jantungnya tidak nyaman saat menari. Pak Hendro membawa Hana untuk berkonsultasi."

"Ternyata itu Pak Hendro, tidak heran kalau dengan gegap gempita seperti gitu."

Wenny terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu Hendro dan Hana saat datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional hari ini.

"Kalian lihat, Pak Hendro dan Hana datang!"

Wenny mendongak dan melihat sosok Hendro yang tampan dan tinggi muncul. Dia mengenakan setelan jas hitam, tampak anggun dan berwibawa.

Hana digendong dalam pelukannya.

Beberapa dokter dan perawat dari Rumah Sakit Pengobatan Tradisional mengelilinginya dan Hana, "Pak Hendro, silakan ke sini."

Hendro melangkah pergi sambil menggendong Hana.

Gadis di sebelahnya berkata dengan semangat, "Wah, Pak Hendro ganteng sekali, Pak Hendro sungguh mendominasi."

"Hana cantik dan putih, serta pandai menari. Dia dan Pak Hendro memang pasangan yang serasi."

"CEO tampan, angkuh dan sombong VS penari cantik yang lembut. Tolong, aku tenggelam ke dalam kisah cinta orang lain."

Wenny dan Hendro menikah secara diam-diam, hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Semua orang mendukung Hendro dan Hana.

Wenny menoleh ke arah perginya Hendro. Hendro tidak melihatnya. Di pandangannya hanya ada Hana.

Wenny adalah karakter pendukung dalam kisah cinta mereka.

Wenny menenangkan diri dan menemukan pasien nomor 109VVIP sesuai dengan nomor janji temu di ponselnya.

Tak lama kemudian, Wenny melihat Hendro dan Hana di dalam, begitu pula Andy dan Landy.

Hana sudah duduk di ranjang rumah sakit, Andy dan Landy mengelilinginya di kedua sisi, sama seperti di masa kecil, mereka memanjakan Hana seperti seorang putri.

Andy berkata dengan senang, "Hana, bagus sekali, Pak Hendro menemukan Dewa C untuk mengobatimu."

Landy menangis bahagia, "Hana sungguh menderita, tapi sekarang semuanya membaik. Setelah Dewa C menyembuhkan penyakit jantungmu, kamu pasti akan sehat kembali. Nanti kamu bisa menikah dengan Pak Hendro dan menjadi istrinya."

Hana tersenyum manis pada Hendro.

Hendro yang tinggi berdiri di sampingnya dan mengulurkan tangan untuk membelai kepalanya.

Gambaran sebuah keluarga beranggotakan empat orang itu hangat dan indah.

Wenny tercengang di luar pintu. Dia tidak menyangka dunia begitu kecil, ternyata operasi jantung yang diterima Kak Eddy untuknya adalah Hana.

Adegan hangat dan indah di dalam membuat matanya pedih.

Hendro di dalam tampaknya menyadari sesuatu. Dia menoleh, tatapannya yang dalam langsung tertuju pada Wenny.

Wenny tiba-tiba saling bertatapan dengannya.

Hendro menyipitkan matanya dan segera menghampiri Wenny, "Wenny, kenapa kamu ada di sini?"

Wenny, "Aku…"

Suara Hendro terdengar dingin, "Wenny, kamu mengintaiku?"

Wenny, "... Tidak."

Andy dan Landy sama-sama melihat Wenny. Landy memarahi, "Wenny, kenapa kamu di sini? Hari ini kami mengundang dokter genius Dewa C untuk mengobati adikmu. Kenapa kamu membuat masalah di saat seperti ini?"

Wajah Andy juga terlihat murung. "Wenny, kamu sungguh tidak pengertian. Cepat pergi sekarang."

Hana tidak berkata apa-apa. Dia duduk di ranjang dan menatapnya dengan sombong.

Hendro menghampirinya, meraih lengan ramping Wenny dan berkata dengan dingin, "Wenny, apa kamu belum puas dengan tarik ulur? Sekarang malah menguntitku? Jangan buang waktu padaku, segera pergi dari sini!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Baim Wong
selalu support
goodnovel comment avatar
jihandwiannisa110
pergi aja Wenny gsk usah pedulikan si Hana
goodnovel comment avatar
eneng Heryani
keluarga tokik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1158

    Vania membaca dokumen itu dengan saksama dari awal sampai akhir. Memang tidak ada masalah sama sekali.Vania perlahan mengangkat pena, lalu menuju ke bagian tanda tangan paling bawah dan mulai membubuhkan tanda tangannya.Ketika baru menorehkan satu goresan, Vania tiba-tiba berhenti.Entah kenapa, di dalam hati Vania muncul sedikit rasa enggan.Vania semula mengira dirinya bisa menandatangani dengan tegas tanpa ragu, tetapi pada saat ini, di dalam kepalanya justru bermunculan kembali semua momen yang dia lalui bersama Steve selama ini. Sikap pria itu yang sopan, kelembutannya, dominasinya, dan cara Steve melindungi dirinya, semuanya terputar dengan sangat jelas di benak Vania, seolah-olah sedang diputar ulang satu per satu.Tiba-tiba Vania memikirkan satu kemungkinan. Jangan-jangan dia menyukai Steve?Tidak mungkin!Vania segera menyingkirkan pikiran itu. Orang yang rasional tidak akan terjerumus ke dalam cinta. Dalam hidupnya, dia tidak akan pernah menyentuh yang namanya cinta.Dengan

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1157

    Otak Vania seakan-akan berhenti bekerja. Wanita itu tidak tahu apa yang sedang dirinya pikirkan, juga tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan.Sebelum Vania sempat bereaksi, Steve sudah mengakhiri tatapan mereka, lalu berbalik dan melangkah cepat ke lantai atas.Sikapnya dingin dan menjaga jarak, seolah-olah mereka kembali ke keadaan sebelumnya saat mereka masih belum akrab.Bahkan, rasanya lebih buruk dari sebelumnya.Jari-jari Vania yang memegang gelas susu perlahan mengepal. Di dalam hatinya, dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk bahwa Steve akan meminta cerai.Keadaan sekarang masih bisa dibilang baik. Setidaknya, Steve tidak melakukan apa-apa terhadap anak mereka dan juga tidak memaksa Vania untuk menggugurkan kandungan. Itu sudah bisa dianggap sebagai bentuk menjaga martabat Vania."Eh Tuan Steve, kenapa kamu naik ke atas?"Mbak Tuti memandang Steve dengan ekspresi bingung.Vania memanggil, "Mbak Tuti!""Nyonya Vania, ada apa dengan Tuan Steve?""Mbak Tuti, S

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1156

    Vania hanya bisa mengatakan sebuah kebohongan kecil yang berniat baik.Mbak Tuti terlihat tidak puas, lalu dia berkata, "Sudah selarut ini masih pergi ke kantor juga? Sesibuk apa pun pekerjaannya, tetap nggak lebih penting daripada istri dan anak, 'kan?"Vania tersenyum tipis dan tidak menanggapi lagi.Setelah selesai makan sarang burung walet, Vania kembali ke kamarnya. Dia mandi air hangat, lalu naik ke ranjang.Vania memandang sisi ranjang di sebelahnya yang kosong. Tanpa sadar, wajah tampan Steve terlintas di benaknya. Sekarang, dia berada di mana? Malam ini, apakah dia akan pulang?Vania sepenuhnya bisa memahami kemarahan Steve. Pria seperti dia yang sejak lahir sudah menjadi sosok istimewa, memiliki harga diri dan keangkuhan yang tertanam kuat dalam dirinya. Kemungkinan besar, Vania adalah orang pertama yang berani memanfaatkannya.Walaupun Vania memiliki ratusan atau bahkan ribuan alasan untuk memanfaatkan Steve, dia tetap tidak sanggup mengatakannya. Sebab di dunia ini, tidak a

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1155

    Steve berdiri tegak. Dia mundur beberapa langkah. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berbalik dan pergi.Steve benar-benar pergi.Vania perlahan membuka matanya, tetapi air mata sebesar butiran mutiara tetap mengalir dari sudut matanya tanpa henti.Saat itu, dering ponsel yang lembut terdengar. Ada telepon masuk.Vania mengeluarkan ponselnya. Ternyata yang menelepon adalah ibunya.Vania pun mengangkat panggilan itu. Suara Bu Sabrina langsung terdengar di telinganya, "Halo, Vania.""Bu.""Vania, anak haram itu pasti sudah mencarimu, 'kan? Sekarang, kamu sedang hamil. Simpanan tua ayahmu dan anak haram mereka itu pasti sangat panik. Keluarga Lisandra nggak mengizinkan mereka masuk ke rumah. Grup Lisandra, bahkan sudah mengusir mereka keluar. Melihat mereka dipermalukan seperti itu, dendam dan amarah yang kupendam selama bertahun-tahun ini akhirnya sedikit terlepaskan!"Vania menatap langit-langit kantor. Dia tetap diam tanpa berkata apa pun."Vania, kenapa kamu diam saja?""Bu, aku m

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1154

    Vania spontan meletakkan tangannya di perutnya yang masih rata. "Tapi, anak ini sudah ada. Steve, kamu nggak boleh melukainya!"Steve mengulurkan tangan dan meraih pinggang Vania yang ramping, lalu menariknya dengan kuat ke dalam pelukannya. "Vania, beginikah caramu berbicara denganku? Kamu sudah menipuku dan terus memanfaatkanku, lalu sekarang masih berani bersikap seolah-olah kamu paling benar? Siapa yang memberimu hak untuk itu?"Lantas, apa yang seharusnya Vania lakukan?Berlutut dan meminta maaf pada Steve?"Steve, sudah kubilang kamu boleh melakukan apa saja asalkan jangan melukai anak ini!"Steve menatapnya dengan dingin. "Misalnya?""Misalnya kalau kamu ingin menceraikanku, aku juga akan setuju."Apa yang baru saja Vania katakan?Napas Steve langsung terasa berat. Kalau tatapannya bisa membunuh, Vania pasti sudah mati ribuan kali saat ini.Steve sontak murka. "Kalau aku mau menceraikanmu, kamu bahkan bisa dengan lapang dada menyetujuinya? Vania, apa aku harus berterima kasih pa

  • Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian   Bab 1153

    Steve melangkah maju untuk mendekat. Vania tanpa sadar mundur ke belakang. Dia sudah dengan sangat peka merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh Steve.Meskipun pria itu tidak menunjukkan apa pun di wajahnya, rasa dingin itu tetap menusuk dan membuat siapa pun bergidik.Vania merasa gelisah. Bukan hanya karena rasa bersalah, tetapi juga karena takut dan panik. Ternyata, Steve sudah datang sejak tadi.Apakah semua itu sudah terdengar olehnya?Vania berucap, "Aku ...."Melihat sorot mata Vania yang berusaha menghindar, Steve mengaitkan bibirnya dan tertawa dingin. "Kenapa sekarang kamu diam saja? Apa benar-benar nggak ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"Vania terus mundur hingga punggungnya menyentuh meja kerja. Ujung meja sudah menahan tubuhnya. Kini, dia tidak punya jalan mundur lagi. Dia hanya bisa bertanya sekali lagi, "Kamu sudah datang dari tadi, 'kan? Berarti, kamu dengar semua yang kubicarakan dengan Veren?"Steve berhenti melangkah. Tubuhnya yang tinggi dan tegap menut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status