MasukPagi hari tak selalu cerah, berkali-kali Feli berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepedanya di bawah rintikan hujan. Suasana pagi yang dingin semakin dingin saat kulitnya telah berkali-kali diterpa angin dan juga rintikan air hujan, walaupun hanya satu dua akan tetapi jika terus menerus bisa membuat seragam yang Feli kenakan basah.
Gadis itu mengayuh sepedanya semakin kencang saat memasuki pekarangan sekolah, Feli tak peduli dengan tatapan aneh dari para siswa yang berdiri di sekitar halaman sekolah. “Kamu ke sekolah naik sepeda?” Suara seorang laki-laki yang baru saja memarkirkan motor sportnya di samping sepeda Feli. Gadis itu merasa tidak asing dengan suara laki-laki itu, akan tetapi Feli tidak bisa mengenalinya karena ia memakai helm. “Kenapa? Kamu tidak mengingatku?” Feli langsung menunduk saat laki-laki itu melepas helmnya. Feli mengingat laki-laki itu. Dia adalah Aland yang kemarin sore bersamanya saat kejadian kematian kakak kelas bunuh diri di kamar mandi. “Hey, kamu mengacuhkanku?” teriak Aland saat Feli berlalu dari hadapannya tanpa mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya. Gadis itu ingin segera melupakan kejadian kemarin. “Dasar gadis sombong!” Feli tak menghiraukan ucapan Aland, ia saat ini fokus berjalan menelusuri lorong menuju kelas. Gadis itu lagi-lagi berjalan dengan menundukkan kepala, sedikitpun Feli tidak berani untuk menatap ke depan, ia tidak ingin hal yang terjadi kemarin kembali terulang di kehidupan sekolahnya yang baru saja masuk dua hari ini. BUKK “Ehh, ma-maafkan saya!” ucap Feli saat ia tak sengaja menyenggol bahu seorang gadis cantik berambut coklat bergelombang. “Jalan pakai mata, dong! memangnya ini jalan milik nenek moyang, Lo!” ucap gadis itu tajam membuat Feli semakin menundukkan kepalanya dalam. “Maafkan saya!” Hanya kalimat itu yang dapat Feli ucapkan. “Heh, kamu itu kalau diajak bicara lihat lawan bicaramu! Bukannya malah menunduk seperti itu!” Gadis bersurai coklat itu merasa kesal terhadap Feli yang hanya menunduk tidak mau mengangkat wajahnya walau sejenak. “Maaf!” “Kamu tidak punya kalimat lain selain maaf? Aku yang mendengarnya bosan, jawabanmu hanya maaf, maaf dan maaf—” “Stop!” Suara seorang laki-laki menghentikan ucapan gadis bersurai coklat itu. “Bukankah kamu bisa menilai situasi dengan cepat jika gadis ini adalah orang yang pemalu, dia sudah meminta maaf, lalu apa masalahmu?” Aland, laki-laki itu yang mengeluarkan suaranya untuk membela Feli. “Kamu siapa ikut campur?” tanya gadis bersurai coklat itu. “Aku teman sekelasnya, masalah telah selesai. Dia hanya tidak sengaja menyenggolmu saat berjalan dan dia sudah meminta maaf!” ucap Aland tajam. Laki-laki itu tidak ingin memperpanjang masalah dengan gadis bersurai coklat itu. “Ayo, Feli!” Aland menarik sebelah tangan Feli untuk segera pergi dari lorong sekolah yang mulai ramai oleh orang yang menonton perdebatan mereka. Sementara gadis bersurai coklat itu mengangkat sebelah alisnya merasa heran dengan Aland. “Dia laki-laki yang menarik,” gumamnya seorang diri. “Amanda, ada apa? Kenapa kamu lama sekali?” Seorang gadis lain yang membawa tumpukan buku di sebelah tangannya menghampiri gadis bersurai coklat itu yang ternyata bernama Amanda. “Tidak apa-apa, maaf membuatmu menunggu lama, Vi.” Amanda dan teman dekatnya yang bernama Via berjalan meninggalkan lorong sekolah dan segera menuju kelas mereka yang berada di lantai dua. *** Di sisi lain, Aland masih menarik tangan Feli menuju tempat yang sepi, gadis itu hanya diam pasrah saat tangannya ditarik oleh Aland. Feli merasa harus berterima kasih terhadap laki-laki itu, namun dirinya masih tidak suka dengan ucapan Aland kemarin sore yang mencurigainya terlibat dengan aksi bunuh diri kakak kelas perempuan kemarin. “Lepas!” ucap Feli menarik tangannya dari genggaman tangan Aland. Langkah kaki mereka terhenti di sebuah taman di belakang sekolah, Aland sengaja membawa Feli ke tempat ini karena ia ingin berbicara empat mata dengan gadis ini. “Cepat ceritakan!” ucap Aland membuat Feli mengurungkan niatnya yang ingin mengucapkan terima kasih terhadap laki-laki ini. “Ce-cerita apa?” tanya Feli. “Tentang keterlibatanmu dengan kakak kelas yang bunuh diri kemarin.” “Sudah kukatakan aku tidak tahu apa-apa tentang kakak kelas itu, lalu apa yang harus aku ceritakan,” jawab Feli, gadis itu tidak ingin membahas tentang kematian kakak kelas perempuan yang kemarin ia temukan di kamar mandi. “Entah kenapa, aku tidak percaya dengan ucapanmu. Kamu harus menceritakan yang sesungguhnya!” Aland terus memojokkan Feli membuat gadis itu ingin sekali menceritakan penderitaannya selama ini, akan tetapi ia tidak bisa. Aland pasti tidak akan pernah percaya dengan ceritanya, mungkin saja ia justru akan disangka gila oleh laki-laki di hadapannya ini. “Lagi-lagi kamu diam, kenapa? Apakah kamu sedang memikirkan kalimat untuk mengelak?” Feli mengepalkan tangan, tangannya sangat gatal ingin menonjok wajah Aland yang mengintimidasinya sejak kemarin sore, laki-laki itu sungguh tidak ada hentinya bertanya tentang kematian kakak kelas perempuan kemarin membuat Feli tidak bisa melupakan kejadian itu. “Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak mengetahui apapun, kita sama-sama baru sehari masuk sekolah dan aku tidak memiliki teman satupun di sekolahan ini!” ucap Feli kali ini dengan tajam dan jelas. Ia tidak bisa jika hanya diam saja, jika ia tidak menjawab maka Aland akan terus mengejar jawaban darinya. “Entah kamu mau percaya atau tidak dengan ucapanku, itu hakmu. Yang terpenting aku sudah menceritakan semua kepadamu jika aku sama sekali tidak mengenal kakak kelas itu dan tidak terlibat dengan aksi bunuh diri yang ia lakukan,” tambah Feli. “Paginya aku melihatmu bersama kakak kelas itu dan sorenya dia bunuh diri,” ucap Aland membuat Feli hampir mengangkat wajahnya. “Ya, paginya memang aku tidak sengaja menabrak kakak kelas perempuan itu hingga dia terjatuh. Dan pada saat itu pula pertama kali aku melihatnya,” cerita Feli jujur. “Kamu tahu sesuatu tentang—” “Stop! Sudah cukup aku menjawab pertanyaanmu, dan aku berharap tidak akan bertemu denganmu lagi!” Feli melenggang pergi setelah mengatakan hal itu, meninggalkan Aland yang mengerutkan sebelah alisnya menatap punggung Feli yang hilang di ujung lorong. Gadis itu berjalan menuju kelasnya, dan seperti biasa ia mencari tempat duduk di paling belakang agar terhindar dari tatapan para murid lain. Feli segera mengeluarkan buku pelajarannya agar saat guru datang nanti ia telah mempersiapkan kebutuhan belajarnya. Manik biru laut gadis itu terbelalak saat ada seseorang yang duduk di bangku sebelahnya. “Sayang sekali harapanmu tidak terkabul, mulai saat ini kita akan terus bertemu setiap hari!” ucap Aland ikut mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas. Sementara Feli menghela napas kasar karena kesal dengan laki-laki di sampingnya ini.Hari ini Feli berangkat dengan berjalan kaki, meskipun Aland ngeyel untuk menjemputnya, ia tetap bersikeras untuk berangkat sendiri.Sebenarnya ia ingin memastikan sesuatu, kaki pendeknya berjalan menuju sebuah rumah kosong yang dulu sering kali Aron kunjungi.Feli menengok ke sana kemari hanya keheningan yang ia dapatkan.“Syukurlah, Aron sudah tidak berkunjung ke sini lagi,” gumannya seorang diri.Gadis itu pun menghela napas lega, ia berharap kondisi Aron bisa membaik. Meskipun Feli tidak yakin dengan hal itu, anak mana yang semakin membaik jika ayahnya saja harus ditahan di tempat rehabilitasi.Paling tidak Aron dan Ibunya sudah tidak lagi diperlakukan kasar, rumor di sekolahpun sudah meredup perbincangan mereka digantikan dengan Via yang sempat bunuh diri dan sekarang justru gadis itu hilang entah kemana. Hal ini menjadi topik hangat di sekolah.“Pagi, Dek Feli, kamu jalan kaki lagi?” sapa seorang penjaga gerbang.Satpam itu sudah hafal dengan Feli karena sering berjalan kaki saa
Mendung sore ini semakin mencekam, beberapa kali petir menyambar pertanda butiran air akan segera jatuh. Aland dan Feli mengendarai motor membelah padatnya jalan raya, mereka tidak peduli dengan wajah langit yang semakin suram.Tujuan mereka bukan ke rumah Feli untuk pulang, bukan juga ke rumah sakit untuk ikut mencari Via, akan tetapi mengikuti sebuah mobil yang dikendarai oleh guru matematika mereka.Pak Heri keluar dari gudang sekolah dengan menggendong tas yang sangat besar, itu adalah tas camping. Biasanya orang-orang menggunakannya untuk mendaki karena muat banyak sekali barang, bahkan tendapun bisa masuk ke tas tersebut.Untuk apa Pak Heri membawa tas sebesar itu ke sekolah? Pertanyaan itu yang menbuat Aland dan Feli mengikuti Guru Matematika mereka.Sejak kejadian mereka mendobrak pintu gudang, Feli menceritakan apa yang ia lihat dari peristiwa kematian guru matematika mereka. Pada waktu itu Pak Heri sedang menyeret seorang gadis, Feli tidak melihat wajah gadis itu dengan jel
Seorang laki-laki seang berdiri dibalik batang pohon besar disebuah taman, ia melihat jauh kedepan. Seorang pria paruh baya sedang duduk dengan kepala tertunduk, meskipun jauh laki-laki yang besembunyi dibalik pohon mengetahui jika Ayahnya, pria paruh baya itu berkali-kali menghapus air matanya yang kadang kala menetes.Tatapannya kosong, namun di dalam lubuk hatinya tersimpan banyak sekali penyesalan. Penyesalan yang telah ia perbuat terhadap keluarga kecilnya.“Waktu jalan-jalannya sudah habis, Pak. Mari saya antar ke kamar Bapak!” Ajak seorang petugas perempuan.Pria paruh baya itu berdiri dan berjalan mengikuti petugas itu. Aron, ikut berjalan di belakang mereka namun jauh. Jauh sekali jarak mereka. OIa tidak mau jika ayahnya tau kalau ia mengunjunginya.Apa yang harus Aron katakan kepada Ayahnya jika mereka bertemu? Ia sebenarnya sangat membenci Ayahnya namun sekaligus Aron sangat menyayangi pula Ayahnya.Perlakuan Ayahnya yang beberapa tahun terakhir berubah menjadi kasar, pemar
“AKKHHHH, TOLOOONG!” Setelah Feli dan Aland sampai, mereka dibuat syok saat melihat Amanda dan Via berada di dalam gudang sekolah. Via terduduk dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah. Sementara Amanda panik melihat sahabatnya yang ingin bunuh diri. “Cepat bawa dia ke UKS dulu, Aland!” perintah Feli. Sementara Guru UKS segera menelepon ambulan, Guru UKS membalut tangan Via yang berlumuran darah dengan kain kasa seadanya agar darah segar berhenti mengalir. Aland, Feli dan Amanda dipanggil ke ruang guru untuk menjelaskan kejadian tersebut. “Apa yang terjadi pada Via?” Tanya guru wali kelas. Amanda dengan wajahnya yang sembab mulai bercerita. “Beberapa hari ini Via bertingkah aneh, Pak. Biasanya dia selalu ceria tetapi beberapa hari ini dia selalu murung. Bahkan aku mendengar dia menangis di kamar mandi.” Guru wali kelas mendenngar cerita Amanda dengan seksama, begitu juga dengan Aland dan Feli yang tidak tahu menahu entang kondisi Via. “Lalu?” perintah Guru Wali kelas
BRAAKKK “Ma-maaf,” ucap Feli saat ia tidak sengaja menabrak seseorang. “Feli? Tidak apa-apa, maafkan aku.” Gadis berambut coklat ikut meminta maaf, setelah mendengar suara gadis yang ia tabrak. Feli tahu siapa gadis itu namun ia tidak mau mencari keributan, akhirnya ia hanya mengangguk dan segera melanjutkan langkah kakinya. “Feli, tunggu!” ucap gadis berambut coklat itu mengejar Feli. “Aku mau bicara dulu sama kamu.” “Ta-tapi, a-aku—” “Hanya sebentar saja,” jawab gadis itu memotong keraguan Feli. Mereka berdua berjalan dan berhenti di tengah lorong yang sepi membuat Feli merasa was-was. Ia tidak mau hal yang dulu pernah terjadi padanya terulang lagi. Rasanya sangat tidak enak saat dirinya dibully. “Sebelumnya, aku ingin mengatakan banyak sekali terima kasih karena sudah menyelamatkan aku saat kecelakaan kemarin.” Feli terkejut dengan apa yang dikatakan gadis di hadapannya, Feli kira dirinya akan dibully lagi seperti dulu. “Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak ada
“BERHENTI! ANGKAT TANGAN!” Suara Polisi yang datang membuat Ayah Aron tergagap. Dengan sigap tiga orang polisi masuk dan memborgol kedua tangan Ayah Aron.“Kamu baik-baik saja?” tanya seorang laki-laki yang mendekati Feli.“A-Aland,” ucap Feli hampir tidak percaya dengan siapa yang baru saja menghampirinya.“Aland, terima kasih dan maafkan aku.” Feli langsung memeluk tubuh Aland yang berada di dekatnya. Isak tangis yang sudah tidak bisa lagi ia tahan, saat ini sudah ia tumpahkan di dada bidang seorang laki-laki yang setiap saat dan setiap waktu selalu ada disaat Feli membutuhkannya.“Tenanglah, kamu tidak salah apa-apa,” jawab Aland mengelus lembut punggung Feli mencoba menenangkannya.Akan tetapi isak tangis itu tiba-tiba berhenti dan disusul tubuh Feli yang semakin tidak bertenaga. Feli terjatuh dalam pelukan Aland membuat laki-laki itu terkejut.“Feli, kamu baik-baik saja?” tanya Aland mencoba membangunkan Feli.“Feli!” teriak Aland mulai khawatir karena gadis itu terlihat lemas.A







