Beranda / Romansa / Cinta di Gerbang Kematian / Kematian Seorang Siswa

Share

Kematian Seorang Siswa

Penulis: Ria Rahma
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 15:31:24

Hiks hiks

"Diamlah, tangismu tidak akan membuat orang itu hidup kembali!" ucap seorang laki-laki yang berada di hadapan Feli.

Ia ingat betul siapa gadis itu, gadis berambut sebahu yang tadi pagi ia tabrak. Feli tidak tahu jika kematian gadis itu adalah hari ini, jika saja ia tahu pasti dirinya akan mencegah hal itu terjadi.

Gadis itu tahu persis bagaimana cara kakak kelas perempuannya itu meninggal, karena ia telah melihat terlebih dahulu peristiwa ini pagi tadi lewat tatapan mata mereka yang tak sengaja bertemu.

"Ini salahku karena tidak mencegahnya," ucap Feli disela isak tangisnya. Ucapan gadis itu membuat laki-laki yang berdiri tak jauh darinya menoleh.

"Apa yang telah kamu lakukan?" tanya laki-laki itu.

Feli tak menjawab, isak tangisnya masih mendominasi membuatnya hanya bisa menggeleng.

"Siapa namamu tadi? Feli, ya? Itu namamu, 'kan?" tanya lagi laki-laki bermanik hitam legam itu.

Feli mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya. Gadis itu melihat sebuah tangan yang mengulurkan sebuah sapu tangan yang bergambar bintang ke arahnya, Feli menerima sapu tangan itu.

"Ba-bagaimana kamu tahu?" tanya balik Feli dengan suara serak akibat dari tangisannya yang baru saja berhenti.

"Kamu tidak ingat? Kita teman sekelas, kamu tidak mendengarkan aku saat aku maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri."

Reflek Feli mendongak, hampir saja ia menatap mata laki-laki itu. Namun Feli buru-buru kembali menundukkan kepala, sudah cukup ia melihat peristiwa kematian kakak kelas hari ini.

Akhirnya Feli hanya menggeleng lemah untuk menjawab ucapan dari laki-laki itu.

"Aku Aland," ucap laki-laki itu.

"Karena sekolah sudah sepi dan banyak guru yang sudah pulang kita harus menunggu Pak Satpam menelepon para guru terlebih dahulu, kamu boleh pulang duluan! Aku yang akan di sini menunggu mereka datang."

Feli menggeleng, ia tidak ingin meninggalkan laki-laki yang ia ketahui bernama Aland itu sendirian di tempat ini. Meskipun ia seorang laki-laki, namun berada di satu ruang dengan seorang mayat perempuan yang baru saja meninggal dalam keadaan tragis bukanlah hal yang menyenangkan apalagi dia hanya sendirian di sini.

"Pulanglah!" ucap lagi Aland memerintahkan Feli untuk segera pulang.

"Aku akan tetap di sini, bersamamu."

Gadis itu tetap bersikeras tidak ingin pulang sampai bala bantuan datang. Dalam diam Aland menatap Feli yang sejak tadi menundukkan kepala, gadis itu sama sekali tidak pernah mengangkat kepalanya.

Apakah dia takut, batin Aland. Jika dia takut seharusnya dia mau saat Aland menyuruhnya pulang, akan tetapi ia tidak bergerak walau semili dari tempatnya berjongkok.

Tak lama terdengar suara sirine ambulance datang ke halaman sekolah, Aland segera berlari menuju segerombolan orang berpakaian serba putih yang baru saja keluar dari mobil ambulance.

"Ayo!" Aland berbalik arah dan menarik tangan Feli sebelum ia melanjutkan langkah kakinya.

"Di mana tempatnya?" tanya salah satu bapak guru yang ikut datang ke sekolahan.

"Di kamar mandi, Pak."

Para orang berpakaian serba putih dengan masker yang menutup hampir separuh wajahnya itu berlari menuju arah yang ditunjuk oleh Aland.

"Kalian berdua, ayo ikut saya ke kantor guru!"

Aland dan Feli mengikuti Bapak Guru yang berjalan terlebih dulu di depannya.

"Ma-maaf!"

Perlahan Feli menarik tangannya yang masih berada di genggaman Aland membuat laki-laki itu menoleh pada Feli tanpa menghentikan langkah kaki mereka.

"Sorry," ucap Aland.

Gadis itu hanya mengangguk sekilas dan berjalan bersisian dengannya mengikuti Bapak Guru dengan wajah yang masih menunduk.

"Duduklah!" ucap Guru laki-laki itu saat mereka bertiga telah masuk ke ruang guru yang memiliki luas 4x6 meter itu.

"Bapak tahu, kalian pasti merasa takut dan tertekan setelah menyaksikan ada seorang siswa yang bunuh diri di kamar mandi. Tapi Bapak harus tetap bertanya kepada kalian berdua karena kalian yang melaporkan dan yang menemukan siswa itu," ucap Bapak guru, suara baritonnya memenuhi ruangan yang sunyi ini.

Feli dan Aland mengangguk mengerti maksud dari ucapan Guru di hadapan mereka.

"Siapa yang pertama kali masuk ke kamar mandi?" tanya Bapak Guru.

"Saya melihat Feli masuk ke kamar mandi perempuan, Pak. Lalu tiba-tiba saya mendengar dia berteriak, reflek saya langsung lari masuk ke kamar mandi dan kakak kelas perempuan itu sudah tidak bernyawa," Aland menjelaskan kronologi saat ia pertama kali menemukan mayat siswa perempuan itu.

"Bagaimana denganmu, Feli?" Kali ini Bapak Guru menoleh pada Feli yang menundukkan kepalanya.

"Sa-saya hendak ke kamar mandi, Pak. Saat saya masuk tiba-tiba ada suara keras. Ternyata suara itu berasal dari kursi tempat kakak kelas tadi berpijak, dia sudah tercekik sebelum saya bisa menghalanginya."

Bapak Guru dan Aland mendengarkan ucapan Feli dengan seksama.

"Kalian tahu kenapa dia bunuh diri?" tanya Bapak Guru lagi.

Aland dan Feli pun serempak menggeleng, walaupun mereka yang menemukan mayat kakak kelas itu akan tetapi mereka tidak saling kenal. Bahkan Aland dan Feli baru saja masuk sekolah.

"Baiklah, kalian harus segera pulang karena hari sudah semakin petang, aku akan mengirim pesan untuk orang tua kalian agar mereka tidak khawatir karena kalian pulang terlambat."

Mereka berdua hanya mengangguk mematuhi perkataan Bapak Guru dan keluar dari ruangan untuk segera pulang ke rumah.

"Kamu tahu lebih dari itu, 'kan?" tanya Aland pada Feli saat mereka telah keluar.

"A-apa maksudmu?" Feli tak mengerti apa yang dimaksud oleh laki-laki di hadapannya ini.

"Kamu bilang tadi merasa bersalah karena tidak bisa mencegahnya, berarti kamu tahu jika kakak kelas itu akan bunuh diri," jelas Aland.

Laki-laki itu menatap Feli dengan intens, sementara Feli menundukkan wajahnya semakin dalam. Saat ini dirinya takut ketahuan memiliki kemampuan bisa melihat kematian seseorang.

"Kamu siapa? Kamu terlihat misterius sejak pertama kali masuk ke kelas," tambah Aland.

Feli semakin terpojok, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Aland. Ia tidak mungkin menceritakan kebenarannya kepada laki-laki yang baru saja ia kenal. Toh, laki-laki itu tidak mungkin percaya dengan ceritanya, batin Feli.

"Kenapa kamu selalu menunduk? Kenapa kamu terlihat aneh," ucap Aland lagi.

"Cepat jawab!" ucap Aland tegas, ia tidak sabar karena Feli hanya diam tak menjawab pertanyaannya sejak tadi.

“Kamu tidak perlu tahu!” ucap Feli tanpa menghiraukan tatapan curiga dari Aland.

“Kamu sungguhan terlibat dengan kematian kakak kelas itu, jika tidak menceritakannya kepadaku aku akan mengatakan kepada Bapak Guru kalau kamu terlibat!” ucap Aland.

“Kamu tidak perlu ikut campur, toh kamu tidak akan percaya jika aku menceritakannya,” teriak Feli kesal. Aland menatap kepergian Feli dengan tatapan curiga yang semakin besar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta di Gerbang Kematian   Sebuah Petunjuk

    Hari ini Feli berangkat dengan berjalan kaki, meskipun Aland ngeyel untuk menjemputnya, ia tetap bersikeras untuk berangkat sendiri.Sebenarnya ia ingin memastikan sesuatu, kaki pendeknya berjalan menuju sebuah rumah kosong yang dulu sering kali Aron kunjungi.Feli menengok ke sana kemari hanya keheningan yang ia dapatkan.“Syukurlah, Aron sudah tidak berkunjung ke sini lagi,” gumannya seorang diri.Gadis itu pun menghela napas lega, ia berharap kondisi Aron bisa membaik. Meskipun Feli tidak yakin dengan hal itu, anak mana yang semakin membaik jika ayahnya saja harus ditahan di tempat rehabilitasi.Paling tidak Aron dan Ibunya sudah tidak lagi diperlakukan kasar, rumor di sekolahpun sudah meredup perbincangan mereka digantikan dengan Via yang sempat bunuh diri dan sekarang justru gadis itu hilang entah kemana. Hal ini menjadi topik hangat di sekolah.“Pagi, Dek Feli, kamu jalan kaki lagi?” sapa seorang penjaga gerbang.Satpam itu sudah hafal dengan Feli karena sering berjalan kaki saa

  • Cinta di Gerbang Kematian   Menemui Jalan Buntu

    Mendung sore ini semakin mencekam, beberapa kali petir menyambar pertanda butiran air akan segera jatuh. Aland dan Feli mengendarai motor membelah padatnya jalan raya, mereka tidak peduli dengan wajah langit yang semakin suram.Tujuan mereka bukan ke rumah Feli untuk pulang, bukan juga ke rumah sakit untuk ikut mencari Via, akan tetapi mengikuti sebuah mobil yang dikendarai oleh guru matematika mereka.Pak Heri keluar dari gudang sekolah dengan menggendong tas yang sangat besar, itu adalah tas camping. Biasanya orang-orang menggunakannya untuk mendaki karena muat banyak sekali barang, bahkan tendapun bisa masuk ke tas tersebut.Untuk apa Pak Heri membawa tas sebesar itu ke sekolah? Pertanyaan itu yang menbuat Aland dan Feli mengikuti Guru Matematika mereka.Sejak kejadian mereka mendobrak pintu gudang, Feli menceritakan apa yang ia lihat dari peristiwa kematian guru matematika mereka. Pada waktu itu Pak Heri sedang menyeret seorang gadis, Feli tidak melihat wajah gadis itu dengan jel

  • Cinta di Gerbang Kematian   Orang Dibalik Pintu Gudang Sekolah

    Seorang laki-laki seang berdiri dibalik batang pohon besar disebuah taman, ia melihat jauh kedepan. Seorang pria paruh baya sedang duduk dengan kepala tertunduk, meskipun jauh laki-laki yang besembunyi dibalik pohon mengetahui jika Ayahnya, pria paruh baya itu berkali-kali menghapus air matanya yang kadang kala menetes.Tatapannya kosong, namun di dalam lubuk hatinya tersimpan banyak sekali penyesalan. Penyesalan yang telah ia perbuat terhadap keluarga kecilnya.“Waktu jalan-jalannya sudah habis, Pak. Mari saya antar ke kamar Bapak!” Ajak seorang petugas perempuan.Pria paruh baya itu berdiri dan berjalan mengikuti petugas itu. Aron, ikut berjalan di belakang mereka namun jauh. Jauh sekali jarak mereka. OIa tidak mau jika ayahnya tau kalau ia mengunjunginya.Apa yang harus Aron katakan kepada Ayahnya jika mereka bertemu? Ia sebenarnya sangat membenci Ayahnya namun sekaligus Aron sangat menyayangi pula Ayahnya.Perlakuan Ayahnya yang beberapa tahun terakhir berubah menjadi kasar, pemar

  • Cinta di Gerbang Kematian   Apa Yang Terjadi Pada Via?

    “AKKHHHH, TOLOOONG!” Setelah Feli dan Aland sampai, mereka dibuat syok saat melihat Amanda dan Via berada di dalam gudang sekolah. Via terduduk dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah. Sementara Amanda panik melihat sahabatnya yang ingin bunuh diri. “Cepat bawa dia ke UKS dulu, Aland!” perintah Feli. Sementara Guru UKS segera menelepon ambulan, Guru UKS membalut tangan Via yang berlumuran darah dengan kain kasa seadanya agar darah segar berhenti mengalir. Aland, Feli dan Amanda dipanggil ke ruang guru untuk menjelaskan kejadian tersebut. “Apa yang terjadi pada Via?” Tanya guru wali kelas. Amanda dengan wajahnya yang sembab mulai bercerita. “Beberapa hari ini Via bertingkah aneh, Pak. Biasanya dia selalu ceria tetapi beberapa hari ini dia selalu murung. Bahkan aku mendengar dia menangis di kamar mandi.” Guru wali kelas mendenngar cerita Amanda dengan seksama, begitu juga dengan Aland dan Feli yang tidak tahu menahu entang kondisi Via. “Lalu?” perintah Guru Wali kelas

  • Cinta di Gerbang Kematian   Salah Tingkah

    BRAAKKK “Ma-maaf,” ucap Feli saat ia tidak sengaja menabrak seseorang. “Feli? Tidak apa-apa, maafkan aku.” Gadis berambut coklat ikut meminta maaf, setelah mendengar suara gadis yang ia tabrak. Feli tahu siapa gadis itu namun ia tidak mau mencari keributan, akhirnya ia hanya mengangguk dan segera melanjutkan langkah kakinya. “Feli, tunggu!” ucap gadis berambut coklat itu mengejar Feli. “Aku mau bicara dulu sama kamu.” “Ta-tapi, a-aku—” “Hanya sebentar saja,” jawab gadis itu memotong keraguan Feli. Mereka berdua berjalan dan berhenti di tengah lorong yang sepi membuat Feli merasa was-was. Ia tidak mau hal yang dulu pernah terjadi padanya terulang lagi. Rasanya sangat tidak enak saat dirinya dibully. “Sebelumnya, aku ingin mengatakan banyak sekali terima kasih karena sudah menyelamatkan aku saat kecelakaan kemarin.” Feli terkejut dengan apa yang dikatakan gadis di hadapannya, Feli kira dirinya akan dibully lagi seperti dulu. “Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak ada

  • Cinta di Gerbang Kematian   Semua Baik-baik Saja

    “BERHENTI! ANGKAT TANGAN!” Suara Polisi yang datang membuat Ayah Aron tergagap. Dengan sigap tiga orang polisi masuk dan memborgol kedua tangan Ayah Aron.“Kamu baik-baik saja?” tanya seorang laki-laki yang mendekati Feli.“A-Aland,” ucap Feli hampir tidak percaya dengan siapa yang baru saja menghampirinya.“Aland, terima kasih dan maafkan aku.” Feli langsung memeluk tubuh Aland yang berada di dekatnya. Isak tangis yang sudah tidak bisa lagi ia tahan, saat ini sudah ia tumpahkan di dada bidang seorang laki-laki yang setiap saat dan setiap waktu selalu ada disaat Feli membutuhkannya.“Tenanglah, kamu tidak salah apa-apa,” jawab Aland mengelus lembut punggung Feli mencoba menenangkannya.Akan tetapi isak tangis itu tiba-tiba berhenti dan disusul tubuh Feli yang semakin tidak bertenaga. Feli terjatuh dalam pelukan Aland membuat laki-laki itu terkejut.“Feli, kamu baik-baik saja?” tanya Aland mencoba membangunkan Feli.“Feli!” teriak Aland mulai khawatir karena gadis itu terlihat lemas.A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status