MasukBRAK! Lingga membanting pintu kamar asrama di koridor belakang kafe, kamar yang dulu pernah menjadi tempat persembunyan Elara. Suara kayu yang menghantam bingkainya bergema nyaring, memecah kesunyian malam. Vanda yang tengah berbaring mencoba meredakan demam tinggi yang membakar tubuhnya tersentak kaget. Ia meringkuk ketakutan di sudut tempat tidur, memeluk selimut tebal yang diberikan Lingga untuknya beberapa jam lalu. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada adikku?!" Suara berat Lingga bergema di kamar sempit itu. Nada itu begitu dingin dan penuh amarah. Namun, kehadiran pria yang telah melindunginya mati-matian malam ini membuat Vanda mengembuskan napas lega, sebelum ia menyadari sorot mata Lingga yang kini menatapnya bagai seorang musuh. "A—apa maksudmu, Lingga?" cicit Vanda dengan suara parau dan gemetar. Tanpa jawaban, Lingga melangkah lebar menghampiri tempat tidur. Tanpa sedikit pun belas kasihan, ia mencengkeram kasar pergelangan tangan Vanda dan menyentak
Tanpa sepatah kata, pria itu menerjang maju. Langkahnya secepat kilat, mendorong tubuh Lingga hingga membentur dinding dengan benturan keras, lalu menodongkan moncong senjatanya tepat di kening Vanda. Rahangnya mengeras tajam, matanya menyala penuh kebencian pada gadis bertubuh gemetar yang kini menangis histeris di bawah bayang-bayang kematian. "Reygan stop!" teriak Lingga. Melihat nyawa Vanda berada di ujung tanduk, pria yang biasanya tenang itu bergerak nekat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Reygan dan menyikut dada sahabatnya demi membelokkan arah tembakan. DOR! Peluru melesat liar, menembus lantai hanya beberapa sentimeter dari kaki Vanda. Gadis itu menjerit dan menangis, meringkuk di sudut ranjang. "Lo gila!" raung Lingga seraya mencengkeram keras senjata dari jemari Reygan, berusaha merebutnya. "Jangan halangi gue, Lingga!" geram Reygan dingin. Pria itu tidak tinggal diam. Ia memanfaatkan momentum untuk memutar tubuh, melepaskan cengkeraman Lingga lalu mend
Pertahanan diri yang dibangun Lingga dengan susah payah akhirnya runtuh di bawah guyuran air mandi dan desakan gairah yang begitu hebat. Tekstur bibir Vanda yang lembut, lekuk tubuhnya yang terlihat karena blous tipisnya semakin memperlihatkan keindahan Vanda Asolf di mata Lingga, serta desahan dari bibirnya mematikan logika dingin Lingga dalam hitungan detik. Hasrat seorang pria dewasa mengambil alih kendali akal sehatnya. Dengan napas yang kian memburu, Lingga membalas ciuman itu. Ia meraup bibir Vanda, melumatnya sangat dalam dan liar. Penyatuan itu memberi kehangatan yang dirindukan Vanda, seolah menjadi penawar atas rasa panas yang merusak kesadarannya. "Nnggh... ya... jangan berhenti... aku mohon..." desah Vanda di sela-sela lumatan ganas Lingga. Rintihan pasrah itu kian membakar dada Lingga. Dalam remang kamar mandi dan riak air shower, jemari Vanda yang gemetar hebat meremas bahu kokoh Lingga. Dengan sisa-sisa tenaga dan dorongan gairah karena reaksi obat itu, Vanda m
"Kau benar-benar biadab, Sherly Adolf!" teriak Lingga dengan suara berat memecah keheningan malam. Amarah yang meledak dari dadanya tak lagi sanggup ia bendung, memancar tajam dari matanya. Suara tawa Sherly melengking kencang, memantul dingin pada dinding-dinding beton ruangan yang temaram. "Justru sebagai seorang ibu, aku sedang menyelamatkan putriku dari kemiskinan, Lingga!" sahut Sherly tanpa sedikit pun rasa bersalah, senyum liciknya terbut di wajahnya mendapati reaksi amarah Lingga. Tanpa membuang waktu, Sherly memalingkan wajahnya dan memberi isyarat mata pada kedua anak buah yang berdiri di belakangnya. "Bawa mereka berdua ke kamar di ujung sana," perintah Sherly dingin, lalu menyunggingkan seringai paling memuakkan. "Pastikan putriku mendapatkan 'penawar' terbaik untuk rasa panas di tubuhnya malam ini. Dan jaga jangan sampai ada yang kabur sebelum pernikahan dilakukan." Kedua pria bertubuh tegap itu melangkah maju. Tanpa membuang waktu, mereka mencengkeram paksa ba
Sherly melempar ponsel Kinan ke atas meja kayu usai memastikan pesan bergambar itu terkirim sempurna. Di sudut ruangan yang temaram dan berdebu, Kinan terkulai tak berdaya di atas kursi, dengan kedua tangan terikat dan mata terpejam akibat pengaruh obat bius dosis ringan. Sherly mengusap gaun mewahnya yang kini penuh noda debu, lalu terkekeh licik. "Kalian pikir bisa semudah itu menyingkirkan aku dan menjadikanku gembel di jalanan?" bisiknya tajam, menatap benci ke arah wajah polos adik dari pria kepercayaan Reygan Valero itu. Sherly tahu betul posisinya saat ini. Surya Mahendra sudah ditangkap, aset-asetnya dibekukan, dan tim hukum Valero tinggal menghitung jam untuk menyeretnya ke penjara. Lari ke luar negeri tanpa uang dan perlindungan status sama saja dengan bunuh diri. Namun, Sherly tidak bermaksud membunuh Kinan atau meminta uang tebusan yang mudah dilacak polisi. Ia membutuhkan pelindung baru dan akses kekuasaan yang tak tersentuh, dan sosok itu ada pada Lingga. Seb
"Aku mendatangi apartemen Reygan, mengusirmu, dan menyebutmu sebagai wanita yang tidak pantas menyandang nama besar Valero," potong Katrin, menyuarakan rasa bersalah yang kini menghantam dadanya. "Aku terlalu dibutakan oleh status sosial dan rasa percayaku pada keluarga Mahendra. Aku pikir... wanita berlatar belakang seperti Clarissa-lah yang pantas mendampingi Reygan." Katrin menghembuskan napas berat, sebuah pengakuan jujur yang sangat jarang keluar dari bibir seorang Katrin Valero. "Tapi hari ini aku sadar... Clarissa dan ayahnya tidak lebih dari pemeras yang berniat jahat. Dan kamu..." Katrin menatap Elara dalam-dalam, "kamu adalah satu-satunya orang yang berdiri melindungi anakku dan perusahaan ini ketika orang yang kupercaya justru berusaha menancapkan pisau dari belakang." Elara terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos menetes membasahi pipinya, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena rasa lega yang amat luar biasa. Tangan Katrin terulur,







