LOGINLingga mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, membiarkan tetesan air mengalir melintasi ceruk leher hingga dada bidangnya. Laki-laki itu baru saja membersihkan diri setelah terbangun dari tidur panjangnya. Rasanya sudah sekian lama ia tidak menikmati istirahat tanpa beban seperti sore ini. Dengan hanya mengenakan celana pendek santai dan bertelanjang dada, Lingga melangkah menuju kamarnya yang ditempati Vanda untuk mengambil baju ganti di lemari. TOK TOK! "Vanda, maaf aku mau ambil baju di lemari. Boleh aku masuk?" tanya Lingga dari depan pintu. Sunyi. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. TOK TOK! Lingga mengetuk pintu untuk kedua kalinya. "Vanda, kamu dengar aku?" serunya, menaikkan volume suaranya. Tetap tidak ada sahutan. Kening Lingga berkerut dalam. Perasaan cemas mendadak menyusup ke dalam dadanya. Hatinya tidak tenang berada dalam keheningan yang tak wajar ini. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. "Vanda? Buka pintunya!" Lin
Kehadiran sosok di ambang pintu itu seketika memotong seluruh kehangatan yang baru saja terbina. Langkah pria tua berambut perak itu mantap meski bertumpu pada tongkat kayu berujung perak. Langkahnya terhenti persis di tengah ruangan. Dua pengawal bertubuh tegap yang mengawalnya tetap siaga di luar, memberikan privasi bagi keluarga yang akhirnya kembali berkumpul. Sorot mata Wilhelm, berwarna kelabu seperti langit Zurich saat badai salju, menatap lurus ke arah Elara yang terbaring kaku di ranjang. Namun, tidak ada lagi tatapan dingin di sana. Mata perak yang biasanya dipenuhi keangkuhan seorang penguasa Von Graffenried kini diselimuti genangan air mata dan rasa penyesalan yang teramat dalam. "Vater..." [Ayah... ], bisik Reno dengan nada suara bergetar. Wajahnya menegang, menatap ayahnya antara hormat dan keharuan. Wilhelm memotong pandangannya dari Reno, melangkah lebih dekat ke sisi tempat tidur. Pandangannya tak lepas dari Elara. Pria tua itu menilai setiap inchi paras gadi
Moreno menghentikan ceritanya. Keheningan kembali merayapi kamar perawatan VVIP rumah sakit Medika Utama. Suara tarikan napas Elara terdengar berat, diiringi tetesan air mata yang jatuh di pipinya yang tirus. Tabir rahasia dua puluh lima tahun lalu kini telah terbuka sepenuhnya. Elara tak pernah menyangka bahwa selama ini ia memiliki seorang saudara kembar. Dikhianati oleh dinginnya persaingan bisnis, dua saudara harus terpisah sejak detik pertama mereka menghirup udara di dunia. "Ta—tapi... apa selama ini Kakek Wilhelm tidak pernah berniat mencariku? Kenapa baru sekarang kalian datang?" desak Elara dengan suara bergetar, belum bisa menerima keputusan tragis keluarga Von Graffenried atas pemisahan dirinya dan sang kakak. "Keluarga Von Graffenried selalu memegang teguh prinsip yang tertanam kuat, Zhelara. Pengkhianatan yang dilakukan papamu menancapkan luka yang amat dalam di hati Ayahku... kakek kalian," ujar Reno menarik napas panjang. Pria paruh baya itu menatap Elara penuh
Dua pasang mata itu saling mengunci. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar perawatan Elara. Gadis itu membeku. Jemarinya yang memegang erat tangan Kinan mencengkeram tangan sahabatnya itu semakin kuat, meluapkan perasaan sedih, syok, bahagia, yang tak mampu ia rangkai dengan kata-kata. Pria yang berdiri di ambang pintu itu—pria yang memiliki rahang tegas, alis tebal, dan sorot mata tajam yang ada di ruangan ini setelah ia sadar pasca operasi beberapa hari lalu, ternyata adalah saudara kembarnya yang terpisah sejak napas pertama mereka di dunia. Sementara itu, Zheydan melangkah maju satu demi satu. Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat, akhirnya, Elara mengetahui status mereka. Sorot matanya melunak, berkaca-kaca menatap sosok wanita mungil yang terbaring kaku di atas ranjang. Di belakang Zheydan, Moreno von Graffenried melangkah dengan tubuh sedikit gemetar. Matanya yang merah menahan air mata menatap Elara dengan tatapan penuh penyesalan, keharuan, dan kebahagiaan y
Vanda membeku mendengar kalimat yang keluar dari bibir Lingga. Mangkuk bubur di pangkuannya mendadak terasa berat, seolah kata-kata pria itu baru saja menghentikan waktu. "Lingga—" bisik Vanda serak, matanya membelalak tak percaya. "Aku hanya berpikir... kalau kita menikah, semua masalah ini akhirnya bisa menemukan jalan keluar," potong Lingga dengan suara rendah dan tegas. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Vanda. "Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu demi melindungi adikku, Vanda. Kamu mengorbankan keselamatanmu sendiri. Aku yakin, kamu melakukan ini karena rasa bersalah. Pria itu adalah anak buah Sherly Adolf, ibumu. Aku mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku tidak bisa—dan tidak akan pernah—membiarkan kamu menanggung konsekuensi dan ancaman bahaya itu seorang diri lagi." Lingga menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh alasan yang muncul di benaknya sejak pria penyusup itu berhasil melarikan diri dari gudang. "Pernikah
Aroma bumbu tumisan yang gurih tercium samar dari nampan kayu yang dibawa Kinan. Langkah kakinya menuju kamar Lingga terasa begitu berat, merasakan setiap langkah kakinya tertahan oleh rasa bersalah yang terus menderanya sejak kejadian kemarin. Di atas nampan, Kinan menyiapkan beberapa mangkuk berisi lauk hangat dan bubur lembut yang tertata rapi, sebuah upaya kecil dari Kinan untuk memastikan wanita di dalam kamar itu tetap memiliki energi untuk bertahan hidup. Ketika tiba di depan pintu kayu jati berukir kamar pribadi Lingga, Kinan menghentikan langkahnya sejenak. Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak karuan. Hubungan yang terjadi di antara mereka begitu rumit. Namun sekarang, ada satu hal yang amat jelas di mata Kinan, kebaikan dan ketulusan wanita yang kini terbaring lemah di balik pintu ini. Dengan hati-hati, Kinan mendorong handle pintu secara perlahan. Engsel pintu berdecit halus, membelah keheningan kamar. Suasana ruangan terasa







