로그인Kira-kira siapa yaa pria asing itu? ada yang bisa jawab? hehehhee
Mobil Maybach hitam milik Zheydan membelah keheningan malam kota dengan kecepatan tinggi. Di kursi penumpang depan, Kinan duduk meremas jemarinya yang dingin, beberapa kali melirik ke cermin tengah. Lingga duduk di kursi belakang dengan tubuh kaku, sebelah tangannya mencengkeram erat rusuknya yang memar dan membiru. Suasana di dalam mobil begitu hening dan mencekam, hanya dipenuhi deru mesin bertenaga tinggi serta napas memburu Lingga yang menahan amarah bercampur rasa sakit. "Tahan rasa sakitmu, Lingga. Sepuluh menit lagi kita sampai di rumah sakit," ujar Zheydan dingin, menambah pijakan pada pedal gas. Pandangannya lurus mengawasi aspal yang basah oleh sisa air hujan. Lingga menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan wajah ketakutan Vanda, air mata yang membasahi pipinya, serta sentuhan paksa bibir Jackson pada gadis itu terus berputar di benaknya. Gadis itu mengorbankan dirinya demi aku, batin Lingga menelan saliva yang terasa pahit. Aku tida
Mobil Maybach milik Zheydan berhenti mulus di area parkir kafe Le Moka. Pria itu mematikan mesin mobil, lalu menatap lekat gadis di sampingnya yang masih asyik merapikan rambut di depan cermin kecil sun visor. Zheydan tersenyum manis. Tangannya terangkat, ikut merapikan beberapa helai rambut Kinan yang menutupi keningnya. "Sudah cantik, Sayang," ucap Zheydan lembut, memancing senyum manis di bibir Kinan. Kinan menoleh, menatap Zheydan penasaran. "Kalau bahasa Swiss-nya cantik apa?" "Apa, ya?" sahut Zheydan berpura-pura berpikir keras, menaikkan sebelah alisnya. Kinan tertawa kecil lalu menepuk dada bidang Zheydan pelan. Tawa renyahnya lolos begitu saja membalas sikap manja kekasihnya, sebelum tangan tegap Zheydan meraih tubuh Kinan ke dalam dekapan hangatnya. "Du bisch das schönste Meitli, wo ich je gseh ha. Ich ha mich grad beim erschte Blick in dich verliebt," [Kamu adalah gadis paling cantik yang pernah aku temui. Karena lamgsung membuatku jatuh cinta pada pandang
Satu anak buah Jackson maju menerjang, mengayunkan pukulan keras ke arah rahang Lingga. Dengan dengan gerakan secepat kilat, Lingga menunduk rendah, menghindari ayunan balok kayu hingga menabrak angin. Memanfaatkan momentum lawan yang hilang keseimbangan, Lingga menghentakkan siku kanannya tepat ke ulu hati pria itu. BUGH! Erangan kesakitan terdengar saat pria pertama ambruk memegangi perutnya. Namun, tiga anak buah Jackson lainnya langsung menyerbu secara bersamaan dari sudut berbeda. Lingga memutar tubuhnya, menangkap pergelangan tangan musuh yang mencoba menikamnya dengan pisau. Ia memutar pergelangan tangan itu secara paksa dengan sagat kuat, hingga senjata tajamnya terlepas dan jatuh ke lantai. Lingga menarik lengan pria itu ke depan, memanfaatkannya sebagai tameng dari sabetan balok kayu yang dilayangkan musuh lain dari arah samping. TAK! Balok kayu itu menghantam punggung rekannya sendiri. Lingga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mendaratkan tendangan berputar
Layar ponsel di genggaman Sherly Adolf perlahan meredup lalu padam. Namun, pijar kebencian di dalam manik matanya justru makin menyala terang. Senyum tipis yang semula menghiasi bibirnya yang berwarna merah menyala kini berubah menjadi seringai penuh kemenangan. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang empuk di dalam kamar persembunyiannya. Pandangannya menerawang jauh, mengingat kembali bagaimana jalan takdir membawanya ke titik ini. "Moreno von Graffenried..." bisik Sherly lirih, mengeja nama itu dengan senyum penuh tipu daya. "Dunia benar-benar sempit. Aku tidak menyangka akan dipertemukan dengan adik iparmu, Mario." Tanpa menunda waktu, Sherly menggeser layar ponselnya dan menghubungi nomor Jackson. Panggilan tersebut langsung terhubung dalam hitungan detik. "Tante, jangan menghubungiku tiba-tiba seperti ini, untung saja aku tidak sedang memimpin rapat penting." Ujar Jackson tajam, dari balik telepon. Sherly terkekeh. "Kamu akan berterima kasih pad
Lingga mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, membiarkan tetesan air mengalir melintasi ceruk leher hingga dada bidangnya. Laki-laki itu baru saja membersihkan diri setelah terbangun dari tidur panjangnya. Rasanya sudah sekian lama ia tidak menikmati istirahat tanpa beban seperti sore ini. Dengan hanya mengenakan celana pendek santai dan bertelanjang dada, Lingga melangkah menuju kamarnya yang ditempati Vanda untuk mengambil baju ganti di lemari. TOK TOK! "Vanda, maaf aku mau ambil baju di lemari. Boleh aku masuk?" tanya Lingga dari depan pintu. Sunyi. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. TOK TOK! Lingga mengetuk pintu untuk kedua kalinya. "Vanda, kamu dengar aku?" serunya, menaikkan volume suaranya. Tetap tidak ada sahutan. Kening Lingga berkerut dalam. Perasaan cemas mendadak menyusup ke dalam dadanya. Hatinya tidak tenang berada dalam keheningan yang tak wajar ini. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. "Vanda? Buka pintunya!" Lin
Kehadiran sosok di ambang pintu itu seketika memotong seluruh kehangatan yang baru saja terbina. Langkah pria tua berambut perak itu mantap meski bertumpu pada tongkat kayu berujung perak. Langkahnya terhenti persis di tengah ruangan. Dua pengawal bertubuh tegap yang mengawalnya tetap siaga di luar, memberikan privasi bagi keluarga yang akhirnya kembali berkumpul. Sorot mata Wilhelm, berwarna kelabu seperti langit Zurich saat badai salju, menatap lurus ke arah Elara yang terbaring kaku di ranjang. Namun, tidak ada lagi tatapan dingin di sana. Mata perak yang biasanya dipenuhi keangkuhan seorang penguasa Von Graffenried kini diselimuti genangan air mata dan rasa penyesalan yang teramat dalam. "Vater..." [Ayah... ], bisik Reno dengan nada suara bergetar. Wajahnya menegang, menatap ayahnya antara hormat dan keharuan. Wilhelm memotong pandangannya dari Reno, melangkah lebih dekat ke sisi tempat tidur. Pandangannya tak lepas dari Elara. Pria tua itu menilai setiap inchi paras gadi







