登入"Get off me, you bastard! Aku bisa saja membawa masalah pemukulan ini ke meja hukum!" ancam Jackson sambil mencengkeram pergelangan tangan Reygan yang menarik kerah mantelnya dengan kuat. Dengan mata memerah karena marah, Reygan melepas cengkeramannya, menghempas kasar tubuh Jackson ke aspal jalanan. Di bawah guyuran air hujan yang semakin deras, pria blasteran itu terjatuh tak berdaya. "Rey! Sudah, cukup!" Lingga berlari menyusul, bergegas memayungi tubuh Reygan yang sudah telanjur basah kuyup, sekaligus menahan pundak sahabatnya yang masih mengeras karena emosi. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Jackson untuk merangkak masuk ke mobilnya dan segera pergi dari hadapan Reygan. "Pria itu mengejar Elara. Apa yang terjadi sebenarnya?" desis Reygan tajam. Matanya menatap penuh amarah pada sedan hitam milik Jackson yang memacu kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu. *** KEJADIAN SEBELUMNYA... Pintu kamar Elara dibuka dengan suara pelan. Kali ini, tidak ada keker
Hening seketika kembali merayap di antara meja restoran Hotel Grand Star. Detik berikutnya, denting halus sendok perak yang beradu dengan piring porselen milik Katrin terdengar, memutus keheningan akibat pengakuan yang mengejutkan keluar dari mulut Reygan. Wajah Katrin memucat di balik riasan tebalnya, sementara raut kemarahan mulai tercetak jelas di dahi Tama Valero. Di seberang meja, Surya Mahendra hanya tersenyum tipis, sementara Clarissa tetap mempertahankan posisi duduknya yang anggun. Cincin safir biru di jemarinya berkilat tertimpa cahaya lampu, seolah menertawakan penolakan mentah-mentah yang baru saja ia terima. "Reygan, jaga bicaramu," potong Tama dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah. Suara itu begitu tenang, namun siapa pun yang mengenal kepala keluarga Valero tahu bahwa itu adalah sebuah peringatan. "Jangan membawa lelucon kekanak-kanakan di meja ini." "Reygan tidak sedang bercanda, Pa," sahut Reygan, sama sekali tidak gentar oleh tatapan tajam
Lantai sepuluh eksekutif Valero Tower diselimuti ketegangan. Dinding-dinding kaca tebal yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta seolah menegaskan kekuasaan yang digenggam oleh Tama Valero. Di ruang rapat utama, hanya ada suara ketukan jemari Tama pada permukaan meja kayu jati yang dilapisi marmer.Reygan duduk tegak di sisi kanan meja panjang di samping ayahnya. Dasi sutra hitamnya sudah kembali terpasang rapi, membingkai kemeja abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya datar, berusaha tenang di tengah diskusi panjang tentang proyek besar yang akan mereka jalankan.Di belakangnya, Lingga berdiri sigap dengan tablet di tangannya."Jadi, ini keputusan akhir untuk proyek kawasan elit Grand Valero Center?" Suara Tama menggema. Mata tajamnya menatap jajaran direksi sebelum akhirnya tertuju lurus pada sang putra. "Bagaimana dengan sengketa lahan di sektor timur, Reygan? Papa tidak mau mendengar ada kendala hukum sekecil apa pun saat tender re
"Jadi... kenapa baru pulang hari ini?" Suara Tama menggema di ruang tamu mewah kediaman Valero.Reygan menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya, ia sudah sangat lelah karena baru saja tiba. Namun, kedua orang tuanya ternyata telah duduk menanti, menuntut penjelasan atas keterlambatannya.Tama Valero duduk tegak di sofa kulit premiumnya, menatap sang putra dengan tatapan yang biasa ia gunakan untuk menundukkan lawan bisnis di ruang rapat. Di sampingnya, Katrin melipat tangan di dada, wajahnya yang dihiasi riasan tipis memancarkan rasa cemas dan dongkol sekaligus."Ponsel mati, tidak ada kabar, dan kamu terlambat sehari dari jadwal yang sudah ditentukan," lanjut Tama, suaranya dingin namun tetap tenang. "Apa dua tahun di Swiss membuat kamu lupa cara menghargai waktu dan disiplin, Reygan?"Reygan melangkah mendekat, lalu meletakkan jaket gunungnya di lengan sofa yang kosong. Ia memilih tetap berdiri, menolak untuk merasa bersalah di bawah tatapan mengadili kedua orang tuanya."Baterai
PLAK!"Dasar anak tidak tahu diri! Sama seperti ibumu!" Teriakan Sherly yang menggelegar seakan memantul di antara dinding kokoh kediaman keluarga Adolf.Elara yang baru saja diseret pulang dengan kaki yang masih cedera dan belum mampu berdiri kokoh, kini jatuh tersungkur di lantai. Pipinya memerah dan terasa panas akibat tamparan keras itu."Jangan bawa-bawa mendiang ibuku!" jerit Elara, menatap marah ke arah ibu tirinya.Sherly, yang sejak awal menaruh kebencian mendalam pada Elara, melangkah maju mendekati gadis malang itu. Ia menarik kasar rambut Elara. Kuku-kuku panjangnya yang dicat merah seakan menusuk langsung ke kulit kepala Elara."Rumah ini milikku sekarang. Jadi... ayah dan ibumu yang sudah mati itu tidak akan bisa bangkit lagi untuk menolongmu, Elara," bisiknya kejam, tepat di depan wajah Elara.Elara menatap wajah itu dengan penuh kebencian. Air matanya bergulir pelan, dadanya sesak mendengar penghinaan keji terhadap kedua orang tuanya yang telah tiada.Sherly men
Pagi-pagi sekali, kesibukan sudah menyergap Pos Empat. Keempat laki-laki itu tampak cekatan melipat tenda dan memadatkan kembali seluruh perlengkapan kemah ke dalam tas carrier masing-masing. Di sudut dipan kayu, Elara menunggu dengan sisa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Ia menyandarkan kepala pada tiang kayu, memperhatikan gerakan mereka yang seolah sudah terbiasa dengan kerasnya alam. "Sudah semua? Pastikan jangan sampai ada sampah atau barang yang tertinggal," seru Reygan. Ia menyisir permukaan rumput dengan cahaya senter, memastikan area bekas tenda mereka kembali bersih. "Beres, Rey. Tas lo biar gue yang bawa," sahut Zavier sambil mengaitkan tas milik Reygan ke pundaknya. Sesuai rencana yang telah mereka sepakati semalam, Reygan harus mengosongkan punggungnya karena tugasnya pagi ini adalah menggendong Elara hingga ke pos bawah. Reygan berjalan mendekati Elara. Ia berlutut di depan gadis itu, membelakanginya sambil menawarkan punggung lebarnya yang kokoh. "A







