LOGINPagi-pagi sekali, kesibukan sudah menyergap Pos Empat. Keempat laki-laki itu tampak cekatan melipat tenda dan memadatkan kembali seluruh perlengkapan kemah ke dalam tas carrier masing-masing.
Di sudut dipan kayu, Elara menunggu dengan sisa kantuk yang masih menggelayuti matanya. Ia menyandarkan kepala pada tiang kayu, memperhatikan gerakan mereka yang seolah sudah terbiasa dengan kerasnya alam. "Sudah semua? Pastikan jangan sampai ada sampah atau barang yang tertinggal," seru Reygan. Ia menyisir permukaan rumput dengan cahaya senter, memastikan area bekas tenda mereka kembali bersih. "Beres, Rey. Tas lo biar gue yang bawa," sahut Zavier sambil mengaitkan tas milik Reygan ke pundaknya. Sesuai rencana yang telah mereka sepakati semalam, Reygan harus mengosongkan punggungnya karena tugasnya pagi ini adalah menggendong Elara hingga ke pos bawah. Reygan berjalan mendekati Elara. Ia berlutut di depan gadis itu, membelakanginya sambil menawarkan punggung lebarnya yang kokoh. "Ayo naik ke punggungku, Elara. Kita turun sekarang," ucap Reygan tenang. Elara menatap punggung lebar itu dengan perasaan campur aduk. Ada keraguan yang tertahan di ujung lidahnya, namun melihat tatapan tajam Juna yang seolah menghitung setiap detik waktu yang terbuang, ia akhirnya luluh. Perlahan, ia melingkarkan lengannya di leher Reygan, dengan satu gerakan mantap, Reygan berdiri. Ia menyangga paha Elara dengan kedua tangannya, memastikan posisi gadis itu stabil dan nyaman. "Pegangan yang kuat, Elara. Jalur di depan mungkin akan sedikit berguncang," bisiknya cukup keras agar terdengar di balik desau angin pagi. "Maaf ya, Rey... aku merepotkanmu," lirih Elara tepat di dekat telinga pria itu. Reygan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengencangkan pegangannya dan mulai melangkah memimpin di depan. Rombongan kecil itu mulai meninggalkan Pos Empat, menembus kabut pagi yang masih tebal menyelimuti hutan pinus. Perjalanan turun ternyata jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Khususnya untuk Reygan yang saat ini membawa beban dipunggungnya. Tanah yang lembap oleh embun pagi membuat pijakan menjadi licin. Namun, Reygan bergerak dengan ketenangan yang luar biasa. Setiap langkahnya penuh perhitungan, ia memastikan kakinya berpijak pada akar pohon yang kuat atau batu yang stabil sebelum memindahkan berat tubuhnya. Di atas punggung itu, Elara bisa merasakan otot-otot bahu Reygan yang bekerja keras setiap kali mereka menuruni tanjakan curam. Napas Reygan mulai terdengar lebih berat. "Istirahat sebentar, Rey? Lo udah menggendongnya hampir satu jam tanpa henti," seru Zavier dari belakang, yang juga mulai terengah-engah membawa dua beban. Tas carrier miliknya dan milik Reygan. "Sedikit lagi. Kita harus sampai di Pos Tiga sebelum matahari terlalu tinggi," sahut Reygan tanpa menoleh. Keringat mulai menetes di pelipisnya, membeku dalam suhu udara yang ekstrem, namun fokusnya tidak beralih sedikit pun dari jalan setapak di depannya. Elara semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Reygan. Aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya udara gunung itu entah mengapa memberinya rasa aman. Gunung Saujana memang selalu memberinya kenangan indah. Bersama ayahnya dan sekarang bertemu dengan Reygan. Baginya, Saujana adalah puncak dunianya. Pikiran Elara tengah berkelana, ia membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ibu tiri nya setelah tiba di rumah nanti. Apalagi, Jackson pasti telah memberi kabar tentang penyerangan Reygan kemarin. Tidak ingin larut dalam pikiran buruk, Elara semakin mengeratkan kedua tangannya di leher Reygan. Laki-laki itu menoleh sekilas kearah Elara. Wajahnya menampilkan senyuman tipis melihat Elara mengeratkan pegangannya. "Berhenti!" Seruan tajam dari arah di depan mereka menghentikan langkah Reygan yang berada di posisi paling depan, membuat Juna dan yang lainnya hampir bertabrakan di belakangnya. Di tengah jalur setapak yang menyempit dan dikelilingi jurang dangkal, sosok Jackson berdiri angkuh. Ia tidak lagi sendiri. Di belakangnya, tiga pria berbadan tegap berdiri dengan tangan bersedekap, menghalangi jalan. "Turunkan dia, berandal," geram Jackson. Luka lebam di rahangnya akibat pukulan Reygan kemarin kini tampak membiru. Elara tersentak. Pegangannya pada leher Reygan mengerat. Ketakutan yang sejak semalam ia redam kini meledak kembali saat melihat orang-orang suruhan ibu tirinya sudah berada di depan mata. "Jack, apa yang kamu lakukan?!" teriak Elara dari balik bahu Reygan. "Menjemputmu, El. Tante Sherly sudah kehilangan kesabaran. Dia marah besar sejak kamu pergi dari rumah dan berada di atas gunung dengan pendaki amatir seperti mereka," Jackson melangkah maju, memberi isyarat pada salah satu anak buahnya. "Ambil dia. Jika si brengsek ini melawan, kalian tahu apa yang harus dilakukan." Reygan menurunkan Elara perlahan, membantu gadis itu duduk di atas rumput basah yang masih berselimut embun. "Tunggu di sini," ucapnya lembut, berusaha menenangkan Elara yang tampak menggigil ketakutan. "Rey, jangan..." bisik Elara gemetar. Ia tahu siapa pria-pria di depan mereka. Dengan sisa tenaganya, Elara menarik ujung jaket Reygan, menahan laki-laki itu agar tidak melangkah lebih jauh. Ia tidak ingin melihat Reygan dan sahabat-sahabatnya terlibat lebih jauh dalam masalah keluarganya. "Aku akan pulang bersama mereka," ucap Elara lirih, sebuah keputusan yang membuat Reygan terpukul. "Tapi, El—" "Rey, sudah. Cukup," potong Elara. Ia mengumpulkan keberanian, mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Reygan. Ia menatap lekat manik mata pria itu, mencoba merekam setiap detail wajah tampan yang telah menjadi malaikat pelindungnya selama di Saujana. "Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau tidak bertemu denganmu di gunung ini. Sekali lagi, aku minta maaf sudah mengacaukan liburan kalian," bisiknya nyaris tak terdengar sebelum perlahan melepaskan tangannya. Dengan susah payah, Elara berusaha bangkit meski kakinya berdenyut nyeri. Ia menatap Juna, Zavier, dan Yuda satu per satu dengan pandangan penuh sesal. "Terima kasih banyak. Maaf aku sudah sangat merepotkan kalian." Dengan langkah tertatih dan napas yang tertahan, Elara berjalan mendekati Jackson. Begitu dekat, Jackson langsung menyambar lengannya dan menariknya dengan kasar ke arah kerumunan pria suruhan keluarga Elara. Mengabaikan rintihan kesakitan Elara karena luka di kakinya. Air mata jatuh di pipi Elara, merasakan sakit di kakinya akibat ditarik paksa oleh Jackson. "Elara!" Reygan melangkah maju, matanya berkilat merah menahan amarah yang meledak melihat gadis itu diperlakukan seperti benda mati yang tidak berharga. "Rey!Stop!" Tangan Juna dengan cepat menyambar bahu Reygan yang telah siap untuk bertarung. "Biarkan Elara pergi dengan mereka. Jangan bikin keributan di sini." Tambahnya terus menahan bahu Reygan. "Aku tidak apa-apa, Rey. Selamat tinggal..." lirih Elara dengan air mata yang lagi-lagi luruh membasahi pipinya. Ia tidak menoleh saat tubuhnya diangkat ke punggung salah satu pria berbadan tegap itu untuk dibawa menjauh, menghilang di balik rimbunnya hutan pinus yang dingin."Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. "Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. "Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. "Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu
Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. "Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. "Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. "Iya, maaf, Non. Pak Damar c
REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend
ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. "Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. "Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal
VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang
"KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. "Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. "Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. "Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" "Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. "Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng







