MasukPagi di Kanton Zurich menyapa Danau Zurich dengan selimut kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan Alpen. Di dalam ruang kerja Villa von Graffenried, sebuah bangunan batu tua yang berdiri megah menghadap pemandangan danau dan salju, keheningan selalu menjadi penghuni tetap. Bau kayu pinus yang terbakar di perapian berpadu erat dengan aroma kental kopi hitam dan tumpukan dokumen tua di atas meja mahoni. Wilhelm von Graffenried duduk tegap di kursi berukir berlapis kulit tua. Kepala keluarga von Graffenried yang telah berusia hampir delapan puluh tahun itu masih memiliki binar mata yang tajam bagai elang. Meskipun rambut putihnya memotong rapi garis rahangnya yang tegas, postur tubuhnya yang kokoh memancarkan otoritas seeorang pemimpin yang tak pernah tergoyahkan oleh zaman. Di tangannya, sebatang cerutu tipis mengepulkan asap halus ke udara, sementara tatapannya terpaku pada bingkai foto tua perak di sudut meja, foto seorang wanita muda bermata bening yang wajahnya begitu mi
"Reygan, Mama pikir sebaiknya kalian harus segera melangsungkan pemberkatan di rumah sakit. Kondisi Elara tidak memungkinkan untuk menggelar pesta, apalagi membawa dirinya untuk pemberkatan di gereja." Suara Katrin memecah hening ruang perawatan Elara. Wanita paruh baya itu duduk di meja makan sudut ruang perawatan dengan jemari yang saling bertaut erat di atas meja. Wajahnya terlihat lelah dan cemas. Reygan yang duduk tepat di hadapan sang ibu menatap wajah mamanya dengan serius. Pria itu baru saja tiba setelah menempuh perjalanan dari kafe Le Moka bersama Lingga yang langusung melesat melaksanakan tugas yang ia berikan, meninggalkan sisa ketegangan di kafe tentang pria penyusup itu yang belum sepenuhnya reda di kepalanya. Jas hitamnya tersampir di sandaran kursi, sementara matanya menatap lurus ke arah ranjang. Di sana, Elara tengah tertidur tenang. Monitor jantung di samping ranjangnya memancarkan ritme grafik hijau yang teratur. "Pemberkatan darurat?" suara Reygan terde
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kinan lembut. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Zheydan, sementara jemari lentiknya mengusap pelan punggung tangan pria itu yang menyisakan memar kemerahan. Zheydan tidak langsung menjawab. Fokusnya masih tertuju pada layar ponsel Kinan yang sedang ia genggam. Jemarinya bergerak lincah mengatur beberapa akses pintas agar Kinan bisa bertindak cepat jika berada dalam bahaya. "Sekarang sudah aman," bisik Zheydan serak, mengecup lembut puncak kepala Kinan. Ia memiringkan layar ponsel itu agar Kinan bisa melihatnya. "Aku baru saja mengunduh aplikasi pelacak keluarga dan mengatur panggilan darurat di ponselmu." Kinan mendongak, menatap tampilan layar ponselnya yang kini memiliki beberapa pembaruan. "Lihat ini," ujar Zheydan seraya mengarahkan ibu jari Kinan ke tombol daya di samping ponsel. "Aku sudah mengaktifkan fitur Speed Dial dan tombol darurat. Kalau kamu menekan tombol daya ini lima kali secara cepat, ponselmu akan otomatis menele
Reygan menahan bahu Zheydan dengan tegas. "Jangan bertindak gegabah. Kita butuh orang itu untuk mengorek informasi. Kalau dia mati... !" Ujar Reygan tajam, menghentikan kalimatnya memberi peringatan. Zheydan tidak menjawab, ia hanya menatap balik mata tajam Reygan dengan tatapan yang lebih menusuk dan rahang mengeras. Ketegangan di depan pintu kamar memancar di udara. Reygan tidak mengendurkan cengkeramannya pada bahu Zheydan sedikit pun. Sorot mata kedua pria itu beradu—Reygan dengan ketenangan dan kepala dingin sedangkan Zheydan dengan gelombang amarah yang tak terkendali. "Aku mengerti emosi mu atas apa yamg terjadi pada Kinan," desis Reygan, suaranya sangat rendah hingga hampir tenggelam oleh ketukan air hujan yang mulai menetes di luar kafe. "Tapi kalau tangan mu sampai mematahkan lehernya, kita cuma dapat bangkai tanpa jawaban." Zheydan menghembuskan napas kasar melalui hidungnya. Dengan satu gerakan lambat namun bertenaga, ia menepis tangan Reygan dari bahunya. "Aku t
BUAK! Sebuah tendangan kuat membuat pisau di tangan pria itu terlempar jauh. Lingga—dengan raut wajah yang dipenuhi amarah—mencengkeram leher pria itu, lalu menghantamkan tubuh sang penyusup ke dinding marmer hingga terdengar dentuman keras yang menggetarkan kamar. Lingga tidak memberikan ruang sedikit pun untuk bernapas. Pukulan beruntun mendarat telak di rahang dan tulang rusuk sang penyusup, disusul satu hantaman lutut keras ke bagian perut yang membuat pria itu memuntahkan darah dan roboh tak sadarkan diri di lantai. Kamar seketika hening, hanya diselimuti oleh deru napas Lingga yang memburu hebat. Mata tajam Lingga dengan cepat memindai ruangan. Ia melihat Kinan yang terisak di atas kasur dengan pakaian terkoyak. "Abang..." isak Kinan pecah. Lingga melepaskan jas hitam yang dikenakannya, mendekati ranjang untuk menutupi tubuh Kinan. "Kinan, kamu nggak apa-apa?" Kinan menggeleng cepat, "Vanda, bang. Vanda terluka!" lirih Kinan meminta Lingga untuk segera menyelama
"Halo cantik, apa kabar?" Suara berat bercampur kekehan licik itu meluncur dari bibir seorang pria berbadan tegap dan berotot. Seketika, memori buruk Kinan berputar di benaknya. Ia mengenali wajah sangar itu—sosok penculik bayaran yang pernah membekap mulutnya hingga hilang kesadaran atas perintah Sherly Adolf waktu itu. "M—mau apa kamu?!" suara Kinan bergetar hebat. Ia melangkah mundur secara perlahan, wajahnya pucat pasi tanpa tersisa warna. Penyesalan hebat membakar dadanya karena telah memutus sambungan telepon dengan Zheydan. Kini, ia benar-benar terperangkap sendirian. "Ba—bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?!" pekik Kinan dengan suara gemetar. Tawa pria itu meledak, memantul di tiap sudut kamar Kinan yang sempit. Suara tawa cemoohan dan ancaman. "Coba kamu pikirkan sendiri... bagaimana aku bisa melenggang masuk ke sini tanpa ketahuan?" Napas Kinan tercekat. Bayangan wajah Vanda seketika melintas di benaknya, membakar rasa curiga yang sejak awal memang sudah tert







