FAZER LOGINBUAK! Sebuah tendangan kuat membuat pisau di tangan pria itu terlempar jauh. Lingga—dengan raut wajah yang dipenuhi amarah—mencengkeram leher pria itu, lalu menghantamkan tubuh sang penyusup ke dinding marmer hingga terdengar dentuman keras yang menggetarkan kamar. Lingga tidak memberikan ruang sedikit pun untuk bernapas. Pukulan beruntun mendarat telak di rahang dan tulang rusuk sang penyusup, disusul satu hantaman lutut keras ke bagian perut yang membuat pria itu memuntahkan darah dan roboh tak sadarkan diri di lantai. Kamar seketika hening, hanya diselimuti oleh deru napas Lingga yang memburu hebat. Mata tajam Lingga dengan cepat memindai ruangan. Ia melihat Kinan yang terisak di atas kasur dengan pakaian terkoyak. "Abang..." isak Kinan pecah. Lingga melepaskan jas hitam yang dikenakannya, mendekati ranjang untuk menutupi tubuh Kinan. "Kinan, kamu nggak apa-apa?" Kinan menggeleng cepat, "Vanda, bang. Vanda terluka!" lirih Kinan meminta Lingga untuk segera menyelama
"Halo cantik, apa kabar?" Suara berat bercampur kekehan licik itu meluncur dari bibir seorang pria berbadan tegap dan berotot. Seketika, memori buruk Kinan berputar di benaknya. Ia mengenali wajah sangar itu—sosok penculik bayaran yang pernah membekap mulutnya hingga hilang kesadaran atas perintah Sherly Adolf waktu itu. "M—mau apa kamu?!" suara Kinan bergetar hebat. Ia melangkah mundur secara perlahan, wajahnya pucat pasi tanpa tersisa warna. Penyesalan hebat membakar dadanya karena telah memutus sambungan telepon dengan Zheydan. Kini, ia benar-benar terperangkap sendirian. "Ba—bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku?!" pekik Kinan dengan suara gemetar. Tawa pria itu meledak, memantul di tiap sudut kamar Kinan yang sempit. Suara tawa cemoohan dan ancaman. "Coba kamu pikirkan sendiri... bagaimana aku bisa melenggang masuk ke sini tanpa ketahuan?" Napas Kinan tercekat. Bayangan wajah Vanda seketika melintas di benaknya, membakar rasa curiga yang sejak awal memang sudah tert
"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi!" Kinan memotong, langkahnya terburu-buru menuju pintu belakang kafe dengan bahu menegang. "Berhenti, Kinan!" Suara Lingga menggelegar, memutus langkah adiknya seketika. Kinan membeku di ambang pintu, namun tidak berbalik. "Kenapa kamu jadi begini? Kenapa kamu terus-terusan membantah kata-kata Abang?" Kinan akhirnya memutar tubuhnya. Wajahnya sembab, amarah bercampur luka membara di matanya yang berkaca-kaca. "Karena Abang lebih peduli pada dia! Abang lebih memilih membela orang asing itu daripada adik kandung Abang sendiri!" teriaknya, suaranya pecah oleh isak yang tak lagi sanggup ia tahan. "Lingga..." Vanda mencoba mendekat, tangannya terulur ragu. "Sudah cukup. Jangan paksa Kinan. Aku... aku nggak mau kalian bertengkar karena aku." "Diam!" Kinan menyambar, menatap tajam ke arah Vanda. "Nggak usah sok baik. Berhenti bersandiwara seolah kamu adalah korban di sini!" "KINAN!" Lingga memangkas jarak, langkahnya menghentak lantai dengan
Lingga berdiri diambang pintu. Menatap tajam kearah Jackson dan Vanda. Pria itu masih mengenakan kemeja serba hitam yang agak kusut setelah menjaga ruang perawatan Elara semalaman di rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat letih, namun sorot matanya yang tajam bagai elang langsung terkunci pada sosok Jackson. Langkah kaki Lingga terdengar tegas menapak lantai kayu kafe, menciptakan gema yang membuat semua orang terdiam. "Bang Lingga...?" gumam Kinan kaget dari balik meja kasir. Ia tidak menyangka sang kakak akan pulang secepat ini dari rumah sakit. Vanda tersentak pelan. Ada rasa bersalah dan ketakutan yang mendadak hinggap di relung hatinya saat menatap Lingga. Pria itu yang telah menyelamatkan hidupnya, memberinya tempat berteduh, dan satu-satunya orang yang mau percaya padanya. Namun, kini saat ia melihatnya berpelukan dengan Jackson, membuat Vanda berpikir kalau Lingga akan menganggapnya sebagai seorang pengkhianat. Jackson, sebaliknya, justru menyunggingkan senyum miring
Aroma gurih biji kopi yang disangrai dan manisnya sirup vanila memenuhi sudut-sudut ruangan kafe milik Lingga dan Kinan yang masih lengang di pagi hari. Sinar matahari tipis menembus jendela kaca depan, memantul di atas meja kasir berbahan kayu jati. Di balik meja kasir, Kinan berdiri termenung sendirian. Jemari lentiknya mengetuk-ngetuk permukaan meja, sementara bibirnya mengembang membentuk senyum tipis yang hangat. Benaknya masih dipenuhi oleh bayang-bayang Zheydan—sentuhan dan gairah saat mereka menghabiskan waktu bersama malam itu, seakan menjadi memori termanis dalam hidup Kinan. "Kinan..." Panggilan bersuara pelan dan agak ragu itu seketika memecah lamunan manis Kinan. Bayangan ketampanan Zheydan mendadak buyar, hatinya kini dipenuhi rasa jengkel yang perlahan membakar dadanya. Kinan menoleh ke belakang dengan raut wajah dingin dan sinis. Di sana, Vanda sudah berdiri rapi mengenakan apron kain berwarna hijau tua, siap untuk membantu menyeka meja dan melayani pelangg
CLARISSA CALLING... Reygan mematung di samping brankar Elara. Jemarinya yang masih menggenggam tangan dingin sang istri perlahan mengendur. Keningnya berkerut, menatap nama wanita yang seharusnya sudah tidak memiliki hubungan apa pun dalam hidupnya setelah pernikahan mereka dibatalkan. Untuk apa Clarissa menelepon pada pukul dua dini hari? Apakah ada maksud terselubung di balik panggilan misterius ini? Reygan melirik ke arah Elara. Wajah wanita itu masih terlelap tenang pasca operasi karena mengalami pendarahan. Tak ingin suara dering telepon mengganggu istirahat Elara Reygan menarik napas panjang, lalu perlahan bangkit dari kursi. Ia melangkah keluar kamar dengan perlahan. Begitu pintu kayu tebal itu tertutup rapat di belakangnya, Reygan mendapati Lingga masih duduk menikmati kopi hangatnya dan tetap siaga di depan kamar. Lingga menoleh begitu melihat Reygan keluar. "Kenapa, Rey?" Reygan tak menjawab. Ia hanya menunjukkan layar ponselnya yang masih bergetar hebat. L







