FAZER LOGINSuasana di dalam ruang kerja privat itu terasa begitu pekat oleh ketegangan. Sunyi, kaku, dan dipenuhi oleh dokumen-dokumen hukum yang siap mengubah peta pertarungan.Daniel Wilman duduk tegap di balik meja kerjanya, jemarinya membolak-balik lembaran berkas dengan tatapan tajam. Di hadapannya, Tomi--pengacara senior yang memang direkrut lama khusus untuk membongkar simpul mati perceraian Juna dan Nayla sedang membaca setiap pasal dengan cermat.Sementara, Sammy Satya Dharma berdiri mematung di dekat dinding kaca besar. Punggungnya menghadap ke dalam ruangan dengan tatapan menembus cakrawala kota yang mulai diselimuti senja. Aura kepemimpinan yang dingin dan penuh perhitungan menguar dari sosoknya."Jadi, proses hukum Juna dan Nayla benar-benar disetir agar jalan di tempat karena Siska terus mencari celah dan mencoba menyuap?" tanya Sammy tanpa membalikkan badan.Tomi mendongak, sembari merapikan kacamatanya. "Kurang lebih begitu. Secara hukum mate
Sore yang mendung baru saja menaungi sudut kota ketika Nayla melangkah keluar dari sebuah minimarket. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku di trotoar. Di seberang jalan, berdiri sesosok pria tinggi berkemeja gelap yang saat ini menatapnya dengan raut tenang namun sarat kekhawatiran.Sammy Satya Dharma.Lelaki yang selama berbulan-bulan ini hidup bagai bayangan kelam di balik kehancuran rumah tangganya bersama Juna--sekaligus ayah biologis dari janin yang kini makin membesar di dalam kandungannya.Nayla tentu enggan menyambutnya dengan teriakan histeris, namun tak pula menemukan alasan tepat untuk melarikan diri. Bagaimanapun, pria itu telah menjadi bagian dari cerita rumit di dihidupnya. Berujung, Nayla hanya mematung dengan raut wajah datar nan dingin. Dia membiarkan Sammy menyeberangi jalan dan mendekat ke arahnya. "Aku tidak menyangka kau muncul di hadapanku lagi secepat ini, Sammy," ujar Nayla ketus.Sammy berhenti tepat dua meter
Siang itu, Amelia mendatangi koridor lantai dua gedung fakultas untuk mengurus beberapa berkas administrasi skripsinya yang sempat tertunda. Urusannya dengan pihak tata usaha hampir selesai ketika langkah kakinya mendadak terhenti kaku di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pelataran parkir belakang kampus. Di seberang halaman yang lengang, Dave tampak berdiri berdampingan bersama Siska Admaji. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, interaksi di antara mereka tidak lagi terlihat canggung atau berlangsung singkat. Siska berdiri dengan postur tubuh yang tegang dan raut wajah amat serius. Sementara, Dave mendengarkan setiap patah kata perempuan itu dengan kepala tertunduk dalam. Sesekali, Siska menunjukkan sesuatu pada layar ponselnya, lalu kembali berbisik dengan nada rendah sarat akan dominasi. Amelia mencengkeram map di tangannya, menatap pemandangan berbahaya itu dari kejauhan. Nama Jihan langsung te
Juna tiba di unit apartemen Jihan saat jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Tubuhnya sarat akan keletihan setelah memimpin serangkaian rapat sengit di Janendra Corp. Begitu pintu apartemen terbuka, lelah itu menguap tanpa sisa saat. Dia mendapati Jihan masih terjaga, duduk menunggunya di ruang tengah."Kau belum tidur, Jihan?" tanya Juna lembut seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa.Jihan menggeleng-geleng, seraya mengulas senyum yang langsung meluluhkan kelelahan Juna. "Belum. Aku menunggumu."Juna beringsut mendekat. Keningnya mengernyit halus. "Kenapa menungguku sampai selarut ini? Jihan, aktivitasmu sudah cukup padat. Jangan sampai jam tidurmu makin berantakan gara-gara menungguku."Jihan mengangkat bahunya santai, menunjuk meja makan di dekat mereka. "Kalau aku tidak menunggu, siapa yang bakal makan masakan ini? Aku sudah menyiapkannya sejak tadi."Praktis Juna menatap tudung saji di atas meja, l
Juna Janendra kini memiliki sebuah kebiasaan baru yang menguasai seluruh fokusnya. Setiap kali tugas-tugas di Janendra Corp selesai, dia tak lagi berlama-lama di ruang kerjanya atau langsung meluncur ke kediaman utamanya. Langkah kakinya selalu membawanya ke satu tujuan: unit apartemen tempat Jihan tinggal.Semula, alasan pria itu terdengar begitu logis dan diplomatis--memastikan keamanan tempat tinggal Jihan, memeriksa jika ada fasilitas yang kurang, atau sekadar memastikan gadis itu tidak kekurangan sesuatu. Namun seiring berjalannya hari, topeng alasan rasional itu mengikis habis. Juna sadar, dia membelah kemacetan kota menjelang malam hanya demi satu hal: dia merindukan Jihan. Kerinduan yang menggebu dan tak lagi bisa dia jinakkan.Malam ini, pintu apartemen terbuka bahkan sebelum ketukan tangan Juna mendarat untuk kedua kalinya. Jihan berdiri di sana, tampil bersahaja dengan rambut yang terikat asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut membingkai leher
Siska Admaji memilih sebuah restoran privat di sudut kota yang redup dan lenggang--tempat yang cukup terisolasi untuk merancang rencana kotor tanpa khawatir tercium oleh telinga asing.Dave sudah duduk di sudut ruangan ketika Siska mendekat dengan langkah anggun. Pria itu menatap kedatangan Siska dengan sorot mata dingin, tanpa salam, tanpa gestur menghormati. "Kali ini aku ingin bicara terus terang padamu, Dave," ujar Siska seraya mendudukkan diri di hadapannya.Dave menyandarkan punggung ke kursi, bersedekap dada dengan raut kaku. "Silakan. Saya mendengarnya."Siska meletakkan sebuah map di atas meja di tengah-tengah mereka. Dave menatap map itu sekilas, namun tak berminat untuk menyentuhnya."Aku tahu perasaanmu terhadap Jihan masih ada, Dave," bisik Siska, suaranya mengalun tenang namun merayap bagai racun. "Aku tahu kau masih menatap Jihan dengan kerinduan yang sama seperti dulu.""Kalau Nyonya datang jauh-jauh hanya untuk
Dua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan bagin
Rencana Daniel untuk memboyong Jihan ke restoran Prancis terpaksa pupus. Gadis itu memaksakan pilihan dia sendiri dan rumah makan murah yang sangat terkenal di Jakarta adalah tempat tujuannya. RM Sari Rasa, rumah makan ini menyajikan menu masakan rumahan khas Jawa, seperti rawon leker, nasi kuning,
Berbaik hati mengantarkan perempuan tak dikenal, tahu-tahu Juna sedikit bingung. Seraya menyesap pelan kopi latte dari cup, benaknya berpikir ulang untuk apa dia mau merepotkan diri, membuang waktu demi orang asing? Dia bukanlah pribadi yang senang terlibat dengan masalah orang lain. Lalu, saat ini
"Tolong, cepatlah sedikit. Aku sudah telat. Mereka tidak akan membayarku karena ini." "Tenanglah, Nona. Anda mengganggu konsentrasi menyetir Saya. Mobilnya tidak bisa lebih cepat lagi, ini batasnya. Duduk yang benar dan diam, agar saya bisa segera mengantar Anda sampai ke tujuan." "Batas kau bila







