Inicio / Romansa / Cinta yang Angkuh / Bab 128: Dikurung 3

Compartir

Bab 128: Dikurung 3

Autor: Salju Berterbangan
“Aku nyalakan TV buat kamu. Kamu bisa pilih saluran apa saja yang kamu suka,” kata Andi sambil tiba-tiba ganti topik pembicaraan.

Patricia tarik napas dalam.

Siapa yang bisa nikmati nonton TV kalau dirinya diikat seperti ini?

“Oh yah, satu hal lagi, Pat. Aku sudah cabut semua kabel telepon, jadi jangan pikir untuk coba telepon siapa pun. Dan nggak usah repot-repot coba dobrak pintu. Pintu itu terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Aku khawatir yang luka nanti justru tanganmu sendiri.”

Wanita
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Cinta yang Angkuh   Bab 200: Episode Spesial 6 (Tamat)

    Dengan wajah sedikit terkejut, Puput buka pintu kamar untuk kakaknya, meskipun sebenarnya dia sudah duga kalau Pasha pasti akan datang tanya tentang Nico.“Cerita ke aku, kenapa kamu begitu percaya ke dia?”“Pasha, gimana bisa kamu tanyakan itu? Malu banget, tahu.”Puput jalan ke arah tempat tidur lalu jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kakaknya ikut mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil usap rambut adiknya perlahan.“Nggak perlu malu. Ceritakan saja semuanya supaya aku bisa lihat itu dari sudut pandang yang berbeda.”Meskipun semuanya sudah jadi jelas, tetap ada sedikit keraguan yang tersisa di hati Pasha.“Pasha, kamu tahu nggak kalau Nico buat tato baru di sisi kiri dadanya?”“Hm? Oh yah?”“Iya.”“Terus?”Pasha masih belum ngerti apa hubungannya dengan semua ini. Puput segera bangkit dari tempat tidur, ambil HP nya, buka foto yang sempat dia ambil, lalu kasih kakaknya lihat.“Ini Nico?”“Iya.”Puput tersenyum aneh, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam foto itu. Pasha perh

  • Cinta yang Angkuh   Bab 199: Episode Spesial 5

    Di tengah kicauan lembut burung-burung pagi, Puput yang masih tertidur pulas bergerak mendekat, cari kehangatan. Dia peluk tubuh di sampingnya erat-erat, seolah itu adalah bantal favoritnya. Namun, kenapa bantal lembutnya bisa gerak? Dengan cepat Puput buka mata.“Nico.”Puput menatap Nico yang sudah bersandar dengan sikunya, pandangi dia dengan senyum hangat. Seketika, hatinya ikut terasa hangat.“Sekarang jam berapa? Aku nggak sadar kapan aku ketiduran.”“Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu pasti capek banget tadi malam.”Mata Nico berkilau nakal ketika dia usap pipi lembut Puput dengan penuh kasih.“Nico, seluruh tubuhku rasanya pegal-pegal.”Gadis kecil itu tampak lelah sekaligus merajuk. Nico tahan tawanya penuh sayang. Gimana mungkin tubuh Puput nggak pegal? Tadi malam dia benar-benar kerahkan seluruh tenaganya nggak tahan diri lagi.Tok … tok … tok.“Sarapan sudah datang.”Nico segera bangkit dari tempat tidur dan tarik selimut hingga tutupi tubuh Puput sepenuhnya. Dia nggak mau sia

  • Cinta yang Angkuh   Bab 198: Episode Spesial 4

    Nico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik

  • Cinta yang Angkuh   Bab 197: Episode Spesial 3

    Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu

  • Cinta yang Angkuh   Bab 196: Episode Spesial 2

    “Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l

  • Cinta yang Angkuh   Bab 195: Episode Spesial 1

    Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W

  • Cinta yang Angkuh   Bab 26: Pertunangan 3

    “Ibu tadi ngomong apa?” Theo yang baru mengetahui berita itu melonjak dari kursinya di tengah makan malam.“Ibu bilang Kevin sudah bertunangan dengan Rosie.”“Itu nggak mungkin! Benar kan, Kevin? Bagaimana mungkin kamu bisa bertunangan dengan si genit itu?” Theo menoleh ke kakaknya, yang dengan te

  • Cinta yang Angkuh   Bab 25: Pertunangan 2

    “Bu, ada apa? Kenapa Ibu terlihat tegang?” tanya Rosie, menyadari sikap ibunya berbeda dari biasanya.“Tante Paula datang. Dia sedang menunggu di bawah sekarang.”“Benarkah? Apa terjadi sesuatu?”“Rosie, Paula bilang Kevin sudah setuju untuk bertunangan denganmu.” Saat Ambar berbicara, dia mempel

  • Cinta yang Angkuh   Bab 24: Pertunangan 1

    Setelah Nina pulang, Ferry langsung tertidur pulas, memberikan kesempatan bagi Ambar dan Rosie untuk bicara berdua. Ambar mulai menceritakan kepada putrinya tentang apa yang terjadi sebelumnya.“Pertunangan, Bu?” Mata Rosie melebar terkejut mendengarnya.“Benar, Rosie. Ibu juga bingung. Paula sepe

  • Cinta yang Angkuh   Bab 23: Tidak Terhindarkan 4

    Di paviliun, Paula sedang duduk dan memperhatikan semua orang yang sedang menikmati kolam renang, sementara Ambar duduk di sampingnya. Supeni juga menyajikan jus buah apel dingin di meja untuk menghilangkan dahaga mereka.“Ambar, aku merasa keluargaku hidup kembali hari ini.” Kata Paula dengan seny

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status