/ Romansa / Cinta yang Angkuh / Bab 15: Hadiah Darinya 1

공유

Bab 15: Hadiah Darinya 1

작가: Salju Berterbangan
Keesokan harinya, Kevin melangkah ke rumah Ambar dan menekan bel pintu, membuat Ambar terkejut. Ketika Ambar mengetahui alasan kunjungannya, keterkejutannya semakin bertambah.

“Biasanya, aku selalu membelikan Rosie hadiah ulang tahun setiap tahun. Tahun ini, aku benar-benar lupa, jadi aku datang untuk meminta bantuan Tante. Aku ingin mengajak Rosie memilih hadiah ulang tahun yang terlambat.”

“Hadiah ulang tahun Rosie?” ulang Ambar, terkejut.

“Ya.”

“Baiklah, aku akan memanggil Rosie. Silakan duduk. Dia mungkin belum bangun.”

“Terima kasih.”

Ambar cepat-cepat berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar putrinya, dan dalam sekejap, Rosie membukanya. Melihat ekspresi terkejut ibunya, ia menjadi penasaran.

“Ada apa, Bu? Ibu terlihat sangat terkejut.”

“Bagaimana Ibu nggak terkejut? Kevin baru saja muncul dan ingin mengajakmu keluar untuk membeli hadiah ulang tahun.”

“Kevin?” Mata Rosie melebar tak percaya.

“Ya! Ibu pun terkejut. Apa kamu mau pergi, Sayang?”

“Ya, aku akan pergi.”

“Oh, putriku bahkan nggak berpikir dua kali.” Ibunya hampir menepuk dada karena kesal, tidak mengerti mengapa Kevin harus menyalakan perasaan putrinya saat ini.

Rosie bergegas keluar dari kamarnya. Melihat Kevin di ruang tamu, jantungnya berdebar kencang, ia tidak pernah menyangka Kevin akan datang, apalagi mengajaknya keluar untuk memilih hadiah ulang tahun.

“Halo, Kevin.” Ia mengangkat tangan menyapa dengan senyum lebar di wajahnya.

“Aku dulu membelikanmu hadiah ulang tahun setiap tahun, kecuali saat kamu tinggal di luar kota. Sekarang kamu kembali ke sini, aku pikir aku harus memberikannya seperti dulu. Ibuku memaksaku untuk membelikanmu hadiah seperti dulu,” katanya panjang lebar. Pada akhirnya, Rosie mengerti bahwa Tante Paula lah yang memaksanya membeli hadiah itu.

“Kalau kamu nggak bersedia, nggak apa-apa,” katanya, kegembiraannya dengan cepat berubah menjadi kesedihan.

“Ibuku menyuruhku membelikan hadiah, dan aku sudah berjanji. Jangan dibesar-besarkan, Rosie. Kita hanya pergi memilih sesuatu, aku bayar, dan selesai,” kata Kevin, seolah itu bukan hal penting, hanya sesuatu yang harus diselesaikan.

“Baiklah kalau begitu. Mari kita selesaikan saja,” jawab Rosie, merasa sedikit sedih. Jika ia tidak pergi, itu pasti akan membuat Kevin canggung dan serba salah.

“Kita pergi naik mobilku. Aku akan menjemputmu nanti. Tunggu saja di luar,” katanya, dengan nada yang lebih seperti perintah.

“Oke.”

Rosie memberitahu ibunya bahwa ia akan pergi keluar untuk membeli hadiah ulang tahun bersama Kevin. Ibunya tampak kuatir, sebenarnya ia tidak ingin Rosie terlibat dengan Kevin lagi.

“Apa itu benar-benar ide yang bagus, Rosie? Ibu pikir lebih baik kamu menjauh saja, seperti yang kamu inginkan,” katanya.

“Kevin nggak mau, Bu. Tante Paula yang memaksanya.”

“Oh, begitu. Kalau begitu, pergilah, Sayang. Kalau Tante Paula bersikeras, anak-anaknya mungkin nggak bisa menolak. Ibu mengenalnya dengan baik, tapi Ibu harap dia nggak memaksa Theo untuk membelikanmu hadiah juga.”

“Kevin nggak menyebutkannya, jadi kurasa nggak.”

“Syukurlah. Kalung di lehermu saja sudah cukup. Dan sekarang Kevin juga akan membelikan sesuatu, pilihlah yang nggak mahal, Rosie.”

“Eh, aku nggak yakin Kevin akan membawaku ke mana.”

“Pergi saja, Sayang. Itu mobilnya sudah ada.”

“Aku akan segera kembali, Bu.”

“Baiklah.”

Rosie berjalan ke depan rumah dan melihat mobil Kevin menunggu. Ia membuka pintu sisi penumpang, masuk, memasang sabuk pengamannya, dan kemudian berbalik untuk tersenyum padanya.

“Kamu mau membawaku beli hadiah ke mana?”

“Hanya mal terdekat,” jawabnya, memutar kemudi menuju jalan utama.

Perjalanan yang tenang membuat suasana di dalam mobil agak tegang. Rosie menunggu Kevin memulai percakapan, tetapi Kevin tidak melakukannya. Ia hanya terus mengemudi seperti biasa.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Biasa saja.”

“Eh, kukira kamu sudah menikah dengan Maudy.” Karena suatu alasan, Rosie mengangkat topik ini. Kevin tetap diam, tidak langsung menanggapi. Rosie ingin menampar kepalanya sendiri. Mengapa ia harus mengorek masa lalunya tanpa alasan? Bukankah wanita itu salah satu alasan ia harus meninggalkan ibunya?

“Kami nggak saling mencintai lagi,” kata Kevin setelah beberapa saat. Ia menatap Rosie dengan tatapan yang seolah memperingatkannya untuk tidak bertanya lebih jauh.

“Oh, begitu ya?” Rosie menatapnya dan merasakan getaran menjalari tulang punggungnya. Ia ingat apa yang terjadi terakhir kali ia sendirian dengannya. Mengapa ia tidak bisa berhenti? Kevin tidak mencintainya, dan dia telah menghukumnya begitu keras.

‘Apa kamu sudah lupa, Rosie? Betapa menyakitkan bekas luka yang ia tinggalkan,’ pikirnya, tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dada.

“Apa kamu kedinginan?”

“Eh, nggak.” Ia mencoba menjawab dengan santai, tetapi kata-kata Kevin bergema di benaknya, ‘Keperawananmu menjadi milikku, setelah itu keluar dari hidupku, kamu cewek nakal yang genit!’

Ia mengingatnya dengan jelas dan tahu ia tidak boleh mengangkat topik wanita yang menyebabkan kekejamannya itu lagi.

“Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat baik-baik saja tadi, tapi sekarang wajahmu pucat. Apa kamu merasa nggak enak badan?” Kevin sepertinya menyadari sesuatu yang nggak biasa pada Rosie.

“Nggak, aku baik-baik saja. Kamu nggak perlu mengkhawatirkanku.”

“Apa kamu takut padaku?”

“Aku nggak takut sama sekali,” ia cepat-cepat menyangkal.

“Bicara tentang Maudy mengingatkanmu pada kita, kan?” Kevin meliriknya saat mobil berhenti di lampu merah. Di sekitar orang lain, Rosie akan terlihat normal, tetapi ketika ia sendirian dengannya, seolah ada sesuatu yang mencegahnya merasa nyaman satu sama lain.

“Aku sudah melupakan semuanya,” jawab Rosie, jari-jari terjalin di pangkuannya.

“Benarkah, Rosie?” nadanya terdengar ragu.

“Ya.”

“Lalu mengapa kamu nggak mengundangku ke pesta ulang tahunmu kemarin? Kamu biasanya selalu menempel padaku setiap tahun dan merengek padaku untuk membelikanmu hadiah,” katanya sambil menekan pedal gas saat lampu berubah hijau. Mobil bergerak perlahan, dan Kevin masih menunggu jawaban yang ia inginkan.

“Aku hanya bersikap sopan,” jawab Rosie.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Tjatur Budiyanti
menarik ceritanya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Cinta yang Angkuh   Bab 200: Episode Spesial 6 (Tamat)

    Dengan wajah sedikit terkejut, Puput buka pintu kamar untuk kakaknya, meskipun sebenarnya dia sudah duga kalau Pasha pasti akan datang tanya tentang Nico.“Cerita ke aku, kenapa kamu begitu percaya ke dia?”“Pasha, gimana bisa kamu tanyakan itu? Malu banget, tahu.”Puput jalan ke arah tempat tidur lalu jatuhkan dirinya ke atas ranjang. Kakaknya ikut mendekat dan duduk di tepi ranjang sambil usap rambut adiknya perlahan.“Nggak perlu malu. Ceritakan saja semuanya supaya aku bisa lihat itu dari sudut pandang yang berbeda.”Meskipun semuanya sudah jadi jelas, tetap ada sedikit keraguan yang tersisa di hati Pasha.“Pasha, kamu tahu nggak kalau Nico buat tato baru di sisi kiri dadanya?”“Hm? Oh yah?”“Iya.”“Terus?”Pasha masih belum ngerti apa hubungannya dengan semua ini. Puput segera bangkit dari tempat tidur, ambil HP nya, buka foto yang sempat dia ambil, lalu kasih kakaknya lihat.“Ini Nico?”“Iya.”Puput tersenyum aneh, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam foto itu. Pasha perh

  • Cinta yang Angkuh   Bab 199: Episode Spesial 5

    Di tengah kicauan lembut burung-burung pagi, Puput yang masih tertidur pulas bergerak mendekat, cari kehangatan. Dia peluk tubuh di sampingnya erat-erat, seolah itu adalah bantal favoritnya. Namun, kenapa bantal lembutnya bisa gerak? Dengan cepat Puput buka mata.“Nico.”Puput menatap Nico yang sudah bersandar dengan sikunya, pandangi dia dengan senyum hangat. Seketika, hatinya ikut terasa hangat.“Sekarang jam berapa? Aku nggak sadar kapan aku ketiduran.”“Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu pasti capek banget tadi malam.”Mata Nico berkilau nakal ketika dia usap pipi lembut Puput dengan penuh kasih.“Nico, seluruh tubuhku rasanya pegal-pegal.”Gadis kecil itu tampak lelah sekaligus merajuk. Nico tahan tawanya penuh sayang. Gimana mungkin tubuh Puput nggak pegal? Tadi malam dia benar-benar kerahkan seluruh tenaganya nggak tahan diri lagi.Tok … tok … tok.“Sarapan sudah datang.”Nico segera bangkit dari tempat tidur dan tarik selimut hingga tutupi tubuh Puput sepenuhnya. Dia nggak mau sia

  • Cinta yang Angkuh   Bab 198: Episode Spesial 4

    Nico angkat kedua telapak tangannya dan tangkup wajah Puput dengan lembut. Dia dekatkan bibirnya perlahan, lalu cium gadis itu berulang kali, lembut, manis, dan penuh kerinduan, hingga Puput hampir kehabisan napas.Napasnya semakin terputus ketika sesuatu di bawah permukaan air tekan tubuhnya. Sebuah hasrat keras yang tertahan oleh kain menempel erat pada tubuh Puput.“Puput .…”Suara Nico terdengar serak, jelas tunjukkan perasaannya saat itu. Nggak tunggu lama, Nico tarik pergelangan tangan Puput, bawa dia menuju tangga di sudut kolam yang tersembunyi. Sudut itu benar-benar gelap, tertutup papan kayu yang halangi pemandangan tebing.“Nico … ah!”Puput yang terus-menerus dihujani ciuman tanpa sempat bersiap langsung melemah. Nico duduk di anak tangga paling bawah. Dia tarik Puput untuk duduk di pangkuannya, jaga tubuh bagian atasnya tetap berada di atas air. Puput peluk dia erat, sementara tali bra-nya terlepas. Telapak tangan Nico yang besar menyelinap ke dalam tank top kecil yang dik

  • Cinta yang Angkuh   Bab 197: Episode Spesial 3

    Begitu Puput tutup teleponnya, Nico langsung tertawa keras. Dia benar-benar terhibur oleh kepandaian Puput untuk bohong. Dia hampir nggak percaya gadis itu berani katakan semua itu.“Kamu ini benar-benar licik.”“Tunggu dulu, kenapa kamu sebut aku gitu, Puput? Aku nggak pernah suruh kamu bohong ke ibumu. Kamu sendiri yang pikirkan semuanya.”“Itu karena kamu, Nico, aku jadi sampai harus bohong.”Puput pasang wajah cemberut, seolah semua kesalahan sepenuhnya miliknya.“Sudah, sudah. Jangan gitu. Jangan ngambek.”“Aku bukan anak kecil. Kamu selalu bilang aku ngambek.”“Tapi itu cocok untuk kamu, Puput. Kamu memang suka ngambek dan juga gampang nangis, tapi semua tentang kamu tetap terlihat manis dan menggemaskan.”Senyum Nico sampai ke matanya. Puput yang duduk di atas tempat tidur hanya sedikit putar tubuhnya karena malu.“Menurutmu ibumu percaya dengan yang barusan kamu bilang?”“Aku nggak tahu. Sebelum tutup telepon, aku sempat dengar dia menghela napas pelan.”“Kalau dia percaya, itu

  • Cinta yang Angkuh   Bab 196: Episode Spesial 2

    “Makasih. Ngomong-ngomong, kita bisa makan malam di mana?”“Dapur kami buka sampai pukul 22.00. Kamu juga bisa telepon untuk pesan makanan dan nikmatin itu di balkon dekat kolam renang, atau makan langsung di restoran. Nomor teleponnya ada di samping telepon.”“Makasih.”Setelah staf itu pergi, Nico kunci pintu kamar sambil cari sosok yang tadi sudah masuk lebih dulu. Ternyata Puput sudah buka pintu balkon dan duduk di sana, nikmati keindahan kolam renang yang berpadu dengan pemandangan hutan dan pegunungan di depannya.Kamar mereka hampir tepat di tepi lereng gunung yang curam. Untungnya ada pagar pembatas di depan kolam renang.“Udara setelah hujan benar-benar segar, Nico.”Puput yang duduk di kursi rotan bundar menoleh ke arah Nico yang baru saja buka pintu geser dan duduk di hadapannya.“Kamu nggak lapar, Puput? Aku mulai lapar. Sejak kita sepedaan tadi kita belum makan malam. Kita cuma setir bolak-balik saja.”Nico pegang menu makanan yang ada di kursi santai dekatnya.“Aku juga l

  • Cinta yang Angkuh   Bab 195: Episode Spesial 1

    Mereka berdua terus mengayuh sepeda kelilingi waduk hingga selesaikan satu putaran penuh, sebelum akhirnya kembalikan sepeda itu ke tempat sewa. Nico kemudian beli sebuah kelapa utuh dari kios kecil di dekat sana untuk Puput minum, biar dia nggak haus lagi.Mereka duduk berdampingan untuk istirahat, menyeruput air kelapa sambil pulihkan tenaga setelah naik sepeda cukup lama.“Tadi itu pesan apa kok sampai buat kamu senang banget, Puput? Sepanjang tadi kita naik sepeda, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri,” tanya Nico, nggak mampu sembunyikan rasa penasarannya. Sejak terima pesan itu, pipi Puput terus mengembang karena senyumnya.“Nggak ada apa-apa.”“Hei, Puput, nggak boleh main rahasia-rahasiaan dari aku.”“Kalau begitu gimana dengan kamu, Nico? Apa kamu juga punya rahasia?”“Nggak ada. Sama sekali nggak ada, Puput.” Nico menggeleng cepat.“Yakin?”“Tentu saja. Ngapain aku bohong ke kamu?”Mereka saling tersenyum, masing-masing merasa telah simpan rahasia mereka dengan sangat baik. W

  • Cinta yang Angkuh   Bab 161: Menjebak Mangsa 3

    “Aku loh nggak lagi kritik kamu. Aku sudah kenyang,” kata Puput sambil letakkan alat makan dan raih gelas airnya.“Sebelum kita pulang, gimana kalau kita foto sama-sama, Puput? Restoran ini sangat cantik. Aku ingin simpan kenang-kenangan tentang suasananya.”“Oke.”Puput pikir cuma sebuah foto seder

  • Cinta yang Angkuh   Bab 160: Menjebak Mangsa 2

    Puput perhatikan pria itu jalan menuju meja kasir untuk selesaikan tagihan, sementara perasaan aneh berputar di dalam hatinya.Biasanya, Puput hampir nggak pernah biarkan pria mana pun dekatin dia, kecuali teman-teman dari masa kuliahnya. Namun dengan Nico, sikapnya yang ramah dan sopan buat Puput b

  • Cinta yang Angkuh   Bab 159: Menjebak Mangsa 1

    Meskipun sebagian besar waktunya Nico tinggal di kondominiumnya, sesekali dia tetap pulang ke rumah keluarga agar ibunya nggak merasa kesepian. Selama masa itu, dia suruh seseorang selidiki latar belakang Puput hingga dia tahu rutinitas harian gadis itu. Nico tersenyum puas ketika lihat informasi te

  • Cinta yang Angkuh   Bab 157: Adik Pengkhianat 2

    Sebelumnya belum pernah ada orang yang pasangkan sabuk pengaman untuk Puput seperti ini.Puput seketika tertegun. Hidung pria itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya. Puput duduk kaku dan tekan punggungnya ke sandaran kursi, berusaha jaga jarak sejauh mungkin. Aroma samar parfum maskulin pria

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status